Lantai 16

Showing posts with label Florisia Rainarki. Show all posts
Showing posts with label Florisia Rainarki. Show all posts

7/21/10

#041: 1606

Kedatanganku ke rumah sakit ini bukan disengaja. Aku tak kenal dekat dengan calon Ibu itu. Baru sebatas tahu nama, dari perkenalan singkat kami di depan pintu 1602. Bahkan dengan dengan penghuni lainnya pun aku belum sempat menyapa satu-persatu . Penghuni pertama yang berinteraksi denganku adalah Sherry, perempuan bertubuh seksi dengan rambut coklat keemasan itu, saat aku nyaris hipotermia. Dan kemarin, aku berkenalan dan ngobrol panjang lebar dengan Rasuna. Hmm siapa itu nama panggilannya, aku lupa. Oya, Jeko. Sisanya, aku belum sempat bertemu atau bertegur sapa. Namun, kejadian seperti ini – bencana alam, kecelakaan di jalan raya, bahkan kecopetan pun – sering membuat kita mengabaikan hubungan personal dengan orang yang mengalaminya. Hubungan yang terjadi hanya satu: sebagai sesama manusia, yang masih punya rasa iba. Mahluk sosial.

Aku tahu bahwa Ziantine masuk rumah sakit saat seorang perempuan (lagi-lagi) cantik dan modis tak sengaja berpapasan denganku di tangga. Saat itu aku hendak naik ke lantai 16 sehabis membeli beberapa perabotan untuk di ruang baruku itu. Perempuan itu tergopoh-gopoh menuruni tangga, tubuhnya sempat menyenggol bahu kananku. Dan walhasil, membuat barang-barang yang ku bopong jatuh berhamburan di lantai.

“Maaf aku buru-buru,” ujarnya. Aku tersenyum. “Tak masalah,” ujarku singkat.
“Sebentar!” suaranya tiba-tiba menghentikan kegiatanku yang sedang memungut ember, gayung, bantal, dan peralatan rumah tangga lainnya.
“Ya, ada apa?”
“Kau penghuni baru di lantai 16 ya? Tetangga kita, Ziantine, si ibu hamil, masuk rumah sakit, katanya kritis, pendarahan. Oya dia di Rumah Sakit Hermina. Kau datang saja nanti ke UGD atau ke costumer servicenya. Aku tak tahu ia di rawat di bagian mana. Kau mau ikut ke sana?” Perempuan itu bicara dengan cepat dan detil.

“Ya. Ah tapi silakan kau duluan, aku nanti menyusul dengan taksi. Aku perlu taruh barang-barang ini ke kamarku dulu,”
“Okay, see u there,” ia melambaikan tangan.

*

Sayang, aku tak bisa membantu apa-apa. Ingin mengirimi Zi doa, tapi aku tak tahu harus memajatkan doa kepada siapa? Teringat perbincangan dengan temanku, saat diriku mulai masuk fase meragukan Tuhan.

“Lantas, jika aku putus asa dan aku tak bisa berbuat apa-apa, aku harus berdoa kepada siapa?”. Temanku hanya menjawab, doa itu sebagai bentuk pengharapan, kamu meletakkan harapan itu dan membiarkan harapan itu berjalan dengan sendirinya. Atau jika kamu menganggap doa adalah bagian dari spiritual, kau percayakan saja harapanmu itu mengalir melalui energi yang tak kasat mata, energi di luar kendalimu.

Ahh, sudahlah, pikiran flashback ini akan tambah membuat ku terdiam semakin lama. Setidaknya, kali ini aku menaruh doaku, harapanku kepada faktor eksternal dan internal di luar diriku. Yaitu, energi alam raya yang tak kasat mata dan dokter yang sedang melakukan operasi itu. Doaku, biarkan calon ibu itu selamat, biarkan dia tetap hidup, meski harus menelan pil pahit seumur hidupnya: kehilangan anaknya yang belum sempat ia timang.

Aku menghampiri Jeko. Mata dan hidungnya memerah, bekas menangis. Ahh ternyata pria ini punya empati yang luar biasa. Di samping Jeko, berdiri dua orang pria – yang aku tak tahu namanya itu – berusaha menenangkan Jeko. Tak jauh dari mereka, berada perempuan yang memberi tahu ku kabar buruk yang dialami Ziantine.

Di sela menunggu kabar terakhir Ziantine, perempuan itu tampak sibuk berkutat dengan notebooknya. Jemarinya menari lihai di atas tombol-tombol huruf notebook itu. Hmmhh tampaknya ia perempuan yang punya kerjaan padat, pikirku.

Meski kami belum mengenal satu sama lain, tapi aku yakin perasaan kami saat ini sama. Sama-sama mengharap agar Ziantine, selamat. Meski aku belum lihat satu batang hidung keluarga Ziantine atau suaminya, tapi aku merasa energi harapan di antara kami – para penghuni appartemant – cukup besar untuk keselamatan Zi.

Florisia Rainarki
plot/ seri 01/ eps.004: SI CALON JANIN/ post: #005. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/029-1606.html

7/12/10

#028: 1606

in this story: Rasuna Adikara

“Kamu tahu kenapa ibuku memberi nama Rain?” ujarku kepada Rasuna seraya mengambil handuk dari genggamannya.

Rasuna hanya menggelengkan kepala. “Tidak tahu dan aku ingin tahu sekarang,” tandasnya.

Kuurungkan niatku untuk menyambangi kamar mandinya, meski air panas sudah ku nyalakan dan memenuhi bath up miliknya itu. Aku kembali ke sofa dimana ia masih asyik menunggu koki favoritnya di layar tv. Aku duduk di sebelahnya, handuk masih melingkar di leherku, sembari menghidupkan rokok yang tersisa di meja depan sofanya, aku melanjutkan pembicaraanku.

“Ibuku sangat menyukai hujan. Sangat, “ aku memberikan penekanan kepada kata “sangat” itu.

Di kala kami hanya berdua di rumah, ibu ku sering cerita mengapa ia suka hujan. Dulu semasa kecil saat masih di kampung, Ibu ingin sekali bermain di bawah siraman hujan bersama teman sekampungnya. Maklum, kata Ibu anak zaman dulu sangat antusias dengan hujan. Mereka sering mandi hujan sambil bermain uber-uberan atau patung-patungan atau umpetan. Tapi, sayang. Hingga menginjak usia 10 tahun, ibu tak pernah mandi hujan bersama teman-temannya. Nenekku setengah gila, ia tak pernah memperbolehkan ibu bermain saat hujan.

“Dari mana kamu menyimpulkan nenekmu setengah gila. Sori, maksudku apa dia terkena penyakit kejiwaan atau bagaimana?” Rasuna memotong ceritaku.

“Entahlah, tapi dari cerita Ibu aku anggap dia setengah gila,”

Setiap hujan turun, ibu pasti terkurung. Ia hanya bisa memegang rintik hujan dari balik jendela kayu kamarnya. Pernah sekali , ibu bandel. Ia nekat keluar rumah secara diam-diam. Apesnya, baru menginjakkan kaki di teras, nenekku bangun dari tidur siangnya. Nenek murka, ia langsung menarik tubuh Ibu masuk ke rumah. Pelajaran dari nenek kalau ibu bandel adalah: dipukul dengan rotan atau disundut dengan rokok yang tak pernah lepas dari tangannya.

“Hemmhh, wajar jika kamu anggap ia setengah gila. Tapi, tampaknya kau keturunan dari nenekmu ya.”

“Maksudmu? Aku setengah gila?” tanyaku heran.

“Tidak, keturunan pecandu rokok,” ujarnya tertawa.

Aku membalas tawanya. Ini adalah tawa pertamaku di apartemen ini, Rasuna.

“Lanjutkan ceritamu,” Rasuna membuyarkan diamku yang barang berapa detik itu.

“Ibu tak jera, ia malah menantang nenek. Namun, sial selalu ketahuan. Sampai-sampai Ibu bilang, dia sudah kebal dengan api rokok.”

Entah, apa yang dicari Ibu dengan bermain hujan. Aku baru tahu jawaban ini beberapa bulan lalu, saat minum teh bersama di teras rumahnya. “Kakekmu, yang meninggalkan aku dan nenekmu pernah membisikan satu kata kepadaku sebelum ia kabur dari rumah. Ia berkata: Cari dan temui aku di kala hujan tiba, nak. Tenang, kau tak akan kedinginan. Karena, saat kau bertemu hujan kau juga akan merasakan peluk Bapak.

“Kakekmu kabur karena apa?” Rasuna semakin penasaran.

“Kakek kabur karena nenek. Ia tak tahan ulah nenek yang saban hari minum. Sempat pula, main serong dengan Pak RT. Kakek, kata Ibu, sungguh pria yang penyabar dan tak pernah marah. Karena itu, ia memilih meninggalkan nenek. Sengaja Ibu tidak ia bawa, karena kakek tahu, hanya Ibu yang ia punya di dunia ini jika kakek pergi,” Jawabku.

"Oke Pemirsa, Sampai Bertemu di Tayangan mendatang dengan menu yang berbeda. Hanya di…" Suara chef favorit Rasuna di layar TV seakan menyadarkan kami, bahwa kami sama-sama tertegun.

“Namamu sungguh bermakna Rain,” Rasuna hanya berkomentar singkat.

“Ya. Sampai sekarang, jika hujan datang dan ibu betul-betul rindu kakek, ia tak segan keluar rumah, mendatangi halaman belakang rumahnya: main hujan,” ujarku

“Yah, itulah ceritanya. Well, aku tampaknya tak jadi mandi nih,” aku beranjak dari sofa.

Dalam hitungan menit, saat aku menunggu bathubnya penuh dengan air panas lagi, Rasuna menggedor pintu kamar mandi. Ku matikan keran air.

“Rain, di luar hujan. Maukah kita bermain hujan? Aku ingin mengenal kakekmu,” ucap Rasuna.

Aku diam.

Kembali kukenakan t-shirt yang sudah tiga hari tak dicuci itu, “oke, tunggu sebentar.”

Untuk Hujan yang selalu memberiku inspirasi.

Florisia Rainarki
plot/ seri 01/ eps.002: SHERRY/ post: #004. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/024-1602.html

7/11/10

#026: 1604

in this story: Sherry, Florisia Rainarki

Ah, sudah sabtu saja! Keluhku saat membuka mata pagi ini. Sekarang Sabtu, artinya besok Minggu, yang artinya jadwal pulangku. Rasanya belum ingin aku meninggalkan kota ini. Apalagi setelah kemarin Radita menemaniku sepanjang hari di kota keraton ini. Mengulang tradisi kuliner kami. Serabi Notosuman, Tengkleng Klewer, Cambuk Rambak, Bakso Kalilarangan, Timlo Sastro. Ah! Makanan itu masih bersisa di mulutku. Rasanya ingin menelepon Radita untuk kembali mengajakku hunting kuliner lagi. Tapi, data tulisan dan rekaman ini sudah menari-nari minta dikuliti.

Kanker Serviks. Mengingat isi seminar kemarin langsung mengingatkanku pada Sherry, tetangga sebelah kamarku. Hmm, bagaimana aku menjelaskannya ya, yang jelas aku agak khawatir padanya.

"Risiko menderita kanker serviks adalah wanita yang aktif berhubungan seks sejak usia sangat dini, yang sering berganti pasangan seks, atau yang berhubungan seks dengan pria yang suka berganti pasangan."

Kutipan wawancara dengan sang dokter ahli ini membuatku merinding. Bahaya Kanker Serviks ini terlalu mengusik, pasti akan kuberikan tulisan ini pada Sherry!

Gaya berpasangan manusia jaman sekarang sudah sudah tidak terbatasi, tapi bukan jelas hakku untuk menghakimi. Sikapku sejauh ini hanya memperingati tentu dengan memberikan bukti sampai ia mengerti sendiri, mungkin saja berhenti.

Ah cukup sudah dengan gaya hidup, saatnya menyelesaikan feature ini, si data rekaman dan handout ini sudah minta ditelanjangi. Oke, dimulai dari rekaman ini.

*

Saatnya pulang!
Sudah tiga hari kuhabiskan waktu di Solo. Seminar sudah didatangi, feature sudah diberesi, oleh-oleh sudah ditentengi, keluarga Jeko sudah dikunjungi, dan akte kelahiran si Jeko pun sudah mau dikoperi (agak aneh bahasanya, dikoperi, tapi ya sudahlah ya). Kucermati sekali lagi akte kelahiran si Jeko. Rasuna Adikara, ujarku sambil tertawa. Bisa-bisanya nama sebagus ini diubah menjadi Jeko. Kalau sedang di rumah orang tua Jeko, kadang agak canggung kalau aku harus memanggil Jeko dengan nama aslinya, kadang aku memanggilnya Adi. Lebih aman.


Ah besok sudah Senin lagi, template keluhanku setiap hari Minggu. Jadwal penerbanganku pukul 14.15 WIB. Kulirik jam tanganku, sudah setengah sebelas, lebih baik langsung check out saja. Pak, Timo, orang suruhan kantorku sudah sigap menunggu di lobi semenjak pagi. Aku sudah siap meninggalkan kota ini.


"Pak, saya mau makan dulu, di Nasi Liwet Gajahan ya!" "Siap, mbak." Gludug, gludug. Wah? Mendung ternyata. Semoga jangan hujan sampai pulang nanti! Untung cara makanku tak lama, jadi cukup setengah jam saja aku menghabiskan satu porsi nasi liwet ini. Saatnya ke Adi Soemarmo. Kulirik lagi jam tanganku, jam setengah 12. Sampai di bandara, sang langit mulai bersuara lagi. Ah, sial. Semoga penerbanganku tidak delayed! Pak Timo pun mengucapkan pergi, ucapan terima kasihku mengakhiri perjumpaan kami.


Segera aku menghampiri customer service bandara ini, menanyakan akankah ada kemungkinan penerbangan ke bandung tertunda atau tidak. Berita buruk. Si mbak-mbak customer service mengatakan bahwa memang ada kemungkinan semua penerbangan tertunda hari ini, diperkirakan akan ada angin besar. Sial. Saat kutanya kira-kira berapa lama tertundanya, mbak Iva Nurnami--begitu nama yang kubaca di pin dada kirinya--mengatakan "Mungkin satu sampai dua jam, nanti kami pasti informasikan."


Aku pasrah, akhirnya setelah mengurusi segala urusan pertiketan, aku memutuskan menunggu di Starbucks saja. Segelas Frappuccino Blended Caramel sudah menari-nari di otakku. Frappuccino sudah di tangan, lebih baik aku online saja. Si Toshi--nama laptopku--kukeluarkan dari koper kecilku. Cek e-mail, Facebook, Twitter, dan tak lupa cek rilisan game RPG terbaru. Yang terakhir adalah kegiatan favoritku. Satu jam, dua jam, tiga jam. Akhirnya ada datang juga pengumuman tentang penerbanganku. Satu jam lagi. Oke, kuhadapkan lagi wajah ini ke si Toshi.


Akhirnya aku sudah duduk manis di pesawat ini. Kulirik lagi jam tangan ini, sudah jam setengah lima. Rasanya ingin segera sampai di rumah. Tidur saja.


Sudah pukul 17.45 WIB, dan aku sudah duduk manis di taksi dalam perjalanan ke rumahku. Untung jalanan tidak macet dan menambah ruwet otak ini. Apartemen Seguni. Sudah sampai. Kulewati lobi, dan kupencet lift apartemen ini, lantai 16. Sampai lantai 16, lift terbuka. Wah, tumben, masih jam segini, tapi lantai ini sepi sekali. Terlalu sepi. Tanpa pikir panjang, aku langsung masuk ke kamarku. Ingin segera menyentuh air panas dan tidur. Kulirik kamar 1606, wah sudah ada penghuninya ya? Kira-kira orangnya seperti apa ya? Ah besok saja berkenalannya. Atau nanti malam di saat jeko sudah mulai mengetok kamar.

Prada Prameshwari
plot/ seri 01/ eps.002: SHERRY/ post: #003. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/025-1604.html

#024: 1602

in this story: Florisia Rainarki


aku menikmati Minggu pagi yang tak terlalu cerah ini dengan merebahkan diri di sofa empuk lobi lantaiku. tak banyak penghuni satu lantaiku yang menikmati untuk beristirahat di sini, mungkin sesekali Prada yang menemaniku menonton sinetron RCTI di malam hari.

biasanya akhir pekan, aku menunggu acara masak koki wanita seksi yang lebih cocok untuk pemotretan kalender di toko emas, ketimbang memikirkan cara menyajikan ikan mas. koki wanita yang menyembunyikan melon di dada kirinya, dan semangka di dada kanannya. kata seorang teman, acara masak akhir pekan di televisi, telah kehilangan esensinya.

saya tak peduli dan terus menunggu acara ini sambil mengecek beberapa acara di stasiun lain untuk membunuh waktu. tiba-tiba suara seorang wanita menyapaku tegas, “acara televisi akhir pekan harusnya tak lebih dari permintaan maaf stasiun televisi karena selama lima hari sebelumnya telah banyak menyiarkan petaka.”

aku menoleh, orang baru tampaknya. gadis itu melanjutkan bicaranya, “kau tahu, banyak orang menuduh pornografi sebagai salah satu penyebab hancurnya moral bangsa. tapi tak banyak yang menyadari, bahwa televisi, dibanding pornografi, jauh lebih keji.”

aku memandangnya kagum, meski dengan tampangnya yang semrawut seperti kurang tidur, dan rambutnya yang menggulung seperti bola kusut. aku mencoba ramah padanya, “kamu, baru ya di sini, maaf aku belum pernah melihatmu sebelumnya?”

gadis itu mengulurkan tangan sambil memperkenalkan namanya, Florisa Rainarki. aku menjabat tangannya yang halus, “Rasuna Adikara, panggil saja aku Jeko, begitu orang-orang di apartemen ini memanggilku.”

kami berdua berebah di sofa yang sama, gadis itu sepertinya ingin mengganti waktu istirahatnya yang tak terlalu dimanfaatkannya tadi malam, dan aku menunggu ratu masakku keluar dari persembunyiannya.

“kau tahu, di mana aku bisa membeli perlengkapan seperti kasur, lemari, kursi, dan lainnya untuk mengisi ruangan di kamarku yang masih kosong,” tanyanya. aku jawab saja di ujung perempatan ada toko yang kalau ia mau membeli dengan harga yang lebih mahal, mereka bisa menyediakannya.

“kalau tidak kau mungkin bisa mencari ke kota, nanti biar kusewakan mobil bak terbuka untuk mengangkut barang-barang belanjaanmu, aku punya kenalan, nanti hubungi saja orangnya atas namaku, beri saja ‘untuk rokok’ meskipun dia tak merokok,” tawarku.

“tapi mungkin lebih baik, kau menyegarkan diri dulu kalau mau keluar, daerah sini bikin orang gampang berkeringat,” tawarku kembali. “ya itu, aku buru-buru pindah kemari, jadi tak sempat membawa peralatan mandi,” jawabnya.

“ya sudahlah, silakan mandi di kamarku, pakai saja peralatannya, mungkin cukup lengkap untuk bisa kau pakai, terlalu lengkap malah, emmhh, Flo, eh, apa aku harus memanggilmu?” tawarku sambil mengantarnya masuk ke kamarku. “Rain, panggil saja aku Rain,” jawabnya.

“ya Rain, silahkan, kebetulan shampoo-ku juga Clear Men, pakai saja,” ujarku mantap seperti kata bintang Korea yang nama panggilannya sama dengan gadis itu. dia masuk ke kamar mandi, dan aku kembali ke depan televisi dan bersiap onani.

Rasuna Adikara
plot/ seri 01/ eps.002: SHERRY/ post: #004. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/023-1606.html

#023: 1606

Aku yakin betul, siapapun tak ingin alami keadaan seperti ini: kehilangan.

Pintu kamar itu cacat, terdapat guratan kayu yang menyerupai bentuk zigzag hasil bogemnya. Tak jauh dari pintu itu, tergeletak ponsel yang bentuknya pun tak sempurna lagi. Lemparan kuatnya ke arah dinding membuat tubuh ponsel itu belah dua, alat komunikasi itu menjadi benda yang tak berguna.

Mungkin hanya hitungan menit aku terlelap. Kepala ku sakit akibat tangis yang mengalir deras. Tidur ini hanya terapi untuk menghilangkan rasa sakit yang menyerang kepalaku. Lagi pula, sehabis menangis hidungku mampetnya minta ampun sampai-sampai aku sulit bersuara.

Sebelum lelap datang, dia masih menggenggam jemariku. Aku pun meraba bagian punggung tangannya yang sungguh tak mulus itu: terdapat beberapa luka lecet dengan darah mengering. Aku lantas terngiang ucapannya tiga tahun lalu, saat pertama kami bertengkar: biarlah tubuhku yang remuk karena aku tak ingin melampiaskan emosi ini ke tubuhmu. Jangan sampai.

Kami sama-sama menenangkan diri dalam keheningan pasca badai besar yang habiskan tenaga. Aku menyukai saat-saat ini, di mana amarahnya reda dan mulai lunak. Tak ada dialog, bahasa menyusup dalam setiap belaian dan tatapan.

Tak ada lagi ego binatang buasnya. Ia bertransformasi jadi seorang ayah, melindungi dan bijak. Ya, kekasihku itu punya segala peran: ayah, pacar, kakak, bayi, bahkan musuh untuk ku.
Aku ingin waktu berhenti. Aku ingin detik jam tak lagi berbunyi. Ingin menit-menit dalam tidurku ini menjadi selamanya. Ingin tetap lelap dengan jemariku yang berada dalam genggamannya. Ingin….

Ngeeeeeeeekkkkk…

Tiba-tiba suara pintu ditutup pelan. Reflek, telingaku memberikan warning kepada kedua mataku untuk melek sejenak. Aku terhenyak, jemariku terasa keram, jantungku berdegup kencang akibat suhu dingin yang mulai terasa. Belum lagi sembuh, sakit itu datang lagi ke kepalaku. Kali ini datang bertubi-tubi. Aku tak bergerak, masih meringkuk menatap pintu yang habis ditutup dengan pelan-pelan tadi. Dia lagi-lagi menghilang. Dia hanya meninabobokanku agar aku tak bisa melihatnya berjalan kea rah pintu, bahkan untuk melihat punggungnya pun aku tidak diperbolehkannya.

Aku masih menatap pintu apartemenku, tak ada upaya untuk mengejarnya keluar, tak ada upaya untuk menyaksikan langkahnya menyeberangi jalan raya dari balkon tempat kami bercinta semalam.

Dan inilah momen dimana aku merasa hidup itu kosong: aku melampaui kesedihan hingga rasa itu menjadi hambar. Seluruh organ tubuhku pun terasa tak bekerja seakan ada program turn off
di tubuh ini.Bahkan kepergianmu yang hanya meninggalkan bunyi pintu itu membuatku kehilangan segalanya, termasuk semangat hidup dan kemampuan mengecap rasa di jiwa.

Florisia Rainarki

plot/ seri 01/ eps.002: SHERRY/ post: #003. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/019-1606.html

7/9/10

#019: 1606

in this story: Sherry

Malam itu resmi sudah aku menjadi penghuni apartemen bernomor 1606. Angka yang bagus, pikirku. Tampaknya aku memang berjodoh dengan angka 6. Setelah negosiasi dengan si empunya gedung ini mengenai harga sewa, aku mulai mendiami ruang yang masih berbau jamur, lama tak ditempati. “Dulu yang tinggal disini, satu keluarga, lengkap dengan kakek nenek, sekarang si kepala keluarga sudah mulai kredit rumah murah,” ucap Ibu pemilik yang sudah mulai menua namun tetap stylish itu.

Kreeekkkkkk… pintu 1606 yang warna catnya mulai pudar itu kubuka. “Selamat datang di Ruangmu, Rainarki,”

*

Pandangku mulai mengarah ke semua penjuru ruang baru ini, masih mengenakan ransel yang berisi pakaian dan peralatan tempur lainnya, aku menghela nafas panjang. Banyak yang perlu dibenahi dan dilengkapi untuk ruang baru ini, pikirku. Setelah mengitari kamar mandi dan dapur mini apartemen ini, aku bergegas menuju tempat favoritku di setiap bagian rumah, balkon.

Sembari menggandeng Bovi ke balkon, kubisikkan kata mesra ke telinganya,”Kita mesti bercinta saat tengah malam di balkon ini, I dare u babe,” ucapku mesra. Bovi tersenyum. “Ya, we should try,” balasnya menerima tantanganku.

Setelah menemaniku beberapa jam, Bovia pamit pulang. Ia tak bisa menemaniku di malam pertama, maklum dia pria yang punya kerjaan seabrek. Tepat pukul 11 malam, Bovi izin pulang.

“Silakan nikmati ruang barumu, aku percaya kamu ingin sendiri merayakannya,” Bovi paham betul dengan diriku yang sering melakukan perayaan seorang diri di setiap momen hidupku.

“Ya, moga kamu cepet dapet tambal bannya ya, coba tanya- tanya aja ke pangkalan ojek di depan,” ucapku sambil memeluk tubuhnya.

Hening dan semakin dingin. Ku rogoh saku coat yang aku kenakan, mengambil sebatang rokok menthol ala Amerika. Asap mengepul di udara, membuat visualisasi indah. Hening…aku pun diam barang beberapa saat, tak melakukan gerakan apapun, hanya duduk bersila di lantai balkon. Kurasakan tubuhku semakin menggigil. Api rokokku mulai mendekati filternya, ku letakkan di lantai lalu kumatikan dengan menginjaknya melalui sepatu kets bututku.

Malam ini sungguh letih, tanpa melakukan ritual sebelum tidur – cuci muka sikat gigi – ku rebahkan tubuhku di kasur pegas yang berukuran mini, tanpa seprai, tanpa bantal-guling, tanpa selimut. Tubuhku masih menggigil, daya tahan tubuhku sebenarnya sudah amat sangat teramat lemah, aku butuh tidur namun tidak dalam keadaan seperti ini. Setidaknya bantal bisa kuganti dengan ransel, namun selimut? Tampaknya aku sangat butuh kain berbahan tebal itu untuk menghangatkan tubuhku. Aku hanya bisa meringkuk di tengah kegelapan ruang dengan mata terpejam namun telinga masih awas.

Uhhh ooohhh…awwww,,, yes beibbb….oooohhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh,,,

Suara perempuan itu semakin melengking tanda nikmat. Masih ada kehidupan rupanya di balik tembok ruangku. Tiba-tiba lampu pijar menyala di otakku. “Aha, artinya aku bisa menggedor apartemen sebelah dan meminjam selimutnya!”

Tapi, tampaknya permainan dua insan di tembok sebelah belum berakhir. Teriakan itu masih terdengar.. uuhhh ooooohhhhh. “Sial, ku kira dia sudah klimaks,” tubuhku sekarang betul-betul mepet ke dinding dan serius mendengar setiap jeritan dan desahan napas mereka.

Aku bimbang. Aku tak ingin menganggu percintaan perempuan itu. Lagipula aku paham sangat tak asik kalau bercinta setengah-setengah. “Oh Bovia, saat ini aku menginginkan tubuhmu sebagai penghangatku,” aku semakin meringkuk dengan kepala yang semakin menempel ke dinding.

Kreekkkkkkkk, terdengar suara pintu geser balkon sebelah terbuka. “Aha, perempuan itu keluar! Ini kesempatanku!,” aku langsung beranjak dari kasur dan menuju balkonku. “Hi,” aku melemparkan senyum ke perempuan itu. Sembari menghidupkan rokoknya, perempuan yang mengenakan tank top dengan rambut terurai berantakan itu membalas senyumku.

“Halo, baru ya? Rokok?” balasnya sambil menawarkan rokok menthol sama dengan punyaku.
thanks,”
“Oya, tadi gue berisik ya? Pasti lo keganggu..hehehe,” ucapnya lagi sembari menyanggahkan tubuhnya ke besi balkon.
“Kedengaran sih iya, soalnya kan kasur gue pas banget nempel di dinding pembatas ruang kita. Emm mungkin besok gue atur lagi deh penataan apartemen gue. Tapi, gue seneng kok denger suara lo tadi,” paparku.
“Seneng? Maksudnya apa tuh?” perempuan itu heran dengan akhir kalimatku tadi.
“Iya, seneng artinya ada orang di sebelah gue. Dan artinya lagi sebentar lagi gue bisa tidur dengan hangat. Karena, gue pengen pinjem selimut lo. Gue cuma bawa satu ransel doang dari kampung gue ke sini,” jelasku.
“Ya ampun, kasiann banget lo…coba dari tadi aja gedor kamar gue,” ujarnya iba. Ia segera membuang putung rokoknya ke asbak yang ada di atas meja balkon. “Bentar ya gue ambil dulu,” ujarnya.

Ia beranjak tinggalkan balkon sejenak dan menuju lemarinya mengambil selimut cadangannya.
“Nih gue emang punya dua selimut kok, lo pake aja dulu,” Ia menyodorkan selimut itu dari balkonnya.

“Makasih banget ya, tanpa gue denger teriakan lo tadi mungkin gue hiportermia deh,” ucapku sembari menerima sodoran selimut tebal berwarna hijau itu.

Ia tersenyum. Tak lama terdengar suara pria dari dalam apartemennya. “Sherry, handphone
kamu bunyi,”
“Eh, ke dalem dulu ya..pakek aja selimutnya, santai sama gue mah,” Ia masuk lagi sembari melambaikan tangannya.

Aku kembali menuju kasur mini tanpa seprai, tanpa bantal, tanpa guling itu. Namun, berkat jeritan nikmat Sherry, aku bisa tidur dalam kehangatan. Bagiku saat ini, tiada hal yang paling enak di dunia kecuali satu, meringkuk dalam balik selimut kala dingin selepas hujan menyapamu.

Florisia Rainarki
plot/ seri 01/ eps.002: SHERRY/ post: #002. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/010-1606.html

7/8/10

#010: 1606

Mungkin sudah puluhan rumah sewa yang aku datangi hari ini, dan tak satupun yang sesuai dengan inginku. Kala itu, adzan magrib menggema, senja semakin nyaris tenggelam bersama dingin yang menusuk tulang belulang. Gawat! Artinya sudah dua malam aku tak punya tempat tinggal. "Kita harus bergegas!" Ujarku kepada Bovia, kekasihku.

"Ya sayang,kita harus dapat malam ini juga," jawabnya seraya meneguk teh botol yang kami beli di pinggir jalan Dago.

Setelah menyusuri beberapa jalan Bandung, di malam yang tak berbintang itu - dimana smangat mencari semakin melemah- motor matic Bovi tak bersahabat. Cessss, terdengar suara ban depan motor berwarna hitam itu kempes.

"Sial," umpatku dalam hati. Kami berdua mana tahu tambal ban terdekat, menemukan tambal ban tak semudah menemukan supermarket waralaba yang setiap kilometer nyaris ada.

"Kamu jangan bete ya, kita pasti dapat tempat tinggal yang sesuai keinginanmu," ujar Bovi mencoba menenangkan kekasihnya yang gampang putus asa ini.

"Iya,tapi hari semakin malam. Aku udah gak nyaman nebeng di tempatmu, apalagi melihat paman&bibimu yang tak familiar itu," tambahku ketus.

"Lho kenapa kamu malah ngomel tentang keluargaku?!!," Bovia terpancing emosi lantaran ucapku.

Aku diam, hentikan perbincangan dengannya. Dia pun diam. Posisi kami masih duduk di motor ber-ban kempes itu. Pandangan kami sengaja tak beradu. Di tengah keheningan jalan yang hanya diterangi lampu jalan itu, mataku tertuju pada satu tulisan yang persis berada di hadapku. "Appartemant"

Tulisan itu bercat putih dengan huruf italic. Di pagar besi gedung tinggi menjulang itu terdapat pula tulisan yang tergantung, 'masih ada kamar kosong'. Seketika aku terkejut sendiri. Reflek kupukul pundak Bovia. "Kenapa dari tadi kita sibuk berantem dan mikirin tambal ban, sampe kita gak ngeh kalo gedung di seberang jalan itu apartement!" Ujarku antusias sembari mengarahkan telunjukku ke gedung yang bercat abu-abu itu.

Mata Bovia mengikuti telunjukku, ia menjawab. "Apa kataku! Saat kita tlah putus asa kadang harapan kita jadi nyata," ujarnya seraya mengelus kepalaku. Malam itu, tanpa babibu lagi, aku dan Bovia bergegas mendorong motor menuju apartemen itu. Aku percaya, tempat tinggal ini sesuai seleraku. "Aku suka tempat tinggal yang ada balkon, kita bisa menatap semburat senja sembari minum wine. Oh aku tak sabar lagi untuk tinggal disana sayang.

Florisia Rainarki
plot/ seri 01/ eps.002: SHERRY/ post: #001. prev post: -