Lantai 16

Showing posts with label Sherry. Show all posts
Showing posts with label Sherry. Show all posts

7/19/10

#040: 1605

in this story: Kolabton Nawalem, Ziantine Larasati


Aku terduduk lemah. Akhirnya aku berhasil menyelamatkan Zi dan ketiga anak kembar yang di kandungnya meskipun mereka, baik ibu maupun anak-anak, sangat lemah dan sangat butuh perhatian intensif. Aku hanya bisa memandangi kedua jemari tanganku yang bersih dan steril. Sarung tangan karet sudah tidak berada di sana lagi. Aku yang masih berpakaian atribut operasi lengkap hanya bisa terdiam.


Ah, aku kembali ke dunia ini. Dunia semuku. Kalau bukan karena desakan dari Kolabton _itu nama seniman nyentrik yang aku ajak bicara tempo hari dan, dan, dan telpon darinya. Ayahku.


*


.Sehari sebelumnya.


"Jadi begitu, menurutmu, aku datang gak ya ke kawinan Eibi?" aku menodong pertanyaan kunci, setelah menceritakan masalahku, mengapa bisa jadi rumit, menurutku, dari awal hingga sekarang kepada Kolabton yang masih asik memetik-metik senar gitarnya. Sesekali ia berhenti sebentar, seperti memikirkan sesuatu, lalu mulai memetik gitar lagi. Aku tidak tahu apakah dia mendengarkan semua ceritaku, aku tidak peduli, Aku hanya ingin menumpahkan segala yang ada dipikiranku, yang sudah terlalu penuh, hingga mampat, bumpat.


Kolab menyeruput kaleng birnya hingga bir itu habis, meremas kaleng itu, kemudian melemparnya entah kemana. Sraak! Oh, rupanya masuk ke tempat sampah yang berupa plastik hitam besar sekitar 2 meter didepannya.


"Permisi," sapa sebuah suara dari pintu "Oh kamu di sini juga, Sher?" katanya lagi. Aku menoleh.


"Eh, Prada. Iya nih, lagi cerita-cerita aja sama Kolab. Tadinya mau cerita ke kamu, tapi kamunya belum pulang tampaknya," jawabku. Aku kembali meneruput kaleng birku yang isinya sudah mau habis.


"Oh, tadi ke rumah sakit,"


"Iya si Kolab ini juga baru cerita. Semoga Zi baik-baik saja ya." kataku sambil menoleh ke tempat Kolab bersemayam. Kolab masih saja memetik-metik senar gitarnya.


"Kolab, ini kameramu. Terima kasih banyak ya," kata Prada seraya menaruh tas yang berukuran sedang di atas meja pantry.


"Sip. Sama-sama. Kalau perlu apa-apa lagi. Tinggal kesini aja. Ga usah ragu-ragu lah," ujar Kolab kemudian.


"Oke. Aku ke kamar ya. Sher, aku ke kamar ya. Kamu kalau ada apa-apa, ke kamar aja. Oke?" kata Prada kepadaku, "Oh! hampir lupa! Kamu sudah baca artikel-artikelku?"


"Belum semuanya. Tadi baru sekilas-sekilas saja. Terima kasih ya! Pasti aku baca," jawabku lagi. Pradapun berlalu. Suasana pun hening kembali. Tadi suasana cukup ramai dengan kedatangan Prada, soalnya dari tadi hanya aku saja yang bicara. Tapi aku lebih suka seperti itu.


"Gak usah datang saja," kata Kolab tiba-tiba. Aku sampai kaget. "Kamu bilang tadi kamu apa?" tanyanya kemudian.


"Apa?" aku tidak mengerti.


"Profesimu, kamu bilang tadi profesimu apa?" tanyanya lagi.


"Oh.. emm.. Dokter. Aku dokter bedah. Tapi aku tidak suka pekerjaan itu," kataku.


"Tolong CJ, gimana?" ujar dia, masih santai.


"Apa itu CJ?" aku benar-benar tidak mengerti. Orang ini memang susah dimengerti. BIcara dengan bahasanya sendiri. Seru sekali.


"CJ, anak yang ada di dalam kandungan Zi, aku punya firasat, operasi nanti akan gagal, dan aku punya firasat, kamu yang bisa menolongnya," katanya lagi. Kali ini dia pindah duduk ke tempat tidur gantungnya.


"Ah, aku sudah hampir 6 bulan tidak pegang pasien, bisa bahaya, lagi pula, kadar alkohol dalam darahku sangat tinggi, bisa sangat beresiko kala sewaktu2 aku terkena serangan jantung," pungkasku asal. Soal alkohol aku serius.


trrrrrrrrrrrt… trrrrrrrrrrrrt..


Ponsel dikantong celana pendekku bergetar. Pada layarnya tertera nomor tidak di kenal. Aku paling malas menjawab telpon tidak di kenal. Maka aku reject saja. Baru aku mau bicara membela diri dan menanyakan mengapa dia menyuruh aku untuk tidak datang ke perkawinan Eibi ponselku kembali bergetar. Masih nomer yang sama. Ku reject lagi. Bergetar lagi. Ku reject lagi. Yang kesekian kalinya rupanya ada nama di layar ponselku. Namanya: Ayah.


"Ayah?" tanyaku pelan-pelan ketika menangkat telpon itu. Aku takut disembur api yang keluar dari mulut Ayah, meskipun aku tahu, api itu tidak akan keluar lewat speaker ponseku, api tidak merambat dari sinyal telepon. Tapi aku tetap saja takut.


"Bi, ini ayah.." kata suara diseberang sana. Masih seperti terahir aku bicara padanya, suara berat, akibat pengaruh nikotin yang ia hisap dari ia kecil, dan sedikit pengaruh alkohol yang sering dia minum dulu, sekarang sudah tidak. Dia memanggilku dengan Bi, nama kesayangannya, diambil dari namaku yang lain, selain Sherry, tapi aku lebih suka namaku Sherry saja.


"Ya, ayah. Ada apa ayah tiba-tiba menelepon? Ayah sehat-sehat?" tanyaku sesopan mungkin.


"Ayah ingin minta sesuatu sama kamu, Bi. Kamu bisa ke kantor ayah kan? Sekarang. Ayah dengar dari mamamu, kamu di Bandung," kata ayah. Tanpa menanyai kabarku, sehat atau tidak, apa yang sedang aku risaukan, ah, ayah.


"I..iya Ayah aku di Bandung, tapi, kenapa mendadak?" aku tidak tahu mengapa aku tidak pernah bisa berbohong kepada ayah. Kolabton meperhatikanku, mungkin dia heran melihat perubahan mimik mukaku, seperti orang habis menginjak kotoran.


"Ayah tunggu," kemudian ayah menutup telpon. Begitu saja. Ayah, masih seperti dulu. Keras. Dan aku juga masih saja seperti yang dulu. Tidak bisa membantah ayah. Satu-satunya yang pernah aku lakukan adalah berhenti bekerja dan kabur ke Bandung. Bodohnya aku, ayahku kan juga bekerja di salah satu rumah sakit di Bandung. Fuk.


Aku bengong, kemudian balik memandang Kolab, dan Kolab sudah terseyum, memandangku. Ah?



*


Anak buah ayah gagal operasi pasiennya. Ayah, dokter ahli bedah terkenal dan sangat disegani Ikatan Doker Bedah di Indonesia sudah pensiun beberapa tahun yang lalu, ia sudah terlalu tua untuk mengoperasi orang, paling ayah ikut rapat dan diskusi penanganan kasus suatu pasien. Kali ini, anak kesayangan Ayah, Willy, yang juga sepupuku ternyata gagal mengoperasi seorang wanita yang terkena trauma pada rahimnya, dan ia sedang hamil 18 minggu.


Dari dulu ayah selalu membanggakan Willy. Willy lebih tua 3 tahun dariku, dia seorang dokter bedah yang cukup baik, prestasi di sekolah maupun ditempatkuliah sangat membanggakan, sama seperti ayah waktu muda. Aku, yang juga seorang dokter bedah, prestasiku biasa-biasa saja, susah payah aku mengejar gelar itu. Aku tidak tahu apakah ayah bangga padaku atau tidak. Beliau hanya diam mengetahui prestasiku yang biasa-biasa saja. Waktu aku mengikuti upacara sumpah dokter, ayah tidak hadir.


Sekarang ayah mengutus aku untuk menggantikan Willy. Susah payah aku membujuk ayah, bilang kalau aku sudah lama tidak pegang pasien, dan lain-lain. Ayah tetap pada pendiriannya.



*


Aku masih memandangi jemari dan tanganku. Aku juga masih duduk di kursi panjang di ruang tunggu depan kamar operasi. Kugerak-kegerakan jemari-jemariku. Pintu ruang operasi terbuka, kulihat ayah keluar dengan mengenakan baju operasi sama sepertiku. Ayah mendekatiku. Kemudian ayah menepuk pelan punggungku. Sepersekian detik aku merasa lewat senduhan itu ada cairan gaib yang menjalar dari punggung hungga ujung jari tangan dan kakiku. Dalam diam ia berlalu dan pergi meninggalkanku.


Aku memandangi punggung ayah, punggung yang dulu aku lihat sangat tegap, kuat, kini sudah tidak lagi. Punggung itu lelah, dan jengah. Dan pipiku pun menghangat.


Sherry
plot/ seri 01/ eps.002: SHERRY/ post: #005. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/in-this-story-kolabton-nawalem-aku.html

#039: 1604

in this story: Kolabton Nawalem, Sherry.

*Plop*
Mendadak ada sms masuk ke blackberryku. Pesan singkat dari atasanku. Prada, besok temani saya meeting ya! Ada penawaran dari klien baru. Saya tunggu di Patra Jasa pukul 9 pagi. Bisa dibilang saya termasuk anak emas Bos Ratu. Begitu kami memanggil Pemimpin Redaksi kami. Tidak ada yang bisa menolak permintaannya, bahkan dia terkesan tidak pernah meminta, semua diputuskan olehnya. Kadang menyebalkan, namun apa mau dikata, toh dia atasanku.

Sebagai "anak emas" Bos Ratu, aku selalu diberikan privilege lebih di antara teman-teman sekantor. Kadang aku bisa memutuskan sendiri apa yang mau kuliput, bahkan pernah beberapa kali aku yang menetapkan isu untuk satu edisi.

Baik, bu. Selamat malam. *SMS sent*

Kulirik orang-orang sebelahku, terlihat sekali mereka gelisah, terlebih lagi Jeko. Sudah terlalu malam. Aku harus pulang. "Aku pulang duluan ya? Besok ada meeting pagi, aku tidak boleh telat untuk hal ini. Jeko, kamu baik-baik saja kan? Tenang, Zi pasti baik-baik saja," ujarku sambil tersenyum pada Jeko. Jeko masih belum banyak bicara. Hanya enam patah kata. "Iya, kamu hati-hati di jalan," ujar Jeko.

Setelah pamit kepada semua orang yang masih menemani Jeko, aku pun beranjak ke arah pintu keluar. Tiba-tiba. "Prada!" Ada yang memanggilku. Oh ternyata si hippies. "Ya?" "Aku juga mau pulang, biasa jadwal ngamenku sebentar lagi. Tenang, si Jon sudah kubayar untuk menemani Jeko takut mendadak perlu apa-apa," imbuh si hippies alias Kolab. Itu nama aslinya. "Baiklah," ujarku sambil tersenyum. Dan kami pun meninggalkan Hermina menuju Seguni.

Kami memutuskan untuk naik taksi. Beruntung ada taksi yang baru saja menurunkan penumpang di lobi. Segera kami stop untuk ditumpangi.

"Oh iya, maaf yaa kameranya belum dikembalikan. Masih belum saya transfer foto-fotonya ke laptop saya," ujarku memecah keheningan taksi ini.
"Ohh iya ga papa, lagipula kan saya sudah bilang, saya punya banyak kamera. Jadi kalau cuma satu yang dipinjam sih ga masalah. Kalau semuanya baru, sayanya kelabakan. Hahahahaha," si hippies ternyata periang. Bisa kunilai dari gelak tawanya yang begitu lepas. "Jadi, bagaimana Solo?"
"Solo menyenangkan. Pekerjaan di sana lancar, thanks to your camera," ujarku sambil tersenyum.
"Hahahaha, sama-sama. Senang bisa ngebantu kok. Tadinya saya mau ke Solo juga, cuma ga jadi."
"Loh? Mau ke Solo juga? Kenapa ga jadi?"
"Iya, ga jadi aja, hehehhee.. CJ mendadak bilang ga usah kesana, jadi ga jadi deh,"
"CJ?"
"Itu, si calon janin Zi. Dia sering main ke kamarku. Dia temanku, bahkan terkadang jadi penasehatku," Kolab tidak berhenti tertawa. Semua perkataannya diselipkan dengan tawa. Namun ia mendadak tertunduk. "Semoga CJ baik-baik saja ya. Dia bilang sih dia baik-baik saja. Semoga dia benar." Mendadak raut muka si hippies sedikit tertekuk.
"Aku yakin mereka baik-baik saja," ujarku sambil tersenyum berharap sedikit meredakan kesedihannya.

Tidak terasa kami sudah sampai di depan Apartemen Seguni. Usai membayar si taksi, kami beranjak pergi menuju lobi. "Mbak Prada, Mas Kolab. Mbak Zi baik-baik saja kan ya?" tanya Susi si gadis lobi. "Tadi masih dioperasi. Semoga semuanya baik-baik saja ya? Kamu berdoa juga ya, Susi," jawabku. "Pasti mbak! Oh iya. Liftnya sudah benar." "Terima kasih yaa, Susi," tuturku sambil meninggalkan Susi.

Kupencet angka 16. Kulirik Kolab, dia masih agak diam, maksudnya, tidak seceria tadi sebelum membahas janin Zi. "Kamu ga papa, Kolab?" tanyaku. "Hm? Oh ga papa, hehehe," jawabnya sambil menyengir. Wah? Cepat sekali perubahan emosinya.

*Ding*

Kami sampai juga di lantai 16. Sepi. Jelas.
"Nanti aku ke kamarmu ya setelah selesai memindahkan datanya," ujarku pada Kolab yang sudah beranjak ke kamarnya.
"Oke," jawabnya singkat.

Kubuka pintu cokelat tuaku. Kulewati pantry yang masih berhiaskan piring dan gelas bekas yang belum dicuci, hmmm mungkin sejak seminggu yang lalu. Si malas masing menggerogotiku. Segera kuberanjak ke meja kerjaku. Letaknya sejajar dengan kasur king size-ku. Nyalakan si toshi, transfer foto, charge PSP, kembalikan kamera, mandi, tidur. Rentetan agenda beberapa menit ke depan sudah sibuk mengantre di kepalaku. Oke, oke, satu-satu.

Dalam hitungan menit, kamera si hippies sudah ada di tanganku. Siap dikembalikan ke si empunya yang punya barang. Beranjaklah aku ke kamar si hippies. Seperti biasa, pintunya terbuka begitu saja. Oh ada tamu ternyata. Hmm, bau ini. Pasti Sherry.

"Permisi," ujarku sambil mengetuk pintu dan masuk. "Oh kamu di sini juga, sher?"
"Eh, Prada. Iya nih, lagi cerita-cerita aja sama Kolab. Tadinya mau cerita ke kamu, tapi kamunya belum pulang tampaknya," tutur Sherry yang asik meneguk bir daritadi.
"Oh, tadi ke rumah sakit,"
"Iya si Kolab ini juga baru cerita. Semoga Zi baik-baik saja ya."
Kolab masih asik menyetem gitar. Sesekali meneguk bir yang semerk dengan yang dipegang Sherry.
"Kolab, ini kameramu. Terima kasih banyak ya,"
"Sip. Sama-sama. Kalau perlu apa-apa lagi. Tinggal kesini aja. Ga usah ragu-ragu lah," ujar Kolab yang masih asik sendiri.
"Oke. Aku ke kamar ya. Sher, aku ke kamar ya. Kamu kalau ada apa-apa, ke kamar aja. Oke?" ujarku seraya meninggalkan mereka berdua. "Oh! hampir lupa! Kamu sudah baca artikel-artikelku?"
"Belum semuanya. Tadi baru sekilas-sekilas saja. Terima kasih ya! Pasti aku baca," jawab Sherry sambil tersenyum. Manis. Semanis wangi parfumnya yang khas itu.

Aku beranjak ke kamarku. Mandi. Tidur. Tinggal dua pengantre di otakku. Selamat malam kalau begitu :)

Prada Prameshwari
plot/ seri 01/ eps.002: SHERRY/ post: #007. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/035-1604.html

7/18/10

#037: 1601

in this story: Sherry, Rasuna Adikara, Kolabton Nawalem, Prada Prameshwari, Langa Beng Otanga.

Semuanya terang. Terlalu terang hingga aku tak bisa membuka mata. Tapi lamat-lamat kudengar suara-suara disekitarku.

"Ini untuk yang kedua kalinya dia masuk ruang operasi. Ada apa lagi dengan dia?" seseorang menggerutu.

Ruang operasi? Untuk apa aku disini? Untuk yang kedua kalinya pula?

"Jahitan di leher rahim sepertinya membuka, kita akan mencoba menjahitnya lagi" sebuah suara lain yang simpatik terdengar di telingaku.

Jahitan? Leher rahim?? Apa yang terjadi denganku? Aku lantas mencoba mengingat-ngingat. Aku ingat tadi aku menuruni tangga apartemen karena lift rusak, aku ingat bagaimana Jeko menemaniku turun lalu Sherry, perempuan dugem datang menaiki tangga dan....ah aku jatuh, melihat darah, dan aku tidak tahu apa-apa lagi.

Jadi aku pendarahan? Lantas bagaimana dengan janinku? Bagaimana dengan calon anak-anakku? Apakah mereka selamat?

Sambil panik merasakan ini aku merasakan tangan-tangan menggerayangi tubuhku. Seseorang menempelkan sesuatu di dadaku. Di sebelah atas payudara kananku, orang lainnya menempelkan sesuatu di jariku. Meski bisa merasakan tekanan mereka aku tidak lagi merasa apapun. Aku hanya tahu mereka menekanku.

"Siapa yang mengoperasi? Dokter Willy lagi?" suara yang tadi menggerutu bertanya.
"Entahlah, tapi kudengar Dokter Willy sedang meminta bantuan temannya. Katanya ini kasus khusus. Mungkin karena operasi pertama gagal." ini suara yang lain lagi. suara perempuan

Ah, jadi sebenarnya berapa orang sih yang ada di sini? Aku mencoba berpikir. Membedakan suara-suara mereka.

"Kira-kira seberapa cepat dokternya datang?" ini si gerutu lagi bersuara.
"Entahlah, tapi kuharap sesegera mungkin. Pendarahannya harus segera dihentikan. Aku tak tega melihata suaminya yang menangis di ruang tunggu dari operasi pertama tadi. Sekarang kurasa ia masih menagis disana " ini si simpatik lagi

Hmm. Suami?? Mana mungkin suamiku kesini? Ah aku lupa. Aku sudah tak punya suami!

Pintu terdengar terbuka. Wangi yang familiar menyapa penciumanku. Wangi yang begitu manis dan terlalu familiar.

"Ini Dokter Sherry. Dia akan menjadi dokter operasi malam ini, saya akan menjadi asisten dokter. Meski bukan dokter indent saya harap tidak ada yang mempertanyakan kualitas dokter Sherry. Dia mengambil dua spesialisasi di Amerika dan lulus cum laude pada keduanya." suara bariton terdengar.

Dokter Sherry?? Mungkinkah Sherry yang itu?!

"Baiklah operasi kita mulai!" ini suara perempuan...mirip Sherry tetanggaku itu.

Aku merasakan sepasang tangan meraba-raba perut dan bagian bawahku.

"Usia kehamilan 18 Minggu, ibu memiliki pendarahan hebat karena terjatuh, dijahit tapi berdarah kembali" ini si bariton.
"Jahitannya terlepas. Ada yang tidak sempurna saat penjahitan pertama. Teknik Jahit seperti ini tidak akan cukup untuk menopang tiga janin sekaligus. Kita akan membuka kembali jahitan itu" ini suara Sherry. Tegas. dan entah bagaimana cukup menenangkan.

Aku lantas mendengar Sherry meminta alat-alat operasi. Gunting, jarum, benang.

"saya akan melakukan figure of eight suture atau teknik jahit angka delapan untuk menjahit leher rahim. Lapis dalam lapis karena luka cukup dalam. Air ketuban bagus dan janin dalam keadaan sehat."

Aku sangat tenang mendengar janin kembar tigaku sehat-sehat saja. Terserah pada Sherry mau seperti apa dia menjahit mulut rahimku. Yang penting janinku selamat.

Kres kres kres. Aku merasa tekanan-tekanan gerakan di bawah. Tapi hanya tekanan saa. Tidak ada sakit atau apapun.

"Ini jahitan terakhir. Ya! cervial cercleage selesai! Kondisi jantung ibu normal, Tekanan darah normal. Janin sehat. Pasien bisa dibawa ke ruang perawatan"

Dengan itu operasi selesai. Aku bisa merasakan orang-orang mulai membuka apa yang asalnya mereka letakkan di tubuhku. Membuka baju operasiku dan menggantinya dengan baju rumah sakit dengan pelan dan hati sebelum aku dipindahkan menuju ranjang berjalan. Begitu lampu yang sangat terang itu dimatikan, aku membuka mata. Beberapa perawat menoleh dan tersenyum menyadari aku sudah sadar. Atau setengah sadar karean aku belum merasakan dingin, panas atau rasa sakit yang seharusnya datang.

Saat pintu keluar operasi dibuka. Aku melihat Sherry, Jeko, Beng, Prada, Hippies depan kamar dan satu perempuan yang tadi kulihat di depan kamar Jeko. Sherry masih dengan baju operasinya. Aku hanya bisa tersenyum dan menggumamkan terimakasih sebelum mataku memberat. Aku ingin tidur.

Ziantine Larasati
plot/ seri 01/ eps.004: SI CALON JANIN/ post: #005. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/032-1602.html

#036: 1605

in this story: Kolabton Nawalem


Aku butuh teman diskusi. Setelah beberapa bulan belakangan kabur masalah akhirnya hal yang sebelumnya sudah kupikirkan sebelumnya terjadi juga. Aku capek berlari. Aku ingin berhenti, sedikit mengambil nafas, kemudian berjalan seperti biasa. Suapa aku masih bisa menikmati pemandangan disekitarku.


Besok, hari pernikahan Eibi. Datang atau tidak? Sampai sekarang aku masih belum bisa memutuskan. Aku sangat ingin melompat hari esok, aku ingin sekali tidak datang, seharian tidur di kamar, tapi ini EIbi. Hati kecilku masih berusaha untuk menghentikan pernikahan itu. Tapi, kalaupun pernikahan itu tidak jadi terjadi, apakah aku berani menggantikan posisi wanita di sisi Eibi. Apakah aku berani untuk menjadi seorang istri?


Sungguh aku butuh teman diskusi. Dari buku "How to forger you ex in 30 days" mengatakan demikian. Jika anda sudah tidak tahu lagi apa yang ahrus anda lakukan, biar orang lain yang memutuskan. Yeah, bodoh. Tapi toh aku memang bodoh untuk urusan cinta.



Teman.. hmm.. teman… Ah, sudah berapa lama aku tidak bicara dengan orang lain dalam keadaan sadar? Teman lamaku mungkin sudah mengira aku mati bunuh diri. Pikiranku melayang. Siapa temanku…?


*


"Tok tok tok.."


Kuketuk pintu kamar itu. Kamar bernomor 1604. Kamar Prada. Sekitara 30 detik tidak ada jawaban, aku mengetuk pintu itu untuk yang kedua kalinya. Masih belum ada jawaban. Sepertinya tidak ada orang di dalam kamar itu. Kemudian aku berbalik memandang pintu kamar yang berada tepat di depan kamarku. Ah, mantan kamar Dinasti, temanku, dulu, dua bulan yang lalu Dinasti pindah ke Swedia untuk urusan pekerjaan. DIa dulu yang menenangkanku ketika aku hampir mati tercekik sesak napas saking lamanya menangis. Sekarang kamar itu sudah dihuni orang lain.


Kemudian aku mulai berjalan di lorong lantai ini. Melewati lift dan pintu tangga darurat. Berjalan menuju sisi lain lantai 16 ini. Entah apa yang ada dipikiranku. Yang jelas kakiku ini seperti berjalan sendiri. Seperti ada yang menyuruhnya untuk berjalan, tapi bukan saraf motorik otakku. Aku belum pernah berkenalan sebelumnya dengan orang-orang penghuni 16 di sisi ini.


Dari empat kamar yang ada, tiga diantaranya tertutup rapat, satu yang berada di pojok dan berada sama di sisi kamarku pintunya terbuka. Kakiku masih terus berjalan, menuju ke arah pintu yang terbuka. Sesampaiya didepan kamar tersebut, langkahku terhenti. Tanganku memegang kusen pintu. kepalaku mulai bergerak melongok kedalam kamar tersebut sampai setengah badanku ikut masuk.


Masih tidak tahu apa yang ada dipikiranku, aku masuk kedalam kamar itu. Aku memandang berkeliling. Ada banyak, banyak sekali barang barang aneh di sini. Kulihat tempat tidur gantung, dibawahnya tergeletak seonggok gitar busuk. Ada kulkas, tapi entah tahun berapa itu kulkas diproduksi. Seperti jaman kakekku saja. Di langit2nya terdapat jam dinding super besar dan aku tidak habis pikir bagaimana cara memasang benda itu.


Tidak ada orang. aku memilih duduk di lantai dekat tumpukan ___sepertinya piringan-piringan hitam. Karena hanya ditempat itu sepertinya yang bisa diduduki oleh manusia. Kamar ini terlalu berantakan. Bahkan untuk ukuran aku yang sudah termasuk perempuan berantakan. Hmm. Suka musik sekali, ya, nampaknya. Aku mencari pemutar piringan hitam. Masa punya banyak koleksi piringan hitam tapi tidak punya gramophonenya?


Kubongkar tumpukan baju kotor cum sprei cum jaket cum kolor cum selimut yang menumpuk diatas sofa. Dan aku kaget sekaget kagetnya sampai rasanya jantungku jatuh hingga kel ututku. Sesosok mirip manusia yang ternyata adalah manekin botak tergeletak nyaman dibawah tumpukan tersebut. Astaga. Orang macam apa yang tinggal di dalam kamar ini?


Aku memindahkan manekin plus tumpukan laundry ketempat lain sehingga akupun ahirnya bisa duduk di sofa. Baru aku sadar. Ngapain aku ada disini?


"Hei?" tanya sebuah suara dari arah pintu.


"Eh, hai, maaf, pintu kamarku tadi terbuka.. eh? kamu?" sebentar-sebentar, kayaknya aku pernah liat pria yang sekarang sedang mengambil minuman di kulkas, seakan-akan tidak heran ada orang asing di kamarnya. Dan pria ini, dia kan yang waktu itu di tangga darurat?


"Kamu, yang waktu itu tidur di tangga ya?" tanyaku kemudian.



"Hah?" dia nampak bingung, wajahnya muncul dari balik pintu kulkas kemudian mendekatiku sambil membawa dua kaleng bir, memberikannya kepadaku dan mendekatkan wajahnya padaku. "Sherina, ya?" katanya.


"Sherry. Aku Sherry," aku membetulkannya. Wah, ternyata ini kamar seniman aneh ini. Pantes. "Tidak apa-apa kan aku di sini? Sibuk?" tanyaku sambil menyeruput bir yang tadi diberikannya. Ah, segar sekali. Seperti bir yang paling enak di dunia. Aneh.


"Oh.. gak papa.. santai saja. Anggap rumah sendiri. Aku tidak begitu sibuk. Tadi baru saja dari rumah sakit. Zi, kamu kenal Zi? Dia tetangga depan kamarku, tadi terpeleset ditangga darurat" cerocosnya. Dia pun duduk di sampingku, sisi sofa sebelah satunya lagi sehingga kamu bisa berhadap-hadapan, akupu membetulkan posisi dudukku.


"Wah? Gawat kah?" tanyaku spontan.


"Lumayan, tapi CJ bilang dia tidak apa-apa.." ujarnya santai. Kemudian mengambil gitar (oh rupanya gitar itu masih bisa berfungsi) dan mulai memetik-metik benerapa nada.


Aku diam. Tidak mengerti apa yang dikatakannya. Aku rasa orang ini cukup nyentrik. Dan aku rasa orang ini bisa diajak diskusi tentang masalahku. Sudah ada bir lagi ditangan kita berdua. Heheheheheheheheheee….


Sherry

plot/ seri 01/ eps.002: SHERRY/ post: #004. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/029-1605.html


#035: 1604

in this story: Rasuna Adikara, Kolabton Nawalem, Ziantine Larasati, Sherry.

Selesai juga tulisan tentang si Kanker Serviks ini. Lumayan, minggu ini deadline tidak seburu-buru biasanya. Inilah enaknya liputan ke luar kota, aku hanya perlu menyelesaikan beberapa tulisan dari satu isu. Peer tulisan untuk deadline minggu berikutnya pun diberikan kepada orang lain. Sayang, untuk satu edisi belum tentu ada liputan ke luar kota, dan kalaupun ada, dan belum tentu diberikan padaku.

Kuputuskan untuk print tulisan-tulisan tersebut dan akan kuberikan pada Sherry. Ya, Sherry, si gadis yang selalu wangi. Kehadirannya mudah sekali kukenali, bila ada wangi parfum--kadang tercampur bau alkohol--di pelataran apartemen ini, bisa dipastikan itu Sherry.

Nah, sudah ter-print semua. Matikan Toshi, ambil si LV, coat hitam--belakangan ini Bandung terlampau dingin, oh tak lupa si blackberry, mari keluar sekalian cari makan. *Ting, tong.. Ting, tong..* Hmm, mungkin Sherry belum pulang. Kuputuskan untuk menyelipkan kumpulan tulisan ini di bawah lantai pintu Sherry. Kuambil secarik kertas dan kutulis:

Untuk Sherry,

Maaf kalau aku lancang, tapi artikel-artikel ini mungkin berguna untuk kamu :)

Prada Prameshwari

Sudah. Mari cari makan!

*

Cihampelas Walk malam ini ramai sekali, bahkan terlalu ramai. Kuputuskan untuk makan malam di Gokana bersama teman baikku, Minna. All single ladies, all single ladies... Kulirik sedikit si blackberry sambil terus mengunyah Yakimeshi. Syamina Walendra Prameshwari alias Ibuku. Agak malas sebenarnya kujawab telepon si ibu. Paling-paling beliau beraksi lagi ala matchmaker sejati. Ya, inilah kerjaan ibuku baru-baru ini, jodoh-menjodoh ala jaman Siti Nurbaya. Keluargaku jawa asli, Yogyakarta lebih tepatnya. Ibuku keturunan asli Adipati Mangku Bumi. Sayangnya, si darah biru kerap membuatku terbelenggu, membeku. Apalagi kalau bukan masalah calon suami.

Usiaku baru menginjak angka 27 tahun ini, namun Ibuku sudah heboh sendiri mencari calon suami untukku. Memang tinggal aku yang belum menikah di antara 2 saudara tertuaku. Bukannya tidak laku, namun seperti yang aku bilang tadi, darah biru ini kerap membuatku membeku. Tidak bisa memilih sesuai dengan keinginanku. Permasalahannya terletak di suku adat si calon suami. Keluargaku, oh lebih tepatnya Ibuku, hanya mau menerima calon suami yang berasal dari keturunan kerajaan asli. Apalagi kalau bukan masalah gengsi. Bilangnya sih, demi menjaga silsilah. Ah, pikiranku terlalu liberal untuk itu. Makanya sampai saat ini aku memutuskan untuk menyibukkan diri daripada memikirkan si calon suami yang harus keturunan asli. Blah.

*Klik* Akhirnya kujawab juga telepon Ibuku.
"Kamu dimana mbak? Kok telepon Ibu lama sekali dijawabnya? Kamu lagi apa toh?"
imbuh Ibuku. "Lagi makan, bu. Ini sama Minna temanku. Ada apa, bu, telepon jam segini?"
"Ini Ibu baru pulang dari arisan Ibu-Ibu Dharma Wanita. Terus tadi Ibu dikenalkan sama keponakan Bu Timya. Ternyata dia juga orang Jogja loh mba! Blablablabla...." Sengaja kujauhkan telingaku kalau urusannya sudah begini. Hitung 10 detik, baru pasang kuping kembali, dan Ibuku pasti masih basa-basi. Ah mumpung ada Minna, jadi dia bisa kujadikan alasan untuk menyudahi percakapan ini.
"Ibu, Ibu, (aku harus memanggil beberapa kali sampai akhirnya Ibuku berhenti berbicara sendiri), Ibu, ini aku lagi makan loh sama Minna. Gak enak terima telepon di depan orang begini. Ibu telepon saja nanti lagi ya?" ujarku memotong kalimat panjang si Ibu. "Oh begitu? Yasudah. Nanti Ibu telpon lagi ya, mbak. Ini anaknya baik sekali loh. Tadi saja Ibu diantar pulang ke rumah." imbuh Ibuku tetap promosi. "Iya, bu. Sudah ya. Selamat malam Ibu, salam sama Bapak yaa."

Akhirnya. "Barang baru lagi ya?" ledek Minna sambil tertawa. "Ah sial kamu, udah ah." ujarku sambil agak cemberut.

Selesai makan kuputuskan untuk membelikan Jeko makanan, beli J.Co aja kali ya? Tatitutatitut. Tuuutt. Tuuttt. Kuputuskan untuk menelepon Jeko terlebih dahulu, barangkali dia tidak pulang malam ini.
"Halo, Jeko? Aku lagi di Ciwalk nih, kamu pulang ga malem ini? Aku mau belikan J.Co kesukaanmu." Terdengar sesenggukan di ujung sana. Aku panik. "Jeko? Jeko? Kamu ga papa??" Tiba-tiba ada yang berbicara, bukan suara Jeko. "Halo, mba Prada ya? Saya Jon, supir taksi. Saya juga pernah nganter mba kok."

"Loh supir taksi? Emang Jeko lagi dimana?? Jeko ga papa??" ujarku makin panik. "Tenang mba, Jeko ga kenapa-napa. Ini kita lagi di rumah sakit, mba Ziantine tadi terjatuh dari tangga. Pendarahan. Ini saya juga lagi nunggu si Kolab, katanya mau kesini juga." tutur Jon.

"Hahh???? Zi jatuh?? Astaga! Yaudah saya langsung ke sana juga! Rumah sakit mana sih?" Selesai Jon menyebutkan nama rumah sakit tempat Zi dan Jeko berada, aku memutuskan langsung bergegas ke J.Co untuk memesan. "Dua lusin, mas! Cepat ya! Campur aja semuanya! Oh, Alcaponenya yg banyak ya!"

Aku pun berpamitan dengan Minna dan bergegas menaiki taksi di depan Mall ini. "Ke Hermina pak! Ngebut ya!"
Untung si supir taksi cukup lihai. Tidak sampai sepuluh menit, aku sudah sampai di rumah sakit bersalin ini. Akupun bergegas ke UGD. Mungkin masih pada disana, pikirku. Dan benarlah, kutemukan Jon si supir taksi, Kolab si hippies, Beng si misterius, dan Jeko yang tertunduk masih menangis.

Kulihat pintu UGD, lampu merahnya masih menyala.
Semoga Zi tidak apa-apa.

Prada Prameshwari
plot/ seri 01/ eps.004: SI CALON JANIN/ post: #004. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/026-1604.html

7/17/10

#029: 1605

in this story: Prada Prameshwari

Ku terbangun, Kaget. Tapi tidak tahu mengapa aku terbangun kaget. Mungkin mimpi. Kulihat jam dinding yang sengaja gantung di dinding atas tempat tidurku, supaya aku bisa sedikit beranjak untuk melihatnya. Supaya gak telalu malas-malas amat. Baru pukul lima. Udara dingin sekali. Rupanya aku lupa menutup jendela ke Balkon, aku menyadarinya dari tirai broken white ku yang melambai2 pelan terlitup angin.


Kemudian aku memeriksa sisi kiri tempat tidurku. Aku memang terbiasa tidur di sisi kanan. Tidak ada siapa-siapa. Aku mengembuskan nafas lega. Baru kali ini aku pulang tidak dengan orang lain. Pria-pria kesepian yang hanya ingin bercinta denganku, atau pria2 bosan dengan istrinya atau pacarnya yang juga ingin merasakan kemolekan tubuhku.


Aneh, aku tidak bisa tidur lagi. Rasanya tubuhku ini meolak untuk diajak ke alam mimpi lagi. Kuputuskan untuk bangun dan membuat teh chamomile oleh-oleh ibu dari perjalanannya entah kemana. Mungkin pagi ini bisa menjadi momen yang sangat tepat untuk bersantai, merenung menikmati pagi secara sadar yang entah berapa lama sudah tidak aku nikmati lagi.


*


Aku menyeruput the chamomile ku yang sebelumnya aku nikmati dulu harumnya. Kurasakan hangat menjalar ke tenggorokanku pelan-pelan turun keperut lalu sampai ke ujung jari tangan dan kaki. Aku mulai membuka laptopku dan iseng melihat semua akun jejaring sosial yang aku punya yang sudah sangat lama tidak aku urusi. Yah, ngurus dunia nyata aja sadar-tidak sadar, apalagi harus ngurus dunia maya?


WOW, sungguh banyak kehebohan di dunia maya, ya. Sebulan ini aku juga tidak mengaktifkan layanan langganan internet menggunakan smartphone. Rasanya aku malas dan aku muak dengan segala yang sedang dan sudah terjadi. Kemudian dengan bodoh dan klisenya aku asyik minum-minum dan bercinta sesuka dengan hati dengan pria manapun ____ yang tampan tentu saja.


Aku sebenarnya tidak gitu-gitu amat, mungkin mereka kira aku ini seorang perek murahan yang tidak tahu malu. Tapi mereka tidak tahu aku, yah, aku juga tidak pernah cerita dengan orang dipinggir jalan, toh? Kadang aku suka tertawa dalam hati melihat orang-orang memandang aneh ke arahku, memandang sinis, memandang heran, memandang nafsu. Ah, betapa dangkalnya mereka hanya menilai orang dari sisi luarnya saja.


Kemarin ketika aku baru pulang dari Bar, tetanggaku _entah siapa namanya_ mengusap-usap perutnya seakan-akan dia sedang hamil (atau memang lagi hamil?), mungkin dia sedang mengamit-amiti anaknya jangan sampai sepertiku. Dan aku hanya bisa tersenyum dalam hati. Lucu sekali.


Yah, aku memang terlahir dari keluarga penganut paham kebebasan. Ibuku sendiri yang mengajari aku. Ibuku, yang memang keturunan negara demokrasi terbesar di jagat raya mengajariku untuk selalu berbuat apa yang yang aku suka dan aku rasa baik dan berani bertanggung jawab. Kata ibu, "Kamu yang menjalani hidup, ya kamu yang menentukan hidup kamu,"


Aku memilih jalan hidupku seperti ini, setelah aku bersusah payah menyelesaikan S-2ku di salah satu perguruan tinggi negeri ternama di Negara ini dan kemudian bekerja di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta, dengan mudahnya aku memutuskan untuk resign dari pekerjaanku dan pindah menyepi ke Bandung, ke Apartemen ini.


Lihat jejaring sosialku, penuh message dari teman2ku di Jakarta. Ada juga, hmm.. reminder. Ternyata besok hari pernikahan Eibi dan calon istrinya itu. Ya, orang-orang yang mengira aku bodoh itu semua benar. Aku memang bodoh, keluar kerja cuma gara2 diputusin pacar, pindah ke Bandung biar bisa deket sama mantan pacar, mabuk-mabukan dan bercinta sana-sini hanya gara-gara frustrasi urusan CINTA? Ya, aku memang bodoh untuk urusan cinta.


*


Aku mulai memberesi kamar. Seakan-akan aku baru kembali dari liburan yang sangat panjang. Aku memulainya dengan memberesi tumpukan buku, kertas, dan koran di meja kopi depan sofa. Kutumpuk dan ku susun lagi di tempat yang seharusnya, rak buku tentu saja. Barang printilan lain yang tempatnya tidak berada di tempat yang seharusnya, mungkin tersenggol atau rusak akibat permainan2 panas malam2 sebelumnya, haha, aku susun dengan rapi kembali. Aku masih ingat benar letak letaknya. Aku memang agak kompulsif.


Aku mulai menyapu lantai dan tidak sengaja menabrak kertas-kertas yang mungkin bekas diselipkan dari bawah pintu. Aku baru sadar setelah menabraknya dengan sapuku dan kertas itupun berceceran kemana-mana. Biasa, aku melamun. Kususun lagi kertas itu dan kubaca satu persatu. Artike itu berisi informasi seputar Kanker Serviks. Sudah dibubuhi spidol berwarna cerah pada bagian-bagian penyebabnya "Seks Bebas, beganti-ganti pasangan" begitu. Kemudian pada kertas selanjutnya __ sepertinya seharusnya itu paling depan__ terpasang post it note:


Untuk Sherry,


Maaf kalau aku lancang, tapi artikel-artikel ini mungkin berguna buat kamu :)


Prada Prameshwari


Prada? Hmm.. Oh! Wartawan cantik yang super sibuk di lantai ini ya? Ahh.. dia, dia penghuni pertama yang aku kenal, dan dia duluan yang memperkenalkan diri, sangat sopan. Hmm, baik sekali dia memberikan artikel ini. Aku membolak balik kertas-kertas tersebut. Gambar-gambarnya membuat aku jadi bernostalgia pada masa-masa kuliahku semester.. semester.. ah, semester berapa ya aku belajar anatomi?


Oh iya, aku belum cerita ya dulu profesiku apa? Ya, meskipun terkadang aku malu mengakuinya, tapi toh aku memang punya dan bisa mengejar gelar itu. Aku... seorang dokter.


Sherry

plot/ seri 01/ eps.002: SHERRY/ post: #003. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/026-1604.html


7/11/10

#026: 1604

in this story: Sherry, Florisia Rainarki

Ah, sudah sabtu saja! Keluhku saat membuka mata pagi ini. Sekarang Sabtu, artinya besok Minggu, yang artinya jadwal pulangku. Rasanya belum ingin aku meninggalkan kota ini. Apalagi setelah kemarin Radita menemaniku sepanjang hari di kota keraton ini. Mengulang tradisi kuliner kami. Serabi Notosuman, Tengkleng Klewer, Cambuk Rambak, Bakso Kalilarangan, Timlo Sastro. Ah! Makanan itu masih bersisa di mulutku. Rasanya ingin menelepon Radita untuk kembali mengajakku hunting kuliner lagi. Tapi, data tulisan dan rekaman ini sudah menari-nari minta dikuliti.

Kanker Serviks. Mengingat isi seminar kemarin langsung mengingatkanku pada Sherry, tetangga sebelah kamarku. Hmm, bagaimana aku menjelaskannya ya, yang jelas aku agak khawatir padanya.

"Risiko menderita kanker serviks adalah wanita yang aktif berhubungan seks sejak usia sangat dini, yang sering berganti pasangan seks, atau yang berhubungan seks dengan pria yang suka berganti pasangan."

Kutipan wawancara dengan sang dokter ahli ini membuatku merinding. Bahaya Kanker Serviks ini terlalu mengusik, pasti akan kuberikan tulisan ini pada Sherry!

Gaya berpasangan manusia jaman sekarang sudah sudah tidak terbatasi, tapi bukan jelas hakku untuk menghakimi. Sikapku sejauh ini hanya memperingati tentu dengan memberikan bukti sampai ia mengerti sendiri, mungkin saja berhenti.

Ah cukup sudah dengan gaya hidup, saatnya menyelesaikan feature ini, si data rekaman dan handout ini sudah minta ditelanjangi. Oke, dimulai dari rekaman ini.

*

Saatnya pulang!
Sudah tiga hari kuhabiskan waktu di Solo. Seminar sudah didatangi, feature sudah diberesi, oleh-oleh sudah ditentengi, keluarga Jeko sudah dikunjungi, dan akte kelahiran si Jeko pun sudah mau dikoperi (agak aneh bahasanya, dikoperi, tapi ya sudahlah ya). Kucermati sekali lagi akte kelahiran si Jeko. Rasuna Adikara, ujarku sambil tertawa. Bisa-bisanya nama sebagus ini diubah menjadi Jeko. Kalau sedang di rumah orang tua Jeko, kadang agak canggung kalau aku harus memanggil Jeko dengan nama aslinya, kadang aku memanggilnya Adi. Lebih aman.


Ah besok sudah Senin lagi, template keluhanku setiap hari Minggu. Jadwal penerbanganku pukul 14.15 WIB. Kulirik jam tanganku, sudah setengah sebelas, lebih baik langsung check out saja. Pak, Timo, orang suruhan kantorku sudah sigap menunggu di lobi semenjak pagi. Aku sudah siap meninggalkan kota ini.


"Pak, saya mau makan dulu, di Nasi Liwet Gajahan ya!" "Siap, mbak." Gludug, gludug. Wah? Mendung ternyata. Semoga jangan hujan sampai pulang nanti! Untung cara makanku tak lama, jadi cukup setengah jam saja aku menghabiskan satu porsi nasi liwet ini. Saatnya ke Adi Soemarmo. Kulirik lagi jam tanganku, jam setengah 12. Sampai di bandara, sang langit mulai bersuara lagi. Ah, sial. Semoga penerbanganku tidak delayed! Pak Timo pun mengucapkan pergi, ucapan terima kasihku mengakhiri perjumpaan kami.


Segera aku menghampiri customer service bandara ini, menanyakan akankah ada kemungkinan penerbangan ke bandung tertunda atau tidak. Berita buruk. Si mbak-mbak customer service mengatakan bahwa memang ada kemungkinan semua penerbangan tertunda hari ini, diperkirakan akan ada angin besar. Sial. Saat kutanya kira-kira berapa lama tertundanya, mbak Iva Nurnami--begitu nama yang kubaca di pin dada kirinya--mengatakan "Mungkin satu sampai dua jam, nanti kami pasti informasikan."


Aku pasrah, akhirnya setelah mengurusi segala urusan pertiketan, aku memutuskan menunggu di Starbucks saja. Segelas Frappuccino Blended Caramel sudah menari-nari di otakku. Frappuccino sudah di tangan, lebih baik aku online saja. Si Toshi--nama laptopku--kukeluarkan dari koper kecilku. Cek e-mail, Facebook, Twitter, dan tak lupa cek rilisan game RPG terbaru. Yang terakhir adalah kegiatan favoritku. Satu jam, dua jam, tiga jam. Akhirnya ada datang juga pengumuman tentang penerbanganku. Satu jam lagi. Oke, kuhadapkan lagi wajah ini ke si Toshi.


Akhirnya aku sudah duduk manis di pesawat ini. Kulirik lagi jam tangan ini, sudah jam setengah lima. Rasanya ingin segera sampai di rumah. Tidur saja.


Sudah pukul 17.45 WIB, dan aku sudah duduk manis di taksi dalam perjalanan ke rumahku. Untung jalanan tidak macet dan menambah ruwet otak ini. Apartemen Seguni. Sudah sampai. Kulewati lobi, dan kupencet lift apartemen ini, lantai 16. Sampai lantai 16, lift terbuka. Wah, tumben, masih jam segini, tapi lantai ini sepi sekali. Terlalu sepi. Tanpa pikir panjang, aku langsung masuk ke kamarku. Ingin segera menyentuh air panas dan tidur. Kulirik kamar 1606, wah sudah ada penghuninya ya? Kira-kira orangnya seperti apa ya? Ah besok saja berkenalannya. Atau nanti malam di saat jeko sudah mulai mengetok kamar.

Prada Prameshwari
plot/ seri 01/ eps.002: SHERRY/ post: #003. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/025-1604.html

7/9/10

#014: 1600

in this story: Prada Prameshwari, Sherry

“Bam! Dug! Anying!!” akh sakit sekali rasanya terjatuh dari ranjang gantung saya yang tiba-tiba berputar. Kombinasi kepala terjedug lantai corak kayu dan rambut terbelit di ranjang juga lumayan. “Yasalam..kemaleman deh,” keluh malas saya melihat jam raksasa yang terpasang di atap, dimana lampu menjadi sumbu tengahnya. Sudah jam 11 malam rupanya. Sudah tidak ada mood untuk bekerja, lagipula tidak akan ada yang memecat juga kalau bolos lagi.

Saya benarkan rambut yang terlilit kemudian duduk mengangkang dan melihat seisi kamar. “bangsat!” teriak saya melihat kepala wanita berambut panjang tergolek. Oh ternyata itu kepala si malin kundang. Ya saya dan CJ sudah memberi nama manequin pemberian penggemar saya dini hari tadi.


Nama itu kami dapatkan setelah semalam manequin itu membuat kami kaget dengan tiba-tiba berbicara, yang setelah itu kami kutuk menjadi manequin lagi. Entah kenapa kepalanya bisa lepas.


Sepi dan kembali kepada Ricardo. Sekelebat saja saya mendapat ide untuk mengganti semua senar Ricardo. Tiba-tiba saja “Tok toroktotok.. ” pintu kamar bunyi, dan ada kepala perempuan menengok. “Malin ada dua!” teriak saya langsung. Perempuan itu tidak kaget, malah bicara dan meminjam kamera.

"Tumben masih di sini jam segini? Ga keluar?" kata perempuan itu sopan. "Oooh, engga. Lagi pengen aja malem ini di sini,” jawab saya. "Ohhh...Eh iya, kamu ada kamera? Punya saya masih di tukang reparasi, tapi besok ada liputan dadakan ke Solo," selosor perempuan itu. “Ada banyak sebentar ya,” pungkasku. Kuberikan kameranya dan dia langsung pergi. “Gila!! Muka perempuan itu mirip sekali dengan si manequin,” teriakku setelah dia pergi. Pasti perempuan sibuk maniak games yang diceritakan CJ tempo hari fiuh…

“Doeng..deng..teng..teng..” kembali dalam proses mengganti senar ricardo. Baru senar ketiga dan saya berhenti menunduk melihat dada dan kemudian seluruh tubuh saya. “loh?? Kenapa saya berpakaian lengkap gini ya?” pikir saya keheranan. Hampir tidak pernah saya tidur mengenakan pakaian lengkap. Saya menebak pasti saya tidur berjalan lagi.


Saya jadi ingat sedikit sepertinya saya mengajak seorang perempuan acak-acak an bercinta di tangga darurat entah kapan. “Siapa ya kira-kira? Jangan-jangan anak dugem rambut coklat di pojokan itu ya?? Sheva?? Sherpa? Sherina? Ah lupa sebentar lagi tanya-tanya CJ saja lah,” pikir saya sambil lanjut masang senar Ricardo.


Setelah 12 menit waktu kamar kakek. “Oke selesai sudah!!,” kataku. Bosan melanda. Saatnya berkreasi menuju imajinasi. Saya tarik laci keluar “halah?? Mana??” ujar saya sambil melas-males. Ternyata persediaan barang ajaib habis. Oh sungguh sial. Terpaksa delivery deh.


“Jon laper nih kirim ya,” ujar saya melalui ponsel Nokia pisang klasik kepada seorang teman akrab. “berapa banyak?” balas seorang teman akrab. “biasalah,” pungkasku.


Tak lama Jon pun datang “nih Lab,” ujar jon. “sip thanx,” kataku. “Eh Lab tadi gw gawe nganter cewe pake taksi gw ke apartemen ini juga,” cerocos Jon. “Kek mana bocahnya,” tanya saya. “Noh percis ama tu pala boneka!!” teriak Jon sambil nunjuk kepala Malin Kundang si manequin. “oh iye tetangga itu mah atu lante,” tukas saya. “udah balik sono loh gw mo jalan-jalan,” lanjut saya. Jon si supir taksi sekaligus baik hatipun pulang. Tak lama CJ datang dan menyarankan saya ikut ke Solo bareng si perempuan game. “Hmm.. gimana Ricardo ada saran?? Malin??” tanyaku.


Tiba-tiba suara berat menyahut “udeh ikut aje ah payah lu.” Saya langsung merebahkan badan dan melihat ke atap penasaran siapa yang nyahut. Dan saya berujar “lah kek?? Ngapain luh gelantungan di jam?? Gw kira cewe bikini amrik ah payah!!”


Kolabton Nawalem
plot/ seri 01/ eps.002: SHERRY/ post: #003. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/012-1600.html