Lantai 16

7/18/10

#034: 1603

Enak sekali makan nasi timbel ini. Memang timbel jauh lebih baik dikonsumsi ketimbang polusi timbal yang sudah tak terkira di kota besar seperti Bandung. Oh iya, aku makan di Timbel Bawean, di depan Stadion Siliwangi. Stadion yang jadi markas Persib, tim payah yang sangat dipuja di kota ini. Bagiku, hanya orang bodoh yang rela bak bik buk demi tim olahraga, juga agama.

Tadi aku memilih jalan kaki dari Gasibu sampai sini tentunya dengan sketsa "Kasih yang Sederhana". Siang terik tapi demi mendapat inspirasi ya tidak apa-apalah. Soalnya aku jarang-jarang keluar dari kamar. Di luar kamar, sejuta bahaya mengancam, menurutku.

Aku sadar sering tersenyum atau marah sambil jalan jika suatu memori berkelebat di kepalaku. Memori yang bikin kesal itu misalnya kesalahan-kesalahan kecil di masa lalu. Saat aku jatuh dari angkot karena turun dengan kaki kanan, waktu dulu ditodong pisau oleh preman dan dia merogoh 20 ribu dari kantungku (aku masih SMP dan 20 ribu itu sangat besar untuk ukuran waktu itu), atau saat dihajar ayah dan ibu.

Aku bengong dan memandangi pepohonan di gang keluar Bawean, tepat di depan stadion Siliwangi. Masih rimbun. Jadi tidak terlalu terik. Sejuk. Bau ini sekilas dan mengingatkan pada... keadaan di sekitar rumahku dulu.

***

Aku ingat saat bermain dengan kedua adikku, Bongki dan Freya. Kami berlarian di samping rumah kami yang masih penuh pepohonan dan bunga. Menikmati suara jangkrik saat malam. Pun mengejar kunang-kunang yang terbang riang.

"Pelihara yuk, Bang. Nanti kita taruh di kamar buat hiasan. Biar kamar terang," rengek Freya, manja.

"Atau kita nyari ikan gabus aja di sawah, Bang. Sekalian metik daun cincau di kebun Uwak Nisin," ajak Bongki, padahal sudah malam.

Biasanya aku hanya menolak tawaran adik-adik yang umurnya terpaut 4 dan lima tahun dariku itu dengan senyuman. Lalu menggiring mereka masuk kamar. Lalu membaringkan mereka dengan cerita atau nyanyianku sampai mereka lelap.

Bapak akan marah kalau kami keluar malam-malam.

"Anak kecil jangan keluar kalo udah jam tujuh malam!" titahnya, dengan ibu yang berdiri di sampingnya menatap galak kepada kami. Biasanya kalau ketahuan menyelinap keluar rumah, hanya aku yang dihajar. Entah kenapa. Aku tidak pernah tahu kenapa mereka senang memukuliku...

***

Tiba-tiba aku tersentak. Di depanku kini sebuah mobil Kijang hitam melesat kencang dengan alunan musik keras menghentak-hentak. Ada kepala menyembul dari samping kursi supir. "Dasar homo! Mati aja lo pada!" teriak pemuda di samping kursi supir itu, diikuti derai tawa seluruh penumpang yang memenuhi mobil itu. Tawa yang bernada mencemooh. Mereka menghina dua orang lelaki berbaju pantai dengan tulisan "Bali" yang baru saja melewatiku. Aku tak ingat kapan dua pemuda tersebut lewat. Mungkin saat aku tadi melamun.

Lagi-lagi prasangka buruk hanya lewat penampilan. Ini pasti hasil konstruksi media massa kepada remaja-remaja bodoh. Cih!

Aku memandang mobil itu tajam. Salah satu penumpang mengeluarkan tangannya dan mengacungkan jari tengah. Lalu mereka cekikan menertawakan kedua pemuda yang belum tentu homo hanya karena berpakaian santai dan celana skinny seperti itu. Tapi kaki kedua pemuda itu memang terlihat mirip Astor atau stik Nyam-Nyam dalam balutan celana jins yang ketat. Dua pemuda itu cuma menatap mereka bingung. Lucunya, si pemuda bertampang SMA yang di samping supir teriak "Dasar pengecut! Bencong!" tapi mobil yang disetir temannya ngebut parah, menerabas lampu merah. Yang pengecut itu kalian, ujarku dalam hati.

Dasar bocah SMA. Mereka pikir hidup mereka sedangkal Jack Ass?!

Mobil itu melesat kencang menuju jalan Aceh, belok kanan ke arah samping Siliwangi. Dan sejurus kemudian bunyi "BRAK!" kencang. Bunyi rem mendadak yang terdengar banyak. Lalu asap mengepul.

Aku tidak bisa melihat jelas. Aku sungguh penasaran, maka aku menyambangi tempat itu. Macet dan banyak orang melihat mobil itu dari jauh. Tidak ada yang berani menolong karena kobaran api sudah besar. Dua pemuda yang dikatai homo tadi juga melihat. Mereka tak tahan lalu pergi. Mobil tadi sudah ringsek. Penghuninya tabrakan dengan pohon. Mobilnya meledak dan anak-anak SMA itu mati semua.

Beberapa orang terlihat berusaha memadamkan api, tapi kobaran api itu malah semakin menjilat-jilat udara seakan ada lolipop tak kelihatan terbang. Akhirnya mereka menyerah. Para perempuan yang ada di situ kebanyakan menangis karena ketakutan atau syok. Para lelaki menelpon entah siapa. Mungkin polisi.

Aku berusaha melihat dari jarak lima meter. Bocah-bocah itu terpanggang dan meraung, lalu suara mereka hilang.

Ini adalah salah satu objek gambar terbaik yang pernah kulihat.

Aku mundur sedikit dari kerumunan namun masih dalam sudut memantau. Aku ambil salah satu kertas sketsa lalu mencoba menggambar sketsa kejadian ini.

Indah. Ya, pemandangan indah.

Aku tidak merasa kasihan sama sekali. Semakin aku lihat, semakin aku bernafsu menggambarnya tanpa disadari oleh orang-orang. Dulu aku juga pernah melihat sebuah mobil terbalik karena terlalu ngebut. Dalam sekelebat, bagian atas mobil itu sudah tertukar dengan bagian bawah mobil itu. Si bapak supir berdarah-darah. Lehernya patah kurasa. Aku cuma bisa melihat diam, lalu pergi begitu saja. Sampai aku menoleh ke belakang dari kejauhan dan menyaksikan banyak orang menolong orang itu. Mungkin dia masih hidup. Kemungkinan besar mati.

***

Gambar eksotis ini sudah selesai. Dia baru sketsa lima belas menit. Aku berjanji akan mengubahnya menjadi lukisan realis. Dan kulihat, sudah banyak wartawan datang seperti semut.

Tiba-tiba saja aku ingin tertawa melihat hal itu dan mengingat semua yang berkelebat, sambil melangkah pulang. Menuju apartemen itu...

Langa Beng Otanga
plot/ seri 01/ eps.003: BIBIT PSIKOPAT DI KEBUN SINGKONG/ post: #008. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/022-1603.html

7/17/10

#033: 1600

in this story: Ziantine Larasati, Rasuna Adikara, Langa Beng Otanga.

“Tururuu..tururururuu..rururuuu...” Suling mengalun lembut.. dan kapal bergoyang-goyang digoyang ombak... “Hah! dimana ini?!” teriakku keheranan tiba-tiba mendapati diri telentang di atas dek kapal. Kapal yang luas yang sedang mengarungi samudera yang besar.

Saya bangkit dan melihat ke ujung kapal “siapa lagi itu muda mudi memadu kasih membentuk salib menantang ombak” saya reflek memicingkan mata dan mencoba menghampiri. “srakk” oh sepatu Saya seperti ditahan sesuatu. Saya menengok ke bawah dan mendapati wanita berambut emas yang hanya terlihat kepala dan tangannya mengenggam erat pergelangan kaki Saya. “HOAAAAAA!!” Saya teriak bukan ngeri tapi kagum, lebih banyak mahluk aneh yang pernah saya temui.

“Kamu siapa? kok familiar y?” tanyaku pada wanita rambut emas kepala tangan itu. “Banyak yang bilang begitu, aku memang mirip Celine Dion, panggil aku CD,” jawabnya. “Oke lalu kenapa kaki saya kau tahan,” sahutku balik. “Aku temannya CJ, sebentar,” pungkasnya, dan tiba-tiba CD menggerakan tangannya seperti pesulap Damian dan mengambil secarik kertas dari udara, dan diberikan pada saya.

“HAI KOLAB MABRO, AKU SEKARANG DI RUMAH SAKIT SEKITAR 45 MENIT KE ARAH KIBLAT. TIDAK USAH KHAWATIR, JON DAN JEKO TADI YANG MENYELAMATKAN IBUKU DAN SAUDARAKU. AKU TADI SIANG TERPAKSA MEMINJAM TUBUHMU DARI PINGGANG KE ATAS UNTUK MENELEFON JON DAN MENERIMA TELFON DARI JEKO. MAAF JIKA MUNGKIN TADI KAMU TERBANGUN TERBALIK KARENA MENYEIMBANGKAN TUBUH YANG HANYA BAGIAN ATASMU SUNGGUH SULIT.


SALAM NARKOTIKA
CJ “

Kelar Saya baca memo itu dan “Buak!!” CD memukul saya dengan tangannya yang tiba-tiba memanjang. Semuanya kembali gelap. “Tururuu..tururururuu..rururuuu...” musik kembali mengalun dan Saya kembali membuka mata perlahan. Oh rupanya saya masih di lantai dasar apartemen, dan kaki saya masih terbelit tanaman hias. Musik masih mengalun dan “drttt..” Saku jeans kanan saya bergetar-getar, ternyata handphone saya yang berbunyi dari tadi. “siapa sih yang iseng mengganti nada telefon dan sms masuk hp saya dengan lagu Titanic?” gumam Saya sebal. Saya rogoh saku dan mengambil perlahan Hpnya, seluruh badan saya masih sakit, terutama kepala.

“Klik” Saya pencet nokia pisang yang merepotkan itu. Banyak misscall dari Jeko dan Jon. ada satu pesan juga dari Jon “Lab mana lo? katanya mau dateng ke RS, cepetan Jeko bingung tuh.” Saya masukkan kembali Hp Saya ke saku dan mencoba bangkit terseok-seok.

Baru saja saya bangkit, seketika saja pintu masuk apartemen terbuka dari luar. Seorang berwajah kaku dengan beberapa gulungan kertas sketsa masuk. “Beng! tau arah kiblat ga kemana?” Sapa sekaligus tanya saya. “Ya saya tau, ke arah sana, kamu si tetangga hippies kan?,” jawabnya sambil menunuuk arah kiblat. “hah? hippies? apaan tuh? iya saya Kolab tetangga depan kamar, sebelahnya Jeko,” jelas Saya.

“Ada apa? kepalamu kenapa bocor begitu?” tanyanya datar, seolah darah dan luka biasa baginya. “Ceritanya panjang, yang jelas sebaiknya kau temani saya ke rumah sakit ke arah kiblat, terjadi sesuatu terhadap C eh Zi!,” jawab saya terengah. “Hah?! Kenapa Zi!?” Beng mulai panik. “Kena kanker serviks kali, ayo ntar aja tanya jawabnya,” Ujarku sambil merangkul leher Beng dan mengajaknya mencari taksi untuk ke rumah sakit arah kiblat.

Kami pun tiba di rumah sakit. Beng yang membayar taksinya. “tengkyu Beng,” ujarku. Kami masih di depan rumah sakit. “Beng sori saya dah mau pingsan nih, malah udah pingsan tadi gara-gara tiga hari belum makan, beliin makan bentar dong Beng apa aja bungkusin, Saya harus cepet-cepet ketemu Jon ama Jeko nih,” sambungku sambil merukuk. “Oke nanti ku susul ke dalam,” Ujar Beng tanpa protes tapi Saya malah takut.

Di dalam ruang tunggu sudah ada Jon. “Thanx Jon,”ujarku sambil menepuk pundaknya dan duduk disebelah kanannya. Jon hanya mengacungkan jempolnya dan tersenyum. Tak lama datang Jeko yang mukanya mencair tersedu, ia terduduk pilu di sebelah kanan Saya. Saya beri tepukan di pundaknya dan berbisik “tenang, ceje tidak ikut mati, dia akan terus hidup bersamaku kok!.” Jeko si Don Juan tetap menangis. “Lagipula CJ kan tidak sendiri di perut ibunya, dia masih punya dua saudara lagi,” sambungku. “loh jadi Zi anaknya kembar 3??,” sambar Jon yang lebih tahu daripada Jeko. Jeko tidak peduli dan masih lanjut menangis, dan tiba-tiba.. aroma bakpau menyeruak, disusul adegan Beng yang sudah berlutut bersimbah keringat dengan muka yang sepertinya terkejut. Bahkan Beng sepertinya tidak sadar sudah menumpahkan tiga bakpau yang mungkin titipan saya itu.

“Beng kau kenapa?” tanyaku sambil menepuk pundaknya, dan menjadikan ia pria ketiga yang saya tepuk pundaknya hari ini. Beng diam, Saya kelaparan, Jeko menangis, Jon memungut Bakpau dan Zi kritis.

Kolatbon Nawalem
plot/ seri 01/ eps.004: SI CALON JANIN/ post: #005. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/032-1602.html

#032: 1602

in this story: Ziantine Larasati, Kolabton Nawalem


mataku terbelalak, sontak berteriak. andai kuat kubopong sendirian Ziantine ke lobi apartemen di lantai dasar, tak lama kemudian Wati datang. kami bopong Ziantine berdua, aku merogoh telepon genggamku dari saku. kutelpon siapa saja yang bisa kutelpon.

aku menyela setelah terdengar sapa, “SIAPAPUN INI, TOLONG CEPAT PANGGIL TAKSI KE L’APPARTEMANT!!!” suara di ujung telepon terdengar santai, mencoba menutupi kekikukannya, “woy, santey dong, butuh taksi doang nih lo, atau sekalian sama barangnya?” tanyanya setengah bercanda. oh, tidak, dari seribu nomor yang ada di telepon genggamku, kenapa harus nomor Kolabton Nawalem yang kupencet.

“PUNYA NOMOR TAKSI GAK, ZIANTINE JATUH, HARUS CEPAT DIANTER KE RUMAH SAKIT!” tanyaku panik. “santai kali sob, gak usah pake all-caps ngomongnya. gw udah tau kalau Ziantine jatoh, dari ceje, sekarang kenalan gw udah nunggu di bawah. nanti malam gw nyusul ke rumah sakit, biar nanti ceje yang kasih tau gw.”

aku tak pernah mengerti bagaimana keajaiban bekerja di tanah bumi, tapi di lobi apartemen, seorang supir taksi bernama Jon yang mengaku ditelepon Kolabton setengah jam yang lalu sudah menunggu untuk mengevakuasi Ziantine ke rumah sakit.

Wati aku bawa serta, pahanya bisa menjadi sandaran empuk bagi Ziantine yang aku yakin sekali, di tengah ketidaksadarannya pasti butuh berbaring. kabar baik menyapaku dengan cara-cara yang tak pernah aku mengerti, bagaimana Kolabton bisa mengetahui semua ini, ah lagi-lagi aku tidak peduli. yang kupedulikan sekarang adalah kabar buruknya, rumah sakit terdekat jaraknya bila ditempuh dengan waktu normal akan memakan waktu kurang lebih satu jam.

“tenang sob, di perjalanan, percayakan sama Jon,” sambil menyalakan mobil, sopir taksi itu meyakinkanku untuk tetap tenang. tapi bagaimana bisa ku tenang, bila tak lama kemudian ia menyalakan lintingan ganja dan sekuat tenaga memacu besi kuda.

tidak sampai tiga puluh menit aku memejamkan mata, Jon yang memacu kuda besi secepat cahaya telah mengantarkanku dengan selamat sentosa ke depan pintu gerbang sebuah rumah sakit kandungan. tapi tidak dengan Wati, kulihat ia telah hilang nyawanya sementara, baju cleaning servicenya dipenuhi muntahan yang sedikit banyak juga mengenai wajah Ziantine. aduh, malang nian nasib calon ibu muda ini.

akhirnya aku dan Jon yang mengangkat Ziantine ke tempat dalam rumah sakit. pihak rumah sakit yang sigap segera membawa Ziantine ke unit gawat darurat, aku dan Jon mengantar sampai ruangan yang tegang berima tersebut. petugas yang mengantar kami bertanya, “kenapa ini?” karena aku panik, Jon yang menjawab dengan detil apa yang terjadi pada kami di tangga lantai sembilan. “tadi Kolabton menceritakan padaku di telepon.” aku sudah tidak peduli lagi makhluk seperti apa Jon dan Kolabton ini, yang kupedulikan adalah bagaimana lekas menyelamatkan calon ibu muda yang malang ini dengan jabang bayinya.

dokter menunggu kami menunggu di ruang tunggu, kami juga diminta untuk melengkapi administrasi. aku harap Ziantine anak seorang jutawan, atau minimal dia punya asuransi kesehatan. sebab rumah sakit ini terkenal karena harganya lebih tinggi dari langit.

Jon katanya akan menunggu Kolabton di sini sampai malam, lagipula ia tidak lagi untuk menarik penumpang hari ini karena jok belakangnya sudah diisi seorang wanita tambun yang pingsan dan muntahannya. sambil membikin kopi, aku mengobrol ngalor-ngidul dengan Jon tentang Kolabton. satu ceritanya tentang Kolabton yang membuat bulu kudukku berdiri adalah, konon Kolabton punya indera keenam. setelah bercinta satu malam dengan wanita pojok yang satu, pojokan lainnya konon bisa melihat ‘sosok’, haduh, orang-orang macam apa yang menghuni lantai apartemenku.

tiba-tiba dokter datang membawa kabar buruk, “yang mana dari anda berdua suami Ziantine Larasati?” Jon dengan gesit menunjuk mukaku sebelum sempat ku menunjuk batang hidungnya. aku ragu untuk mengelak, antara kasihan dan takut disalahkan, dokter yang mengiraku suami Ziantine, membawaku ke sebuah ruangan, di mana satu pertanyaan darinya akan mengubahku menjadi seorang pembunuh, untuk selamanya.

“kondisi Bu Ziantine kritis, kemungkinannya selamat amat kecil bila kita memaksa untuk mempertahankan bayinya. sebagai suaminya, saya ingin menanyakan keputusan anda, karena waktunya tak lama lagi, bila Bu Ziantie tak segera di operasi, dua-duanya akan masuk liang lahat bersama. apakah anda masih ingin menyelamatkan anak anda, dengan mengorbankan istri anda?” tanya dokter begitu kejam.

meski nanti dokter tahu aku bukan suaminya, tapi ia sekarang tahu bahwa air mata yang keluar dari mataku ini adalah pantas dikeluarkan oleh setiap ayah yang akan kehilangan calon bayinya. meski nanti dokter tahu aku bukan suaminya, tugasku sekarang adalah menjadi suami pura-pura Ziantine, yang menentukan hidup dan mati Ziantine.

“selamatkan ibunya saja dok!” aku tahu, keputusanku menyelamatkan hidup Ziantine, belum tentu menyelamatkan sisa ‘hidup’ Ziantine. andai selamat nanti, tak seorang pun berani menjamin Ziantine akan berjalan seperti laiknya seorang zombie, as a dead man walking.

aku pulang dan menangis ke ruang tunggu di mana Jon dan Kolabton—yang baru saja tiba—menungguku di sana. ketika ku duduk, Kolabton mencoba menghibur dengan menepuk pundakku. ia berbisik padaku sambil sedikit tersenyum, “tenang, ceje tidak ikut mati, dia akan terus hidup bersamaku kok!”

aku, yang masih tidak mengerti, terus menerus menangis malam itu.

Rasuna Adikara
plot/ seri 01/ eps.004: SI CALON JANIN/ post: #005. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/030-1602.html

#031: 1600

ႡoɐɐႡႡ˙˙˙ ʎɐʞ ɐɯdnu ʇ!ɐd qɐuƃnu ʇ!pnɹ sәɹɐsɐ sәƃɐɹ sәʞɐႨ!ƃns dns!uƃ ˙ ႨoႡ¿ ɐpɐ ɐdɐ !u!¿ ʞәuɐdɐ sәɯnɐuʎɐ ʇәɹqɐႨ!ʞ¿ oႡ ʇәɹuʎɐʇɐ ɔnɯɐ sɐʎɐ ʎɐuƃ ʇ!pnɹ ʇәɹqɐႨ!ʞ

Hap! krakk! saya turunkan kaki dari sandaran sofa dan membenahi otot leher yang semalaman menyentuh lantai. Entah apa yang terjadi semalam sampai saya tidur di sofa, tidak biasanya. Apalagi dengan posisi terbalik kaki di sandaran sofa dan kepala menyentuh lantai. Jadi ingat lagu peterpan yang judulnya saya rasa 69 *pikiranku..tak bisa kumengerti..kaki di kepala.. kepala di kaki..

“Jam berapa sekarang ya? baru gelap rasanya,” ujar saya sambil menengok jam raksasa yang tertanam di atap kamar saya. Jarum yang panjang di angka 11, dan yang pendek di 7, masih dua jam sebelum jam kerja rupanya. “krrrrrrr..” perut saya berujar lapar. Gawat saya baru ingat sepertinya sudah tiga setengah hari tidak makan.

Saya bangun dari sofa perlahan. Melihat sekeliling kamar mencari Ricardo, siapa tahu nanti saya mood untuk kerja. Saya melangkah menuju pintu yang selalu terbuka itu untuk keluar kamar dan apa itu ada cat bercorak sidik jari menempel di pinggir pintu geser kamar saya. Oh sepertinya Beng tadi melongok kesini, untung saya masih hidup. Saya masih ingat CJ pernah bercerita, Beng mungkin teman yang cocok untuk saya, tapi sedikit berbahaya dan beresiko.

“Ah tidak peduli saya masih ada teman sepermainan ahaha..” ujarku sambil menepuk Ricardo dan menoleh kebelakang melirik Malin.

Baru dua langkah keluar kamar saya langsung mengerenyitkan bibir dan hidung “sniff sniff..” bau muntahan manusia sedikit tercium. sepertinya ada yang muntah tadi pagi, pastilah Zi ibu si CJ itu. Kapan ya CJ benar-benar hadir ke dunia ini, pikir saya.

Baru berjalan satu langkah, saya terhenti lagi melihat lantai lorong yang sepertinya bekas basah dan kotor tapi sudah agak mengering. Pasti tadi ada hujan. Banyak jejak alas kaki lalu lalang tetangga sepertinya. Semua jejak alas kaki ini saya kenal, kecuali satu.

Penasaran saya pun merunduk sampai salah satu dengkul saya menyentuh lantai. “Jejak sepatu atau sandal siapa ini? bentuknya kecil seperti punya perempuan dan coraknya kotak-kotak,” bisik saya pada diri sendiri sembari memperhatikan jejaknya yang berakhir di pintu terujung lorong di kamar kosong! “Hah?? setan dong??,” ujar saya pelan. Oh pasti penghuni baru. “Tanya-tanya CJ ah nanti malam..” ujar saya pelan lagi.

“Hah liftnya pasti sedang rusak,” celetuk saya ketika sekejap melihat banyak sekali jejak kotor yang mengarah dan meninggalkan tangga. Waw hari ini saya merasa seperti detektif. Beberapa langkah kemudian, “Gawat!!” saya teriak secara tiba-tiba dengan kedua tangan memegang kepala. Saya langsung panik. Bukan karena lift yang rusak atau Beng yang melongok ke kamar saya. Tapi saya baru sadar ini adalah hari dimana saya mendapatkan nama saya! dimana insting dan firasat saya akan menajam lebih tajam dari detektif manapun! dan anehnya disusul dengan rasa benci dan alergi luar biasa terhadap musik!

Tapi sebentar, kataku dalam hati, mungkin saja hari seperti itu tidak akan pernah datang lagi, karena tahun lalu saya tak mengalaminya. Baiklah akan kubuktikan dengan memencet tombol liftnya, belum tentu analisa saya benar. Saya berjalan menuju pintu lift dan “ Klek.. Klek! Klek! Klek! Klek! Klek! Klek!!!” berulang kali tombol lift saya pencet dan tidak menyala. “Sial lifnya benar-benar rusak! insting dan analisa saya benar!! Hari aneh ini benar-benar datang!” teriak saya.

“Drap drap drap drap...” terengah-engah saya berlari kembali menuju kamar untuk menyimpan Ricardo dan semua alat musik saya yang belum saya ceritakan kepada orang-orang. Ya saya harus menyelamatkan Ricardo dan yang lainnya.

Dulu 3 tahun yang lalu, Diablo (gitar sebelum Ricardo) hancur berantakan saya adu dengan kepala pelacur yang lewat sambil bersiul ketika hari ini datang. Di hari aneh dimana saya mendapatkan nama saya ini, ketajaman insting detektif saya memang agak menguntungkan, tapi kebencian dan alergi musik yang muncul tidak sama sekali. Tikus mencicit pun bisa saya gigit kepalanya, tapi tidak sampai dikunyah.

“Ceklik,” Oke semua alat musik sudah beres terkunci di lemari. Ternyata ada untungnya juga, kamar jadi sedikit rapi. Bagaimanapun juga saya kelaparan dan harus cari makan di hari yang aneh ini.

Kembali ke lorong apartemen, melalui lobi lantai ini dan melihat Tv menyala. Oh pasti tadi si Jeko lagi yang nonton di sini. Saya hafal betul cetakan pantatnya di sofa hitam ini. Saya biarkan Tv menyala dan menuruni tangga. Kembali hidung dan bibir saya mengerenyit. “Kenapa ada bau darah di tangga ini, dan baunya semakin menyengat,” gerutu saya kelaparan. Tidak lama terlihat bercak darah tangga menuju lantai 9.

Karena jiwa detektif saya di hari itu bangkit, saya berhenti, merunduk, menyentuh bercak darah dengan jari tengah saya dan menciumnya kemudian menjilatnya. “Hmm.. siapa ya? rasa dan aroma darah ini sepertinya akrab, tapi yang jelas bukan darah kakek” ujarku dalam hati tapi tetap terdengar seperti di sinetron. “Ini CJ!! ya ini CJ!!” teriak saya di tangga. “Wah gawat Zi tadi pasti terjatuh di sini dan pendarahan!!” Saya teriak mengambil simpulan dan panik.

Waduh?! bagaimana nasib CJ y? bisa-bisa tadi malam adalah obrolan terakhir saya dengan dia, pikir saya kebingungan sambil berlari kencang menuruni tangga untuk mencari tahu keadaan Zi dengan maksud mencari tahu keadaan CJ.

“Hosh hosshh..hoshh...” napas saya terengah-engah, dan ternyata di lantai bawah tidak ada seorang pun yang bisa ditanyai.”Pada kemana lo woi!!” teriak saya. Saya benar-benar ingin tahu keadaan CJ sekarang, Saya kembali berlari dan brukk!! pipi saya sudah menyentuh lantai. Cairan hangat mengalir di pipi saya, sepertinya bukan iler, karena kental dan hitam. Pasti kepala Saya membentur sesuatu dan bocor.

Saya mencoba bangkit dan Bruagg!! malah kembali terjatuh di tumpukan tanaman hiasan. Oh tidak sepertinya saya terlalu lapar dan haus, terlalu lemas..Fisik saya memang tidak pernah bisa diandalkan selain untuk menggendong Ricardo dan Malin. Perlahan semuanya gelap.. dan banyak wajah bermunculan.. entah saya pingsan atau tertidur lagi. Padahal saya baru bangun tidur.

Kolabton Nawalem
plot/ seri 01/ eps.004: SI CALON JANIN/ post: #004. prev post:

#030: 1602

in this story: Florisia Rainarki, Ziantine Larasati


"hahaha, tidak Rain, jelas aku hanya bercanda. tentu kau tidak menganggap serius ajakanku tadi kan? lanjutkan saja mandi, kau perlu menyegarkan dan memulihkan badan. lagipula aku tak mau seminggu ke depan harus mengerok punggungmu yang masuk angin,” aku tak menyangka Rain akan serius menanggapi ajakanku. ternyata dia benar-benar rindu hujan, rindu kakeknya. aku berhutang satu basah kuyup padanya.

membayar rasa bersalahku, kupinjamkan satu buah kaos dan flanel kotak-kotak tebal untuk menghangatkan badannya. “santai saja, nanti aku ambil sekalian main-main ke kamarmu,” ujarku sedikit genit, Rain pamit.

kesukaan Rain terhadap hujan mengingatkanku pada Diamant, sahabatku yang sungguh necis, kalian pasti tak akan menyangka bahwa dia sesungguhnya adalah tukang kayu. ia hanya butuh waktu sepuluh menit untuk mengganti kaki-kaki ranjang kayuku yang lapuk. “duk-duk-duk-duk” suara palu beradu dengan kayu justru membuatku malu. bagaimana kalau si ibu hamil yang tadi melihatku masuk dengan Diamant mengira itu suara ranjang yang digoyang cumbu. ah tenanglah, kuyakin ibu hamil itu bukan Cut Tari atau Ersa Mayori.

tapi kan kita tak boleh menilai seseorang dari sampulnya bukan? siapa yang duga sahabat tampanku yang necis ini adalah seorang tukang kayu, sama seperti seorang ibu-ibu yang kutemui dua hari lalu di angkutan umum, yang dari ujung kaki hingga kepala mengenakan barang-barang bermerk dan tampil begitu modis, siapa yang menyangka bila aksen medok Jawanya masih kental saat menerima telepon dari temannya. begitu pula dengan ibu hamil depan kamarku ini, tapi tentu aku tak mau terlalu peduli.

namanya Ziantine, dan aku tak pernah berani bertaruh apa benar ia hamil tanpa suami, atau bunting gara-gara jin. hari ini aku menyapanya untuk mengingatkan bahwa lift apartemen rusak. “lewat tangga saja, gak apa-apa kan?” ujarku sedikit khawatir dengan janin yang digembolnya. calon ibu muda itu tersenyum manis dan berkata tak apa.

aku akan menjadi orang yang paling merasa bersalah bila tiba-tiba terjadi sesuatu yang buruk terhadap Ziantine. maka lekas kuberingsut dari singgasanaku di ruang tunggu dan menyusulnya, sekalian cari tukang bubur, pikirku.

Ziantine tampak limbung dan lebih gendut ketika kudekati ia dari belakang, langsung ku sapa sambil berjaga-jaga, “kutemani saja ya, takut ada apa-apa.” perempuan itu menoleh dan menyengir kuda, “gak ada apa-apa juga aku mau kok tiap hari ditemani Mas Jeko!” ternyata ia adalah Wati, cleaning service apartemen ini yang sedang bertugas mengepel tangga.

aku menjembel gemas pipinya yang ranum sambil bergegas menyusul Ziantine, terdengar sayup suara Wati dari atas, “hati-hati Mas Jeko, licin lantainya!” untuk ukuran seseorang yang sedang mengandung, Ziantine bisa memecahkan rekor MURI untuk kategori ibu hamil yang menuruni tangga.

akhirnya aku bisa ‘menangkap’ Ziantine di lantai 13, menjaganya dengan kuda-kuda memapah sambil sesekali menemaninya mengobrol. kukatakan padanya bahwa jangan terlalu banyak bicara, lebih baik perhatikan anak tangga.

namun perhatian kami seketika terpecah dari aroma alkohol yang menguar saat menjejak di lantai 10, Sherry naik tangga dengan tergesa, kacau dan berkeringat, seksi. sempat-sempatnya ia membalas sapa Ziantine dengan ramah, dan kembali menatapku dengan pandangan marah. ia setengah berlari menaiki anak tangganya untuk mencapai bulan di kamarnya lantai 16.

ketika aku berbalik, kulihat Zi begitu limbung, hilang keseimbangan karena luput memijak sebuah anak tangga. begitu jelas, dalam adegan lambat yang tragis kulihat tubuhnya berguling-guling setelah tersungkur, dan melandas dengan keras di lantai sembilan. ku lihat darah mengalir di dua hilir pahanya, darah dari hulu selangkangan yang menjadi mulut janinnya.

Rasuna Adikara
plot/ seri 01/ eps.004: SI CALON JANIN/ post: #005. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/029-1606.html

#029: 1605

in this story: Prada Prameshwari

Ku terbangun, Kaget. Tapi tidak tahu mengapa aku terbangun kaget. Mungkin mimpi. Kulihat jam dinding yang sengaja gantung di dinding atas tempat tidurku, supaya aku bisa sedikit beranjak untuk melihatnya. Supaya gak telalu malas-malas amat. Baru pukul lima. Udara dingin sekali. Rupanya aku lupa menutup jendela ke Balkon, aku menyadarinya dari tirai broken white ku yang melambai2 pelan terlitup angin.


Kemudian aku memeriksa sisi kiri tempat tidurku. Aku memang terbiasa tidur di sisi kanan. Tidak ada siapa-siapa. Aku mengembuskan nafas lega. Baru kali ini aku pulang tidak dengan orang lain. Pria-pria kesepian yang hanya ingin bercinta denganku, atau pria2 bosan dengan istrinya atau pacarnya yang juga ingin merasakan kemolekan tubuhku.


Aneh, aku tidak bisa tidur lagi. Rasanya tubuhku ini meolak untuk diajak ke alam mimpi lagi. Kuputuskan untuk bangun dan membuat teh chamomile oleh-oleh ibu dari perjalanannya entah kemana. Mungkin pagi ini bisa menjadi momen yang sangat tepat untuk bersantai, merenung menikmati pagi secara sadar yang entah berapa lama sudah tidak aku nikmati lagi.


*


Aku menyeruput the chamomile ku yang sebelumnya aku nikmati dulu harumnya. Kurasakan hangat menjalar ke tenggorokanku pelan-pelan turun keperut lalu sampai ke ujung jari tangan dan kaki. Aku mulai membuka laptopku dan iseng melihat semua akun jejaring sosial yang aku punya yang sudah sangat lama tidak aku urusi. Yah, ngurus dunia nyata aja sadar-tidak sadar, apalagi harus ngurus dunia maya?


WOW, sungguh banyak kehebohan di dunia maya, ya. Sebulan ini aku juga tidak mengaktifkan layanan langganan internet menggunakan smartphone. Rasanya aku malas dan aku muak dengan segala yang sedang dan sudah terjadi. Kemudian dengan bodoh dan klisenya aku asyik minum-minum dan bercinta sesuka dengan hati dengan pria manapun ____ yang tampan tentu saja.


Aku sebenarnya tidak gitu-gitu amat, mungkin mereka kira aku ini seorang perek murahan yang tidak tahu malu. Tapi mereka tidak tahu aku, yah, aku juga tidak pernah cerita dengan orang dipinggir jalan, toh? Kadang aku suka tertawa dalam hati melihat orang-orang memandang aneh ke arahku, memandang sinis, memandang heran, memandang nafsu. Ah, betapa dangkalnya mereka hanya menilai orang dari sisi luarnya saja.


Kemarin ketika aku baru pulang dari Bar, tetanggaku _entah siapa namanya_ mengusap-usap perutnya seakan-akan dia sedang hamil (atau memang lagi hamil?), mungkin dia sedang mengamit-amiti anaknya jangan sampai sepertiku. Dan aku hanya bisa tersenyum dalam hati. Lucu sekali.


Yah, aku memang terlahir dari keluarga penganut paham kebebasan. Ibuku sendiri yang mengajari aku. Ibuku, yang memang keturunan negara demokrasi terbesar di jagat raya mengajariku untuk selalu berbuat apa yang yang aku suka dan aku rasa baik dan berani bertanggung jawab. Kata ibu, "Kamu yang menjalani hidup, ya kamu yang menentukan hidup kamu,"


Aku memilih jalan hidupku seperti ini, setelah aku bersusah payah menyelesaikan S-2ku di salah satu perguruan tinggi negeri ternama di Negara ini dan kemudian bekerja di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta, dengan mudahnya aku memutuskan untuk resign dari pekerjaanku dan pindah menyepi ke Bandung, ke Apartemen ini.


Lihat jejaring sosialku, penuh message dari teman2ku di Jakarta. Ada juga, hmm.. reminder. Ternyata besok hari pernikahan Eibi dan calon istrinya itu. Ya, orang-orang yang mengira aku bodoh itu semua benar. Aku memang bodoh, keluar kerja cuma gara2 diputusin pacar, pindah ke Bandung biar bisa deket sama mantan pacar, mabuk-mabukan dan bercinta sana-sini hanya gara-gara frustrasi urusan CINTA? Ya, aku memang bodoh untuk urusan cinta.


*


Aku mulai memberesi kamar. Seakan-akan aku baru kembali dari liburan yang sangat panjang. Aku memulainya dengan memberesi tumpukan buku, kertas, dan koran di meja kopi depan sofa. Kutumpuk dan ku susun lagi di tempat yang seharusnya, rak buku tentu saja. Barang printilan lain yang tempatnya tidak berada di tempat yang seharusnya, mungkin tersenggol atau rusak akibat permainan2 panas malam2 sebelumnya, haha, aku susun dengan rapi kembali. Aku masih ingat benar letak letaknya. Aku memang agak kompulsif.


Aku mulai menyapu lantai dan tidak sengaja menabrak kertas-kertas yang mungkin bekas diselipkan dari bawah pintu. Aku baru sadar setelah menabraknya dengan sapuku dan kertas itupun berceceran kemana-mana. Biasa, aku melamun. Kususun lagi kertas itu dan kubaca satu persatu. Artike itu berisi informasi seputar Kanker Serviks. Sudah dibubuhi spidol berwarna cerah pada bagian-bagian penyebabnya "Seks Bebas, beganti-ganti pasangan" begitu. Kemudian pada kertas selanjutnya __ sepertinya seharusnya itu paling depan__ terpasang post it note:


Untuk Sherry,


Maaf kalau aku lancang, tapi artikel-artikel ini mungkin berguna buat kamu :)


Prada Prameshwari


Prada? Hmm.. Oh! Wartawan cantik yang super sibuk di lantai ini ya? Ahh.. dia, dia penghuni pertama yang aku kenal, dan dia duluan yang memperkenalkan diri, sangat sopan. Hmm, baik sekali dia memberikan artikel ini. Aku membolak balik kertas-kertas tersebut. Gambar-gambarnya membuat aku jadi bernostalgia pada masa-masa kuliahku semester.. semester.. ah, semester berapa ya aku belajar anatomi?


Oh iya, aku belum cerita ya dulu profesiku apa? Ya, meskipun terkadang aku malu mengakuinya, tapi toh aku memang punya dan bisa mengejar gelar itu. Aku... seorang dokter.


Sherry

plot/ seri 01/ eps.002: SHERRY/ post: #003. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/026-1604.html


7/12/10

#028: 1606

in this story: Rasuna Adikara

“Kamu tahu kenapa ibuku memberi nama Rain?” ujarku kepada Rasuna seraya mengambil handuk dari genggamannya.

Rasuna hanya menggelengkan kepala. “Tidak tahu dan aku ingin tahu sekarang,” tandasnya.

Kuurungkan niatku untuk menyambangi kamar mandinya, meski air panas sudah ku nyalakan dan memenuhi bath up miliknya itu. Aku kembali ke sofa dimana ia masih asyik menunggu koki favoritnya di layar tv. Aku duduk di sebelahnya, handuk masih melingkar di leherku, sembari menghidupkan rokok yang tersisa di meja depan sofanya, aku melanjutkan pembicaraanku.

“Ibuku sangat menyukai hujan. Sangat, “ aku memberikan penekanan kepada kata “sangat” itu.

Di kala kami hanya berdua di rumah, ibu ku sering cerita mengapa ia suka hujan. Dulu semasa kecil saat masih di kampung, Ibu ingin sekali bermain di bawah siraman hujan bersama teman sekampungnya. Maklum, kata Ibu anak zaman dulu sangat antusias dengan hujan. Mereka sering mandi hujan sambil bermain uber-uberan atau patung-patungan atau umpetan. Tapi, sayang. Hingga menginjak usia 10 tahun, ibu tak pernah mandi hujan bersama teman-temannya. Nenekku setengah gila, ia tak pernah memperbolehkan ibu bermain saat hujan.

“Dari mana kamu menyimpulkan nenekmu setengah gila. Sori, maksudku apa dia terkena penyakit kejiwaan atau bagaimana?” Rasuna memotong ceritaku.

“Entahlah, tapi dari cerita Ibu aku anggap dia setengah gila,”

Setiap hujan turun, ibu pasti terkurung. Ia hanya bisa memegang rintik hujan dari balik jendela kayu kamarnya. Pernah sekali , ibu bandel. Ia nekat keluar rumah secara diam-diam. Apesnya, baru menginjakkan kaki di teras, nenekku bangun dari tidur siangnya. Nenek murka, ia langsung menarik tubuh Ibu masuk ke rumah. Pelajaran dari nenek kalau ibu bandel adalah: dipukul dengan rotan atau disundut dengan rokok yang tak pernah lepas dari tangannya.

“Hemmhh, wajar jika kamu anggap ia setengah gila. Tapi, tampaknya kau keturunan dari nenekmu ya.”

“Maksudmu? Aku setengah gila?” tanyaku heran.

“Tidak, keturunan pecandu rokok,” ujarnya tertawa.

Aku membalas tawanya. Ini adalah tawa pertamaku di apartemen ini, Rasuna.

“Lanjutkan ceritamu,” Rasuna membuyarkan diamku yang barang berapa detik itu.

“Ibu tak jera, ia malah menantang nenek. Namun, sial selalu ketahuan. Sampai-sampai Ibu bilang, dia sudah kebal dengan api rokok.”

Entah, apa yang dicari Ibu dengan bermain hujan. Aku baru tahu jawaban ini beberapa bulan lalu, saat minum teh bersama di teras rumahnya. “Kakekmu, yang meninggalkan aku dan nenekmu pernah membisikan satu kata kepadaku sebelum ia kabur dari rumah. Ia berkata: Cari dan temui aku di kala hujan tiba, nak. Tenang, kau tak akan kedinginan. Karena, saat kau bertemu hujan kau juga akan merasakan peluk Bapak.

“Kakekmu kabur karena apa?” Rasuna semakin penasaran.

“Kakek kabur karena nenek. Ia tak tahan ulah nenek yang saban hari minum. Sempat pula, main serong dengan Pak RT. Kakek, kata Ibu, sungguh pria yang penyabar dan tak pernah marah. Karena itu, ia memilih meninggalkan nenek. Sengaja Ibu tidak ia bawa, karena kakek tahu, hanya Ibu yang ia punya di dunia ini jika kakek pergi,” Jawabku.

"Oke Pemirsa, Sampai Bertemu di Tayangan mendatang dengan menu yang berbeda. Hanya di…" Suara chef favorit Rasuna di layar TV seakan menyadarkan kami, bahwa kami sama-sama tertegun.

“Namamu sungguh bermakna Rain,” Rasuna hanya berkomentar singkat.

“Ya. Sampai sekarang, jika hujan datang dan ibu betul-betul rindu kakek, ia tak segan keluar rumah, mendatangi halaman belakang rumahnya: main hujan,” ujarku

“Yah, itulah ceritanya. Well, aku tampaknya tak jadi mandi nih,” aku beranjak dari sofa.

Dalam hitungan menit, saat aku menunggu bathubnya penuh dengan air panas lagi, Rasuna menggedor pintu kamar mandi. Ku matikan keran air.

“Rain, di luar hujan. Maukah kita bermain hujan? Aku ingin mengenal kakekmu,” ucap Rasuna.

Aku diam.

Kembali kukenakan t-shirt yang sudah tiga hari tak dicuci itu, “oke, tunggu sebentar.”

Untuk Hujan yang selalu memberiku inspirasi.

Florisia Rainarki
plot/ seri 01/ eps.002: SHERRY/ post: #004. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/024-1602.html

7/11/10

#27: 1601

in this story: Florisia Rainarki, Rasuna Adikara

Beng tidak terlalu lama diam di apartemenku. Setelah menyelesaikan sarapan dan sedikit chit-chat tentang karier senimannya, dia langsung pamit. Katanya hendak pergi ke Gasibu. Meskipun terlihat kasar, aku tahu bahwa pria itu sebetulnya cukup baik dan sopan. Namun entah apa yang terjadi di masa lalunya sehingga dia berubah menjadi orang yang terlihat menyeramkan seperti itu.

Beng juga memuji masakanku. Satu hal yang tak pernah kudapatkan dari keluarga mertuaku plus bekas suamiku dulu. Buat mereka, masakanku selalu kurang enak. Kurang garam lah, kemanisan lah. Protes aja terus. Duh.

Aku melirik jam. Jam sembilan pagi. Saatnya mandi, gosok gigi dan jalan pagi. Kata dokter kandunganku, meskipun hamil calon ibu tetap harus bergerak dan berolahraga ringan. Aku menyambar handuk lalu beringsut ke kamar mandi. Bersegera memulai hari.

**
Aku memutar kunci pintu apartemen. Rambut dan badanku sudah wangi. Baju sudah rapi. Kulihat seseorang sedang menonton televisi di lobi. Aku tak tahu pasti siapa. pandanganku buram.

Ceklik.

Pintu kamar di 1602 terbuka. sesosok perempuan dengan rambut basah keluar dengan wajah tanpa dosa. Kemeja flanel kotak-kotaknya tampak kebesaran di tubuh mungil itu. Aku sedikit mengeryit. Kamar di depanku adalah milik Jeko. pemuda tanggung yang menyangka dia seorang cassanova. Bukan kali ini juga dia membawa perempuan ke kamarnya, namun biasanya perempuan-perempuan itu tidak keluar kamar dengan tampang habis mandi seperti ini.

Perempuan itu tersenyum kepadaku. Aku lantas balas tersenyum.

"Halo, saya Florisia Rainarki. Saya penghuni baru di kamar 1606. Yang di pojokan sana!" dia memperkenalkan diri dengan ramah.
Duh! dasar Jeko cassanova sialan! anak baru dia embat juga.
"Saya Ziantine Larasati."
Dia mengangguk dan menyodorkan tangan. Kami lantas bersalaman sebelum dia melangkah mendahuluiku. langsung pulang ke kamarnya yang di ujung sana.

Jeko, Jeko! Dipikir-pikir hebat juga sih, dia bisa secepat itu menggaet anak baru yang terlihat polos itu. Aku jadi ingat beberapa 'teman' yang sempat dibawanya dalam jangka waktu dua minggu aku disini. Semuanya dengan dandanan gaul ala masa kini but with very different styles. Ada yang manis seperti permen, gothic, feminim, tomboy dan yah da juga dari mereka yang memiliki dandanan aneh. Make up ala ganguro, mini skirt, dan tank top warna cerah. Err pernah juga sih aku melihat dia masuk dengan seorang laki-laki metroseksual. Lalu saat aku lewat depan kamarnya aku mendengar suara ranjang yang beradu dengan dinding. Duk..duk. Hmm, mungkin Jeko seorang biseks.

Aku berdiri di depan lift. menunggu balok itu untuk menurunkanku kebawah.

"Liftnya rusak Zi!" sebuah suara mengagetkanku.
Aku menoleh, ternyata itu Jeko. Dia rupanya yang sedang menonton televisi.
"Naik tangga aja. Ngga apa-apa kan?" pandangannya mengarah ke perutku.
Aku tersenyum menyadari arah matanya. Ternyata banyak yang peduli pada janinku disini. Beng, lalu dia, si Don Juan Abad 21.
"oh, ngga apa-apa kok! ya sudah saya turun dulu ya. Dah Jeko!" saya pamit padanya.
Dalam hati saya mengutuk diri sendiri. Kenapa harus bilang "Dah Jeko?" dengan gaya seperti itu ya? seolah aku naksir dia saja.

Aku menuruni tangga pelan-pelan namun kurasakan seseorang mengikutiku dari belakang. Aku menoleh. Si Jeko ternyata ikut turun. Pandangan kami bertemu dan aku tersenyum.

"Mau turun juga?" tanyaku basa-basi.
"Tadinya sih engga, tapi sekalian nemenin kamu aja. Saya ngga tega liat wanita hamil seperti kamu harus pake tangga dari lantai 16. Takut kenapa-napa!" ujarnya sambil menatap sepatu. mungkin malu.
"padahal ngga apa-apa, lagian jangan didoain kenapa-napa dong!" kataku sambil tersenyum.
Dia cuma nyengir kuda.

Kami turun dalam damai dan hening. Baru di Lantai 10 dan aku sudah ngos-ngosan. Padahal jalanku pelan-pelan dan medan menurun. Sesosok perempuan muncul dari bawah. Dari jauh saja sudah tercium bau alokohol menyeruak. Aku menahan nafas. Tiba-tiba merasa mual.

"Hai Sherry!" Jeko menyapanya saat perempuan dugem berambut coklat itu melewati kami.
"Halo Jeko, Halo Zi!" dia balik menyapa dengan ramah. rupanya dia tak terlalu mabuk hari ini.
Aku balas dengan menaikkan alis sambil tersenyum.

Sherry lantas terus naik ke atas. Jalannya agak sempoyongan. Dari sudut mata, bisa kulihat
Jeko mengiringi kepergian Sherry dengan pandangannya. Mungkin dia juga ingin mengantar Sherry ke atas, ke kamarnya, lalu mereka bisa bercinta. Aku tertawa dalam hati mendengar pikiranku sendiri. Ibu hamil mungkin suka melantur ya? Atau karena bayiku yang memiliki naluri gosip tinggi? hehehe.

Sialnya, karean melamun. aku tidak memperhatikan jalan dan melewatkan satu anak tangga.

Brak!Bruk!

Aku terguling-guling. Saat sadar, aku sudah di bawah. di tangga menuju lantai 9. ada yang basah mengalir di pahaku. Merembes dari dress selutut yang kukenakan. Merah. Lamat-lamat kudengar suara teriakan Jeko sebelum segalanya mengabur dan menjadi hitam.

Ziantine Larasati
plot/ seri 01/ eps.002: SHERRY/ post: #004. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/024-1602.html

#026: 1604

in this story: Sherry, Florisia Rainarki

Ah, sudah sabtu saja! Keluhku saat membuka mata pagi ini. Sekarang Sabtu, artinya besok Minggu, yang artinya jadwal pulangku. Rasanya belum ingin aku meninggalkan kota ini. Apalagi setelah kemarin Radita menemaniku sepanjang hari di kota keraton ini. Mengulang tradisi kuliner kami. Serabi Notosuman, Tengkleng Klewer, Cambuk Rambak, Bakso Kalilarangan, Timlo Sastro. Ah! Makanan itu masih bersisa di mulutku. Rasanya ingin menelepon Radita untuk kembali mengajakku hunting kuliner lagi. Tapi, data tulisan dan rekaman ini sudah menari-nari minta dikuliti.

Kanker Serviks. Mengingat isi seminar kemarin langsung mengingatkanku pada Sherry, tetangga sebelah kamarku. Hmm, bagaimana aku menjelaskannya ya, yang jelas aku agak khawatir padanya.

"Risiko menderita kanker serviks adalah wanita yang aktif berhubungan seks sejak usia sangat dini, yang sering berganti pasangan seks, atau yang berhubungan seks dengan pria yang suka berganti pasangan."

Kutipan wawancara dengan sang dokter ahli ini membuatku merinding. Bahaya Kanker Serviks ini terlalu mengusik, pasti akan kuberikan tulisan ini pada Sherry!

Gaya berpasangan manusia jaman sekarang sudah sudah tidak terbatasi, tapi bukan jelas hakku untuk menghakimi. Sikapku sejauh ini hanya memperingati tentu dengan memberikan bukti sampai ia mengerti sendiri, mungkin saja berhenti.

Ah cukup sudah dengan gaya hidup, saatnya menyelesaikan feature ini, si data rekaman dan handout ini sudah minta ditelanjangi. Oke, dimulai dari rekaman ini.

*

Saatnya pulang!
Sudah tiga hari kuhabiskan waktu di Solo. Seminar sudah didatangi, feature sudah diberesi, oleh-oleh sudah ditentengi, keluarga Jeko sudah dikunjungi, dan akte kelahiran si Jeko pun sudah mau dikoperi (agak aneh bahasanya, dikoperi, tapi ya sudahlah ya). Kucermati sekali lagi akte kelahiran si Jeko. Rasuna Adikara, ujarku sambil tertawa. Bisa-bisanya nama sebagus ini diubah menjadi Jeko. Kalau sedang di rumah orang tua Jeko, kadang agak canggung kalau aku harus memanggil Jeko dengan nama aslinya, kadang aku memanggilnya Adi. Lebih aman.


Ah besok sudah Senin lagi, template keluhanku setiap hari Minggu. Jadwal penerbanganku pukul 14.15 WIB. Kulirik jam tanganku, sudah setengah sebelas, lebih baik langsung check out saja. Pak, Timo, orang suruhan kantorku sudah sigap menunggu di lobi semenjak pagi. Aku sudah siap meninggalkan kota ini.


"Pak, saya mau makan dulu, di Nasi Liwet Gajahan ya!" "Siap, mbak." Gludug, gludug. Wah? Mendung ternyata. Semoga jangan hujan sampai pulang nanti! Untung cara makanku tak lama, jadi cukup setengah jam saja aku menghabiskan satu porsi nasi liwet ini. Saatnya ke Adi Soemarmo. Kulirik lagi jam tanganku, jam setengah 12. Sampai di bandara, sang langit mulai bersuara lagi. Ah, sial. Semoga penerbanganku tidak delayed! Pak Timo pun mengucapkan pergi, ucapan terima kasihku mengakhiri perjumpaan kami.


Segera aku menghampiri customer service bandara ini, menanyakan akankah ada kemungkinan penerbangan ke bandung tertunda atau tidak. Berita buruk. Si mbak-mbak customer service mengatakan bahwa memang ada kemungkinan semua penerbangan tertunda hari ini, diperkirakan akan ada angin besar. Sial. Saat kutanya kira-kira berapa lama tertundanya, mbak Iva Nurnami--begitu nama yang kubaca di pin dada kirinya--mengatakan "Mungkin satu sampai dua jam, nanti kami pasti informasikan."


Aku pasrah, akhirnya setelah mengurusi segala urusan pertiketan, aku memutuskan menunggu di Starbucks saja. Segelas Frappuccino Blended Caramel sudah menari-nari di otakku. Frappuccino sudah di tangan, lebih baik aku online saja. Si Toshi--nama laptopku--kukeluarkan dari koper kecilku. Cek e-mail, Facebook, Twitter, dan tak lupa cek rilisan game RPG terbaru. Yang terakhir adalah kegiatan favoritku. Satu jam, dua jam, tiga jam. Akhirnya ada datang juga pengumuman tentang penerbanganku. Satu jam lagi. Oke, kuhadapkan lagi wajah ini ke si Toshi.


Akhirnya aku sudah duduk manis di pesawat ini. Kulirik lagi jam tangan ini, sudah jam setengah lima. Rasanya ingin segera sampai di rumah. Tidur saja.


Sudah pukul 17.45 WIB, dan aku sudah duduk manis di taksi dalam perjalanan ke rumahku. Untung jalanan tidak macet dan menambah ruwet otak ini. Apartemen Seguni. Sudah sampai. Kulewati lobi, dan kupencet lift apartemen ini, lantai 16. Sampai lantai 16, lift terbuka. Wah, tumben, masih jam segini, tapi lantai ini sepi sekali. Terlalu sepi. Tanpa pikir panjang, aku langsung masuk ke kamarku. Ingin segera menyentuh air panas dan tidur. Kulirik kamar 1606, wah sudah ada penghuninya ya? Kira-kira orangnya seperti apa ya? Ah besok saja berkenalannya. Atau nanti malam di saat jeko sudah mulai mengetok kamar.

Prada Prameshwari
plot/ seri 01/ eps.002: SHERRY/ post: #003. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/025-1604.html

#025: 1604

in this story: Rasuna Adikara

Ini hari keduaku berada di kota batik ini, Surakarta, atau mungkin sekarang lebih dikenal sebagai Solo yang kadang dipelesetkan menjadi Oslo. Ingat Solo jadi ingat Almarhum Gesang yang baru meninggal baru-baru ini. Almarhum Gesang dengan lagu Bengawan Solo-nya yang cukup mendunia. Sudah beberapa kali aku ke kota tua ini, belum juga kusempatkan melihat si sungai legenda itu. Entah berapa kali sudah aku memaksa Jeko mengajakku ke sana, tapi alasannya selalu sama, besok ya. Dan kalau sudah begitu, besoknya pasti lupa, dua-duanya lupa. Baru ingat lagi nanti kalau sudah mau pulang, ujung-ujungnya, tidak sempat lagi. Bosan sudah dengan Jeko si tukang janji.


All single ladies, all single ladies....
Ah, ada apa lagi si Beyonce menyanyi? Rasuna Adikara. Jeko? "Halo? Kenapa Jek?" "Hey, kemaren ngetuk kamarku, ada apa ya?" "Ohh,
“aku mau pinjam kamera tadinya, kamu gak ada. jadinya aku pinjem ke hippies sebelah kamarmu" "syukurlah, lagipula kameraku juga sedang rawat inap di reparasi, tertular kameramu yang mendadak tak bisa nyala. memang kau pergi berapa lama, sedang tugas ke luar kota ya? habis tumben tv-mu ditinggal nyala" "aku ke Solo, ke kampung halamanmu, ada liputan seminar kanker serviks" "lho kamu ke Solo kok gak kabari aku, nanti biar aku hubungi Radita untuk menemanimu, nginap saja di rumah orangtuaku, sekalian nanti aku minta tolong titip bawa akta lahirku" "nggak usah, aku nginep di hotel, sudah disediakan kantorku, terimakasih. biar nanti Radita aku hubungi, suruh ke hotelku saja, sudah lama juga aku gak ketemu dia, biar sekalian nanti dia bawa akta lahirmu."

Kuingat-ingat, sudah lama juga aku tidak ke kota ini, kampung halaman Jeko. Biasanya kalau ada waktu senggang, aku iseng menemani Jeko yang juga iseng pulang kampung. Mungkin tidak ada yang percaya, di balik dandanannya yang serba berantakan itu, Jeko tipe penyanyang Ibu. Makanya dia selalu menyempatkan setidaknya dua sampai tiga kali pulang ke kota ini demi menemui sang Ibu yang dikasihi. Kalau sudah begitu, aku biasanya merengek minta ikut, sampai rela bolos kerja. Tapi itu dulu, mungkin kira-kira terakhir akhir tahun lalu. Dengan kesibukanku yang tidak menentu ini, sudah tidak mampu lagi aku iseng menemani. Maklum wartawati.


Ah, Radita. Apa kabar ya dia? Data wawancara dan seminarku sudah kurapihkan, tinggal dibenahi esok hari. Kujadikan saja hari ini hari leha-leha sedunia. Telpon Radita! "Halo, Radita? Ini mbak Prada, masih inget kan? .................................."

Prada Prameshwari
plot/ seri 01/ eps.002: SHERRY/ post: #003. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/021-1602.html

#024: 1602

in this story: Florisia Rainarki


aku menikmati Minggu pagi yang tak terlalu cerah ini dengan merebahkan diri di sofa empuk lobi lantaiku. tak banyak penghuni satu lantaiku yang menikmati untuk beristirahat di sini, mungkin sesekali Prada yang menemaniku menonton sinetron RCTI di malam hari.

biasanya akhir pekan, aku menunggu acara masak koki wanita seksi yang lebih cocok untuk pemotretan kalender di toko emas, ketimbang memikirkan cara menyajikan ikan mas. koki wanita yang menyembunyikan melon di dada kirinya, dan semangka di dada kanannya. kata seorang teman, acara masak akhir pekan di televisi, telah kehilangan esensinya.

saya tak peduli dan terus menunggu acara ini sambil mengecek beberapa acara di stasiun lain untuk membunuh waktu. tiba-tiba suara seorang wanita menyapaku tegas, “acara televisi akhir pekan harusnya tak lebih dari permintaan maaf stasiun televisi karena selama lima hari sebelumnya telah banyak menyiarkan petaka.”

aku menoleh, orang baru tampaknya. gadis itu melanjutkan bicaranya, “kau tahu, banyak orang menuduh pornografi sebagai salah satu penyebab hancurnya moral bangsa. tapi tak banyak yang menyadari, bahwa televisi, dibanding pornografi, jauh lebih keji.”

aku memandangnya kagum, meski dengan tampangnya yang semrawut seperti kurang tidur, dan rambutnya yang menggulung seperti bola kusut. aku mencoba ramah padanya, “kamu, baru ya di sini, maaf aku belum pernah melihatmu sebelumnya?”

gadis itu mengulurkan tangan sambil memperkenalkan namanya, Florisa Rainarki. aku menjabat tangannya yang halus, “Rasuna Adikara, panggil saja aku Jeko, begitu orang-orang di apartemen ini memanggilku.”

kami berdua berebah di sofa yang sama, gadis itu sepertinya ingin mengganti waktu istirahatnya yang tak terlalu dimanfaatkannya tadi malam, dan aku menunggu ratu masakku keluar dari persembunyiannya.

“kau tahu, di mana aku bisa membeli perlengkapan seperti kasur, lemari, kursi, dan lainnya untuk mengisi ruangan di kamarku yang masih kosong,” tanyanya. aku jawab saja di ujung perempatan ada toko yang kalau ia mau membeli dengan harga yang lebih mahal, mereka bisa menyediakannya.

“kalau tidak kau mungkin bisa mencari ke kota, nanti biar kusewakan mobil bak terbuka untuk mengangkut barang-barang belanjaanmu, aku punya kenalan, nanti hubungi saja orangnya atas namaku, beri saja ‘untuk rokok’ meskipun dia tak merokok,” tawarku.

“tapi mungkin lebih baik, kau menyegarkan diri dulu kalau mau keluar, daerah sini bikin orang gampang berkeringat,” tawarku kembali. “ya itu, aku buru-buru pindah kemari, jadi tak sempat membawa peralatan mandi,” jawabnya.

“ya sudahlah, silakan mandi di kamarku, pakai saja peralatannya, mungkin cukup lengkap untuk bisa kau pakai, terlalu lengkap malah, emmhh, Flo, eh, apa aku harus memanggilmu?” tawarku sambil mengantarnya masuk ke kamarku. “Rain, panggil saja aku Rain,” jawabnya.

“ya Rain, silahkan, kebetulan shampoo-ku juga Clear Men, pakai saja,” ujarku mantap seperti kata bintang Korea yang nama panggilannya sama dengan gadis itu. dia masuk ke kamar mandi, dan aku kembali ke depan televisi dan bersiap onani.

Rasuna Adikara
plot/ seri 01/ eps.002: SHERRY/ post: #004. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/023-1606.html

#023: 1606

Aku yakin betul, siapapun tak ingin alami keadaan seperti ini: kehilangan.

Pintu kamar itu cacat, terdapat guratan kayu yang menyerupai bentuk zigzag hasil bogemnya. Tak jauh dari pintu itu, tergeletak ponsel yang bentuknya pun tak sempurna lagi. Lemparan kuatnya ke arah dinding membuat tubuh ponsel itu belah dua, alat komunikasi itu menjadi benda yang tak berguna.

Mungkin hanya hitungan menit aku terlelap. Kepala ku sakit akibat tangis yang mengalir deras. Tidur ini hanya terapi untuk menghilangkan rasa sakit yang menyerang kepalaku. Lagi pula, sehabis menangis hidungku mampetnya minta ampun sampai-sampai aku sulit bersuara.

Sebelum lelap datang, dia masih menggenggam jemariku. Aku pun meraba bagian punggung tangannya yang sungguh tak mulus itu: terdapat beberapa luka lecet dengan darah mengering. Aku lantas terngiang ucapannya tiga tahun lalu, saat pertama kami bertengkar: biarlah tubuhku yang remuk karena aku tak ingin melampiaskan emosi ini ke tubuhmu. Jangan sampai.

Kami sama-sama menenangkan diri dalam keheningan pasca badai besar yang habiskan tenaga. Aku menyukai saat-saat ini, di mana amarahnya reda dan mulai lunak. Tak ada dialog, bahasa menyusup dalam setiap belaian dan tatapan.

Tak ada lagi ego binatang buasnya. Ia bertransformasi jadi seorang ayah, melindungi dan bijak. Ya, kekasihku itu punya segala peran: ayah, pacar, kakak, bayi, bahkan musuh untuk ku.
Aku ingin waktu berhenti. Aku ingin detik jam tak lagi berbunyi. Ingin menit-menit dalam tidurku ini menjadi selamanya. Ingin tetap lelap dengan jemariku yang berada dalam genggamannya. Ingin….

Ngeeeeeeeekkkkk…

Tiba-tiba suara pintu ditutup pelan. Reflek, telingaku memberikan warning kepada kedua mataku untuk melek sejenak. Aku terhenyak, jemariku terasa keram, jantungku berdegup kencang akibat suhu dingin yang mulai terasa. Belum lagi sembuh, sakit itu datang lagi ke kepalaku. Kali ini datang bertubi-tubi. Aku tak bergerak, masih meringkuk menatap pintu yang habis ditutup dengan pelan-pelan tadi. Dia lagi-lagi menghilang. Dia hanya meninabobokanku agar aku tak bisa melihatnya berjalan kea rah pintu, bahkan untuk melihat punggungnya pun aku tidak diperbolehkannya.

Aku masih menatap pintu apartemenku, tak ada upaya untuk mengejarnya keluar, tak ada upaya untuk menyaksikan langkahnya menyeberangi jalan raya dari balkon tempat kami bercinta semalam.

Dan inilah momen dimana aku merasa hidup itu kosong: aku melampaui kesedihan hingga rasa itu menjadi hambar. Seluruh organ tubuhku pun terasa tak bekerja seakan ada program turn off
di tubuh ini.Bahkan kepergianmu yang hanya meninggalkan bunyi pintu itu membuatku kehilangan segalanya, termasuk semangat hidup dan kemampuan mengecap rasa di jiwa.

Florisia Rainarki

plot/ seri 01/ eps.002: SHERRY/ post: #003. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/019-1606.html

#022: 1603

in this story: Kolabton Nawalem

Aku ambil kertas dan pensil. Sketsa. Ya, aku mau membuat sketsa di depan Gedung Sate. Menurutku, selalu ada ptongan cerita di balik keramaian. Itu pasti. Jika kita berhasil menangkap momen-momen kecil nan berharga, hal itu sangat memuaskan. Sama seperti kamera cuma beda medium saja.

Keluar dari pintu, aku periksa kanan-kiri. Kebanyakan penghuni kamar ini masih mendekam di kamarnya. Setelah mengunci pintu kamar, aku usil membuka pintu kamar si hippies yang namanya susah disebut itu. Kolab apa gitu. Seperti biasa, tak terkunci. Bau kamarnya sangat tidak jelas. Apek. Barang-barang berserakan di sana-sini. Sosoknya terlihat terkulai di sofa, bersebelahan dengan gitarnya.

"Grooookkkk... Fiiuuuhhh" Dia ngorok. Dan apa lagi itu? Boneka?! Ada bercak darahnya? Anak ini benar-benar aneh. Makin lama berdiam, makin ganjil yang kurasakan. Mending aku pergi.

*

Si penjaga lobi tak tampak tapi tivi di sudut lobi menyala. Siaran talk show. Kenapa sih semua tivi suka sok-sok demen ngobrol ya. Acara talk show melulu. Topiknya juga kebanyakan ga asik. Skip saja.

"Bwaaaahhhh. SEGAAAARRR" ujarku sambil meregangkan badan saat keluar apartemen Seguni. Dua orang perempuan, dari tampangnya sih kuliahan, cekikikan melihatku. "Jual buah seger, kang?" goda mereka. Hahaha.. mereka berlalu. Jam sembilan pagi. Aku naik angkot menuju Gasibu. Sesampainya di sana, hamparan manusia berjubel laksana semut kena siram gula. Para pedagang dan pembeli tumpah ruah. Mungkin juga ada pencopet dan penculik. Kita tidak pernah tahu, bukan?

Aku mengambil spot di bawah rimbun pohon, di depan gerbang Gedung Sate. Pada hari biasa, tempat ini jadi tongkrongan wartawan Bandung. Dengar-dengan banyak wartawan bodrex sih yang pos liputannya di sini.

Lalu lalang manusia di depanku. Mereka bersliweran tanpa henti. Aku terus memandangi mereka, berusaha mencari momen baik. Meski mentari makin terik. Bandung makin panas, padahal ini baru setengah sepuluh pagi.

Harus fokus. Nah, mungkin karena pakaiannya yang warna oranye nge-jreng, aku memerhatikan seorang ibu. Di seberang sana, sebelah kiri. Umurnya sekitar 40-50an tahun. Dia membeli es krim warna coklat dan merah hati dari sebuah mobil penjual es krim. Ibu itu membawa kedua es krim dengan senyum hangat yang sampai melelehkan es krim itu. Hahaha.. Lebay amat. Terik matahari yang bikin es itu meleleh. Kemudian aku lihat dia mendatangi seorang bapak tua yang duduk di kursi roda. Mungkin itu suaminya. Mereka tersenyum sambil makan es krim. Wah, romantis sekali. Momen tawa berdua itu yang aku tangkap dan kutumpahkan lewat sketsa. 20 menit kemudian sketsa itu rampung.

"Wah, mas gambarnya bagus," kata seorang ibu di sebelahku. Aku cuma tersenyum dan berterima kasih. Ibu itu berpaling lagi. Mungkin karena tidak ada sambutan kata-kata terlontar dari mulutku. Jarang ada yang bilang sketsa bagus. Biasanya orang-orang mencibir karena melihatnya hanya sebagai coretan biasa. Mirip karya bocah. Ah biarlah.

Momen baik datang lagi. Aku lihat dua perempuan muda saling berangkulan dan tertawa lebar. Damai sekali. Aku gambar mereka. Lima belas menit kemudian selesai.

Cuaca terik ini bikin haus juga. Aku beli es krim vanila di tempat ibu tadi membeli es krim. Dinginnya segera meluncur di tenggorokan dan berkoloni di dalam tubuhku. Adem pisan euy. Wah, kali ini ada beberapa objek bagus lagi yang terletak berdekatan: seorang suami yang membelikan bantal berbentuk hati untuk istrinya yang menunggu di mobil, seorang bapak yang menyuapi putrinya yang kira-kira berusia empat tahun (potongan rambut putrinya itu mirip Dora The Explorer!), dan sepasang kakek-nenek yang mengenakan pakaian training lengkap dengan sepatu joging dan saling bergandengan tangan (si kakek mengenakan warna abu-abu, sedangkan si nenek mengenakan warna pink). Manis sekali.

Langsung saja aku urek-urek wujud mereka. Perasaan hangat membasuhku saat menggambar objek-objekku ini. Gambar pertama kuberi judul "Pasangan Es Krim". Gambar kedua kunamai "Rangkulan Sahabat". Lalu yang lainnya berturut-turut aku beri nama "Bantal Hati", "Suapan Kasih Sayang", dan "Tangan yang Memegang Erat". Sebenarnya gambar kakek nenek itu ingin aku kasih nama "Joging Sampai Tua", tapi jatuhnya terkesan komedi, dan sekilas malah mirip judul Goosebumps.

Mungkin saja suatu hari karyaku ini aku tampilkan dalam pameran sketsa. Judulnya sudah ada di benakku: "Kasih yang Sederhana". Cukup syahdu.

Nah, sekarang saatnya makan siang dan pulang. Mau nyoba nasi timbel ah...

Langa Beng Otanga
plot/ seri 01/ eps.003: BIBIT PSIKOPAT DI KEBUN SINGKONG/ post: #007. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/020-1603.html

#021: 1602

in this story: Prada Prameshwari

“hey, kemaren ngetuk kamarku, ada perlu apa?” kutelpon Prada setelah mengetahui ia tidak ada di kamarnya. biasa, aku langsung masuk kamarnya karena tahu kebiasaannya yang tak pernah mengunci kamar. tiga pasang pakaian dalam bermotf polkadot kutemukan tertinggal di atas televisi yang menyala kedap suara, kebiasaannya lama yang masih tetap sama.

hampir sebulan aku tak bertemu Prada, tiga minggu karena aku ada urusan ke Poso, begitu pulang Prada sudah menjadi wanita supersibuk yang seolah bekerja 25 jam sehari, 8 hari seminggu. sebelumnya, minimal ada waktu satu jam dalam sehari, satu dalam hari seminggu untuk kita duduk satu meja bercerita tentang apa saja.

“aku mau pinjam kamera tadinya, kamu gak ada. jadinya aku pinjem ke hippies sebelah kamarmu,” ujarnya lewat suara cemprengnya yang kekanak-kanakan. “aku tak menyangka, hippies itu punya banyak kamera.”

“syukurlah, lagipula kameraku juga sedang rawat inap di reparasi, tertular kameramu yang mendadak tak bisa nyala. memang kau pergi berapa lama, sedang tugas ke luar kota ya? habis tumben tv-mu ditinggal nyala, ” tanyaku.

“aku ke Solo, ke kampung halamanmu, meliput seminar kanker serviks,” jawabnya. “lho kamu ke Solo kok gak kabari aku, nanti biar aku hubungi Radita untuk menemanimu, nginap saja di rumah orangtuaku, sekalian nanti aku minta tolong titip bawa akta lahirku."

“nggak usah, aku nginep di hotel, sudah disediakan kantorku, terimakasih. biar nanti Radita aku hubungi, suruh ke hotelku saja, sudah lama juga aku gak ketemu dia, biar sekalian nanti dia bawa akta lahirmu,” jawabnya.

aku berterimakasih sebelum menutup sambungan teleponku, dia menyela, “eh sori-sori-sori Jek, emh, itu, nanti kancut dan kutangku yang kujermur di atas tivi, kalau sudah kering tolong masukan kulkas ya, kamu tahu kan caranya, hehe, makasih ya,” dan aku pun menutup telepon sambil berhutang satu janji padanya. ya ampun Prada yang cantik, tak kusangka kau masih percaya klenik.

Rasuna Adikara
plot/ seri 01/ eps.002: SHERRY/ post: #003. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/011-1604.html

#020: 1603

in this story: Ziantine Larasati

Aku tergolong pemakan yang cepat. Mengunyah terlalu lama atau ngobrol-ngobrol sambil makan adalah hal ganjil buatku. Beberapa orang, dulu selalu mengatakan kalimat standar, "Beng, makan sambil nafas dong" lalu mereka tertawa-tawa. Aku cuma nyengir aja mendengar itu. Tapi lama kelamaan bosan juga mendengarnya. Artikel kesehatan pun mengatakan makan terlalu cepat bisa mengakibatkan gangguan pencernaan atau panas dalam. Bah! Jelas-jelas tidak ada istilah 'panas dalam' di kamus kesehatan.

Aku pikir perempuan pemilik kamar ini akan bawel atau apalah seperti yang kupikirkan, rupanya tidak. Dia diam saja dan tampak menikmati makanan buatannya. Sambil mengunyah sesekali aku perhatikan wajah Zi. Wajahnya datar, matanya agak sayu, dan tanpa senyum. Padahal aku yakin kalau senyum dia pasti terlihat lebih baik. Aku termasuk orang yang percaya saat seseorang hamil, dia memiliki aura cantik tersendiri. Ah, kok aku jadi kayak iklan susu bayi begini ya?

Makanan selesai ditelan. Aku ambil segelas air jeruk dari teko yang berkeringat karena dingin. Kuminum.

"Aaahh... Manisnya pas. Enak. Masakanmu juga mantap," kataku.

Zi tersenyum. "Aku pikir kamu tidak suka. Dari tadi diam saja. Eh iya, kamu pelukis ya, Beng?"

Aku mengangguk. Dia mungkin tahu dari penghuni kamar lain. Si hippies gondrong itu atau orang lobby di bawah sana. Lalu aku baru sadar, bajuku masih ada tumpahan cat. Zi bertanya lagi tentang mengapa aku memilih berprofesi sebagai pelukis.

"Dari kecil aku suka menggambar. Awalnya dengan ranting-ranting mati pepohonan, aku mengurek-urek tanah dan membentuk pola. Apa saja. Yang jelas awalnya mah standar: dua gunung dengan matahari di tengah-tengahnya lalu sawah dan tiang listrik di bawah. Hahaha..."

Dia tertawa. "Standar banget ya anak-anak tuh gambarnya," katanya. "Kayaknya setiap anak kecil, termasuk aku, gambar kayak gitu deh. Emang nih ya guru-guru sama aja ngajar gambarnya."

"Iya, Zi. Dengan melukis, aku berhasil meredam gambar-gambar yang muncul di pikiranku. Dulu hal itu sangat mengganggu, tapi dengan menaruh kelebatan-kelebatan itu di kanvas, ada perasaan lega. Seperti sembuh total dari kanker. Kalau aku tak menggambar, kanker itu akan menggerogotiku sampai mampus. Aku tidak pernah lho memikirkan karyaku akan laku mahal atau tidak. Aku bersyukur saja kalau ada yang mengapresiasi karya-karyaku," paparku panjang lebar.

Suasana mencair. Obrolan seperti ini jarang aku dapat. Berbicara dengan Zi cukup nyaman. Tapi di balik tawa renyahnya, aku rasa dia menyimpan kesedihan yang mendalam. Aku tanya pekerjaannya dan dia bilang "translator buku". Wow, bekerja di penerbitan pernah terbesit di pikiranku dulu. Aku termasuk doyan membaca. Selain kanvas dan cat, kamarku juga dijejali buku-buku.

"Wah, bisa lah ya aku main ke kamarmu suatu waktu," ujar Zi riang.

Sebenarnya aku ingin bertanya dimana bapak si bayi, tapi urung kutanyakan. Aku teringat mesti ke pasar rakyat Gasibu. Ini ritual mingguanku untuk mencari inspirasi.

"Zi, makasih ya untuk sarapan dan obrolan pagi yang menyenangkan. Maaf mengganggu. Aku mesti ke Gasibu. Jalan-jalan pagi. Aufwiedersehen"

"Oh iya, sama-sama, Beng. Makasih untuk tisumu tadi. Jangan sungkan-sungkan untuk mampir kemari. Kan kita tetangga. Bitte"

Hahaha.. ternyata dia mengerti ucapan sampai jumpa itu.

Senyum itu terulas dari bibirnya. Matanya menyipit. Teduh. Di belakangnya, lukisan mirip karya Salvador Dali menantang. Itulah yang aku lihat sebelum membalikkan badan dan keluar dari kamarnya.

"Time fly away, mate"

Waktu terbang. Cepat sekali berlalu. Tahu-tahu aku sudah tiga puluh tahun sebulan lagi.

Langa Beng Otanga
plot/ seri 01/ eps.003: BIBIT PSIKOPAT DI KEBUN SINGKONG/ post: #006. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/018-1603.html