Lantai 16

Showing posts with label Rasuna Adikara. Show all posts
Showing posts with label Rasuna Adikara. Show all posts

8/11/10

#044: 1602

kupapah Prada kembali ke kamarnya, dua wanita yang kamarnya di sudut lantai berdiri dengan tatapan kosong, menyeruput rokok untuk mengusir cemas yang tak bisa disembunyikan raut wajah masing-masing. Kolab dan Ziantine memilih untuk kembali masuk kamar, entah menandas ranjang atau begitu takut atas kejadian aneh yang terjadi pagi ini.

“mana mungkin di lantai ini ada bekas anggota mereka Jek?” tanya Prada gemetar saat kubaringkan ia di tempat tidurnya. kutahu jelas, maksud Prada adalah organisasi massa Front Kepala Kambing, sekumpulan preman pembikin onar yang punya hobi sweeping. dengan peci bertanduk kambing, mereka berkedok membela hukum agama, tapi sejumlah media mengindikasikan mereka sebagai sekte pemuja setan dengan sesaji kepala kambing.

Prada jelas masih ingat mereka, tepat setahun lalu aku mengantarnya interview ke seorang perancang busana terkenal, ketika sekumpulan orang berpeci kepala kambing meringsek masuk ke rumah sang desainer, di mana kami berdua terjebak di dalamnya. mereka menganiaya desainer tersebut hingga babak belur. kami selamat karena ketika mereka datang, langsung ambil wudhu dan pura-pura sholat, peduli setan meski Prada menganut Nasrani, yang penting kami selamat.

massa yang menamakan Front Kepala Kambing tersebut menuduh sang desainer sebagai cikal bakal menjamurnya homoseksual di negara ini. organisasi massa yang didirikannya Koboi Brokbek menjadi rumah aspirasi yang kuat bagi kaum pecinta sesama jenis tersebut untuk berani tampil. kalau tak salah slogan Koboi Brokbek adalah ‘now we’re visible’. jadi ingat karena beberapa orang yang masuk ke rumah dan menganiaya perancang busana tersebut memakai baju bertuliskan, ‘visibel itu imposibel’. aku jelas, jadi sebel.

sampai sekarang aku tak pernah takut pada organisasi tersebut, bahkan setelah teror ini. tinggal pura-pura sholat saja, ah kejadian setahun lalu itu selalu aku ingat. kejadian penyerangan itu adalah awal dari serangkaian chaos yang dikreasi oleh ormas tersebut di seluruh penjuru negeri. sampai kini, baik pemerintah maupun polisi, seperti tak punya taring untuk mengembalikan mereka ke neraka.

para aktor intelektual ormas tersebut, menurut berita di sebuah media massa, terdiri dari beberapa orang yang saling menjaga rahasia. sekali masuk takkan pernah bisa keluar, persis seperti tulisan yang tertera di dinding lobi lantai. sistem kerja mereka seperti intelejen, tak pernah bertemu satu sama lain, tapi mampu mengolaborasi serangkaian chaos yang membuat banyak kaum minoritas di negeri ini pontang-panting ketakutan.

bila kau sering melihat ketua front tersebut seolah-olah yang paling bertanggung jawab atas serangkaian kerusuhan yang diciptakan anggotanya, kau salah. menurut temanku yang merupakan orang dalam media tersebut, aktor-aktor intelejen yang junlahnya tak lebih dari lima orang tersebut disebut-sebut memiliki kedudukan lebih tinggi dari sang ketua, bahkan konon lebih tinggi dari kepala polisi negeri ini.

“jadi wajar kalau polisi tak bisa berbuat apa-apa. konon para aktor intelektual ini percaya, kalau kerusuhan-kerusuhan kecil yang mereka cipta, adalah tumbal demi mencegah kerusuhan besar yang bisa menghancurkan negeri ini. terserah percaya atau tidak, setiap kali mereka melakukan sweeping akbar, seratus kambing dikurbankan, tapi tak ada yang pernah tahu, dagingnya mengalir ke komunitas fakir yang mana.” papar temanku itu yang seketika membuat bulu ridhoku berdiri.

aku pamit pada Prada dan kembali ke kamar, di luar Flo menungguku untuk bertanya, “apakah kejadian tadi tak perlu dilaporkan ke polisi?” aku menggelengkan kepala sambil menyeret langkah pulang ke kamar. di tengah sesal, ritual menonton FQ jadi gagal. aku berpikir-pikir, mengapa harus setelah Flo datang? atau, apa yang dilakukan Beng di luar kota? atau siapa ayah dari bayi-bayi yang baru dilahirkan Ziantine?

setiap pertanyaan biasa menjadi rasa penasaran yang luar biasa. mereka yang telah kukenal, bukan orang yang benar-benar kukenal, kecurigaan ini, meminta izin untuk menghinggapi cara pandangku terhadap kelima tetanggaku. mungkin juga pada mereka, termasuk terhadapku.

Rasuna Adikara
plot/ seri 02/ eps.005: TEROR/ post: #007. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/08/043-1602.html

#043: 1602

minggu pagi yang cerah ini, harusnya jadi awal dari rangkaian hari yang indah. dengan menampan sepiring waffle dan menjinjing sekotak susu cair, hendak ke lobi, untuk pelototi acara masak ala-ala chef FQ.

ritual pagi masih menjadi gerbang hari yang indah, sebelum kudengar seorang memekik. jerit wanita, milik Prada. jelas kukenali karena lolong itu identik dengan lenguhnya saat kami saling mencicip, beberapa bulan lalu. yang beda, ini jerit ketakutan. suara yang berasal dari depan kamarnya kukira, dengan cepat mengudara ke antero lantai.

pas sekali, aku hendak keluar dan nonton FQ, kupercepat langkah dan dengan sigap membuka kenop pintu yang tak pernah tergantung kunci di lubangnya. kulihat, Prada terduduk lemas di depan dinding kamarnya, menghadap ke lobi lantai tempat ku biasa menonton acara masak favoritku saban minggu.

di lobi lantai itu, kini, dindingnya memerah seperti kena cipratan darah, dan sepenggal kepala kambing digantung terbalik tepat di atas lantai yang digurat gambar bintang dengan lima lilin tertancap di lima titiknya.

terbaca dengan jelas, di sela dinding yang telah berlumuran cat merah serupa darah, sebuah kalimat yang ditulis dengan piloks hitam: ‘SEKALI MASUK, TAK PERNAH BISA KELUAR’. jelas ini bukan peringatan untuk orang yang hendak bercinta.

kepala kambing yang digantung terbalik, bintang segi lima, lilin yang dibiarkan menyala. jelas ini teror, kepada siapa? entahlah. yang pasti terakhir kali membaca berita tentang teror seperti ini, korban ditemukan beberapa minggu kemudian tewas dalam keadaan mengenaskan.

*

dengan dalih mengecek fungsi alat-alat yang ada di sekitar TKP, aku mengambil remota dan menyetel TV, bukan kebetulan bila ketika nyala, FQ ada di layar kaca, aku memindahkannya ketika peralihan dari gelap ke terang saat TV dihidupkan. yang kebetulan itu, FQ minggu ini memasak iga kambing.

tak ada yang rusak, lampu kipas yang digunakan untuk menggantung kepala kambing pun masih berfungsi. lucu ketika melihat kepala kambing tersebut berputar mengelilingi lilin-lilin yang tinggal beberapa senti di atas karpet yang telah dilubangi. ya, hanya karpet itu yang rusak.

logikanya jelas, mereka butuh ubin kayu untuk menggurat bintang lima, dan menyalakan lilin di atasnya. tak aneh kalau tak ada yang rusak, lagipula ini bukan kasus pencurian, ini teror.
satu persatu penghuni lantai keluar kamar, tapi tak ada yang berani mendekati lobi. Kolab muncul dengan mata segaris, jelas ini masih jam tidurnya, Ziantine juga setelah melahirkan anak kembarnya jadi malas bangun pagi. sementara Sherry keluar dengan mengenakan lingerie tipis dan sisir tersangkut di rambutnya yang semrawut.

Flo, penghuni baru di apartemen ini menghardik, “Jeko, jangan sentuh apapun sebelum polisi datang.” aku yang seperempat kaget, menoleh ke arahnya, di tangan kanan menampan sepiring waffle, di tangan kiri menjinjing kotak susu yang sudah tak begitu dingin, “di sini, lebih baik tidak percaya Tuhan daripada percaya polisi!”

woo, aku mengagumi diri sendiri atas ucapanku barusan. ah, andai FQ bisa melihatku dari balik layar kaca. sementara si kepala kambing yang digantung terbalik kini posisinya menghadap televisi, juga menonton FQ. aku membayangkan ia berkata, “oh mungkin yang dipasaknya kini, dulu adalah tulang rusukku. tapi tunggu sebentar, apa itu di balik ketat kaosnya, seratus pasang buah zakar kambing remaja. koki gila.”

pagi yang gila juga bagi seluruh penghuni lantai 16 l’appartemant. eh, tapi mana Beng? astaga, jangan-jangan ini bukan sekadar ancaman, melainkan penculikan.

Rasuna Adikara
plot/ seri 02/ eps.005: TEROR/ post: #006. prev post: -

7/18/10

#037: 1601

in this story: Sherry, Rasuna Adikara, Kolabton Nawalem, Prada Prameshwari, Langa Beng Otanga.

Semuanya terang. Terlalu terang hingga aku tak bisa membuka mata. Tapi lamat-lamat kudengar suara-suara disekitarku.

"Ini untuk yang kedua kalinya dia masuk ruang operasi. Ada apa lagi dengan dia?" seseorang menggerutu.

Ruang operasi? Untuk apa aku disini? Untuk yang kedua kalinya pula?

"Jahitan di leher rahim sepertinya membuka, kita akan mencoba menjahitnya lagi" sebuah suara lain yang simpatik terdengar di telingaku.

Jahitan? Leher rahim?? Apa yang terjadi denganku? Aku lantas mencoba mengingat-ngingat. Aku ingat tadi aku menuruni tangga apartemen karena lift rusak, aku ingat bagaimana Jeko menemaniku turun lalu Sherry, perempuan dugem datang menaiki tangga dan....ah aku jatuh, melihat darah, dan aku tidak tahu apa-apa lagi.

Jadi aku pendarahan? Lantas bagaimana dengan janinku? Bagaimana dengan calon anak-anakku? Apakah mereka selamat?

Sambil panik merasakan ini aku merasakan tangan-tangan menggerayangi tubuhku. Seseorang menempelkan sesuatu di dadaku. Di sebelah atas payudara kananku, orang lainnya menempelkan sesuatu di jariku. Meski bisa merasakan tekanan mereka aku tidak lagi merasa apapun. Aku hanya tahu mereka menekanku.

"Siapa yang mengoperasi? Dokter Willy lagi?" suara yang tadi menggerutu bertanya.
"Entahlah, tapi kudengar Dokter Willy sedang meminta bantuan temannya. Katanya ini kasus khusus. Mungkin karena operasi pertama gagal." ini suara yang lain lagi. suara perempuan

Ah, jadi sebenarnya berapa orang sih yang ada di sini? Aku mencoba berpikir. Membedakan suara-suara mereka.

"Kira-kira seberapa cepat dokternya datang?" ini si gerutu lagi bersuara.
"Entahlah, tapi kuharap sesegera mungkin. Pendarahannya harus segera dihentikan. Aku tak tega melihata suaminya yang menangis di ruang tunggu dari operasi pertama tadi. Sekarang kurasa ia masih menagis disana " ini si simpatik lagi

Hmm. Suami?? Mana mungkin suamiku kesini? Ah aku lupa. Aku sudah tak punya suami!

Pintu terdengar terbuka. Wangi yang familiar menyapa penciumanku. Wangi yang begitu manis dan terlalu familiar.

"Ini Dokter Sherry. Dia akan menjadi dokter operasi malam ini, saya akan menjadi asisten dokter. Meski bukan dokter indent saya harap tidak ada yang mempertanyakan kualitas dokter Sherry. Dia mengambil dua spesialisasi di Amerika dan lulus cum laude pada keduanya." suara bariton terdengar.

Dokter Sherry?? Mungkinkah Sherry yang itu?!

"Baiklah operasi kita mulai!" ini suara perempuan...mirip Sherry tetanggaku itu.

Aku merasakan sepasang tangan meraba-raba perut dan bagian bawahku.

"Usia kehamilan 18 Minggu, ibu memiliki pendarahan hebat karena terjatuh, dijahit tapi berdarah kembali" ini si bariton.
"Jahitannya terlepas. Ada yang tidak sempurna saat penjahitan pertama. Teknik Jahit seperti ini tidak akan cukup untuk menopang tiga janin sekaligus. Kita akan membuka kembali jahitan itu" ini suara Sherry. Tegas. dan entah bagaimana cukup menenangkan.

Aku lantas mendengar Sherry meminta alat-alat operasi. Gunting, jarum, benang.

"saya akan melakukan figure of eight suture atau teknik jahit angka delapan untuk menjahit leher rahim. Lapis dalam lapis karena luka cukup dalam. Air ketuban bagus dan janin dalam keadaan sehat."

Aku sangat tenang mendengar janin kembar tigaku sehat-sehat saja. Terserah pada Sherry mau seperti apa dia menjahit mulut rahimku. Yang penting janinku selamat.

Kres kres kres. Aku merasa tekanan-tekanan gerakan di bawah. Tapi hanya tekanan saa. Tidak ada sakit atau apapun.

"Ini jahitan terakhir. Ya! cervial cercleage selesai! Kondisi jantung ibu normal, Tekanan darah normal. Janin sehat. Pasien bisa dibawa ke ruang perawatan"

Dengan itu operasi selesai. Aku bisa merasakan orang-orang mulai membuka apa yang asalnya mereka letakkan di tubuhku. Membuka baju operasiku dan menggantinya dengan baju rumah sakit dengan pelan dan hati sebelum aku dipindahkan menuju ranjang berjalan. Begitu lampu yang sangat terang itu dimatikan, aku membuka mata. Beberapa perawat menoleh dan tersenyum menyadari aku sudah sadar. Atau setengah sadar karean aku belum merasakan dingin, panas atau rasa sakit yang seharusnya datang.

Saat pintu keluar operasi dibuka. Aku melihat Sherry, Jeko, Beng, Prada, Hippies depan kamar dan satu perempuan yang tadi kulihat di depan kamar Jeko. Sherry masih dengan baju operasinya. Aku hanya bisa tersenyum dan menggumamkan terimakasih sebelum mataku memberat. Aku ingin tidur.

Ziantine Larasati
plot/ seri 01/ eps.004: SI CALON JANIN/ post: #005. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/032-1602.html

#035: 1604

in this story: Rasuna Adikara, Kolabton Nawalem, Ziantine Larasati, Sherry.

Selesai juga tulisan tentang si Kanker Serviks ini. Lumayan, minggu ini deadline tidak seburu-buru biasanya. Inilah enaknya liputan ke luar kota, aku hanya perlu menyelesaikan beberapa tulisan dari satu isu. Peer tulisan untuk deadline minggu berikutnya pun diberikan kepada orang lain. Sayang, untuk satu edisi belum tentu ada liputan ke luar kota, dan kalaupun ada, dan belum tentu diberikan padaku.

Kuputuskan untuk print tulisan-tulisan tersebut dan akan kuberikan pada Sherry. Ya, Sherry, si gadis yang selalu wangi. Kehadirannya mudah sekali kukenali, bila ada wangi parfum--kadang tercampur bau alkohol--di pelataran apartemen ini, bisa dipastikan itu Sherry.

Nah, sudah ter-print semua. Matikan Toshi, ambil si LV, coat hitam--belakangan ini Bandung terlampau dingin, oh tak lupa si blackberry, mari keluar sekalian cari makan. *Ting, tong.. Ting, tong..* Hmm, mungkin Sherry belum pulang. Kuputuskan untuk menyelipkan kumpulan tulisan ini di bawah lantai pintu Sherry. Kuambil secarik kertas dan kutulis:

Untuk Sherry,

Maaf kalau aku lancang, tapi artikel-artikel ini mungkin berguna untuk kamu :)

Prada Prameshwari

Sudah. Mari cari makan!

*

Cihampelas Walk malam ini ramai sekali, bahkan terlalu ramai. Kuputuskan untuk makan malam di Gokana bersama teman baikku, Minna. All single ladies, all single ladies... Kulirik sedikit si blackberry sambil terus mengunyah Yakimeshi. Syamina Walendra Prameshwari alias Ibuku. Agak malas sebenarnya kujawab telepon si ibu. Paling-paling beliau beraksi lagi ala matchmaker sejati. Ya, inilah kerjaan ibuku baru-baru ini, jodoh-menjodoh ala jaman Siti Nurbaya. Keluargaku jawa asli, Yogyakarta lebih tepatnya. Ibuku keturunan asli Adipati Mangku Bumi. Sayangnya, si darah biru kerap membuatku terbelenggu, membeku. Apalagi kalau bukan masalah calon suami.

Usiaku baru menginjak angka 27 tahun ini, namun Ibuku sudah heboh sendiri mencari calon suami untukku. Memang tinggal aku yang belum menikah di antara 2 saudara tertuaku. Bukannya tidak laku, namun seperti yang aku bilang tadi, darah biru ini kerap membuatku membeku. Tidak bisa memilih sesuai dengan keinginanku. Permasalahannya terletak di suku adat si calon suami. Keluargaku, oh lebih tepatnya Ibuku, hanya mau menerima calon suami yang berasal dari keturunan kerajaan asli. Apalagi kalau bukan masalah gengsi. Bilangnya sih, demi menjaga silsilah. Ah, pikiranku terlalu liberal untuk itu. Makanya sampai saat ini aku memutuskan untuk menyibukkan diri daripada memikirkan si calon suami yang harus keturunan asli. Blah.

*Klik* Akhirnya kujawab juga telepon Ibuku.
"Kamu dimana mbak? Kok telepon Ibu lama sekali dijawabnya? Kamu lagi apa toh?"
imbuh Ibuku. "Lagi makan, bu. Ini sama Minna temanku. Ada apa, bu, telepon jam segini?"
"Ini Ibu baru pulang dari arisan Ibu-Ibu Dharma Wanita. Terus tadi Ibu dikenalkan sama keponakan Bu Timya. Ternyata dia juga orang Jogja loh mba! Blablablabla...." Sengaja kujauhkan telingaku kalau urusannya sudah begini. Hitung 10 detik, baru pasang kuping kembali, dan Ibuku pasti masih basa-basi. Ah mumpung ada Minna, jadi dia bisa kujadikan alasan untuk menyudahi percakapan ini.
"Ibu, Ibu, (aku harus memanggil beberapa kali sampai akhirnya Ibuku berhenti berbicara sendiri), Ibu, ini aku lagi makan loh sama Minna. Gak enak terima telepon di depan orang begini. Ibu telepon saja nanti lagi ya?" ujarku memotong kalimat panjang si Ibu. "Oh begitu? Yasudah. Nanti Ibu telpon lagi ya, mbak. Ini anaknya baik sekali loh. Tadi saja Ibu diantar pulang ke rumah." imbuh Ibuku tetap promosi. "Iya, bu. Sudah ya. Selamat malam Ibu, salam sama Bapak yaa."

Akhirnya. "Barang baru lagi ya?" ledek Minna sambil tertawa. "Ah sial kamu, udah ah." ujarku sambil agak cemberut.

Selesai makan kuputuskan untuk membelikan Jeko makanan, beli J.Co aja kali ya? Tatitutatitut. Tuuutt. Tuuttt. Kuputuskan untuk menelepon Jeko terlebih dahulu, barangkali dia tidak pulang malam ini.
"Halo, Jeko? Aku lagi di Ciwalk nih, kamu pulang ga malem ini? Aku mau belikan J.Co kesukaanmu." Terdengar sesenggukan di ujung sana. Aku panik. "Jeko? Jeko? Kamu ga papa??" Tiba-tiba ada yang berbicara, bukan suara Jeko. "Halo, mba Prada ya? Saya Jon, supir taksi. Saya juga pernah nganter mba kok."

"Loh supir taksi? Emang Jeko lagi dimana?? Jeko ga papa??" ujarku makin panik. "Tenang mba, Jeko ga kenapa-napa. Ini kita lagi di rumah sakit, mba Ziantine tadi terjatuh dari tangga. Pendarahan. Ini saya juga lagi nunggu si Kolab, katanya mau kesini juga." tutur Jon.

"Hahh???? Zi jatuh?? Astaga! Yaudah saya langsung ke sana juga! Rumah sakit mana sih?" Selesai Jon menyebutkan nama rumah sakit tempat Zi dan Jeko berada, aku memutuskan langsung bergegas ke J.Co untuk memesan. "Dua lusin, mas! Cepat ya! Campur aja semuanya! Oh, Alcaponenya yg banyak ya!"

Aku pun berpamitan dengan Minna dan bergegas menaiki taksi di depan Mall ini. "Ke Hermina pak! Ngebut ya!"
Untung si supir taksi cukup lihai. Tidak sampai sepuluh menit, aku sudah sampai di rumah sakit bersalin ini. Akupun bergegas ke UGD. Mungkin masih pada disana, pikirku. Dan benarlah, kutemukan Jon si supir taksi, Kolab si hippies, Beng si misterius, dan Jeko yang tertunduk masih menangis.

Kulihat pintu UGD, lampu merahnya masih menyala.
Semoga Zi tidak apa-apa.

Prada Prameshwari
plot/ seri 01/ eps.004: SI CALON JANIN/ post: #004. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/026-1604.html

7/17/10

#033: 1600

in this story: Ziantine Larasati, Rasuna Adikara, Langa Beng Otanga.

“Tururuu..tururururuu..rururuuu...” Suling mengalun lembut.. dan kapal bergoyang-goyang digoyang ombak... “Hah! dimana ini?!” teriakku keheranan tiba-tiba mendapati diri telentang di atas dek kapal. Kapal yang luas yang sedang mengarungi samudera yang besar.

Saya bangkit dan melihat ke ujung kapal “siapa lagi itu muda mudi memadu kasih membentuk salib menantang ombak” saya reflek memicingkan mata dan mencoba menghampiri. “srakk” oh sepatu Saya seperti ditahan sesuatu. Saya menengok ke bawah dan mendapati wanita berambut emas yang hanya terlihat kepala dan tangannya mengenggam erat pergelangan kaki Saya. “HOAAAAAA!!” Saya teriak bukan ngeri tapi kagum, lebih banyak mahluk aneh yang pernah saya temui.

“Kamu siapa? kok familiar y?” tanyaku pada wanita rambut emas kepala tangan itu. “Banyak yang bilang begitu, aku memang mirip Celine Dion, panggil aku CD,” jawabnya. “Oke lalu kenapa kaki saya kau tahan,” sahutku balik. “Aku temannya CJ, sebentar,” pungkasnya, dan tiba-tiba CD menggerakan tangannya seperti pesulap Damian dan mengambil secarik kertas dari udara, dan diberikan pada saya.

“HAI KOLAB MABRO, AKU SEKARANG DI RUMAH SAKIT SEKITAR 45 MENIT KE ARAH KIBLAT. TIDAK USAH KHAWATIR, JON DAN JEKO TADI YANG MENYELAMATKAN IBUKU DAN SAUDARAKU. AKU TADI SIANG TERPAKSA MEMINJAM TUBUHMU DARI PINGGANG KE ATAS UNTUK MENELEFON JON DAN MENERIMA TELFON DARI JEKO. MAAF JIKA MUNGKIN TADI KAMU TERBANGUN TERBALIK KARENA MENYEIMBANGKAN TUBUH YANG HANYA BAGIAN ATASMU SUNGGUH SULIT.


SALAM NARKOTIKA
CJ “

Kelar Saya baca memo itu dan “Buak!!” CD memukul saya dengan tangannya yang tiba-tiba memanjang. Semuanya kembali gelap. “Tururuu..tururururuu..rururuuu...” musik kembali mengalun dan Saya kembali membuka mata perlahan. Oh rupanya saya masih di lantai dasar apartemen, dan kaki saya masih terbelit tanaman hias. Musik masih mengalun dan “drttt..” Saku jeans kanan saya bergetar-getar, ternyata handphone saya yang berbunyi dari tadi. “siapa sih yang iseng mengganti nada telefon dan sms masuk hp saya dengan lagu Titanic?” gumam Saya sebal. Saya rogoh saku dan mengambil perlahan Hpnya, seluruh badan saya masih sakit, terutama kepala.

“Klik” Saya pencet nokia pisang yang merepotkan itu. Banyak misscall dari Jeko dan Jon. ada satu pesan juga dari Jon “Lab mana lo? katanya mau dateng ke RS, cepetan Jeko bingung tuh.” Saya masukkan kembali Hp Saya ke saku dan mencoba bangkit terseok-seok.

Baru saja saya bangkit, seketika saja pintu masuk apartemen terbuka dari luar. Seorang berwajah kaku dengan beberapa gulungan kertas sketsa masuk. “Beng! tau arah kiblat ga kemana?” Sapa sekaligus tanya saya. “Ya saya tau, ke arah sana, kamu si tetangga hippies kan?,” jawabnya sambil menunuuk arah kiblat. “hah? hippies? apaan tuh? iya saya Kolab tetangga depan kamar, sebelahnya Jeko,” jelas Saya.

“Ada apa? kepalamu kenapa bocor begitu?” tanyanya datar, seolah darah dan luka biasa baginya. “Ceritanya panjang, yang jelas sebaiknya kau temani saya ke rumah sakit ke arah kiblat, terjadi sesuatu terhadap C eh Zi!,” jawab saya terengah. “Hah?! Kenapa Zi!?” Beng mulai panik. “Kena kanker serviks kali, ayo ntar aja tanya jawabnya,” Ujarku sambil merangkul leher Beng dan mengajaknya mencari taksi untuk ke rumah sakit arah kiblat.

Kami pun tiba di rumah sakit. Beng yang membayar taksinya. “tengkyu Beng,” ujarku. Kami masih di depan rumah sakit. “Beng sori saya dah mau pingsan nih, malah udah pingsan tadi gara-gara tiga hari belum makan, beliin makan bentar dong Beng apa aja bungkusin, Saya harus cepet-cepet ketemu Jon ama Jeko nih,” sambungku sambil merukuk. “Oke nanti ku susul ke dalam,” Ujar Beng tanpa protes tapi Saya malah takut.

Di dalam ruang tunggu sudah ada Jon. “Thanx Jon,”ujarku sambil menepuk pundaknya dan duduk disebelah kanannya. Jon hanya mengacungkan jempolnya dan tersenyum. Tak lama datang Jeko yang mukanya mencair tersedu, ia terduduk pilu di sebelah kanan Saya. Saya beri tepukan di pundaknya dan berbisik “tenang, ceje tidak ikut mati, dia akan terus hidup bersamaku kok!.” Jeko si Don Juan tetap menangis. “Lagipula CJ kan tidak sendiri di perut ibunya, dia masih punya dua saudara lagi,” sambungku. “loh jadi Zi anaknya kembar 3??,” sambar Jon yang lebih tahu daripada Jeko. Jeko tidak peduli dan masih lanjut menangis, dan tiba-tiba.. aroma bakpau menyeruak, disusul adegan Beng yang sudah berlutut bersimbah keringat dengan muka yang sepertinya terkejut. Bahkan Beng sepertinya tidak sadar sudah menumpahkan tiga bakpau yang mungkin titipan saya itu.

“Beng kau kenapa?” tanyaku sambil menepuk pundaknya, dan menjadikan ia pria ketiga yang saya tepuk pundaknya hari ini. Beng diam, Saya kelaparan, Jeko menangis, Jon memungut Bakpau dan Zi kritis.

Kolatbon Nawalem
plot/ seri 01/ eps.004: SI CALON JANIN/ post: #005. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/032-1602.html

#032: 1602

in this story: Ziantine Larasati, Kolabton Nawalem


mataku terbelalak, sontak berteriak. andai kuat kubopong sendirian Ziantine ke lobi apartemen di lantai dasar, tak lama kemudian Wati datang. kami bopong Ziantine berdua, aku merogoh telepon genggamku dari saku. kutelpon siapa saja yang bisa kutelpon.

aku menyela setelah terdengar sapa, “SIAPAPUN INI, TOLONG CEPAT PANGGIL TAKSI KE L’APPARTEMANT!!!” suara di ujung telepon terdengar santai, mencoba menutupi kekikukannya, “woy, santey dong, butuh taksi doang nih lo, atau sekalian sama barangnya?” tanyanya setengah bercanda. oh, tidak, dari seribu nomor yang ada di telepon genggamku, kenapa harus nomor Kolabton Nawalem yang kupencet.

“PUNYA NOMOR TAKSI GAK, ZIANTINE JATUH, HARUS CEPAT DIANTER KE RUMAH SAKIT!” tanyaku panik. “santai kali sob, gak usah pake all-caps ngomongnya. gw udah tau kalau Ziantine jatoh, dari ceje, sekarang kenalan gw udah nunggu di bawah. nanti malam gw nyusul ke rumah sakit, biar nanti ceje yang kasih tau gw.”

aku tak pernah mengerti bagaimana keajaiban bekerja di tanah bumi, tapi di lobi apartemen, seorang supir taksi bernama Jon yang mengaku ditelepon Kolabton setengah jam yang lalu sudah menunggu untuk mengevakuasi Ziantine ke rumah sakit.

Wati aku bawa serta, pahanya bisa menjadi sandaran empuk bagi Ziantine yang aku yakin sekali, di tengah ketidaksadarannya pasti butuh berbaring. kabar baik menyapaku dengan cara-cara yang tak pernah aku mengerti, bagaimana Kolabton bisa mengetahui semua ini, ah lagi-lagi aku tidak peduli. yang kupedulikan sekarang adalah kabar buruknya, rumah sakit terdekat jaraknya bila ditempuh dengan waktu normal akan memakan waktu kurang lebih satu jam.

“tenang sob, di perjalanan, percayakan sama Jon,” sambil menyalakan mobil, sopir taksi itu meyakinkanku untuk tetap tenang. tapi bagaimana bisa ku tenang, bila tak lama kemudian ia menyalakan lintingan ganja dan sekuat tenaga memacu besi kuda.

tidak sampai tiga puluh menit aku memejamkan mata, Jon yang memacu kuda besi secepat cahaya telah mengantarkanku dengan selamat sentosa ke depan pintu gerbang sebuah rumah sakit kandungan. tapi tidak dengan Wati, kulihat ia telah hilang nyawanya sementara, baju cleaning servicenya dipenuhi muntahan yang sedikit banyak juga mengenai wajah Ziantine. aduh, malang nian nasib calon ibu muda ini.

akhirnya aku dan Jon yang mengangkat Ziantine ke tempat dalam rumah sakit. pihak rumah sakit yang sigap segera membawa Ziantine ke unit gawat darurat, aku dan Jon mengantar sampai ruangan yang tegang berima tersebut. petugas yang mengantar kami bertanya, “kenapa ini?” karena aku panik, Jon yang menjawab dengan detil apa yang terjadi pada kami di tangga lantai sembilan. “tadi Kolabton menceritakan padaku di telepon.” aku sudah tidak peduli lagi makhluk seperti apa Jon dan Kolabton ini, yang kupedulikan adalah bagaimana lekas menyelamatkan calon ibu muda yang malang ini dengan jabang bayinya.

dokter menunggu kami menunggu di ruang tunggu, kami juga diminta untuk melengkapi administrasi. aku harap Ziantine anak seorang jutawan, atau minimal dia punya asuransi kesehatan. sebab rumah sakit ini terkenal karena harganya lebih tinggi dari langit.

Jon katanya akan menunggu Kolabton di sini sampai malam, lagipula ia tidak lagi untuk menarik penumpang hari ini karena jok belakangnya sudah diisi seorang wanita tambun yang pingsan dan muntahannya. sambil membikin kopi, aku mengobrol ngalor-ngidul dengan Jon tentang Kolabton. satu ceritanya tentang Kolabton yang membuat bulu kudukku berdiri adalah, konon Kolabton punya indera keenam. setelah bercinta satu malam dengan wanita pojok yang satu, pojokan lainnya konon bisa melihat ‘sosok’, haduh, orang-orang macam apa yang menghuni lantai apartemenku.

tiba-tiba dokter datang membawa kabar buruk, “yang mana dari anda berdua suami Ziantine Larasati?” Jon dengan gesit menunjuk mukaku sebelum sempat ku menunjuk batang hidungnya. aku ragu untuk mengelak, antara kasihan dan takut disalahkan, dokter yang mengiraku suami Ziantine, membawaku ke sebuah ruangan, di mana satu pertanyaan darinya akan mengubahku menjadi seorang pembunuh, untuk selamanya.

“kondisi Bu Ziantine kritis, kemungkinannya selamat amat kecil bila kita memaksa untuk mempertahankan bayinya. sebagai suaminya, saya ingin menanyakan keputusan anda, karena waktunya tak lama lagi, bila Bu Ziantie tak segera di operasi, dua-duanya akan masuk liang lahat bersama. apakah anda masih ingin menyelamatkan anak anda, dengan mengorbankan istri anda?” tanya dokter begitu kejam.

meski nanti dokter tahu aku bukan suaminya, tapi ia sekarang tahu bahwa air mata yang keluar dari mataku ini adalah pantas dikeluarkan oleh setiap ayah yang akan kehilangan calon bayinya. meski nanti dokter tahu aku bukan suaminya, tugasku sekarang adalah menjadi suami pura-pura Ziantine, yang menentukan hidup dan mati Ziantine.

“selamatkan ibunya saja dok!” aku tahu, keputusanku menyelamatkan hidup Ziantine, belum tentu menyelamatkan sisa ‘hidup’ Ziantine. andai selamat nanti, tak seorang pun berani menjamin Ziantine akan berjalan seperti laiknya seorang zombie, as a dead man walking.

aku pulang dan menangis ke ruang tunggu di mana Jon dan Kolabton—yang baru saja tiba—menungguku di sana. ketika ku duduk, Kolabton mencoba menghibur dengan menepuk pundakku. ia berbisik padaku sambil sedikit tersenyum, “tenang, ceje tidak ikut mati, dia akan terus hidup bersamaku kok!”

aku, yang masih tidak mengerti, terus menerus menangis malam itu.

Rasuna Adikara
plot/ seri 01/ eps.004: SI CALON JANIN/ post: #005. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/030-1602.html

#030: 1602

in this story: Florisia Rainarki, Ziantine Larasati


"hahaha, tidak Rain, jelas aku hanya bercanda. tentu kau tidak menganggap serius ajakanku tadi kan? lanjutkan saja mandi, kau perlu menyegarkan dan memulihkan badan. lagipula aku tak mau seminggu ke depan harus mengerok punggungmu yang masuk angin,” aku tak menyangka Rain akan serius menanggapi ajakanku. ternyata dia benar-benar rindu hujan, rindu kakeknya. aku berhutang satu basah kuyup padanya.

membayar rasa bersalahku, kupinjamkan satu buah kaos dan flanel kotak-kotak tebal untuk menghangatkan badannya. “santai saja, nanti aku ambil sekalian main-main ke kamarmu,” ujarku sedikit genit, Rain pamit.

kesukaan Rain terhadap hujan mengingatkanku pada Diamant, sahabatku yang sungguh necis, kalian pasti tak akan menyangka bahwa dia sesungguhnya adalah tukang kayu. ia hanya butuh waktu sepuluh menit untuk mengganti kaki-kaki ranjang kayuku yang lapuk. “duk-duk-duk-duk” suara palu beradu dengan kayu justru membuatku malu. bagaimana kalau si ibu hamil yang tadi melihatku masuk dengan Diamant mengira itu suara ranjang yang digoyang cumbu. ah tenanglah, kuyakin ibu hamil itu bukan Cut Tari atau Ersa Mayori.

tapi kan kita tak boleh menilai seseorang dari sampulnya bukan? siapa yang duga sahabat tampanku yang necis ini adalah seorang tukang kayu, sama seperti seorang ibu-ibu yang kutemui dua hari lalu di angkutan umum, yang dari ujung kaki hingga kepala mengenakan barang-barang bermerk dan tampil begitu modis, siapa yang menyangka bila aksen medok Jawanya masih kental saat menerima telepon dari temannya. begitu pula dengan ibu hamil depan kamarku ini, tapi tentu aku tak mau terlalu peduli.

namanya Ziantine, dan aku tak pernah berani bertaruh apa benar ia hamil tanpa suami, atau bunting gara-gara jin. hari ini aku menyapanya untuk mengingatkan bahwa lift apartemen rusak. “lewat tangga saja, gak apa-apa kan?” ujarku sedikit khawatir dengan janin yang digembolnya. calon ibu muda itu tersenyum manis dan berkata tak apa.

aku akan menjadi orang yang paling merasa bersalah bila tiba-tiba terjadi sesuatu yang buruk terhadap Ziantine. maka lekas kuberingsut dari singgasanaku di ruang tunggu dan menyusulnya, sekalian cari tukang bubur, pikirku.

Ziantine tampak limbung dan lebih gendut ketika kudekati ia dari belakang, langsung ku sapa sambil berjaga-jaga, “kutemani saja ya, takut ada apa-apa.” perempuan itu menoleh dan menyengir kuda, “gak ada apa-apa juga aku mau kok tiap hari ditemani Mas Jeko!” ternyata ia adalah Wati, cleaning service apartemen ini yang sedang bertugas mengepel tangga.

aku menjembel gemas pipinya yang ranum sambil bergegas menyusul Ziantine, terdengar sayup suara Wati dari atas, “hati-hati Mas Jeko, licin lantainya!” untuk ukuran seseorang yang sedang mengandung, Ziantine bisa memecahkan rekor MURI untuk kategori ibu hamil yang menuruni tangga.

akhirnya aku bisa ‘menangkap’ Ziantine di lantai 13, menjaganya dengan kuda-kuda memapah sambil sesekali menemaninya mengobrol. kukatakan padanya bahwa jangan terlalu banyak bicara, lebih baik perhatikan anak tangga.

namun perhatian kami seketika terpecah dari aroma alkohol yang menguar saat menjejak di lantai 10, Sherry naik tangga dengan tergesa, kacau dan berkeringat, seksi. sempat-sempatnya ia membalas sapa Ziantine dengan ramah, dan kembali menatapku dengan pandangan marah. ia setengah berlari menaiki anak tangganya untuk mencapai bulan di kamarnya lantai 16.

ketika aku berbalik, kulihat Zi begitu limbung, hilang keseimbangan karena luput memijak sebuah anak tangga. begitu jelas, dalam adegan lambat yang tragis kulihat tubuhnya berguling-guling setelah tersungkur, dan melandas dengan keras di lantai sembilan. ku lihat darah mengalir di dua hilir pahanya, darah dari hulu selangkangan yang menjadi mulut janinnya.

Rasuna Adikara
plot/ seri 01/ eps.004: SI CALON JANIN/ post: #005. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/029-1606.html

7/12/10

#028: 1606

in this story: Rasuna Adikara

“Kamu tahu kenapa ibuku memberi nama Rain?” ujarku kepada Rasuna seraya mengambil handuk dari genggamannya.

Rasuna hanya menggelengkan kepala. “Tidak tahu dan aku ingin tahu sekarang,” tandasnya.

Kuurungkan niatku untuk menyambangi kamar mandinya, meski air panas sudah ku nyalakan dan memenuhi bath up miliknya itu. Aku kembali ke sofa dimana ia masih asyik menunggu koki favoritnya di layar tv. Aku duduk di sebelahnya, handuk masih melingkar di leherku, sembari menghidupkan rokok yang tersisa di meja depan sofanya, aku melanjutkan pembicaraanku.

“Ibuku sangat menyukai hujan. Sangat, “ aku memberikan penekanan kepada kata “sangat” itu.

Di kala kami hanya berdua di rumah, ibu ku sering cerita mengapa ia suka hujan. Dulu semasa kecil saat masih di kampung, Ibu ingin sekali bermain di bawah siraman hujan bersama teman sekampungnya. Maklum, kata Ibu anak zaman dulu sangat antusias dengan hujan. Mereka sering mandi hujan sambil bermain uber-uberan atau patung-patungan atau umpetan. Tapi, sayang. Hingga menginjak usia 10 tahun, ibu tak pernah mandi hujan bersama teman-temannya. Nenekku setengah gila, ia tak pernah memperbolehkan ibu bermain saat hujan.

“Dari mana kamu menyimpulkan nenekmu setengah gila. Sori, maksudku apa dia terkena penyakit kejiwaan atau bagaimana?” Rasuna memotong ceritaku.

“Entahlah, tapi dari cerita Ibu aku anggap dia setengah gila,”

Setiap hujan turun, ibu pasti terkurung. Ia hanya bisa memegang rintik hujan dari balik jendela kayu kamarnya. Pernah sekali , ibu bandel. Ia nekat keluar rumah secara diam-diam. Apesnya, baru menginjakkan kaki di teras, nenekku bangun dari tidur siangnya. Nenek murka, ia langsung menarik tubuh Ibu masuk ke rumah. Pelajaran dari nenek kalau ibu bandel adalah: dipukul dengan rotan atau disundut dengan rokok yang tak pernah lepas dari tangannya.

“Hemmhh, wajar jika kamu anggap ia setengah gila. Tapi, tampaknya kau keturunan dari nenekmu ya.”

“Maksudmu? Aku setengah gila?” tanyaku heran.

“Tidak, keturunan pecandu rokok,” ujarnya tertawa.

Aku membalas tawanya. Ini adalah tawa pertamaku di apartemen ini, Rasuna.

“Lanjutkan ceritamu,” Rasuna membuyarkan diamku yang barang berapa detik itu.

“Ibu tak jera, ia malah menantang nenek. Namun, sial selalu ketahuan. Sampai-sampai Ibu bilang, dia sudah kebal dengan api rokok.”

Entah, apa yang dicari Ibu dengan bermain hujan. Aku baru tahu jawaban ini beberapa bulan lalu, saat minum teh bersama di teras rumahnya. “Kakekmu, yang meninggalkan aku dan nenekmu pernah membisikan satu kata kepadaku sebelum ia kabur dari rumah. Ia berkata: Cari dan temui aku di kala hujan tiba, nak. Tenang, kau tak akan kedinginan. Karena, saat kau bertemu hujan kau juga akan merasakan peluk Bapak.

“Kakekmu kabur karena apa?” Rasuna semakin penasaran.

“Kakek kabur karena nenek. Ia tak tahan ulah nenek yang saban hari minum. Sempat pula, main serong dengan Pak RT. Kakek, kata Ibu, sungguh pria yang penyabar dan tak pernah marah. Karena itu, ia memilih meninggalkan nenek. Sengaja Ibu tidak ia bawa, karena kakek tahu, hanya Ibu yang ia punya di dunia ini jika kakek pergi,” Jawabku.

"Oke Pemirsa, Sampai Bertemu di Tayangan mendatang dengan menu yang berbeda. Hanya di…" Suara chef favorit Rasuna di layar TV seakan menyadarkan kami, bahwa kami sama-sama tertegun.

“Namamu sungguh bermakna Rain,” Rasuna hanya berkomentar singkat.

“Ya. Sampai sekarang, jika hujan datang dan ibu betul-betul rindu kakek, ia tak segan keluar rumah, mendatangi halaman belakang rumahnya: main hujan,” ujarku

“Yah, itulah ceritanya. Well, aku tampaknya tak jadi mandi nih,” aku beranjak dari sofa.

Dalam hitungan menit, saat aku menunggu bathubnya penuh dengan air panas lagi, Rasuna menggedor pintu kamar mandi. Ku matikan keran air.

“Rain, di luar hujan. Maukah kita bermain hujan? Aku ingin mengenal kakekmu,” ucap Rasuna.

Aku diam.

Kembali kukenakan t-shirt yang sudah tiga hari tak dicuci itu, “oke, tunggu sebentar.”

Untuk Hujan yang selalu memberiku inspirasi.

Florisia Rainarki
plot/ seri 01/ eps.002: SHERRY/ post: #004. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/024-1602.html

7/11/10

#025: 1604

in this story: Rasuna Adikara

Ini hari keduaku berada di kota batik ini, Surakarta, atau mungkin sekarang lebih dikenal sebagai Solo yang kadang dipelesetkan menjadi Oslo. Ingat Solo jadi ingat Almarhum Gesang yang baru meninggal baru-baru ini. Almarhum Gesang dengan lagu Bengawan Solo-nya yang cukup mendunia. Sudah beberapa kali aku ke kota tua ini, belum juga kusempatkan melihat si sungai legenda itu. Entah berapa kali sudah aku memaksa Jeko mengajakku ke sana, tapi alasannya selalu sama, besok ya. Dan kalau sudah begitu, besoknya pasti lupa, dua-duanya lupa. Baru ingat lagi nanti kalau sudah mau pulang, ujung-ujungnya, tidak sempat lagi. Bosan sudah dengan Jeko si tukang janji.


All single ladies, all single ladies....
Ah, ada apa lagi si Beyonce menyanyi? Rasuna Adikara. Jeko? "Halo? Kenapa Jek?" "Hey, kemaren ngetuk kamarku, ada apa ya?" "Ohh,
“aku mau pinjam kamera tadinya, kamu gak ada. jadinya aku pinjem ke hippies sebelah kamarmu" "syukurlah, lagipula kameraku juga sedang rawat inap di reparasi, tertular kameramu yang mendadak tak bisa nyala. memang kau pergi berapa lama, sedang tugas ke luar kota ya? habis tumben tv-mu ditinggal nyala" "aku ke Solo, ke kampung halamanmu, ada liputan seminar kanker serviks" "lho kamu ke Solo kok gak kabari aku, nanti biar aku hubungi Radita untuk menemanimu, nginap saja di rumah orangtuaku, sekalian nanti aku minta tolong titip bawa akta lahirku" "nggak usah, aku nginep di hotel, sudah disediakan kantorku, terimakasih. biar nanti Radita aku hubungi, suruh ke hotelku saja, sudah lama juga aku gak ketemu dia, biar sekalian nanti dia bawa akta lahirmu."

Kuingat-ingat, sudah lama juga aku tidak ke kota ini, kampung halaman Jeko. Biasanya kalau ada waktu senggang, aku iseng menemani Jeko yang juga iseng pulang kampung. Mungkin tidak ada yang percaya, di balik dandanannya yang serba berantakan itu, Jeko tipe penyanyang Ibu. Makanya dia selalu menyempatkan setidaknya dua sampai tiga kali pulang ke kota ini demi menemui sang Ibu yang dikasihi. Kalau sudah begitu, aku biasanya merengek minta ikut, sampai rela bolos kerja. Tapi itu dulu, mungkin kira-kira terakhir akhir tahun lalu. Dengan kesibukanku yang tidak menentu ini, sudah tidak mampu lagi aku iseng menemani. Maklum wartawati.


Ah, Radita. Apa kabar ya dia? Data wawancara dan seminarku sudah kurapihkan, tinggal dibenahi esok hari. Kujadikan saja hari ini hari leha-leha sedunia. Telpon Radita! "Halo, Radita? Ini mbak Prada, masih inget kan? .................................."

Prada Prameshwari
plot/ seri 01/ eps.002: SHERRY/ post: #003. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/021-1602.html

#024: 1602

in this story: Florisia Rainarki


aku menikmati Minggu pagi yang tak terlalu cerah ini dengan merebahkan diri di sofa empuk lobi lantaiku. tak banyak penghuni satu lantaiku yang menikmati untuk beristirahat di sini, mungkin sesekali Prada yang menemaniku menonton sinetron RCTI di malam hari.

biasanya akhir pekan, aku menunggu acara masak koki wanita seksi yang lebih cocok untuk pemotretan kalender di toko emas, ketimbang memikirkan cara menyajikan ikan mas. koki wanita yang menyembunyikan melon di dada kirinya, dan semangka di dada kanannya. kata seorang teman, acara masak akhir pekan di televisi, telah kehilangan esensinya.

saya tak peduli dan terus menunggu acara ini sambil mengecek beberapa acara di stasiun lain untuk membunuh waktu. tiba-tiba suara seorang wanita menyapaku tegas, “acara televisi akhir pekan harusnya tak lebih dari permintaan maaf stasiun televisi karena selama lima hari sebelumnya telah banyak menyiarkan petaka.”

aku menoleh, orang baru tampaknya. gadis itu melanjutkan bicaranya, “kau tahu, banyak orang menuduh pornografi sebagai salah satu penyebab hancurnya moral bangsa. tapi tak banyak yang menyadari, bahwa televisi, dibanding pornografi, jauh lebih keji.”

aku memandangnya kagum, meski dengan tampangnya yang semrawut seperti kurang tidur, dan rambutnya yang menggulung seperti bola kusut. aku mencoba ramah padanya, “kamu, baru ya di sini, maaf aku belum pernah melihatmu sebelumnya?”

gadis itu mengulurkan tangan sambil memperkenalkan namanya, Florisa Rainarki. aku menjabat tangannya yang halus, “Rasuna Adikara, panggil saja aku Jeko, begitu orang-orang di apartemen ini memanggilku.”

kami berdua berebah di sofa yang sama, gadis itu sepertinya ingin mengganti waktu istirahatnya yang tak terlalu dimanfaatkannya tadi malam, dan aku menunggu ratu masakku keluar dari persembunyiannya.

“kau tahu, di mana aku bisa membeli perlengkapan seperti kasur, lemari, kursi, dan lainnya untuk mengisi ruangan di kamarku yang masih kosong,” tanyanya. aku jawab saja di ujung perempatan ada toko yang kalau ia mau membeli dengan harga yang lebih mahal, mereka bisa menyediakannya.

“kalau tidak kau mungkin bisa mencari ke kota, nanti biar kusewakan mobil bak terbuka untuk mengangkut barang-barang belanjaanmu, aku punya kenalan, nanti hubungi saja orangnya atas namaku, beri saja ‘untuk rokok’ meskipun dia tak merokok,” tawarku.

“tapi mungkin lebih baik, kau menyegarkan diri dulu kalau mau keluar, daerah sini bikin orang gampang berkeringat,” tawarku kembali. “ya itu, aku buru-buru pindah kemari, jadi tak sempat membawa peralatan mandi,” jawabnya.

“ya sudahlah, silakan mandi di kamarku, pakai saja peralatannya, mungkin cukup lengkap untuk bisa kau pakai, terlalu lengkap malah, emmhh, Flo, eh, apa aku harus memanggilmu?” tawarku sambil mengantarnya masuk ke kamarku. “Rain, panggil saja aku Rain,” jawabnya.

“ya Rain, silahkan, kebetulan shampoo-ku juga Clear Men, pakai saja,” ujarku mantap seperti kata bintang Korea yang nama panggilannya sama dengan gadis itu. dia masuk ke kamar mandi, dan aku kembali ke depan televisi dan bersiap onani.

Rasuna Adikara
plot/ seri 01/ eps.002: SHERRY/ post: #004. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/023-1606.html

#021: 1602

in this story: Prada Prameshwari

“hey, kemaren ngetuk kamarku, ada perlu apa?” kutelpon Prada setelah mengetahui ia tidak ada di kamarnya. biasa, aku langsung masuk kamarnya karena tahu kebiasaannya yang tak pernah mengunci kamar. tiga pasang pakaian dalam bermotf polkadot kutemukan tertinggal di atas televisi yang menyala kedap suara, kebiasaannya lama yang masih tetap sama.

hampir sebulan aku tak bertemu Prada, tiga minggu karena aku ada urusan ke Poso, begitu pulang Prada sudah menjadi wanita supersibuk yang seolah bekerja 25 jam sehari, 8 hari seminggu. sebelumnya, minimal ada waktu satu jam dalam sehari, satu dalam hari seminggu untuk kita duduk satu meja bercerita tentang apa saja.

“aku mau pinjam kamera tadinya, kamu gak ada. jadinya aku pinjem ke hippies sebelah kamarmu,” ujarnya lewat suara cemprengnya yang kekanak-kanakan. “aku tak menyangka, hippies itu punya banyak kamera.”

“syukurlah, lagipula kameraku juga sedang rawat inap di reparasi, tertular kameramu yang mendadak tak bisa nyala. memang kau pergi berapa lama, sedang tugas ke luar kota ya? habis tumben tv-mu ditinggal nyala, ” tanyaku.

“aku ke Solo, ke kampung halamanmu, meliput seminar kanker serviks,” jawabnya. “lho kamu ke Solo kok gak kabari aku, nanti biar aku hubungi Radita untuk menemanimu, nginap saja di rumah orangtuaku, sekalian nanti aku minta tolong titip bawa akta lahirku."

“nggak usah, aku nginep di hotel, sudah disediakan kantorku, terimakasih. biar nanti Radita aku hubungi, suruh ke hotelku saja, sudah lama juga aku gak ketemu dia, biar sekalian nanti dia bawa akta lahirmu,” jawabnya.

aku berterimakasih sebelum menutup sambungan teleponku, dia menyela, “eh sori-sori-sori Jek, emh, itu, nanti kancut dan kutangku yang kujermur di atas tivi, kalau sudah kering tolong masukan kulkas ya, kamu tahu kan caranya, hehe, makasih ya,” dan aku pun menutup telepon sambil berhutang satu janji padanya. ya ampun Prada yang cantik, tak kusangka kau masih percaya klenik.

Rasuna Adikara
plot/ seri 01/ eps.002: SHERRY/ post: #003. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/011-1604.html

7/9/10

#011: 1604

in this story: Kolabton Nawalem, Rasuna Adikara

Hari ini terasa melelahkan sekali. Mungkin bawaan rapat deadline pertama bulan ini yang sangat alot sampai memakan jadwal lulurku. "Ah, sial! Ga jadi luluran kan minggu ini. Mana sempet besok-besok lagi," gerutuku sambil menyenderkan kepala ke jendela taksi biru ini. Luluran di salon langgananku memang sudah jadwalnya kalau selesai deadline begini, demi relaksasi. Minggu ini malah tidak jadi.

Rasanya ingin segera sampai di rumah. Ya, rumah. Apartemen kecilku itu kini sudah bisa kusebut 'rumah', dibandingkan rumah asli masa kecilku yang notabene adalah rumah orang tuaku. Di sana sudah tidak nyaman lagi. Penuh cek-cok sana sini. Ini salah satunya alasanku pindah ke apartemen Seguni ini. Meskipun kecil, namun membawa ketenangan untuk hidupku yang cukup ruwet ini.

Kulihat Guess emasku, sudah jam sepuluh lebih. "Pak, tolong dipercepat ya, lewat mana gitu, terserah deh," ujarku pada si pak supir taksi. "Baik neng," ujar si bapak taksi sambil melirikku lewat spion atas. Kuputuskan untuk memejamkan mata sejenak berharap akan memangkas waktu di taksi ini.

"Neng, sudah sampai," sentuhan si supir taksi membangunkan nyenyakku di alam tadi. "Oh? Sudah sampe? Iya, iya, sebentar pak," ujarku seraya membereskan tatanan rambut dan memakai kembali si hak tinggi. "Berapa?" "35 ribu neng," "Ini pak, ambil saja kembaliannya," ujarku seraya memberikan dua lembar uang 20 ribuan. "Oh, makasih neng, selamat istirahat ya neng, sepertinya neng butuh itu," ujar si bapak supir sambil menutup pintu seraya tersenyum padaku. "Iya, terima kasih banyak ya pak," kataku seraya membuka pintu Apartemen Seguni-ku.

Akhirnya sampai juga di 1604. Kubuka pintu. Ingin segera kurebahkan tubuhku. Namun kuputuskan untuk mandi dulu. Handuk sudah di bahu. Panaskan air dulu. Beberapa menit kemudian sudah kurebahkan tubuhku di bathtub cokelat tua kamar mandiku. SEGAAAAARR! Ranjang empuk sudah menari-nari di otakku. Tak lama-lama aku menyegarkan diri, segera kusudahi acara mandi ini. All single ladies, all single ladies...... Nyanyian Beyonce mendandakan ada panggilan untukku. Wah, pemredku.

"Halo?" "Prada, kamu sudah sampai?" "Oh, sudah bu, ada apa ya?" "Ini, besok mendadak ada event di Solo, ada seminar tentang kanker serviks di sana, si Kina mendadak ga bisa, dia barusan sms saya. Kamu bisa liput ya? Saya sudah pesankan tiket ke Solo untuk jam 9 besok pagi, langsung ke bandara aja, ada si Toto di sana yang ngasih tiketnya. Jangan lupa kamera. Kamu liputan sendiri kali ini, oke?" Penjelasan panjang lebar sang Pemimpin Redaksi, Diandra Pandania, untuk liputan mendadak besok pagi menjadi penutup ruwet hariku ini. Maklum wartawan, jam kerjanya tidak pasti. Selalu ada dadakannya.

Belum sempat kurebahkan tubuh ini, kusempatkan packing dulu buat besok. Bawa seadanya saja, pikirku. Baju, celana, pakaian dalam, peralatan mandi, make up. Lengkap. Sudah. Ah! Kamera! Aku baru ingat, kameraku masih ada menginap manis di tempat reparasi. Sial! Pinjem siapa udah malem gini? Oh! Jeko! Aku baru ingat, pinjam ke dia saja! Segera kuberalih ke pintu menuju kamar 1602 itu. Tok. Tok. Tok. Jeko masih belum membukakan pintu, kulirik jam di handphoneku, jam 12, masa sih udah tidur? Trrriiitt. Kuputuskan memencet bel yang bunyinya agak aneh itu. Masih belum ada jawaban.

Ah, ke siapa lagi ya? Jreng Jreng Jreng. Gitar si hippies kamar 1600 memberikanku ide. Pinjam ke dia saja! Barangkali punya. Meskipun pintunya terbuka begitu saja, aku memutuskan tetap mengetuknya. Ini soal etika. Dan segera kumenemukan sosoknya.


"Boleh masuk?" "Oh, masuk-masuk," ujarnya serasa menyelipkan rambut ke kupingnya. Rambutnya panjang terurai. Lebih panjang dari rambut saya. "Tumben masih di sini jam segini? Ga keluar?" "Oooh, engga. Lagi pengen aja malem ini di sini, sambil nyetem gitar ga bener-bener." "Ohhh...Eh iya, kamu ada kamera? Punya saya masih di tukang reparasi, tapi besok ada liputan dadakan ke Solo," ujarku langsung ke tujuan. "Oooh, kamera. Ada, ada. Sebentar ya." Ia pun menaruh gitarnya dan beralih ke lemari di sudut ruangan ini, mengambil kamera. Untunglah dia punya! "Nih, pake aja, saya lagi ga pake kok," ujarnya seraya mengambil gitarnya lagi. "Oh, iya. Boleh pinjam ya? Nanti pulang dari sana saya langsung balikin." "Sip" Pembicaraan dengan orang ini memang singkat. Selalu singkat. Mungkin memang dia tidak banyak bicara.

Dan saya pun keluar dari ruangan itu dan kembali ke kamar. Kamera sudah dapat, perlengkapan lengkap. Saatnya tidur. Solo untuk esok hari.

Prada Prameshwari
plot/ seri 01/ eps.002: SHERRY/ post: #002. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/009-1602.html

7/8/10

#009: 1602

in this post: Langa Beng Otanga, Ziantine Larasati, Sherry, Prada Prameshwari,

pagi itu kami bercinta untuk kali kedua, sama dahsyatnya kala pertama. tanpa anal, satu-satunya bagian percintaan tadi malam yang tak ingin kuhafal. tapi tenanglah, seperti biasa, ketika esok ku terjaga, aku sulit untuk mengingat kisah 24 jam sebelumnya yang kubawa bersama.

“kalau emh, terjadi lagi, emh, boleh kurekamkah?” tanyaku begitu gugup sambil mengenakan baju. tiba-tiba ia menamparku. sontak aku meminta maaf, ia bilang tak perlu meminta maaf, “tadi ada nyamuk di pipimu. heran, di tempat setinggi ini masih ada nyamuk.”

ia juga bilang percintaan kita tak perlu direkam, dan mungkin tak perlu terjadi lagi, meski tadi malam ia mengakui bukan sebuah kesalahan. aku tak bisa memaksa, seperti pasrah saja ketika ia mengusirku dengan halus untuk kembali ke kamarku, katanya ia buru-buru karena harus menemui seseorang.

sebelum pergi, aku memaksa untuk tahu namanya. “Sherry, namaku Sherry,” ujarnya ringan, tanpa beban sambil menutup pintu kamarnya. satu menit aku berdiri di depan kamarnya yang tertutup, aku belum mengenalkan diri.

keluarga besarku di Solo memanggilku Jeko, aku suka nama itu, bahkan aku menggunakannya ketika berkenalan dengan sembarang orang. nama asliku padahal bagus, Rasuna Adikara. banyak teman akrab yang mengenalku sebagai Jeko tak percaya, kata mereka, tak cocok dengan muka.

padahal sudah kuyakinkan mereka bahwa ayahku sastrawan keturunan ningrat, mereka masih saja tidak percaya. di dompetku ada secarik kertas yang tertera tulisan untuk mengingatkan, “jika kelak pulang ke Solo, jangan lupa bawa serta akta lahirmu.”

“lucu toh, kenapa keluargamu tak memanggilmu Rasu, atau Suna, atau Adi, Dika, Kara?” tanya seorang teman. sekali lagi kukatan padanya, ayahku seorang sastrawan, kukutip sebuah kata dari idola ayahku, Shakespeare, ‘apalah arti sebuah nama (panggilan)’. adik perempuanku namanya tak kalah indah , Radita Adikara. entah kenapa keluargaku memanggilnya Bridtok.

*
aku sedang merapikan kamar ketika kudengar bel kamarku berbunyi, tumben pesan antar masakan cepat saji datang begitu cepat. sambil kusiapkan uang dan tip untuk pembayaran, aku berjalan ke arah pintu. dibalik pintu ternyata tak ada sesiapa, itu bunyi bel kamar 1501, persis nadanya, persis pesanan makanannya. “sepertinya anda salah kamar, Mas?” tanya saya.

tak lama kemudian, penghuni kamar 1501 membuka pintu, terselip uang di jari tangannya siap bertransaksi. melihat pengantar masakan cepat saji hendak berjalan ke arahku, dia heran dan memanggil kembali pengantar pesan antar masakan cepat saji tersebut.

“maaf, saya kira bel saya yang berbunyi, lagipula pesanannya sepertinya sama,” sapa saya ramah. tapi mata wanita hamil itu malah tertuju ke arah lift, seorang wanita tampak tak santai seperti mau memburu waktu. itu Sherry, begitu cantik dalam balutan gaun merah, wangi parfumnya merekah, tergesa entah mau kemana atau bertemu siapa.

dari bahasa tubuhnya bisa kutebak, wanita itu berpikir begitu lama sebelum memutuskan pergi. wanita ini kemudian menyadari bahwa yang hendak dikejarnya, bisa jadi, begitu berarti. Sheri masuk lift tanpa menyadari, dua penghuni sedang mengamati.

pintu lift tertutup, wanita hamil kamar 1501 membalas senyumku. “ya, kurasa bel kita satu nada, tadi malam kukira tamu memencet belku, ternyata belmu yang berbunyi. gadis 1504 sepertinya ada urusan denganmu hendak bertamu.”

gadis 1504?! ah, Prada, mau apalagi dia...

Rasuna Adikara
plot/ seri 01/ eps.002: SHERRY/ post: #002. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/008-1602.html

#008: 1602

in this post: Sherry, Kolabton Nawalem

hidupku tidak pernah biasa-biasa saja, kadang bisa begitu membosankan, tapi tiba-tiba juga bisa penuh dengan kejutan. dingin pagi menyayat tubuhku, sesuai dengan mimpiku tengah mendaki Himalaya hanya bercelana dalam. setengah sadar aku meraba-raba tubuhku yang tak berbusana, sambil setengah bertanya, “pakaianku tersangkut mimpi pukul berapa?”

aku mencoba mengingat-ingat, apakah sebelumnya aku pernah tidur tanpa busana? jika ya, karena alasan apa? tapi seingatku tidak, itu seingat yang masih kemungkinan. tapi seingatku yang pasti, ingatanku bukan ingatan yang bisa diandalkan.

apalagi kalau dingin begini, selain bulu romaku berdiri dengan ridhonya, burungku suka tegang, menodong langit-langit kamar apartemen dari balik selimut begitu gagahnya. tapi, tunggu sebentar...seingatku, langit-langit kamarku tak seeksotis ini, “ya Tuhan, ampunilah manusia yang menguliti harimau demi langit-langit kamarnya!” aku tak ingat apa aku pernah sekeji itu, tapi seingatku yang pasti, ini bukan kamarku.

*
seiring dengan pulihnya kesadaranku, bisa kuhirup wangi yang biasa kucium dari kamar pojok apartemenku. sial, mungkin lagi-lagi aku salah masuk kamar. entah kenapa, setiap penghuni di lantai ini punya kebiasaan buruk untuk tidak mengunci kamar mereka masing-masing. bahkan kamar sebelahku milik seorang hippies yang tidak bisa lepas dari gitarnya, selalu ditinggalkan dalam keadaan terbuka, entah apa alasannya.

aku tak pernah mencium parfum wanita yang lebih indah daripada pagi ini, tentu bukan karena wanginya, tapi karena ketelanjangan bulatku ini di ranjangnya. ranjang motif zebra milik perempuan cantik yang berbaring di sampingku, yang sedang melamun khusyuk seperti melihat Tuhan di balik layar telepon genggamnya.

“pagi... emh, maaf, sepertinya aku salah kamar?” ujarku gugup di balik selimut besarnya sambil mencoba meraba daerah sekitar ranjang untuk mengambil sehelai dua helai pakaianku yang tercecer akibat, mungkin, ...percintaan tadi malam.

wanita itu tak tampak kaget, ia malah tersenyum begitu ramah, “terima kasih ya sudah mengantarkanku tadi malam.”

“tuh kan, berarti bukan saya yang salah masuk kamar!” ujarku memekik sebagai apresiasi keberhasilanku untuk mengurangi kebiasaan masuk kamar orang dan langsung tidur di ranjang saking kikuk dan lelahnya.

*

langsung saja ingatanku berputar ke delapan atau mungkin sepuluh jam yang lalu, kata-kata wanita itu menjadi kunci pintu memoriku. sedikit demi sedikit ingatanku memanggil kejadia tadi malam.

wanita ini berjalan sempoyongan di tangga lantai 6, hendak mendaki ke lantai 16. kutanya alasannya kenapa tak menggunakan lift saja “kalau sedang mabuk, naik lift seperti hendak meluncur ke bulan,” jawabnya. wanita ini benar-benar mabuk, pikirku.

kubopong saja ia ke kamarnya, semoga aku tak salah ingat rupanya, ada tetangga satu lantaiku yang mirip dengannya, wangi parfumnya pun aku hafal, yang masih menguar hingga keesokan paginya aku terjaga di ranjangnya.

saat mabuk, wanita ini termasuk orang yang banyak bertanya, “kamu sendiri kenapa gak pake lift?” kujawab saja iseng, “Aldrin dan Amstrong juga kuliahnya naek tangga dulu kali, baru bisa ke bulan.” matanya menguncup layu ketika ia tertawa. “mabuk kamu!” ujarnya.

sudah kukatakan sebelumnya kan kalau hidupku penuh kejutan. seperti saat aku membaringkan tubuh wanita ini di ranjang motif zebranya, tiba-tiba ia merangkul punggungku dengan kedua tangannya. dengan sisa tenaga yang dimilikinya ia menjatuhkanku ke ranjang untuk salah satu persenggamaan terbaik yang pernah kualami. aku ingat sampai detil percintaan yang menakjubkan ini. aku sampai hafal cara dia melenguh, aku sampai kenal sentuhan tangan mana yang meraba dan menjamah seluruh bagian tubuhku, aku peka kapan harus memuncaki peraduan ini dan membiarkan punggungku menjadi landasan kuku-kuk tajamnya untuk mencengkram kenikmatan. tapi, tunggu sebentar...

aku mengusap-usap burungku yang mengeras dengan tangan kananku, kucium baunya di sela bagian yang kupakai untuk mengusap. sontak ku membuang muka sambil mengeluarkan ekspresi campur aduk antara heran, jijik, eneg, dan menyesal. menoleh pada wanita tersebut dengan jari merunduk di sekitar hidung, mimikku seolah bertanya, “kok burungku bau anus ya?”

wanita itu tertawa dan menjawab, “ya tentu saja, kan tadi malam kita anal.”

Rasuna Adikara
plot/ seri 01/ eps.001: INTRODUKSI/ post: #001. previous post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/004-1605.html