Lantai 16

Showing posts with label eps01. Show all posts
Showing posts with label eps01. Show all posts

7/8/10

#008: 1602

in this post: Sherry, Kolabton Nawalem

hidupku tidak pernah biasa-biasa saja, kadang bisa begitu membosankan, tapi tiba-tiba juga bisa penuh dengan kejutan. dingin pagi menyayat tubuhku, sesuai dengan mimpiku tengah mendaki Himalaya hanya bercelana dalam. setengah sadar aku meraba-raba tubuhku yang tak berbusana, sambil setengah bertanya, “pakaianku tersangkut mimpi pukul berapa?”

aku mencoba mengingat-ingat, apakah sebelumnya aku pernah tidur tanpa busana? jika ya, karena alasan apa? tapi seingatku tidak, itu seingat yang masih kemungkinan. tapi seingatku yang pasti, ingatanku bukan ingatan yang bisa diandalkan.

apalagi kalau dingin begini, selain bulu romaku berdiri dengan ridhonya, burungku suka tegang, menodong langit-langit kamar apartemen dari balik selimut begitu gagahnya. tapi, tunggu sebentar...seingatku, langit-langit kamarku tak seeksotis ini, “ya Tuhan, ampunilah manusia yang menguliti harimau demi langit-langit kamarnya!” aku tak ingat apa aku pernah sekeji itu, tapi seingatku yang pasti, ini bukan kamarku.

*
seiring dengan pulihnya kesadaranku, bisa kuhirup wangi yang biasa kucium dari kamar pojok apartemenku. sial, mungkin lagi-lagi aku salah masuk kamar. entah kenapa, setiap penghuni di lantai ini punya kebiasaan buruk untuk tidak mengunci kamar mereka masing-masing. bahkan kamar sebelahku milik seorang hippies yang tidak bisa lepas dari gitarnya, selalu ditinggalkan dalam keadaan terbuka, entah apa alasannya.

aku tak pernah mencium parfum wanita yang lebih indah daripada pagi ini, tentu bukan karena wanginya, tapi karena ketelanjangan bulatku ini di ranjangnya. ranjang motif zebra milik perempuan cantik yang berbaring di sampingku, yang sedang melamun khusyuk seperti melihat Tuhan di balik layar telepon genggamnya.

“pagi... emh, maaf, sepertinya aku salah kamar?” ujarku gugup di balik selimut besarnya sambil mencoba meraba daerah sekitar ranjang untuk mengambil sehelai dua helai pakaianku yang tercecer akibat, mungkin, ...percintaan tadi malam.

wanita itu tak tampak kaget, ia malah tersenyum begitu ramah, “terima kasih ya sudah mengantarkanku tadi malam.”

“tuh kan, berarti bukan saya yang salah masuk kamar!” ujarku memekik sebagai apresiasi keberhasilanku untuk mengurangi kebiasaan masuk kamar orang dan langsung tidur di ranjang saking kikuk dan lelahnya.

*

langsung saja ingatanku berputar ke delapan atau mungkin sepuluh jam yang lalu, kata-kata wanita itu menjadi kunci pintu memoriku. sedikit demi sedikit ingatanku memanggil kejadia tadi malam.

wanita ini berjalan sempoyongan di tangga lantai 6, hendak mendaki ke lantai 16. kutanya alasannya kenapa tak menggunakan lift saja “kalau sedang mabuk, naik lift seperti hendak meluncur ke bulan,” jawabnya. wanita ini benar-benar mabuk, pikirku.

kubopong saja ia ke kamarnya, semoga aku tak salah ingat rupanya, ada tetangga satu lantaiku yang mirip dengannya, wangi parfumnya pun aku hafal, yang masih menguar hingga keesokan paginya aku terjaga di ranjangnya.

saat mabuk, wanita ini termasuk orang yang banyak bertanya, “kamu sendiri kenapa gak pake lift?” kujawab saja iseng, “Aldrin dan Amstrong juga kuliahnya naek tangga dulu kali, baru bisa ke bulan.” matanya menguncup layu ketika ia tertawa. “mabuk kamu!” ujarnya.

sudah kukatakan sebelumnya kan kalau hidupku penuh kejutan. seperti saat aku membaringkan tubuh wanita ini di ranjang motif zebranya, tiba-tiba ia merangkul punggungku dengan kedua tangannya. dengan sisa tenaga yang dimilikinya ia menjatuhkanku ke ranjang untuk salah satu persenggamaan terbaik yang pernah kualami. aku ingat sampai detil percintaan yang menakjubkan ini. aku sampai hafal cara dia melenguh, aku sampai kenal sentuhan tangan mana yang meraba dan menjamah seluruh bagian tubuhku, aku peka kapan harus memuncaki peraduan ini dan membiarkan punggungku menjadi landasan kuku-kuk tajamnya untuk mencengkram kenikmatan. tapi, tunggu sebentar...

aku mengusap-usap burungku yang mengeras dengan tangan kananku, kucium baunya di sela bagian yang kupakai untuk mengusap. sontak ku membuang muka sambil mengeluarkan ekspresi campur aduk antara heran, jijik, eneg, dan menyesal. menoleh pada wanita tersebut dengan jari merunduk di sekitar hidung, mimikku seolah bertanya, “kok burungku bau anus ya?”

wanita itu tertawa dan menjawab, “ya tentu saja, kan tadi malam kita anal.”

Rasuna Adikara
plot/ seri 01/ eps.001: INTRODUKSI/ post: #001. previous post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/004-1605.html

7/7/10

#007: 1604

Malam ini terasa suntuk. Cukup membuatku mengantuk. Namun saya belum boleh merebahkan tubuh ini sebelum beribu rangkaian kata di depan saya ini selesai pada titik terakhirnya. Besok adalah hari Rabu, yang artinya tenggat waktu untuk satu tulisan saya. Ya, setiap minggu minimal satu tulisan harus saya hasilkan untuk majalah tempat saya bekerja, Seventeen. Feature tentang "High Heels" ini harus segera dikirim via e-mail sebelum pukul 7 besok pagi. Baru paragraf keenam, saya sudah stuck. Otak saya meretak. Saya ngawang. Pikiran saya melayang.


Kembali kudengarkan rekaman wawancara dengan dokter Emma sang spesialis Podiatric (ilmu tentang kesehatan kaki) tentang bahaya penggunaan sepatu dengan hak tinggi sore kemarin. Kembali kubaca artikel-artikel serupa yang pernah membahas tentang topik yang sama. Kembali kumainkan sepuluh jari ini di atas keyboard laptop toshiba ini. Dan kembali kubaca feature yang belum rampung ini. Masih kurang. Apa sih yang kurang? Ga enak dibaca deh! Otak pun mulai panas. Saya pun mulai mengganas. Ingin rasanya berteriak, namun rasanya hanya akan mengundang perhatian para tetangga satu lantai, bahkan bisa-bisa si bapak satpam turun tangan. Kalau sudah terhenti begini, saya harus berhenti. Menurut saya, menulis itu adalah seni, yang bekerja menggunakan emosi manusiawi. Jangan dipaksa, karna sesuatu yang dipaksa tidak akan baik hasilnya. Jadi saya memutuskan untuk mendinginkan otak ini sementara.

Salah satu cara pendinginan paling ampuh menurut saya adalah bercumbu dengan salah satu dari empat sekawan yang saya miliki. Kenalkan, mereka adalah Playstation 3, WII, Playstation Portable, dan Nintendo DS. Cukup lengkap bukan? I am a game freak. Hobi saya adalah main game, dengan spesialisasi Role-Playing Game. Tantang saja, saya pasti akan meladeni. Oke, yang kebagian giliran malam ini adalah si PSP. Kuambil PSP dari si LV--bukan KW, ini asli saya beli sendiri dengan uang gaji majalah remaja ini. Kumainkan Tales of World yang belum juga usai. Satu jam. Dua jam. Oke, sepertinya cukup. Kurenggangkan tubuh untuk kembali berseni.

Kuhadapkan mata ini ke deretan kata di layar laptop itu. Saya sudah siap menulis lagi. Satu jam. Dua jam. Dan selesai. Tulisan: Prada Prameshwari pun terketik sebagai pertanda akhir dari feature ini. Kembali kurenggangkan badan. Kulihat layar handphone, wah sudah jam 1, masih ada bangun ga ya? Kalau sudah begini, biasanya saya sengaja membuka pintu, barangkali masih ada yang terbuka pintunya dan masih beraktivitas, atau barangkali bisa mendapat gossip tengah malam. Kubuka pintu coklat tua itu, dan......kutengok kanan, kiri.... ah sudah sepi. Barangkali hari kemarin cukup melelahkan buat mereka. Baiklah, tidur saja. Selamat malam lantai 16. Semoga tidur kalian menyenangkan.

Prada Prameshwari
plot/ seri 01/ eps.001: INTRODUKSI/ post: #001. previous post: -

#006 1601

Berjam-jam setelah serangan pertama tadi pagi itu, aku masih saja mondar mandir di ruang apartemen. Membuka kardus itu, menyimpan ini, menggeser itu. Dan akhirnya setelah lelah menyerang, ruang berukuran 4 x 7 m ini bisa juga terasa nyaman. dan entah kenapa, meski apartemen ini belum juga genap seminggu kutempati namun terasa familiar dan menyenangkan.

Aku melayangkan penglihatanku ke segenap ruang pandang. dinding apartemen yang putih ini hanya terganggu sebuah lukisan abstrak yang dilukis sahabatku. Dari tempatku duduk, aku bisa melihat ke arah pantry di sebelah pintu masuk, lalu ke meja makan yang di tata sekenanya. Di depanku ada tiga buah pintu. Satu pintu kamarku, satu pintu ruang kerjaku dan satu lagi adalah pintu kamar mandi.

Aku menjatuhkan pandang pada pintu ruang kerja yang terbuka. semua harta karunku ada disana. Harta karun? Ya, Harta karun! Buku-buku yang sudah jadi koleksi dari jaman aku SD dan termasuk juga memento dari pacar pertama hingga memento dari lelaki itu.

Drrrrt..drrrt

Aku menoleh ke sumber suara rupanya ponselku bergetar di meja makan. aku beranjak.

One Message Received.

Menghela nafas seketika begitu melihat nama yang tertera dibawahnya. Papa.

"Pulang jika kamu lelah disana."

Pendek dan tanpa tedeng aling-aling. Begitulah Papa. Tapi kata-katanya selalu mengena.

Aku beranjak ke pantry, si dapur mini yang hanya terdiri dari dua konter itu. kompor dan wastafel. mengobrak-abrik lemari di atasnya. hanya ada gula, kopi dan teh. ah dan seperangkat alat makan plus masak. tentu saja. Lantas aku membuka kulkas. Kosong. Padahal perutku minta diisi. Terlalu lelah untuk pergi akhirnya aku memutuskan menggunakan jasa delivery.

Sambil menanti makanan yang katanya diantarpaling lama 45 menit lagi itu, pikiranku kembali pada pesan singkat papa.
Lelah disini? tentu saja. Namun aku takkan menyerah. belum. menjadi bumil tanpa suami memang tidak mudah. meski usia kehamilanku masih sangat dini namun beratnya mulai terasa. pening dan muntah-muntah hampir setiap pagi kujalani. belum lagi pantangan makan sana-sini.

Namun demi janin ini, aku akan tetap bertahan. aku akan membuktikan bahwa tanpanya pun aku masih bisa melahirkan sendirian.merawat dan membesarkannya sendirian!

Rasanya pertengkaran itu baru terjadi kemarin. pertengkaran yang membuat aku dan pria itu berpisah jalan. Aku tersenyum sendiri, bukan karena lucu. Tapi ngilu. Dan sejuta kenangan tiba-tiba saja membanjiri sebelum aku mampu menegakkan benteng hati.

Ting Tong.

Bel pintu depan berbunyi. itu pasti makanan yang kupesan melalui delivery. Aku membuka pintu pada orang pertama yang bisa mengintip di apartemenku. Mas-Mas delivery itu pergi setelah melaksanakan kewajiban dan meminta haknya. Namun sebelum pintu ditutup aku sempat melihat seorang perempuan muda tergesa menuju lift. wangi parfumnya sempat hinggap di penciumanku. wangi yang manis.

Ziantine Larasati
plot/ seri 01/ eps.001: INTRODUKSI/ post: #002. tagged by: -

#005: 1602

Aku masih belum bisa tidur. Sunyi sekali di kamar 1603 apartemen Seguni ini. Bahkan bunyi kentut nyamuk bisa terdengar jelas. Err... Berlebihan juga sih. Pikiran usilku bertanya: setinggi apa nyamuk mampu terbang mencari darah? Kok lantai lima belas juga digarap ya?

Di sudut sana, kanvas masih tergurat tidak teratur. Gambar yang kuniatkan dipajang di pameran tunggalku belum mewujud. Maklumlah, modelku hanya fantasi dan fantasiku baru saja rusak karena, ya tahu sendirilah.

Aku merebahkan tubuhku di karpet, di depan televisi. Tapi aku tidak menyalakan televisi karena jam segini biasanya hanya ada kuis bodoh dengan perempuan berdandan lonte membawakan acara, yang seringkali mendesah genit atau cengangas-cengenges. Perempuan seperti itu tidak pernah membuatku bernafsu. Aku mengganjal kepalaku dengan kedua telapak tanganku. Menatap langit-langit. Melamun.

Tidak berapa lama, setelah aku konsentrasi, sayup-sayup beberapa jenis suara berkelindan dari luar kamarku. Ada dentuman musik elektronik yang turut menggetarkan kamarku. Langit-langit kamar seakan bergetar saking kencangnya beat musik itu. Mungkin si pemutar musik sedang ingin berjoget di minggu pagi (ini masih jam 1 pagi). Mungkin dia (atau mereka ya?) ingin menghalau jauh penat dengan cara itu. Tiap orang memang mesti kreatif untuk menghibur diri. Tidak masalah.

Selain itu terdengar juga alunan merdu musik klasik. Seseorang memutar lagu "Canon Pachelbel from D Minor". Aneh juga sih memecah konsentrasi mendengarkan dua jenis musik yang berbeda begini. Satu berusaha membuang rindu, satu lagi memaksa aku menjemput kenangan. Dan, lagu Ini adalah lagu kesukaan Yuri.

"Ah, tidak! Yuri lagi, Yuri lagi," keluhku sambil berguling-guling dan menutup mata yang rada pusing. Namamu sok Rusia, Yuri. Padahal nama belakangmu umum: Fania. Yuri Fania. Bapakmu Bayu, ibumu Rina. Sok keren banget sih ortumu. Yah aku mulai sewot lagi deh. Sudah gak bener kalo begini.

Aku bergegas bangun dan berjalan ke balkonku yang dipenuhi bonsai. Di luar temaram lampu kota saling menyapa membentuk pelangi artifisial. Ini lebih menggoda ketimbang ngedumel gak jelas. Aku mengambil kamera sekalian teropongku. Mode bulb kupasang selama 2 menit. Sambil menunggu lukisan digital terbentuk, aku meneropong ke bawah. Seorang perempuan cantik dalam balutan gaun merah berjalan menuju apartemen.

Teropongku terjatuh. Perempuan itu mirip Yuri...

Langa Beng Otanga
plot/ seri 01/ eps.001: INTRODUKSI/ post: #002. tagged by: -

#004: 1605

Brrrrrrt… Brrrrrrrtttt

Ah, berisik. Padahal aku udah menyetel benda kecil hitam itu dengan mode silent. Ternyata getarannya tetap saja berisik. Sudah tidak tahu berapa banyak getarannya sampe akhirnya aku terjaga dari tidurku yang.. eh.. hari apa ini? Ngapain ya aku semalam? Sebentar sebentar.. Aku beringsut didalam bed cover yang sangat nyaman sembari berpikir. Ponselku masih terus bergetari. Aahh..

"Halo?" jawab ku akhirnya, malas. Aku kaget suaraku sungguh berbeda. Serak2 seksi. Haha..

"Sher, kamu kemana aja sih? Aku telponin dari tadi.."

Aku sangat ingat suara dia. Rupanya aku tadi lupa melihat layar ponselku untuk mengetahui siapa yang menelepon. Aku gelagapan dan baru menyadari kalo aku telanjang. Buru-buaru aku membalikkan kepala melihat ke sebelahku. Ya ampun… Aku menepok jidat. Rupanya semalam aku sedikit mabuk (sedikit, sumpah) dan pulang ke apartemen ku dengan cowok ini..Tapi… Siapa ya namanya?

"Sher? Sher? Kamu masih tidur ya?", tanya suara dalam ponsel itu, membuyarkan lamunanku.

"Eh, iya iya, udah bangun kok", gelagapku sambil buru2 aku mencari baju didekatku, berasa si yang nelpon bakal liat aja penampilanku ini.

"Aku pengen ngomong sama kamu, sori, ngedadak.."

"Hmm? soal apa?"

"Aku gak bisa ngomong disini, bisa kita ketemu? Ditempat biasa?"

Aah.. Tempat biasa ya? Masihkah sama seperti yang dulu?

"Sher?"

Hee.. lagi2 aku melamun, "Emmmh.. bisa gak ya?" jawabku kemudian. Laki-laki, begitu gampangnya mereka menjatuhkanmu ke dalam palung dilautan dan dengan sangat mudah pula dia menaikkan dirimu ke atas langit ketujuh yang sangat indah. Aku masih ingat kata-kata dari dalam buku "How to forget your ex in 30 hours" yang kubeli beberapa hari setetelah hari itu.

"Plis, Sher… Aku butuh kamu"

GONG!! Tuh kan, baru aku pikirkan quotes di buku itu dan sekarang udah kejadian. "Emmh.. nanti aku kabarin lagi deh"

"Oke, secepatnya, ya, Sher, please.." dan dia menutup pembicaraan kami.

Aku memandangi layar ponselku yang sudah gelap. Berarti sudah sekitar 3 menit aku memandangi benda ini. Lalu aku tersadar dengan kehadiran orang disebelahku. Kupandangi rambut coklatnya. Masih kupikirkan namanya. Siapa ya? Salah satu kebiasaan burukku: mudah lupa.

Kemudian pikiranku kembali melayang keperkataan lawan bicaraku tadi. Dia mantan pacarku, Eibi. Dan minggu depan, dia akan menikah. Bukan denganku, tentu saja. Ada apa gerangan dia tiba tiba menelepon, minta ketemu ditempat biasa kami kencan, memohon, dan bilang aku butuh kamu. Sialan!

Yah, kami putus memang salahku. Aku yang tidak mau berkomitmen. Aku yang tidak mau melanjutkan hubungan kejejang yang lebih tinggi. Aku yang belum siap untuk menjadi seorang istri. Apalagi menjadi seorang ibu. Aku tidak dekat dengan anak-anak! Kurasa mereka membenciku. Dan kemudian Eibi pergi, dan memilih perempuan yang berkebalikan dengan sikap-sikap ku di atas. Dan aku pun tak bisa berbuat apa2. Itu sekitar, emm, setahun yang lalu, gitu? Lupa.

Hari2 setelah kepergian Eibi memang sangat berat, seharian biasanya aku mengurung diri di apartemenku ini. Sering tetangga sebelah mampir untuk melihat keadaanku. Oh, mereka sungguh berjasa. Akhirnya aku berhasil juga melewatinya.

Sekarang aku senang dengan kehidupanku. Senang, tenang, tanpa beban, ya, tetap saja dia yang bikin aku mengerutkan dahi, seperti sekarang. Sering sekali dia menghubungiku sekadar mengajak ngebir santai, dengan santainya. Aku? Mana bisa santai? Tapi aku tidak pernah bisa menolak, makanya hubungan kami sampai searang masih cukup baik. Aku cukup kenal dengan calon istrinya. Dan aku sangat benci mengakui kalau cewek itu memang baik. Cih!

"Morning..", sapa pria disebelahku. Lagi2, lamunanku buyar. Dia tersenyum. Ah.. pantas semalam aku mau pulang dengan dia. Ganteng, bok!

"Hai… Emm", aduh, aku masih belum bisa ingat namanya, "…honey, tidur nyenyak?"

Dia memelukku, mengelus rambutku (dan aku yakin dia menikmati wanginya) kemudian berbisik di telingaku,

"Better than ever"

Aku tersenyum. Dia mulai menciumku. Dalam. Pikiranku melayang lagi: belum terjawab hari apa ini? Ah, peduli setan, kubalas ciumannya. Aduh, siapa sih nama dia?


Sherry

plot/ seri 01/ eps.001: INTRODUKSI/ post: #001. tagged by: -

#003: 1602

"Uhuk! Uhuk! Aahhkkk!! Uuuhuukk uuhhuuukk!!"

Ah.. Lagi-lagi aku terbatuk-batuk. Aku memang keras kepala. Dokter bilang aku bronkitis, tapi tetap saja asap tembakau ini nikmat kuhirup. Tanpa filter pula. Bukankah yang tanpa filter selalu nikmat. Tinggal tancap! Hahaha... Lagipula ini cuma asap. Tidak padat dan seharusnya membelaiku dengan hangat di tengah malam yang dingin di apartemen ini.

Jujur, aku penat. Entah apa yang membuatku buntu dalam berkarya. Lukisan ini tidak jadi-jadi. Padahal cita-citaku menjadi pelukis tenar. Bercita rasa tinggi dan seksi. Mengapa fantasiku mati? Aku iri dengan Leonardo Dicaprio yang dengan asiknya menggurat kuasnya di kanvas, dengan Kate Winslet yang teronggok bugil di depannya, bersama tatapan mautnya. Tatapan yang mengingatkanku kepada Yuri. Dia yang entah dimana sekarang.

Mungkin aku buntu karena masih mencari jejak Yuri dalam kelam.

Yuri tidak mau mengikuti jalan hidupku yang menurutnya serampangan. Serabutan. "Unbestimmter!", teriaknya padaku. Itu kata dalam bahasa Jerman yang artinya "tidak jelas". Seni selalu mencari bentuk dan aku berharap menjadi bagian dalam proses itu, jelasku padanya. Dia menatapku lirih. Perlahan rautnya mengendur. Dia menangis dan pergi. Hujan waktu itu. Seperti di drama-drama televisi. Aku, entah kenapa, tidak mengejarnya. Racun. Bodoh!

"AAAAARRRGGGHHH!!" teriakku di tengah malam saat mengingat perpisahan itu. Para tetangga apartemenku mungkin dengar. Mungkin mereka marah karena terganggu saat sedang bercinta dengan pasangannya atau apalah. Terserah. Sesekali aku ingin berteriak. Aku juga manusia yang bisa resah dan marah.

Biasanya saat buntu begini aku akan membuka kulkas dan mengambil sebotol bir. Tapi aku tak semangat. Ingin sekali aku keluar dan menggedor pintu para tetangga dan mengajak mereka main kartu atau apalah. Namun kuingat, aku tidak pernah betul-betul bicara dengan mereka. Hanya kakek tua di apartemen ini yang biasa kusapa dengan senyum seadanya. Wajah bijaknya cukup meneduhkan. Dia pun tidak pernah bicara. Sedangkan si penjaga lobby, kerjanya hanya sms-an dan cekakak-cekikik di telepon. Tidak enak untuk diajak bercengkrama. Aku berani memastikan itu.

Daripada pusing, lebih baik aku onani. Lumayan kan buat ganti cat kuas. Biar lebih nyeni. "HAHAHAHAHAHAHAHA"

Langa Beng Otanga
plot/ seri 01/ eps.001: INTRODUKSI/ post: #001. tagged by: -

#002: 1601

Semburat cahaya masuk perlahan melalui celah gorden kamar. Aku membuka mata sedikit, melirik pada weker kecil di nakas sebelah tempat tidur. Jam 8. WHAT?! Jam 8?! aku tergeragap sendiri. Segera bangun dari tempat tidur dan melangkah menuju dapur. aku langsung terhenyak begitu mencapai ambang pintu. Masih ada tumpukan kardus disana-sini. beberapa furnitur bahkan masih memakai plastik. Aku terduduk lemas di lantai. menghela nafas dalam-dalam dan menyibak poni yang mulai menutupi mata.

Old habits die hard.

Akhirnya aku berdiri, kembali ke kamar dan membuka gorden jendela. Cahaya matahari Bandung menembus ke dalam kamar, membuatku menyipitkan mata. Silau.

Tanpa berpikir aku menuju ke ruang dapur. menjerang air di sebuah teko dan membalikkan badan pada ruang berantakan. Kardus coklat menggunung di sudut ruang, ada beberapa kardus coklat lagi yang terserak di lantai, setengah terbuka. Mataku lantas menjelajahi ruangan itu, ada tiga pintu berjejer meski yang satu agak menjorok ke dalam. Dua diantaranya adalah ruang tidur dan yang pintunya menjorok ke dalam itu kamar mandi. Tepat di depanku adalah sebuah ruang lapang, hanya terisi meja, beberapa kursi dan.. kardus-kardus itu. Aku menghela nafas. Ini akan menjadi hari yang panjang untuk membereskan semuanya.

Suara nguung yang akrab di telinga menyadarkanku. Aku mematikan kompor, mengambil mug putih di lemari dan tanganku yang satu lagi mengambil stoples berisi bubuk kopi. Hmm Kopi? lantas terngiang di telingaku wejangan perempuan itu "usahakan jangan minum kopi dan merokok ya" lagi-lagi aku mendesah. Tanganku kini mengambil teh celup di stoples yang satu lagi. Masukkan tiga sendok teh gula ke dalam gelas, isi air, celupkan teh, jangan terlalu kental, lalu aduk. Voila, jadilah teh manis panas ala chef Ziantine Larasati.

Aku tersenyum sendiri memandang teh yang baru aku buat. seakan-akan itu sebuah masterpiece agung. Lalu, dengan hati-hati aku menyeruput minuman manis itu. Hmm, teh hangat ternyata cukup nikmat untuk membuka hari. Satu detik, dua detik aku meresapi kehangatan teh yang menjalar hingga dada sebelum hantaman lain menyerang dari bawah. tergesa-gesa, aku berbalik, menjangkau wastafel dan HOEK!

selamat datang morning sickness.

Ziantine Larasati
plot/ seri 01/ eps.001: INTRODUKSI/ post: #001. tagged by: -

#001: 1600

Treng..trennng….tueng… jreeeng…

“oke sip,” celoteh pede saya setelah menyetem gitar sembari bangkit dari ranjang kain gantung yang memisang. Saya selalu penasaran bagaimana caranya bercinta di atas ranjang saya ini. “nyetem gitar aja bisa di situ masa nyetem yang laen ga bisa ahahahaha…” ujar saya sambil tertawa sendiri berharap ada peri cantik berbikini amerika mengajak bercinta.

Seperti biasa langit-langit kamar apartemen saya sudah cukup terang. Cukup terang oleh lampu neon 16 watt yang bentuknya selalu mengingatkan akan krim kue tart yang mungkin saja lezat. Sebentar lagi pukul 9 malam dan saya harus bergegas menyalurkan hobi sekaligus cari uang bersama Ricardo. Ricardo ini nama gitar listrik warisan kakek saya, diwariskan bersama-sama kamar apartemen ini. Kakek saya meninggal 3 bulan yang lalu, beliau terpeleset di kamar apartemen ini dan kepalanya yang botak di belakang membentur tiang yang tepat berada di tengah kamar ini. Darahnya kadang-kadang masih ada.

Banyak yang bertanya mengapa saya mengamen di malam hari. Sebenarnya saya juga bingung kenapa, hanya saja malam itu lebih nikmat dari pada siang hari yang kisruh, butek, sibuk dan sebagainya. Lagipula kalau siang pengamen lebih banyak jadi banyak saingan. Entah benar atau tidak pemikiran ini. Kalo soal pagi hari saya benar-benar lupa, mungkin sudah 3 tahun terakhir saya tidak jumpa pagi. Ah lagi pula wanita malam tidak kalah segar dengan wanita pagi.

Seperti orang gila saya daritadi berdiri terus di dekat ranjang menggendong gitar senyum-senyum sendiri. Lagi-lagi sendiri. “oke sudah jam 9 saatnya jalan-jalan,” ujar saya semangat. Sreekk… pintu apartemen saya geser, pintu yang berbeda dengan penghuni kamar lainnya yang ditarik untuk dibuka, dan didorong untuk ditutup, atau ditarik dorong untuk menghembuskan angin . Dulu kakek saya pernah menghancurkan pintu aslinya ketika mabuk, dan pihak asuransi pintu menggantinya dengan pintu geseran ini.

“Jreng..jreng…jreng…berangkat..” teriak merdu ritual saya sembari melihat-lihat pintu-pintu kamar apartemen lainnya yang selalu sepi ketika saya ramai. Sepertinya mereka orang-orang mentari yang berekspresi di pagi hari.

Oiya malam ini kamar apartemen saya tidak ditutup lagi, silahkan kalau mau mampir, siapa tahu kakek saya butuh teman berbincang. “ihihihiii…” tawa saya 1 Km dari kamar. Bercanda, saya masih berharap dengan peri bikini amerika itu kok, siapa tau datang.

Kolabton Nawalem
plot/ seri 01/ eps.001: INTRODUKSI/ post: #001. tagged by: -