Lantai 16

Showing posts with label eps03. Show all posts
Showing posts with label eps03. Show all posts

8/23/10

#046: 1603

Matahari di Minggu siang ini menggantung dengan angkuhnya. Sengat panasnya benar-benar menusuk sampai pori-pori. Dan kini di hadapan bangunan apartemen yang seperti raksasa yang melamun aku kembali hadir. Seguni.

***

Sudah setengah tahun kukira aku dua kali meninggalkan Apartemen Seguni. Pertama untuk melarikan diri dari hantu masa lalu, saat Zi berdarah-darah di RS Hermina dan di sana aku melihat sekeluarga aneh berwajah keluargaku. Sebenarnya pelarianku yang pertama itu ke Jakarta selama dua minggu hanya untuk, ya katakanlah, bertamasya, juga mencari inspirasi. Aku bertemu dengan kolega dan para kurator sekaligus mengunjungi beberapa tempat seni seperti Museum Seni Rupa dan Keramik di Kota Tua, Galeri Nasional, Taman Ismail Marzuki, dan lainnya yang tak mesti kusebut semua.

Seperti alay saja pamer-pamer tempat jalan-jalan. Wah aku menggunakan term alay?! Hahaha.. Apa pula itu alay.

Aku sempat kembali tapi hanya beberapa hari untuk sekedar mencium aroma kamar dan menyepi. Kemudian perlarian keduaku ialah pergi ke Yogyakarta untuk merampungkan lukisan untuk turut dalam pameran bertema "Anomali Tubuh" di mana aku bergabung dengan beberapa perupa di sana. Talenta seniman Yogya memang luar biasa. Kurator dalam helatan kali itu ialah Ucok alias Aminudin TH Siregar. Mungkin banyak orang bosan melihat kurasi yang kerap menampilkan nama itu atau Jim Supangkat. Tapi ya sudahlah. Toh dia pintar dan bayarannya bersahabat. Hehehe..

Empat dari lima gambarku laku terjual. Bayarannya juga cukup untuk menambah saldo di rekeningku. Tapi ada satu hal yang mengganjal. Dalam buku tamu, kulihat tulisan bernada ancaman: DASAR KAFIR! GAMBAR PORNO BUKAN SENI! LIHAT SAJA KALIAN NANTI!

Memang sih, entah aku pernah baca dimana, tulisan tidak mungkin mewakili ekspresi secara utuh, makanya ada emoticon. Tapi akan sangat aneh kalau tulisan tersebut diberi emoticon. Seperti lawakan jadinya. Tulisan itu cukup meresahkan kami. Ah, ya sudahlah paling cuma kerjaan orang iseng yang tak tahu seni.

Di samping itu, kota itu cukup damai untuk ditinggali meski ada berita tentang pembunuh misterius yang membunuh orang-orang yang ditemuinya di jalan secara serampangan. Pembunuhan tak berpola namun dengan gaya yang jelas-jelas meniru Jack The Ripper. Kebanyakan korbannya ialah mahasiswa. Sampai sekarang sudah belasan korban jiwa tercatat. Ciri khasnya ialah ada kepala kambing tergeletak di sisi mayat yang kepalanya dipancung.

***

Kubuka pintu apartemen itu. Televisi menayangkan siaran highlight sepakbola. Si penjaga lobi tak jelas wujudnya. Sofa di lobi dihuni udara kosong dan debu, mungkin juga hantu. Sepi. Langsung saja aku masuk lift lalu kutekan tombol 16.

"Ting tong.." Pintu lift terbuka.

Bau anyir darah. Semua kamar terlihat membisu. Jika ini kejutan ulang tahun ke-30-ku yang sudah lewat berbulan-bulan, benar-benar tidak lucu dan keterlaluan. Dipikir-pikir, darimana pula mereka tahu kalau aku ulang tahun?

Ada apa ini sebenarnya? Aku melongok perlahan. Ruang tamu lantai ini penuh darah bercipratan. Aku mendongak. Kepala kambing tergantung dan turut berputar sesuai arah kipas. Ada coretan aneh di tembok menggunakan darah: "SEKALI MASUK, TAK PERNAH BISA KELUAR".

Tulisan yang sama dengan di TKP Jack The Ripper abal-abal...

Langa Beng Otanga
plot/ seri 02/ eps.003: BIBIT PSIKOPAT DI KEBUN SINGKONG/ post: #011. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/08/042-1603.html

8/10/10

#042: 1603

via -guiltypleasure


Aku tak tahu apa yang terjadi pada Zi selanjutnya. Sejak kejadian kemarin. Aku memutuskan pergi ke Jakarta untuk jalan-jalan saja. Benar-benar ingin hilang dari peredaran. Memangnya aku pernah beredar? Ada dan tidak toh sama saja, bukan?

*

Setelah sejenak membenahi pakaian dan tetek bengek untuk seminggu di Jakarta, aku menatap kamarku. Di sudut kamarku, antara dapur dan ruang tengah, hinggap seekor kupu-kupu gajah. Darimana mahluk itu datang?

Mata di sayapnya menghipnotisku. Dan lagi-lagi, mahluk itu mengingatkan aku pada sesuatu dari masa lalu. Tapi aku tidak bisa mengingatnya, meski sudah berapa kali kepala ini aku geleng-gelengkan. Tampaknya mesti kujedoti ke tembok baru bisa, tapi yang kulakukan malah membenturkan kepala ke sofa. Mata di sayap itu tetap menatap tajam. Mirip mata Hera di serial Hercules.

Selayang pandang memindai kamar. Bersih. Yang jelas, harus bebas kecoak dan baunya yang santer menendang indera pernapasan. Aku suka meninggalkan tempat tinggalku dalam keadaan rapih. Aku paling bingung dengan orang-orang yang jorok. Abu rokok, puntung, piring- sendok-gelas yang berceceran. Seperti bermain frisbee tapi dengan diri sendiri, terus kelelahan dan membiarkan semuanya sampai waktu yang tidak ditentukan. Hebatnya orang-orang ini bisa bertahan tidur bersama semua sampah itu. Ckckck...

Semua sudah terkunci. Jam dinding menunjukkan pukul 9 pagi. Aku keluar. Di ujung kamar itu, si anak baru keluar dari kamarnya dan masih mengenakan pakaian tidur, menguap, merenggangkan badan, lantas tersenyum. Aku mengangguk seadanya kemudian melayap keluar.

*

Travel. Moda transportasi ekslusif yang sedang menjamur di Bandung. Aku tidak menolak kenikmatan dari menaiki mobil semi pribadi ini. Hening. Setiap orang dalam mobil ini saling cuek. Saat mesin mobil menderu, earphone sudah melakukan pemanasan untuk dicolok ke kuping. Semua orang mendengarkan lagu dari alat elektronik mini yang mereka pegang masing-masing. Aku lebih memilih untuk membaca salah satu novel kesukaanku, "Orang-orang Bloomington" karya Budi Darma.

Senter kecilku menerangi buku yang kupegang erat dan terus bergoyang-goyang seirama dengan langkah mobil. Aku di tengah dan orang di samping kiri dan kanan melihatku dengan tatapan aneh. Aku melhatnya dari sudut mata. Saat aku menoleh, mereka langsung memalingkan muka.

Orang-orang selalu mau tahu urusan orang lain. Tapi Yuri beda.

Dia selalu ingin tahu dengan caranya yang otentik. Pertama kali bertemu dengannya di masa kuliah. Dia jurusan Geologi. Macho, kan? Dia lebih muda tiga tahun dariku. Persis seperti saran bapak dulu, "Carilah perempuan lebih muda tiga-lima tahun darimu. Itu jarak usia yang pantas pasanganmu nanti." Bapak yang kumaksud bukan yang di rumah, tapi pengadopsiku, pak walikota.

Aku dulu sering duduk di sebuah pohon, dekat aula barat ITB. Melihat orang-orang bermain basket dari kejauhan atau baca buku atau menggambar. Aku selalu senang melihat orang bermain basket atau olahraga apapun. Menurutku mereka hebat bisa melatih badannya dan jungkir balik dalam olahraga. Jiwa mereka pun kompetitif. Tidak sepertiku yang lebih memilih menyendiri dan sesekali merokok untuk mengisi sunyi. Terkadang asap rokok terlihat membentuk tubuhnya sendiri dan menari-nari. Hanya hal sepele seperti itu yang menghiburku.

Suatu hari, di tahun keempatku di kampus, saat duduk di spot favorit, aku melihat seorang perempuan bermain basket dengan teman-temannya. Gaya mainnya tidak grasak-grusuk seperti perempuan lainnya. Dia elegan. Tubuhnya dalam kostum basket, keringat itu, wajah yang terlihat bersemangat itu. Semuanya paduan yang sempurna. Entah bagaimana, mata kami bertemu. Dia tidak segera memalingkan wajahnya, dan entah bagaimana juga aku sempat bertahan lama melihatnya. Biasanya tiga detik saja bertatapan dengan perempuan aku sudah kalah. Mukaku serasa lepas dalam momen seperti itu, tapi tidak terhadapnya.

Lama-lama aku tahu jadwal bermainnya, tapi aku cuma berani melihatnya dari jauh. Sembari sembunyi di balik buku atau sketsa. Tiba-tiba pada suatu sore, buku yang kubaca ditarikseseorang. Yuri. Aku gugup tapi tidak bertahan lama.

"Ini buku bagus ya? Tentang apa sih? Kayaknya kamu sering baca di sini apalagi sambil pasang tampang serius," ujar Yuri berturutan. Aku beritahu padanya tentang jeroan buku itu dan pengarangnya. Dia manggut-manggut pura-pura terlihat tahu tapi tetap pasang tampang tertarik. Susah dijelaskan. Itulah awal perkenalanku dengan Yuri. Selanjutnya kami lebih sering bertemu.

Semakin jauh mengenal Yuri, aku tahu bahwa dia itu tidak pernah membaca apapun selain materi perkuliahan. Orang-orang pragmatis dan terlalu lurus. Kuliah, belajar, nilai bagus, lulus ingin kerja di perusahaan besar, hidup makmur, punya anak, tua, mati. Seperti itu. Kesamaan kami hanya satu: jorok alias jomblo sejak orok. Aku syok pertama kali mendengar itu. Dari gayanya tidak mungkin anak itu tak pernah pacaran. Dia mengaku sering menolak laki-laki yang mendekatinya. "Sejak SD sampai sekarang," katanya waktu itu. Yuri tak mau hubungan coba-coba, apalagi tidak kenal lalu bisa jadi pasangan. "Abege betul!" repetnya. Aku cuma tertawa kecil.

***

Perutku berontak. Lapar. Pun tidak bisa seenaknya bilang "Kiri, Pak" lalu turun dan beli cemilan di area istirahat AC di mobil ini pun dingin. Semua semakin menekan lambung plus membuatku flu. Ditambah aku sering begadang dan tidur pun tidak pernah tuntas karena mimpi-mimpi aneh belakangan ini.


"HATCHIIMM!!"

Benda hijau cair sebesar kelereng melompat mulus dari rongga antara hidung dan mulutku dan dia mendarat tepat entah dimana. Orang-orang yang sebelumnya kaget karena bersinku, malah jadi jijik setelah, aku rasa, melihat ingusku yang sebesar kelereng gigantisme terbang bak superman menolong Louis Lane.

Berhubung aku masih baca buku dan pegang senter, pura-pura saja baca buku. Di sudut mata, aku melihat ingusku di lantai mobil dekat kaki kananku. Ya pura-pura saja gesek-gesek. Malu. Sial...

Langa Beng Otanga
plot/ seri 02/ eps.003: BIBIT PSIKOPAT DI KEBUN SINGKONG/ post: #010. prev post: -

7/19/10

#038: 1601

in this story: Kolabton Nawalem

Bau ini... Susah dijelaskan. Tanda aku sudah sampai di Apartemen Seguni. Bangunan yang umurnya tidak terlalu tua. Aku berdiri mematung di hadapan gedung ini. Mataku meneliti kaki hingga kepala bangunan ini. Langit mulai menghitam di ujung sana. Lagi-lagi.. Hm.. Bau sore menjelang malam.

Aku selalu percaya bahwa setiap tempat dan waktu memiliki bau khasnya masing-masing. Susah untuk mendeskripsikannya, hanya bisa dipercayai. Bukankah setiap keyakinan begitu adanya? Kau tidak bisa membuat orang percaya, kecuali tertarik.

Selain itu, aku pun sering merekam periode-periode tertentu dalam hidupku dengan lagu-lagu. Yang masih aku ingat, lagu "Mungkinkah" karya Stinky adalah penanda masa akhir SMA. Dan di televisi, kini, entah bagaimana sang vokalis band tersebut alih profesi jadi pelawak. Ya, komedi adalah sebuah pelarian, komedi adalah hiburan, pun komedi adalah tragedi.

Aku masuk ke dalam apartemen. Ada beberapa orang di lobi. Lagi-lagi nonton tivi. Kali ini tayangan gosip. Cih! Dari matahari baru ngaceng sampai loyo, selalu saja ada gosip. Sesuatu yang tak penting dipaksakan penting. Beritanya pun seputar perceraian, pacaran, dan persetubuhan. Memuakkan. Lagipula mereka bukan artis. Hanya selebritis! Ketimbang aku marah-marah tidak jelas, lebih baik aku menuju kamar. Kali ini aku memilih jalan kaki ke atas, biar lelah dan mandi air panas dengan puas.

Tap.. Tap.. Tap.. Sunyi. Bunyi langkahku bergaung. Dan entah di lantai berapa, aku lihat si hippies tergeletak. Darah menggenangi kepalanya. Rambutnya jadi awut-awutan becek. Kenapa pula dia? Tidak ada orang. Tidak ada OB.

Aku tanya mengapa dia bisa berdarah-darah begitu (seperti manekin aneh di kamarnya). Tak ada penjelasan berarti. Dia malah terlihat tergesa-gesa bagaikan ada semut api di lubang pantatnya.

"Zi di rumah sakit yang searah kiblat!" ujarnya. Hah?! Apa pula rumah sakit searah kiblat? "Melahirkankah?" tanyaku. Wajahku yang kaget pasti terlihat bodoh.

"Tidak tahu," balas si hippies. Dia mengajakku ke rumah sakit. Aku ikut saja, mengingat Zi telah baik kepadaku.

Si hippies merangkulkan lengannya di leherku. Sok akrab. Darahnya menciprati bajuku. Cat plus darah. Corak aneh. Mungkin bisa jadi tren fesyen suatu hari. Hm.. Bau apa ini? Tidak enak betul. Setelah aku intip ke kiri, rupanya itu bau darah kering plus ketiak si hippies. Sial...

Di taksi, aku melamun. Tidak berbicara sama sekali dengan supir maupun pak gondrong di sebelahku. Kontak antar taksi jadi latar suara pengiring perjalanan. Lampu jalan mulai menyala. Pendar kuningnya membawa rindu. Entah rindu terhadap apa, aku pun tak tahu. Sekejap saja sendu. Pepohonan dan orang-orang seakan ditarik secara cepat ke belakang taksi. Langit langsung muram, pertanda malam. Seperti pada kisah "The Phantom Toolbooth". Ajaib.

Tahu-tahunya kami sudah sampai di RS Hermina. Aku membayar taksi karena Kolab (betul kan itu namanya?) hampir kolaps. "Saya belum makan tiga hari, Beng. Tolong belikan bakpau," rengeknya. Tanpa basa basi aku turuti saja. Aku pergi keluar dan mencari tukang bakpau. Selalu ada tukang bakpau di rumah sakit. Adakah penelitian tentang ini? Haha... Selain itu, ada tukang sate dan nasi goreng yang berdiri di gerobak dengan kesibukan masing-masing.

Nah, bakpau sudah tiba. Namun entah mengapa mataku tertuju ke samping gerobak tukang nasi goreng. Sepasang suami istri makan bersama empat anaknya. Si istri membersihkan mulut suaminya yang ada nasinya, dengan tisu. Si istri menggendong seorang putri di dadanya dengan kain bercorak batik. Lalu dua bocah laki-laki yang menggoda adik perempuan mereka. Manis sekali. Sekejut kemudian mereka menoleh ke arahku. Kakiku langsung dingin. Badanku serasa beku.

Wajah mereka mirip keluargaku yang sudah mati, dengan aku yang masih kecil di dalamnya! Mereka menyeringai. Ngeri.

Aku angkat kaki dari tempat itu, meski berat kurasa.

*

Tanganku menyodorkan bakpau itu, tapi rasanya lemas sekali. Bakpau itu jatuh. "Kamu kenapa, Beng?" tanya Kolab, sembari menepuk pundakku. Aku tak bisa menjawab. Hanya diam. Sebuah bau menyeruak. Susah dijelaskan. Memori baru terbentuk melalui kejadian ganjil tadi. Memori yang tak enak, yang akan terus hinggap di kepala...


Langa Beng Otanga
plot/ seri 01/ eps.003: BIBIT PSIKOPAT DI KEBUN SINGKONG/ post: #009. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/034-1603.html

7/18/10

#034: 1603

Enak sekali makan nasi timbel ini. Memang timbel jauh lebih baik dikonsumsi ketimbang polusi timbal yang sudah tak terkira di kota besar seperti Bandung. Oh iya, aku makan di Timbel Bawean, di depan Stadion Siliwangi. Stadion yang jadi markas Persib, tim payah yang sangat dipuja di kota ini. Bagiku, hanya orang bodoh yang rela bak bik buk demi tim olahraga, juga agama.

Tadi aku memilih jalan kaki dari Gasibu sampai sini tentunya dengan sketsa "Kasih yang Sederhana". Siang terik tapi demi mendapat inspirasi ya tidak apa-apalah. Soalnya aku jarang-jarang keluar dari kamar. Di luar kamar, sejuta bahaya mengancam, menurutku.

Aku sadar sering tersenyum atau marah sambil jalan jika suatu memori berkelebat di kepalaku. Memori yang bikin kesal itu misalnya kesalahan-kesalahan kecil di masa lalu. Saat aku jatuh dari angkot karena turun dengan kaki kanan, waktu dulu ditodong pisau oleh preman dan dia merogoh 20 ribu dari kantungku (aku masih SMP dan 20 ribu itu sangat besar untuk ukuran waktu itu), atau saat dihajar ayah dan ibu.

Aku bengong dan memandangi pepohonan di gang keluar Bawean, tepat di depan stadion Siliwangi. Masih rimbun. Jadi tidak terlalu terik. Sejuk. Bau ini sekilas dan mengingatkan pada... keadaan di sekitar rumahku dulu.

***

Aku ingat saat bermain dengan kedua adikku, Bongki dan Freya. Kami berlarian di samping rumah kami yang masih penuh pepohonan dan bunga. Menikmati suara jangkrik saat malam. Pun mengejar kunang-kunang yang terbang riang.

"Pelihara yuk, Bang. Nanti kita taruh di kamar buat hiasan. Biar kamar terang," rengek Freya, manja.

"Atau kita nyari ikan gabus aja di sawah, Bang. Sekalian metik daun cincau di kebun Uwak Nisin," ajak Bongki, padahal sudah malam.

Biasanya aku hanya menolak tawaran adik-adik yang umurnya terpaut 4 dan lima tahun dariku itu dengan senyuman. Lalu menggiring mereka masuk kamar. Lalu membaringkan mereka dengan cerita atau nyanyianku sampai mereka lelap.

Bapak akan marah kalau kami keluar malam-malam.

"Anak kecil jangan keluar kalo udah jam tujuh malam!" titahnya, dengan ibu yang berdiri di sampingnya menatap galak kepada kami. Biasanya kalau ketahuan menyelinap keluar rumah, hanya aku yang dihajar. Entah kenapa. Aku tidak pernah tahu kenapa mereka senang memukuliku...

***

Tiba-tiba aku tersentak. Di depanku kini sebuah mobil Kijang hitam melesat kencang dengan alunan musik keras menghentak-hentak. Ada kepala menyembul dari samping kursi supir. "Dasar homo! Mati aja lo pada!" teriak pemuda di samping kursi supir itu, diikuti derai tawa seluruh penumpang yang memenuhi mobil itu. Tawa yang bernada mencemooh. Mereka menghina dua orang lelaki berbaju pantai dengan tulisan "Bali" yang baru saja melewatiku. Aku tak ingat kapan dua pemuda tersebut lewat. Mungkin saat aku tadi melamun.

Lagi-lagi prasangka buruk hanya lewat penampilan. Ini pasti hasil konstruksi media massa kepada remaja-remaja bodoh. Cih!

Aku memandang mobil itu tajam. Salah satu penumpang mengeluarkan tangannya dan mengacungkan jari tengah. Lalu mereka cekikan menertawakan kedua pemuda yang belum tentu homo hanya karena berpakaian santai dan celana skinny seperti itu. Tapi kaki kedua pemuda itu memang terlihat mirip Astor atau stik Nyam-Nyam dalam balutan celana jins yang ketat. Dua pemuda itu cuma menatap mereka bingung. Lucunya, si pemuda bertampang SMA yang di samping supir teriak "Dasar pengecut! Bencong!" tapi mobil yang disetir temannya ngebut parah, menerabas lampu merah. Yang pengecut itu kalian, ujarku dalam hati.

Dasar bocah SMA. Mereka pikir hidup mereka sedangkal Jack Ass?!

Mobil itu melesat kencang menuju jalan Aceh, belok kanan ke arah samping Siliwangi. Dan sejurus kemudian bunyi "BRAK!" kencang. Bunyi rem mendadak yang terdengar banyak. Lalu asap mengepul.

Aku tidak bisa melihat jelas. Aku sungguh penasaran, maka aku menyambangi tempat itu. Macet dan banyak orang melihat mobil itu dari jauh. Tidak ada yang berani menolong karena kobaran api sudah besar. Dua pemuda yang dikatai homo tadi juga melihat. Mereka tak tahan lalu pergi. Mobil tadi sudah ringsek. Penghuninya tabrakan dengan pohon. Mobilnya meledak dan anak-anak SMA itu mati semua.

Beberapa orang terlihat berusaha memadamkan api, tapi kobaran api itu malah semakin menjilat-jilat udara seakan ada lolipop tak kelihatan terbang. Akhirnya mereka menyerah. Para perempuan yang ada di situ kebanyakan menangis karena ketakutan atau syok. Para lelaki menelpon entah siapa. Mungkin polisi.

Aku berusaha melihat dari jarak lima meter. Bocah-bocah itu terpanggang dan meraung, lalu suara mereka hilang.

Ini adalah salah satu objek gambar terbaik yang pernah kulihat.

Aku mundur sedikit dari kerumunan namun masih dalam sudut memantau. Aku ambil salah satu kertas sketsa lalu mencoba menggambar sketsa kejadian ini.

Indah. Ya, pemandangan indah.

Aku tidak merasa kasihan sama sekali. Semakin aku lihat, semakin aku bernafsu menggambarnya tanpa disadari oleh orang-orang. Dulu aku juga pernah melihat sebuah mobil terbalik karena terlalu ngebut. Dalam sekelebat, bagian atas mobil itu sudah tertukar dengan bagian bawah mobil itu. Si bapak supir berdarah-darah. Lehernya patah kurasa. Aku cuma bisa melihat diam, lalu pergi begitu saja. Sampai aku menoleh ke belakang dari kejauhan dan menyaksikan banyak orang menolong orang itu. Mungkin dia masih hidup. Kemungkinan besar mati.

***

Gambar eksotis ini sudah selesai. Dia baru sketsa lima belas menit. Aku berjanji akan mengubahnya menjadi lukisan realis. Dan kulihat, sudah banyak wartawan datang seperti semut.

Tiba-tiba saja aku ingin tertawa melihat hal itu dan mengingat semua yang berkelebat, sambil melangkah pulang. Menuju apartemen itu...

Langa Beng Otanga
plot/ seri 01/ eps.003: BIBIT PSIKOPAT DI KEBUN SINGKONG/ post: #008. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/022-1603.html

7/11/10

#022: 1603

in this story: Kolabton Nawalem

Aku ambil kertas dan pensil. Sketsa. Ya, aku mau membuat sketsa di depan Gedung Sate. Menurutku, selalu ada ptongan cerita di balik keramaian. Itu pasti. Jika kita berhasil menangkap momen-momen kecil nan berharga, hal itu sangat memuaskan. Sama seperti kamera cuma beda medium saja.

Keluar dari pintu, aku periksa kanan-kiri. Kebanyakan penghuni kamar ini masih mendekam di kamarnya. Setelah mengunci pintu kamar, aku usil membuka pintu kamar si hippies yang namanya susah disebut itu. Kolab apa gitu. Seperti biasa, tak terkunci. Bau kamarnya sangat tidak jelas. Apek. Barang-barang berserakan di sana-sini. Sosoknya terlihat terkulai di sofa, bersebelahan dengan gitarnya.

"Grooookkkk... Fiiuuuhhh" Dia ngorok. Dan apa lagi itu? Boneka?! Ada bercak darahnya? Anak ini benar-benar aneh. Makin lama berdiam, makin ganjil yang kurasakan. Mending aku pergi.

*

Si penjaga lobi tak tampak tapi tivi di sudut lobi menyala. Siaran talk show. Kenapa sih semua tivi suka sok-sok demen ngobrol ya. Acara talk show melulu. Topiknya juga kebanyakan ga asik. Skip saja.

"Bwaaaahhhh. SEGAAAARRR" ujarku sambil meregangkan badan saat keluar apartemen Seguni. Dua orang perempuan, dari tampangnya sih kuliahan, cekikikan melihatku. "Jual buah seger, kang?" goda mereka. Hahaha.. mereka berlalu. Jam sembilan pagi. Aku naik angkot menuju Gasibu. Sesampainya di sana, hamparan manusia berjubel laksana semut kena siram gula. Para pedagang dan pembeli tumpah ruah. Mungkin juga ada pencopet dan penculik. Kita tidak pernah tahu, bukan?

Aku mengambil spot di bawah rimbun pohon, di depan gerbang Gedung Sate. Pada hari biasa, tempat ini jadi tongkrongan wartawan Bandung. Dengar-dengan banyak wartawan bodrex sih yang pos liputannya di sini.

Lalu lalang manusia di depanku. Mereka bersliweran tanpa henti. Aku terus memandangi mereka, berusaha mencari momen baik. Meski mentari makin terik. Bandung makin panas, padahal ini baru setengah sepuluh pagi.

Harus fokus. Nah, mungkin karena pakaiannya yang warna oranye nge-jreng, aku memerhatikan seorang ibu. Di seberang sana, sebelah kiri. Umurnya sekitar 40-50an tahun. Dia membeli es krim warna coklat dan merah hati dari sebuah mobil penjual es krim. Ibu itu membawa kedua es krim dengan senyum hangat yang sampai melelehkan es krim itu. Hahaha.. Lebay amat. Terik matahari yang bikin es itu meleleh. Kemudian aku lihat dia mendatangi seorang bapak tua yang duduk di kursi roda. Mungkin itu suaminya. Mereka tersenyum sambil makan es krim. Wah, romantis sekali. Momen tawa berdua itu yang aku tangkap dan kutumpahkan lewat sketsa. 20 menit kemudian sketsa itu rampung.

"Wah, mas gambarnya bagus," kata seorang ibu di sebelahku. Aku cuma tersenyum dan berterima kasih. Ibu itu berpaling lagi. Mungkin karena tidak ada sambutan kata-kata terlontar dari mulutku. Jarang ada yang bilang sketsa bagus. Biasanya orang-orang mencibir karena melihatnya hanya sebagai coretan biasa. Mirip karya bocah. Ah biarlah.

Momen baik datang lagi. Aku lihat dua perempuan muda saling berangkulan dan tertawa lebar. Damai sekali. Aku gambar mereka. Lima belas menit kemudian selesai.

Cuaca terik ini bikin haus juga. Aku beli es krim vanila di tempat ibu tadi membeli es krim. Dinginnya segera meluncur di tenggorokan dan berkoloni di dalam tubuhku. Adem pisan euy. Wah, kali ini ada beberapa objek bagus lagi yang terletak berdekatan: seorang suami yang membelikan bantal berbentuk hati untuk istrinya yang menunggu di mobil, seorang bapak yang menyuapi putrinya yang kira-kira berusia empat tahun (potongan rambut putrinya itu mirip Dora The Explorer!), dan sepasang kakek-nenek yang mengenakan pakaian training lengkap dengan sepatu joging dan saling bergandengan tangan (si kakek mengenakan warna abu-abu, sedangkan si nenek mengenakan warna pink). Manis sekali.

Langsung saja aku urek-urek wujud mereka. Perasaan hangat membasuhku saat menggambar objek-objekku ini. Gambar pertama kuberi judul "Pasangan Es Krim". Gambar kedua kunamai "Rangkulan Sahabat". Lalu yang lainnya berturut-turut aku beri nama "Bantal Hati", "Suapan Kasih Sayang", dan "Tangan yang Memegang Erat". Sebenarnya gambar kakek nenek itu ingin aku kasih nama "Joging Sampai Tua", tapi jatuhnya terkesan komedi, dan sekilas malah mirip judul Goosebumps.

Mungkin saja suatu hari karyaku ini aku tampilkan dalam pameran sketsa. Judulnya sudah ada di benakku: "Kasih yang Sederhana". Cukup syahdu.

Nah, sekarang saatnya makan siang dan pulang. Mau nyoba nasi timbel ah...

Langa Beng Otanga
plot/ seri 01/ eps.003: BIBIT PSIKOPAT DI KEBUN SINGKONG/ post: #007. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/020-1603.html

#020: 1603

in this story: Ziantine Larasati

Aku tergolong pemakan yang cepat. Mengunyah terlalu lama atau ngobrol-ngobrol sambil makan adalah hal ganjil buatku. Beberapa orang, dulu selalu mengatakan kalimat standar, "Beng, makan sambil nafas dong" lalu mereka tertawa-tawa. Aku cuma nyengir aja mendengar itu. Tapi lama kelamaan bosan juga mendengarnya. Artikel kesehatan pun mengatakan makan terlalu cepat bisa mengakibatkan gangguan pencernaan atau panas dalam. Bah! Jelas-jelas tidak ada istilah 'panas dalam' di kamus kesehatan.

Aku pikir perempuan pemilik kamar ini akan bawel atau apalah seperti yang kupikirkan, rupanya tidak. Dia diam saja dan tampak menikmati makanan buatannya. Sambil mengunyah sesekali aku perhatikan wajah Zi. Wajahnya datar, matanya agak sayu, dan tanpa senyum. Padahal aku yakin kalau senyum dia pasti terlihat lebih baik. Aku termasuk orang yang percaya saat seseorang hamil, dia memiliki aura cantik tersendiri. Ah, kok aku jadi kayak iklan susu bayi begini ya?

Makanan selesai ditelan. Aku ambil segelas air jeruk dari teko yang berkeringat karena dingin. Kuminum.

"Aaahh... Manisnya pas. Enak. Masakanmu juga mantap," kataku.

Zi tersenyum. "Aku pikir kamu tidak suka. Dari tadi diam saja. Eh iya, kamu pelukis ya, Beng?"

Aku mengangguk. Dia mungkin tahu dari penghuni kamar lain. Si hippies gondrong itu atau orang lobby di bawah sana. Lalu aku baru sadar, bajuku masih ada tumpahan cat. Zi bertanya lagi tentang mengapa aku memilih berprofesi sebagai pelukis.

"Dari kecil aku suka menggambar. Awalnya dengan ranting-ranting mati pepohonan, aku mengurek-urek tanah dan membentuk pola. Apa saja. Yang jelas awalnya mah standar: dua gunung dengan matahari di tengah-tengahnya lalu sawah dan tiang listrik di bawah. Hahaha..."

Dia tertawa. "Standar banget ya anak-anak tuh gambarnya," katanya. "Kayaknya setiap anak kecil, termasuk aku, gambar kayak gitu deh. Emang nih ya guru-guru sama aja ngajar gambarnya."

"Iya, Zi. Dengan melukis, aku berhasil meredam gambar-gambar yang muncul di pikiranku. Dulu hal itu sangat mengganggu, tapi dengan menaruh kelebatan-kelebatan itu di kanvas, ada perasaan lega. Seperti sembuh total dari kanker. Kalau aku tak menggambar, kanker itu akan menggerogotiku sampai mampus. Aku tidak pernah lho memikirkan karyaku akan laku mahal atau tidak. Aku bersyukur saja kalau ada yang mengapresiasi karya-karyaku," paparku panjang lebar.

Suasana mencair. Obrolan seperti ini jarang aku dapat. Berbicara dengan Zi cukup nyaman. Tapi di balik tawa renyahnya, aku rasa dia menyimpan kesedihan yang mendalam. Aku tanya pekerjaannya dan dia bilang "translator buku". Wow, bekerja di penerbitan pernah terbesit di pikiranku dulu. Aku termasuk doyan membaca. Selain kanvas dan cat, kamarku juga dijejali buku-buku.

"Wah, bisa lah ya aku main ke kamarmu suatu waktu," ujar Zi riang.

Sebenarnya aku ingin bertanya dimana bapak si bayi, tapi urung kutanyakan. Aku teringat mesti ke pasar rakyat Gasibu. Ini ritual mingguanku untuk mencari inspirasi.

"Zi, makasih ya untuk sarapan dan obrolan pagi yang menyenangkan. Maaf mengganggu. Aku mesti ke Gasibu. Jalan-jalan pagi. Aufwiedersehen"

"Oh iya, sama-sama, Beng. Makasih untuk tisumu tadi. Jangan sungkan-sungkan untuk mampir kemari. Kan kita tetangga. Bitte"

Hahaha.. ternyata dia mengerti ucapan sampai jumpa itu.

Senyum itu terulas dari bibirnya. Matanya menyipit. Teduh. Di belakangnya, lukisan mirip karya Salvador Dali menantang. Itulah yang aku lihat sebelum membalikkan badan dan keluar dari kamarnya.

"Time fly away, mate"

Waktu terbang. Cepat sekali berlalu. Tahu-tahu aku sudah tiga puluh tahun sebulan lagi.

Langa Beng Otanga
plot/ seri 01/ eps.003: BIBIT PSIKOPAT DI KEBUN SINGKONG/ post: #006. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/018-1603.html

7/9/10

#018: 1603

in this story: Ziantine Larasati

Air kran di wastafel aku biarkan mengucur perlahan. Bunyinya nyaring menendang alumunium di bawahnya. Aku menadahkan kedua tanganku mengambil air yang tidak terlalu dingin tersebut. Kepalaku turun sedikit dan air itu kutempiaskan ke wajahku. Segar. Aku berkaca. Agak acak-acakan memang tampilanku, terlebih lagi ditambah mata sembap.


Aku belum berganti pakaian. Hanya dompet dan kunci kamar yang aku bawa. Sarapan nasi kuning adalah tujuanku keluar sekalian menikmati Bandung pagi menjelang siang ini. Niatku ke Gasibu karena ada pasar rakyat di sana. Kenop pintu aku putar. Udara luar menyapaku. Kuhirup perlahan. Tiba-tiba ada suara "hoooeeekk" dari kamar depan. Berulang-ulang.

Aku takut terjadi apa-apa, maka aku ketuk pintu, tapi si penghuni kamar lebih fokus ke muntahnya. Aku buka pintunya yang ternyata tak dikunci, tapi aku tidak asal selonong boy. Aku kembali ke kamar dan mengambil tisu yang biasa untuk mengelap anak-anakku yang tak jadi. Di balik dinding, kulihat perempuan itu membungkuk di wastafel.


"Kamu nggak apa-apa?" tanyaku ke perempuan itu. Dia menoleh dengan tampang blo'on. Mungkin karena syok berpikir siapa aku yang main masuk-masuk saja tanpa bilang-bilang.

"Aku nggak apa-apa," jawabnya. Aneh betul. Jelas sekali dia muntah-muntah hebat. Aku juga terkadang seperti perempuan ini, namun berbeda. Aku batuk-batuk hebat. Bronkitis sialan!

"Sejak kapan muntah-muntah jadi hal yang wajar?" tanyaku rada bawel. Siapa sih aku? Asal bawel ke orang yang baru dikenal. Dia menjelaskan dirinya sedang hamil muda. Masih muda sudah hamil muda. Tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan lelaki di kamar ini. Jari manisnya pun tidak terlihat ada cincin tersemat. Ah, tapi apa peduliku.

Menyadari aku belum memberitahu namaku, aku memperkenalkan diri. "Aku Beng. Penghuni kamar 1603. Persis di depan kamar kamu," kataku. Kemudian dia memperkenalkan dirinya sebagai Ziantine Larasati. "Panggil aku Zi," ucapnya ramah, namun dengan sisa wajah sempoyongan.

Aku sudah terbiasa berkenalan tanpa bersalaman. Sekarang pun seperti itu. Namun itu bukan masalah bagiku karena aku sudah terbiasa berkenalan tanpa bersalaman. Terlalu formal menurutku.

Dan dengan ramahnya, Zi, yang tertangkap sedang memerhatikanku dari ujung rambut ke ujung kaki, menawarkan sarapan nasi goreng. Wah, baik juga ini orang. Sebenarnya aku mau makan nasi kuning tapi jangan menolak rejeki. Hehehe...

Sembari menunggunya masak sarapan, aku lihat-lihat ke jendela luar. Kok kayak ada suara jepretan kamera ya? Ada blitz-nya pula. Apa itu stalker? Ah ga tau lah. Lalu aku perhatikan lukisan abstrak yang tadi sudah aku lihat sebelumnya. Menarik sekali gambar itu: sebuah jam peyang yang jatuh seperti meteor di atas kota. Mirip karya Dali.

Bunyi piring berdenting. Aku menoleh. Rupanya sarapan telah siap. Nasi goreng dalam mangkuk, bukan piring. Unik sekali. Asap mengepul dari nasi goreng yang ada daging sapinya itu. Plus keju pula. Wow! Aku duduk dan mencoba menelan suapan pertama dari mangkok itu, tapi bunyi ceklik-ceklik di luar sana menggangguku. Aku memberi tahu Zi tentang apa yang kudengar. Dia tidak mendengarnya.

Ah sudahlah. Lebih baik kudahup saja makanan nikmat ini. Lebih baik diam saat makan. Sebab kalau tidak diam, makanan akan terasa hambar dan aku akan babak belur dipukuli. Seperti waktu kecil dulu.

Langa Beng Otanga
plot/ seri 01/ eps.003: BIBIT PSIKOPAT DI KEBUN SINGKONG/ post: #005. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/in-this-story-langa-beng-otanga-sudah.html

#017: 1601

in this story: Langa Beng Otanga

Sudah minggu pagi lagi. Tapi kali ini aku tak kesiangan bangun seperti hari-hari pertama di apartemen ini. Aku menyambut matahari di balkon ditemani sepotong roti dan segelas susu khusus ibu hamil. Dipangkuanku ada manuskrip berbahasa Inggris, pekerjaan yang menanti untuk diselesaikan. Ya, setelah bercerai dengan membawa janin ini aku memutuskan kembali berkarier. Untung jam terbangku sebagai translator sudah cukup tinggi hingga aku tak begitu sulit mendapatkan pekerjaan ini lagi.

Sampai kini aku tidak mengerti kenapa aku dulu begitu patuh pada suami. Sebelum menikah dia memintaku melepaskan satu per satu pekerjaan. Dimulai dari profesiku sebagai interpreter di sebuah perusahaan multinasional, lalu pekerjaanku sebagai penyunting naskah lepas di sebuah perusahaan penerbitan dan yang terakhir adalah proyek terjemahan yang dia minta untuk dikurangi dan akhirnya berhenti sama sekali. Alasannya kala itu adalah dia tidak mau istrinya bekerja padahal semua kebutuhan sudah tercukupi. Baru kuketahui setelahnya bahwa orangtuanyalah yang menginginkan aku jadi istri rumahan. Apalagi mantan suamiku itu berstatus bungsu dan lelaki satu-satunya selain itu dia sudah ditahbiskan sejak dulu untuk tidak pernah jauh dari ibu.

Hidup di perumahan mertua indah sangat tidak menyenangkan. Pertanyaan pertama yang diajukan ibu mertuaku tiap pagi adalah "Laras, mau kemana kamu hari ini?". Jika aku bilang akan pergi, selalu ditanya detail pergi kemana, dengan siapa, pulang jam berapa. Jika aku bilang tidak ada rencana apa-apa maka sudah pasti pangkatku hari itu adalah menjadi supir pribadi. Meski ada pembantu, tapi tetap aku yang harus masak, mencuci baju dan menyetrika. Ibu mertuaku bilang urusan perut dan penampilan menjadi tanggung jawabku sebagaimana tanggungjawabnya dulu. Duh.

Cukup lima tahun aku hidup disana. Tahun-tahun pertama keluarga mertuaku selalu menantikan kapan aku hamil dan memberi cucu tapi begitu aku hamil mereka malah tak senang. Dibilangnya aku tak mengerti keadaan keluarga. Saat itu mantan suamiku baru dimutasi, entah apa kesalahannya, penghasilannya pun berkurang hampir setengahnya. "we can't afford to have a baby!" teriaknya suatu malam dengan mulut bau alkohol.

Teriakan itu bersambung pada permintaannya untuk mengugurkan janinku. permintaan yang tak bisa kuloloskan. Dan dia memarahiku, mencaci-maki dan sempat menendang perutku. Untung tidak terjadi pendarahan. Malam itu juga aku kemasi barang-barangku dan langsung melayang ke sebuah hotel. Untungnya sisa-sisa penghasilanku masih tersimpan di tabungan, begitupun deposito lama hasil jerih payahku bekerja di tiga tempat sekaligus.

Aku sebetulnya berharap dia akan menjemputku dan meminta maaf. Tapi yang datang kemudian hanya supir keluarga yang membawa surat cerai untuk ditandatangani. Aku langsung mendidih. Sekalian saja kukembalikan cincin dan mas kawin yang sempat dia berikan padaku. Kami resmi bercerai seminggu setelahnya. pertemuan terakhirku dengannya adalah di pengadilan. Dia diapit orang tuanya dan sempat mengatai-ngataiku sebagai istri yang tidak patuh dan pecicilan. Lucunya lagi dia bilang janin di rahimku bukan benihnya. Cih. memang dengan siapa lagi aku bercinta? aku tidak pernah keluar rumah tanpa sepengetahuan nyonya. Parah.

Ah. Mengingat lelaki brengsek itu masih juga membuatku mendidih. Aku lantas meneguk susu sampai tandas. Namun kenapa susunya terasa asam dimulutku? serangan mual langsung datang setelahnya. Ah, jadwal morning sickness is up this morning.

Aku berlari ke wastafel, segera menumpahkan sarapan pagiku kala itu.

"Kamu ngga apa-apa?" suara rendah muncul dari pintu apartemen.

Aku mendongak dengan mulut yang masih menganga. Baru beberapa detik kemudian aku sadar bahwa muntahanku belum diguyur air dan mulutku ada pada posisi yang membuat wajahku tampak bodoh. Lelaki itu masuk sebelum aku persilahkan, dia menyodorkan tisu padaku. Sambil mengambil tisu ditangannya aku dapat menangkap semburat kekhawatiran dari garis wajahnya yang kaku.

"Aku gak apa-apa. Ini wajar kok"
"Sejak kapan muntah-muntah jadi hal yang wajar?!" katanya gusar.
Aku bengong kukira semua penghuni lantai ini sudah tahu bahwa aku sedang hamil muda.
"Aku sedang hamil muda. Jadi.. wajar kan kena morning sickness?!" ucapku retoris.
"Oh.." sekilas aku menangkap matanya mengamati perutku dan berpindah ke jari manisku yang telanjang dan tanpa cincin.

Aku sedang mengingat-ngingat siapa orang yang tiba-tiba masuk ke dalam apartemenku ini. Wajahnya terasa familiar, begitupun kausnya yang penuh noda cat.

"Aku Beng! Penghuni kamar sebelah. Kudengar suara kau muntah begitu keras waktu aku keluar kamar. Kukira kau kenapa-kenapa " ujarnya menjelaskan.
Oh, Beng si pelukis yang jarang keluar itu rupanya.
"Aku Zi. Ziantine Larasati. Dan janin di rahimku belum bernama," ujarku.

Kami tak bersalaman selayaknya orang yang baru berkenalan. Yang ada Beng malah mengamati kamarku dan aku bengong mengamatinya. Kalau bertemu di jalan dan meihat garis wajahnya yang kasar aku pasti tak percaya dia seniman. Yah, aku belum pernah melihat karyanya sih tapi begitulah informasi yang kudapat dari pengurus apartemen kalau penghuni kamar sebelah adalah Beng si pelukis.

Perutku lapar lagi, dibenakku tergambar nasi goreng daging sapi dengan potongan keju di atasnya. Tapi tak enak rasanya mengusir tamu pertamaku di apartemen ini.Akhirnya aku memutuskan untuk mengajaknya sarapan bersama.

"Beng, mau sarapan bareng?"
"Ha?" dia melongo. mungkin terkejut karena aku bertanya saat dia termangu melihat satu-satunya penghias dinding. Si lukisan abstrak karya temanku.
"Tunggu ya, aku akan membuat nasi goreng untuk kita berdua. Maklum wanita hamil cepat laparnya." ujarku sambil membuka kulkas dan mengeluarkan bahan-bahan makanan.
Beng tidak bersuara lagi. jadi kuanggap dia mau-mau saja sarapan bersama. lagipula siapa sih yang bisa menolak sebuah tawaran gratis?

Bawang merah, bawang putih, bawang bombay dan cabe merah kutumis dalam wajan. Harum tumisan menggelitik indera penciumanku, akhirnya berturut-turut kumasukkan telur, nasi dan irisan daging asap. Masukkan garam, penyedap rasa dan kecap. Nasi goreng-ku sudah 95% komplit tinggal tambahkan keju mozarella di atasnya dan siap disantap.

Aku membawa piring itu ke meja makan. Beng sedang melihat ke luar dari jendela samping. Dia mungkin mendengarku meletakkan piring karena dia langsung menoleh ke arahku.

"Aku mendengar suara ceklak-ceklik dan melihat beberapa kilat cahaya dari gedung seberang sana," ujarnya tiba-tiba
aku hanya mengangguk-angguk "Makan, Beng?!" aku menawarinya.
Dia kemudian duduk di hadapanku. Mulai mengambil sendok dan makan.
Kami tidak bicara lagi. Namun sesekali dia melihat ke jendela samping, mungkin dia mendengar suara ceklak-ceklik lagi yang tidak sampai ke telingaku.

Ziantine Larasati
plot/ seri 01/ eps.003: BIBIT PSIKOPAT DI KEBUN SINGKONG/ post: #003. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/006-1601.html

#016: 1603

Aku mundur perlahan melihat darah yang mengalir di pintu itu memanggil namaku. Darah itu menyembur seperti air yang keluar dari balon bocor. Secara lambat darah itu menghampiriku.

"Beng..."


Ada suara ibu di situ. Perempuan yang paling aku takuti. Suara itu begitu mencekam.

"Tak mungkin itu ibu," pikirku. Ibu sudah lama mati. Dia dan ketiga adikku digorok tetanggaku yang sakit jiwa.

*

Waktu itu aku masih kelas enam SD. Suatu hari aku pulang ke rumah sepulang sekolah. Aku mengetuk pintu, memanggil ibu dan ketiga adikku. Lengang. Perasaan ganjil menyelimutiku. Tidak biasanya mereka begitu. Adik-adikku biasanya langsung ribut dan ibuku akan menyambutku dengan wajah ketus. Wajah ketus yang tak pernah aku ketahui penyebabnya.

Aku tempelkan wajahku ke jendela. Hanya ada televisi 14 inchi dengan antenanya yang membentuk huruf V yang terletak di tengah lemari perabotan dan pernak-pernik tak penting koleksi ibuku. Televisi itu semutan. Setelah aku perhatikan lebih jauh, aku melihat ada tali tergantung tinggi di belakang lemari. Itu kan meja makan. Kok bisa ada tali?

Aku tarik gagang pintu tapi tak mau terbuka. Terkunci. Aku berlari memutar halaman belakang. Astaga. Ada bercak darah. Banyak sekali. Di balik pepohonan singkong, ibu dan dua adikku tergeletak tak bernyawa. Leher ketiganya digorok. Merah. Anyir. Aku menangis. Tapi kata "tolong" tak mampu keluar dari kerongkonganku. Aku tercekat. Mana adikku yang satu lagi?

Dengan perasaan takut, marah, sedih, aku masuk lewat pintu belakang yang tak dikunci. Di atas meja makan itu, adikku digantung, ususnya terburai. Umurnya baru enam bulan waktu itu. Di situ aku meraung.

Aku tidak ingat bagaimana ketika bapak pulang dan bagaimana sudah ada polisi setelahnya. Yang kuingat, bapak sangat sedih. Tapi dia tidak menangis. Dia hanya diam dan menggeleng tidak tahu saat ditanya-tanya oleh polisi dan wartawan. Wajahnya pucat pasi seakan ini adalah kejutan paling buruk dalam hidupnya. Kerumunan warga berdesak-desakan di sekitar rumah kami. Mereka mau tahu. Orang-orang selalu ingin tahu meski sudah ada police line menghalangi.

Penyelidikan dilakukan dan akhirnya terbukti tetanggaku itu pelakunya. Alasan dia membunuh ibu dan adik-adikku dengan sadis cukup sederhana: mereka menginjak kebun singkongnya. Banyak hal yang sulit dijelaskan di dunia ini. Banyak logika yang rancu dan tidak berdasar namun menjadi keabsahan yang entah mengapa diterima umum. Termasuk membunuh dengan alasan sesepele itu.

Sejak kejadian itu, bapakku menjadi pendiam. Dia bahkan meninggalkan pekerjaannya sebagai pegawai di kantor Walikota DKI. Dia pulang kampung dan menikah lagi dengan seorang perempuan di sana. Konon ayahku membuka usaha pemancingan untuk melanjutkan hidup. Aku tidak tahu jelasnya bagaimana. Yang pasti, aku dijadikan anak angkat oleh pak walikota setelah kejadian itu. Hidup bersama keluarga pak walikota membuatku mulai menyukai seni dan dunia tulis menulis. Dialah yang menyekolahkanku sampai tamat di FSRD ITB. Meski bahgaia, selama tinggal bersama mereka, mimpi-mimpi buruk tentang masa kecilku terus ada.

***

Tiba-tiba wajah ibuku muncul di depanku dan mencekikku.

"Beng," geramnya.

Aku tak mampu melawan. Tubuhku menyusut menjadi anak kecil. Dan aku hanya mampu menangis.

"Ampun, ibu..."

***

"Bangun, Beng" lembut suara Yuri. Dia di hadapanku kini.

Yuri membelaiku dan aku terbangun. "Yuri," panggilku. Tapi tidak ada. Sosoknya menguap. rupanya aku tertidur semalam. Aku mengusap mata. Mataku sembap karena menangis akibat mimpi buruk semalam yang terasa baru saja. Mimpi yang berulang-ulang itu.

Di luar, matahari bersinar nyalang lewat balkon, menyelusup tirai yang telah kucoret-coret gambar, membentuk pijar pipih berdebu, melalui sofa yang tempatku berbaring. Jam menunjukkan pukul delapan.

Sekarang sudah minggu pagi rupanya. Saatnya keluar.

Langa Beng Otanga
plot/ seri 01/ eps.003: BIBIT PSIKOPAT DI KEBUN SINGKONG/ post: #004. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/015-1603.html

#015: 1603

Pernahkah kau merasakan penasaran, namun tidak bisa atau tidak berani beranjak dari tempatmu berdiri? Seperti keingintahuan melihat hantu? Itulah yang kurasakan saat melihat perempuan yang mirip Yuri tadi.

Tiba-tiba aku teringat saat masih kelas lima SD. Waktu itu pagi-pagi sekali. Kira-kira pukul empat. Aku tidur di ruang tamu. Di luar aku mendengar suara langkah diseret-seret. Aku, dengan mata yang masih ngantuk, menggeser tirai dan mengintip keluar.

Di depan pagar rumahku, sesosok putih jalan membungkuk. Langkahnya menyisakan bunyi "srek srek" menakutkan. Aku terpaku. Tangan dan kakiku dingin. Bulu di seluruh pori-pori tubuhku menegang. Aku takut, namun tetap penasaran jika sosok itu sewaktu-waktu menoleh ke arahku. Sepuluh menit yang terasa berabad-abad.

Tiba-tiba langkah itu berhenti di depan pagarku. Aku menahan nafasku saat mahluk itu mengeluarkan suara aneh. Dia terbatuk. Sejurus kemudian dia menarik kulit kepalanya.


Dan, ternyata.... itu mukenah.

Mahluk itu adalah nenek yang tinggal di depan rumahku. Dia mau berangkat sholat subuh. Yaelah.. Kirain apa. Ceritanya memang agak payah di bagian akhir, yah, tapi itulah gambaran bagaimana rasa penasaran dan juga takut yang aku rasakan. Apalagi sosok ini mirip Yuri Fania. Satu-satunya perempuan yang berhasil menaklukkan hatiku yang sedingin es mambo.

Aku masih berdiri di belakang pintu. Ingin memutar kenop dan setidaknya mengintip. Tetapi tanganku gemetar hebat. Seperti habis dipukul dengan kepala ikat pinggang atau sapu oleh kedua orang tuaku saat aku nakal dulu. "Dasar anak anjing!" teriak ibuku. Ingatan yang membuat keadaan makin tidak enak.

Aku putus asa.

Mengapa aku lemah sekali? Orang yang mimpi menjadi pria sejati padahal cuma bisa onani dan sok nyeni
.


"DIAAAAAMM!" semprotku pada pikiran yang bercuap jahat.

Aku lari ke dapur dan mengambil pisau. Aku tancapkan pisau itu ke pintu. Berulang-ulang. Aku buat pola asal-asalan. Dan entah bagaimana, darah segar menetes dari pintu itu.

"Beng..."

Mataku membelalak. Suara itu mirip suara ibuku...

Langa Beng Otanga
plot/ seri 01/ eps.002: BIBIT PSIKOPAT DI KEBUN SINGKONG/ post: #003. prev post: -