Lantai 16

Showing posts with label eps02. Show all posts
Showing posts with label eps02. Show all posts

7/19/10

#040: 1605

in this story: Kolabton Nawalem, Ziantine Larasati


Aku terduduk lemah. Akhirnya aku berhasil menyelamatkan Zi dan ketiga anak kembar yang di kandungnya meskipun mereka, baik ibu maupun anak-anak, sangat lemah dan sangat butuh perhatian intensif. Aku hanya bisa memandangi kedua jemari tanganku yang bersih dan steril. Sarung tangan karet sudah tidak berada di sana lagi. Aku yang masih berpakaian atribut operasi lengkap hanya bisa terdiam.


Ah, aku kembali ke dunia ini. Dunia semuku. Kalau bukan karena desakan dari Kolabton _itu nama seniman nyentrik yang aku ajak bicara tempo hari dan, dan, dan telpon darinya. Ayahku.


*


.Sehari sebelumnya.


"Jadi begitu, menurutmu, aku datang gak ya ke kawinan Eibi?" aku menodong pertanyaan kunci, setelah menceritakan masalahku, mengapa bisa jadi rumit, menurutku, dari awal hingga sekarang kepada Kolabton yang masih asik memetik-metik senar gitarnya. Sesekali ia berhenti sebentar, seperti memikirkan sesuatu, lalu mulai memetik gitar lagi. Aku tidak tahu apakah dia mendengarkan semua ceritaku, aku tidak peduli, Aku hanya ingin menumpahkan segala yang ada dipikiranku, yang sudah terlalu penuh, hingga mampat, bumpat.


Kolab menyeruput kaleng birnya hingga bir itu habis, meremas kaleng itu, kemudian melemparnya entah kemana. Sraak! Oh, rupanya masuk ke tempat sampah yang berupa plastik hitam besar sekitar 2 meter didepannya.


"Permisi," sapa sebuah suara dari pintu "Oh kamu di sini juga, Sher?" katanya lagi. Aku menoleh.


"Eh, Prada. Iya nih, lagi cerita-cerita aja sama Kolab. Tadinya mau cerita ke kamu, tapi kamunya belum pulang tampaknya," jawabku. Aku kembali meneruput kaleng birku yang isinya sudah mau habis.


"Oh, tadi ke rumah sakit,"


"Iya si Kolab ini juga baru cerita. Semoga Zi baik-baik saja ya." kataku sambil menoleh ke tempat Kolab bersemayam. Kolab masih saja memetik-metik senar gitarnya.


"Kolab, ini kameramu. Terima kasih banyak ya," kata Prada seraya menaruh tas yang berukuran sedang di atas meja pantry.


"Sip. Sama-sama. Kalau perlu apa-apa lagi. Tinggal kesini aja. Ga usah ragu-ragu lah," ujar Kolab kemudian.


"Oke. Aku ke kamar ya. Sher, aku ke kamar ya. Kamu kalau ada apa-apa, ke kamar aja. Oke?" kata Prada kepadaku, "Oh! hampir lupa! Kamu sudah baca artikel-artikelku?"


"Belum semuanya. Tadi baru sekilas-sekilas saja. Terima kasih ya! Pasti aku baca," jawabku lagi. Pradapun berlalu. Suasana pun hening kembali. Tadi suasana cukup ramai dengan kedatangan Prada, soalnya dari tadi hanya aku saja yang bicara. Tapi aku lebih suka seperti itu.


"Gak usah datang saja," kata Kolab tiba-tiba. Aku sampai kaget. "Kamu bilang tadi kamu apa?" tanyanya kemudian.


"Apa?" aku tidak mengerti.


"Profesimu, kamu bilang tadi profesimu apa?" tanyanya lagi.


"Oh.. emm.. Dokter. Aku dokter bedah. Tapi aku tidak suka pekerjaan itu," kataku.


"Tolong CJ, gimana?" ujar dia, masih santai.


"Apa itu CJ?" aku benar-benar tidak mengerti. Orang ini memang susah dimengerti. BIcara dengan bahasanya sendiri. Seru sekali.


"CJ, anak yang ada di dalam kandungan Zi, aku punya firasat, operasi nanti akan gagal, dan aku punya firasat, kamu yang bisa menolongnya," katanya lagi. Kali ini dia pindah duduk ke tempat tidur gantungnya.


"Ah, aku sudah hampir 6 bulan tidak pegang pasien, bisa bahaya, lagi pula, kadar alkohol dalam darahku sangat tinggi, bisa sangat beresiko kala sewaktu2 aku terkena serangan jantung," pungkasku asal. Soal alkohol aku serius.


trrrrrrrrrrrt… trrrrrrrrrrrrt..


Ponsel dikantong celana pendekku bergetar. Pada layarnya tertera nomor tidak di kenal. Aku paling malas menjawab telpon tidak di kenal. Maka aku reject saja. Baru aku mau bicara membela diri dan menanyakan mengapa dia menyuruh aku untuk tidak datang ke perkawinan Eibi ponselku kembali bergetar. Masih nomer yang sama. Ku reject lagi. Bergetar lagi. Ku reject lagi. Yang kesekian kalinya rupanya ada nama di layar ponselku. Namanya: Ayah.


"Ayah?" tanyaku pelan-pelan ketika menangkat telpon itu. Aku takut disembur api yang keluar dari mulut Ayah, meskipun aku tahu, api itu tidak akan keluar lewat speaker ponseku, api tidak merambat dari sinyal telepon. Tapi aku tetap saja takut.


"Bi, ini ayah.." kata suara diseberang sana. Masih seperti terahir aku bicara padanya, suara berat, akibat pengaruh nikotin yang ia hisap dari ia kecil, dan sedikit pengaruh alkohol yang sering dia minum dulu, sekarang sudah tidak. Dia memanggilku dengan Bi, nama kesayangannya, diambil dari namaku yang lain, selain Sherry, tapi aku lebih suka namaku Sherry saja.


"Ya, ayah. Ada apa ayah tiba-tiba menelepon? Ayah sehat-sehat?" tanyaku sesopan mungkin.


"Ayah ingin minta sesuatu sama kamu, Bi. Kamu bisa ke kantor ayah kan? Sekarang. Ayah dengar dari mamamu, kamu di Bandung," kata ayah. Tanpa menanyai kabarku, sehat atau tidak, apa yang sedang aku risaukan, ah, ayah.


"I..iya Ayah aku di Bandung, tapi, kenapa mendadak?" aku tidak tahu mengapa aku tidak pernah bisa berbohong kepada ayah. Kolabton meperhatikanku, mungkin dia heran melihat perubahan mimik mukaku, seperti orang habis menginjak kotoran.


"Ayah tunggu," kemudian ayah menutup telpon. Begitu saja. Ayah, masih seperti dulu. Keras. Dan aku juga masih saja seperti yang dulu. Tidak bisa membantah ayah. Satu-satunya yang pernah aku lakukan adalah berhenti bekerja dan kabur ke Bandung. Bodohnya aku, ayahku kan juga bekerja di salah satu rumah sakit di Bandung. Fuk.


Aku bengong, kemudian balik memandang Kolab, dan Kolab sudah terseyum, memandangku. Ah?



*


Anak buah ayah gagal operasi pasiennya. Ayah, dokter ahli bedah terkenal dan sangat disegani Ikatan Doker Bedah di Indonesia sudah pensiun beberapa tahun yang lalu, ia sudah terlalu tua untuk mengoperasi orang, paling ayah ikut rapat dan diskusi penanganan kasus suatu pasien. Kali ini, anak kesayangan Ayah, Willy, yang juga sepupuku ternyata gagal mengoperasi seorang wanita yang terkena trauma pada rahimnya, dan ia sedang hamil 18 minggu.


Dari dulu ayah selalu membanggakan Willy. Willy lebih tua 3 tahun dariku, dia seorang dokter bedah yang cukup baik, prestasi di sekolah maupun ditempatkuliah sangat membanggakan, sama seperti ayah waktu muda. Aku, yang juga seorang dokter bedah, prestasiku biasa-biasa saja, susah payah aku mengejar gelar itu. Aku tidak tahu apakah ayah bangga padaku atau tidak. Beliau hanya diam mengetahui prestasiku yang biasa-biasa saja. Waktu aku mengikuti upacara sumpah dokter, ayah tidak hadir.


Sekarang ayah mengutus aku untuk menggantikan Willy. Susah payah aku membujuk ayah, bilang kalau aku sudah lama tidak pegang pasien, dan lain-lain. Ayah tetap pada pendiriannya.



*


Aku masih memandangi jemari dan tanganku. Aku juga masih duduk di kursi panjang di ruang tunggu depan kamar operasi. Kugerak-kegerakan jemari-jemariku. Pintu ruang operasi terbuka, kulihat ayah keluar dengan mengenakan baju operasi sama sepertiku. Ayah mendekatiku. Kemudian ayah menepuk pelan punggungku. Sepersekian detik aku merasa lewat senduhan itu ada cairan gaib yang menjalar dari punggung hungga ujung jari tangan dan kakiku. Dalam diam ia berlalu dan pergi meninggalkanku.


Aku memandangi punggung ayah, punggung yang dulu aku lihat sangat tegap, kuat, kini sudah tidak lagi. Punggung itu lelah, dan jengah. Dan pipiku pun menghangat.


Sherry
plot/ seri 01/ eps.002: SHERRY/ post: #005. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/in-this-story-kolabton-nawalem-aku.html

#039: 1604

in this story: Kolabton Nawalem, Sherry.

*Plop*
Mendadak ada sms masuk ke blackberryku. Pesan singkat dari atasanku. Prada, besok temani saya meeting ya! Ada penawaran dari klien baru. Saya tunggu di Patra Jasa pukul 9 pagi. Bisa dibilang saya termasuk anak emas Bos Ratu. Begitu kami memanggil Pemimpin Redaksi kami. Tidak ada yang bisa menolak permintaannya, bahkan dia terkesan tidak pernah meminta, semua diputuskan olehnya. Kadang menyebalkan, namun apa mau dikata, toh dia atasanku.

Sebagai "anak emas" Bos Ratu, aku selalu diberikan privilege lebih di antara teman-teman sekantor. Kadang aku bisa memutuskan sendiri apa yang mau kuliput, bahkan pernah beberapa kali aku yang menetapkan isu untuk satu edisi.

Baik, bu. Selamat malam. *SMS sent*

Kulirik orang-orang sebelahku, terlihat sekali mereka gelisah, terlebih lagi Jeko. Sudah terlalu malam. Aku harus pulang. "Aku pulang duluan ya? Besok ada meeting pagi, aku tidak boleh telat untuk hal ini. Jeko, kamu baik-baik saja kan? Tenang, Zi pasti baik-baik saja," ujarku sambil tersenyum pada Jeko. Jeko masih belum banyak bicara. Hanya enam patah kata. "Iya, kamu hati-hati di jalan," ujar Jeko.

Setelah pamit kepada semua orang yang masih menemani Jeko, aku pun beranjak ke arah pintu keluar. Tiba-tiba. "Prada!" Ada yang memanggilku. Oh ternyata si hippies. "Ya?" "Aku juga mau pulang, biasa jadwal ngamenku sebentar lagi. Tenang, si Jon sudah kubayar untuk menemani Jeko takut mendadak perlu apa-apa," imbuh si hippies alias Kolab. Itu nama aslinya. "Baiklah," ujarku sambil tersenyum. Dan kami pun meninggalkan Hermina menuju Seguni.

Kami memutuskan untuk naik taksi. Beruntung ada taksi yang baru saja menurunkan penumpang di lobi. Segera kami stop untuk ditumpangi.

"Oh iya, maaf yaa kameranya belum dikembalikan. Masih belum saya transfer foto-fotonya ke laptop saya," ujarku memecah keheningan taksi ini.
"Ohh iya ga papa, lagipula kan saya sudah bilang, saya punya banyak kamera. Jadi kalau cuma satu yang dipinjam sih ga masalah. Kalau semuanya baru, sayanya kelabakan. Hahahahaha," si hippies ternyata periang. Bisa kunilai dari gelak tawanya yang begitu lepas. "Jadi, bagaimana Solo?"
"Solo menyenangkan. Pekerjaan di sana lancar, thanks to your camera," ujarku sambil tersenyum.
"Hahahaha, sama-sama. Senang bisa ngebantu kok. Tadinya saya mau ke Solo juga, cuma ga jadi."
"Loh? Mau ke Solo juga? Kenapa ga jadi?"
"Iya, ga jadi aja, hehehhee.. CJ mendadak bilang ga usah kesana, jadi ga jadi deh,"
"CJ?"
"Itu, si calon janin Zi. Dia sering main ke kamarku. Dia temanku, bahkan terkadang jadi penasehatku," Kolab tidak berhenti tertawa. Semua perkataannya diselipkan dengan tawa. Namun ia mendadak tertunduk. "Semoga CJ baik-baik saja ya. Dia bilang sih dia baik-baik saja. Semoga dia benar." Mendadak raut muka si hippies sedikit tertekuk.
"Aku yakin mereka baik-baik saja," ujarku sambil tersenyum berharap sedikit meredakan kesedihannya.

Tidak terasa kami sudah sampai di depan Apartemen Seguni. Usai membayar si taksi, kami beranjak pergi menuju lobi. "Mbak Prada, Mas Kolab. Mbak Zi baik-baik saja kan ya?" tanya Susi si gadis lobi. "Tadi masih dioperasi. Semoga semuanya baik-baik saja ya? Kamu berdoa juga ya, Susi," jawabku. "Pasti mbak! Oh iya. Liftnya sudah benar." "Terima kasih yaa, Susi," tuturku sambil meninggalkan Susi.

Kupencet angka 16. Kulirik Kolab, dia masih agak diam, maksudnya, tidak seceria tadi sebelum membahas janin Zi. "Kamu ga papa, Kolab?" tanyaku. "Hm? Oh ga papa, hehehe," jawabnya sambil menyengir. Wah? Cepat sekali perubahan emosinya.

*Ding*

Kami sampai juga di lantai 16. Sepi. Jelas.
"Nanti aku ke kamarmu ya setelah selesai memindahkan datanya," ujarku pada Kolab yang sudah beranjak ke kamarnya.
"Oke," jawabnya singkat.

Kubuka pintu cokelat tuaku. Kulewati pantry yang masih berhiaskan piring dan gelas bekas yang belum dicuci, hmmm mungkin sejak seminggu yang lalu. Si malas masing menggerogotiku. Segera kuberanjak ke meja kerjaku. Letaknya sejajar dengan kasur king size-ku. Nyalakan si toshi, transfer foto, charge PSP, kembalikan kamera, mandi, tidur. Rentetan agenda beberapa menit ke depan sudah sibuk mengantre di kepalaku. Oke, oke, satu-satu.

Dalam hitungan menit, kamera si hippies sudah ada di tanganku. Siap dikembalikan ke si empunya yang punya barang. Beranjaklah aku ke kamar si hippies. Seperti biasa, pintunya terbuka begitu saja. Oh ada tamu ternyata. Hmm, bau ini. Pasti Sherry.

"Permisi," ujarku sambil mengetuk pintu dan masuk. "Oh kamu di sini juga, sher?"
"Eh, Prada. Iya nih, lagi cerita-cerita aja sama Kolab. Tadinya mau cerita ke kamu, tapi kamunya belum pulang tampaknya," tutur Sherry yang asik meneguk bir daritadi.
"Oh, tadi ke rumah sakit,"
"Iya si Kolab ini juga baru cerita. Semoga Zi baik-baik saja ya."
Kolab masih asik menyetem gitar. Sesekali meneguk bir yang semerk dengan yang dipegang Sherry.
"Kolab, ini kameramu. Terima kasih banyak ya,"
"Sip. Sama-sama. Kalau perlu apa-apa lagi. Tinggal kesini aja. Ga usah ragu-ragu lah," ujar Kolab yang masih asik sendiri.
"Oke. Aku ke kamar ya. Sher, aku ke kamar ya. Kamu kalau ada apa-apa, ke kamar aja. Oke?" ujarku seraya meninggalkan mereka berdua. "Oh! hampir lupa! Kamu sudah baca artikel-artikelku?"
"Belum semuanya. Tadi baru sekilas-sekilas saja. Terima kasih ya! Pasti aku baca," jawab Sherry sambil tersenyum. Manis. Semanis wangi parfumnya yang khas itu.

Aku beranjak ke kamarku. Mandi. Tidur. Tinggal dua pengantre di otakku. Selamat malam kalau begitu :)

Prada Prameshwari
plot/ seri 01/ eps.002: SHERRY/ post: #007. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/035-1604.html

7/18/10

#036: 1605

in this story: Kolabton Nawalem


Aku butuh teman diskusi. Setelah beberapa bulan belakangan kabur masalah akhirnya hal yang sebelumnya sudah kupikirkan sebelumnya terjadi juga. Aku capek berlari. Aku ingin berhenti, sedikit mengambil nafas, kemudian berjalan seperti biasa. Suapa aku masih bisa menikmati pemandangan disekitarku.


Besok, hari pernikahan Eibi. Datang atau tidak? Sampai sekarang aku masih belum bisa memutuskan. Aku sangat ingin melompat hari esok, aku ingin sekali tidak datang, seharian tidur di kamar, tapi ini EIbi. Hati kecilku masih berusaha untuk menghentikan pernikahan itu. Tapi, kalaupun pernikahan itu tidak jadi terjadi, apakah aku berani menggantikan posisi wanita di sisi Eibi. Apakah aku berani untuk menjadi seorang istri?


Sungguh aku butuh teman diskusi. Dari buku "How to forger you ex in 30 days" mengatakan demikian. Jika anda sudah tidak tahu lagi apa yang ahrus anda lakukan, biar orang lain yang memutuskan. Yeah, bodoh. Tapi toh aku memang bodoh untuk urusan cinta.



Teman.. hmm.. teman… Ah, sudah berapa lama aku tidak bicara dengan orang lain dalam keadaan sadar? Teman lamaku mungkin sudah mengira aku mati bunuh diri. Pikiranku melayang. Siapa temanku…?


*


"Tok tok tok.."


Kuketuk pintu kamar itu. Kamar bernomor 1604. Kamar Prada. Sekitara 30 detik tidak ada jawaban, aku mengetuk pintu itu untuk yang kedua kalinya. Masih belum ada jawaban. Sepertinya tidak ada orang di dalam kamar itu. Kemudian aku berbalik memandang pintu kamar yang berada tepat di depan kamarku. Ah, mantan kamar Dinasti, temanku, dulu, dua bulan yang lalu Dinasti pindah ke Swedia untuk urusan pekerjaan. DIa dulu yang menenangkanku ketika aku hampir mati tercekik sesak napas saking lamanya menangis. Sekarang kamar itu sudah dihuni orang lain.


Kemudian aku mulai berjalan di lorong lantai ini. Melewati lift dan pintu tangga darurat. Berjalan menuju sisi lain lantai 16 ini. Entah apa yang ada dipikiranku. Yang jelas kakiku ini seperti berjalan sendiri. Seperti ada yang menyuruhnya untuk berjalan, tapi bukan saraf motorik otakku. Aku belum pernah berkenalan sebelumnya dengan orang-orang penghuni 16 di sisi ini.


Dari empat kamar yang ada, tiga diantaranya tertutup rapat, satu yang berada di pojok dan berada sama di sisi kamarku pintunya terbuka. Kakiku masih terus berjalan, menuju ke arah pintu yang terbuka. Sesampaiya didepan kamar tersebut, langkahku terhenti. Tanganku memegang kusen pintu. kepalaku mulai bergerak melongok kedalam kamar tersebut sampai setengah badanku ikut masuk.


Masih tidak tahu apa yang ada dipikiranku, aku masuk kedalam kamar itu. Aku memandang berkeliling. Ada banyak, banyak sekali barang barang aneh di sini. Kulihat tempat tidur gantung, dibawahnya tergeletak seonggok gitar busuk. Ada kulkas, tapi entah tahun berapa itu kulkas diproduksi. Seperti jaman kakekku saja. Di langit2nya terdapat jam dinding super besar dan aku tidak habis pikir bagaimana cara memasang benda itu.


Tidak ada orang. aku memilih duduk di lantai dekat tumpukan ___sepertinya piringan-piringan hitam. Karena hanya ditempat itu sepertinya yang bisa diduduki oleh manusia. Kamar ini terlalu berantakan. Bahkan untuk ukuran aku yang sudah termasuk perempuan berantakan. Hmm. Suka musik sekali, ya, nampaknya. Aku mencari pemutar piringan hitam. Masa punya banyak koleksi piringan hitam tapi tidak punya gramophonenya?


Kubongkar tumpukan baju kotor cum sprei cum jaket cum kolor cum selimut yang menumpuk diatas sofa. Dan aku kaget sekaget kagetnya sampai rasanya jantungku jatuh hingga kel ututku. Sesosok mirip manusia yang ternyata adalah manekin botak tergeletak nyaman dibawah tumpukan tersebut. Astaga. Orang macam apa yang tinggal di dalam kamar ini?


Aku memindahkan manekin plus tumpukan laundry ketempat lain sehingga akupun ahirnya bisa duduk di sofa. Baru aku sadar. Ngapain aku ada disini?


"Hei?" tanya sebuah suara dari arah pintu.


"Eh, hai, maaf, pintu kamarku tadi terbuka.. eh? kamu?" sebentar-sebentar, kayaknya aku pernah liat pria yang sekarang sedang mengambil minuman di kulkas, seakan-akan tidak heran ada orang asing di kamarnya. Dan pria ini, dia kan yang waktu itu di tangga darurat?


"Kamu, yang waktu itu tidur di tangga ya?" tanyaku kemudian.



"Hah?" dia nampak bingung, wajahnya muncul dari balik pintu kulkas kemudian mendekatiku sambil membawa dua kaleng bir, memberikannya kepadaku dan mendekatkan wajahnya padaku. "Sherina, ya?" katanya.


"Sherry. Aku Sherry," aku membetulkannya. Wah, ternyata ini kamar seniman aneh ini. Pantes. "Tidak apa-apa kan aku di sini? Sibuk?" tanyaku sambil menyeruput bir yang tadi diberikannya. Ah, segar sekali. Seperti bir yang paling enak di dunia. Aneh.


"Oh.. gak papa.. santai saja. Anggap rumah sendiri. Aku tidak begitu sibuk. Tadi baru saja dari rumah sakit. Zi, kamu kenal Zi? Dia tetangga depan kamarku, tadi terpeleset ditangga darurat" cerocosnya. Dia pun duduk di sampingku, sisi sofa sebelah satunya lagi sehingga kamu bisa berhadap-hadapan, akupu membetulkan posisi dudukku.


"Wah? Gawat kah?" tanyaku spontan.


"Lumayan, tapi CJ bilang dia tidak apa-apa.." ujarnya santai. Kemudian mengambil gitar (oh rupanya gitar itu masih bisa berfungsi) dan mulai memetik-metik benerapa nada.


Aku diam. Tidak mengerti apa yang dikatakannya. Aku rasa orang ini cukup nyentrik. Dan aku rasa orang ini bisa diajak diskusi tentang masalahku. Sudah ada bir lagi ditangan kita berdua. Heheheheheheheheheee….


Sherry

plot/ seri 01/ eps.002: SHERRY/ post: #004. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/029-1605.html


7/17/10

#029: 1605

in this story: Prada Prameshwari

Ku terbangun, Kaget. Tapi tidak tahu mengapa aku terbangun kaget. Mungkin mimpi. Kulihat jam dinding yang sengaja gantung di dinding atas tempat tidurku, supaya aku bisa sedikit beranjak untuk melihatnya. Supaya gak telalu malas-malas amat. Baru pukul lima. Udara dingin sekali. Rupanya aku lupa menutup jendela ke Balkon, aku menyadarinya dari tirai broken white ku yang melambai2 pelan terlitup angin.


Kemudian aku memeriksa sisi kiri tempat tidurku. Aku memang terbiasa tidur di sisi kanan. Tidak ada siapa-siapa. Aku mengembuskan nafas lega. Baru kali ini aku pulang tidak dengan orang lain. Pria-pria kesepian yang hanya ingin bercinta denganku, atau pria2 bosan dengan istrinya atau pacarnya yang juga ingin merasakan kemolekan tubuhku.


Aneh, aku tidak bisa tidur lagi. Rasanya tubuhku ini meolak untuk diajak ke alam mimpi lagi. Kuputuskan untuk bangun dan membuat teh chamomile oleh-oleh ibu dari perjalanannya entah kemana. Mungkin pagi ini bisa menjadi momen yang sangat tepat untuk bersantai, merenung menikmati pagi secara sadar yang entah berapa lama sudah tidak aku nikmati lagi.


*


Aku menyeruput the chamomile ku yang sebelumnya aku nikmati dulu harumnya. Kurasakan hangat menjalar ke tenggorokanku pelan-pelan turun keperut lalu sampai ke ujung jari tangan dan kaki. Aku mulai membuka laptopku dan iseng melihat semua akun jejaring sosial yang aku punya yang sudah sangat lama tidak aku urusi. Yah, ngurus dunia nyata aja sadar-tidak sadar, apalagi harus ngurus dunia maya?


WOW, sungguh banyak kehebohan di dunia maya, ya. Sebulan ini aku juga tidak mengaktifkan layanan langganan internet menggunakan smartphone. Rasanya aku malas dan aku muak dengan segala yang sedang dan sudah terjadi. Kemudian dengan bodoh dan klisenya aku asyik minum-minum dan bercinta sesuka dengan hati dengan pria manapun ____ yang tampan tentu saja.


Aku sebenarnya tidak gitu-gitu amat, mungkin mereka kira aku ini seorang perek murahan yang tidak tahu malu. Tapi mereka tidak tahu aku, yah, aku juga tidak pernah cerita dengan orang dipinggir jalan, toh? Kadang aku suka tertawa dalam hati melihat orang-orang memandang aneh ke arahku, memandang sinis, memandang heran, memandang nafsu. Ah, betapa dangkalnya mereka hanya menilai orang dari sisi luarnya saja.


Kemarin ketika aku baru pulang dari Bar, tetanggaku _entah siapa namanya_ mengusap-usap perutnya seakan-akan dia sedang hamil (atau memang lagi hamil?), mungkin dia sedang mengamit-amiti anaknya jangan sampai sepertiku. Dan aku hanya bisa tersenyum dalam hati. Lucu sekali.


Yah, aku memang terlahir dari keluarga penganut paham kebebasan. Ibuku sendiri yang mengajari aku. Ibuku, yang memang keturunan negara demokrasi terbesar di jagat raya mengajariku untuk selalu berbuat apa yang yang aku suka dan aku rasa baik dan berani bertanggung jawab. Kata ibu, "Kamu yang menjalani hidup, ya kamu yang menentukan hidup kamu,"


Aku memilih jalan hidupku seperti ini, setelah aku bersusah payah menyelesaikan S-2ku di salah satu perguruan tinggi negeri ternama di Negara ini dan kemudian bekerja di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta, dengan mudahnya aku memutuskan untuk resign dari pekerjaanku dan pindah menyepi ke Bandung, ke Apartemen ini.


Lihat jejaring sosialku, penuh message dari teman2ku di Jakarta. Ada juga, hmm.. reminder. Ternyata besok hari pernikahan Eibi dan calon istrinya itu. Ya, orang-orang yang mengira aku bodoh itu semua benar. Aku memang bodoh, keluar kerja cuma gara2 diputusin pacar, pindah ke Bandung biar bisa deket sama mantan pacar, mabuk-mabukan dan bercinta sana-sini hanya gara-gara frustrasi urusan CINTA? Ya, aku memang bodoh untuk urusan cinta.


*


Aku mulai memberesi kamar. Seakan-akan aku baru kembali dari liburan yang sangat panjang. Aku memulainya dengan memberesi tumpukan buku, kertas, dan koran di meja kopi depan sofa. Kutumpuk dan ku susun lagi di tempat yang seharusnya, rak buku tentu saja. Barang printilan lain yang tempatnya tidak berada di tempat yang seharusnya, mungkin tersenggol atau rusak akibat permainan2 panas malam2 sebelumnya, haha, aku susun dengan rapi kembali. Aku masih ingat benar letak letaknya. Aku memang agak kompulsif.


Aku mulai menyapu lantai dan tidak sengaja menabrak kertas-kertas yang mungkin bekas diselipkan dari bawah pintu. Aku baru sadar setelah menabraknya dengan sapuku dan kertas itupun berceceran kemana-mana. Biasa, aku melamun. Kususun lagi kertas itu dan kubaca satu persatu. Artike itu berisi informasi seputar Kanker Serviks. Sudah dibubuhi spidol berwarna cerah pada bagian-bagian penyebabnya "Seks Bebas, beganti-ganti pasangan" begitu. Kemudian pada kertas selanjutnya __ sepertinya seharusnya itu paling depan__ terpasang post it note:


Untuk Sherry,


Maaf kalau aku lancang, tapi artikel-artikel ini mungkin berguna buat kamu :)


Prada Prameshwari


Prada? Hmm.. Oh! Wartawan cantik yang super sibuk di lantai ini ya? Ahh.. dia, dia penghuni pertama yang aku kenal, dan dia duluan yang memperkenalkan diri, sangat sopan. Hmm, baik sekali dia memberikan artikel ini. Aku membolak balik kertas-kertas tersebut. Gambar-gambarnya membuat aku jadi bernostalgia pada masa-masa kuliahku semester.. semester.. ah, semester berapa ya aku belajar anatomi?


Oh iya, aku belum cerita ya dulu profesiku apa? Ya, meskipun terkadang aku malu mengakuinya, tapi toh aku memang punya dan bisa mengejar gelar itu. Aku... seorang dokter.


Sherry

plot/ seri 01/ eps.002: SHERRY/ post: #003. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/026-1604.html


7/12/10

#028: 1606

in this story: Rasuna Adikara

“Kamu tahu kenapa ibuku memberi nama Rain?” ujarku kepada Rasuna seraya mengambil handuk dari genggamannya.

Rasuna hanya menggelengkan kepala. “Tidak tahu dan aku ingin tahu sekarang,” tandasnya.

Kuurungkan niatku untuk menyambangi kamar mandinya, meski air panas sudah ku nyalakan dan memenuhi bath up miliknya itu. Aku kembali ke sofa dimana ia masih asyik menunggu koki favoritnya di layar tv. Aku duduk di sebelahnya, handuk masih melingkar di leherku, sembari menghidupkan rokok yang tersisa di meja depan sofanya, aku melanjutkan pembicaraanku.

“Ibuku sangat menyukai hujan. Sangat, “ aku memberikan penekanan kepada kata “sangat” itu.

Di kala kami hanya berdua di rumah, ibu ku sering cerita mengapa ia suka hujan. Dulu semasa kecil saat masih di kampung, Ibu ingin sekali bermain di bawah siraman hujan bersama teman sekampungnya. Maklum, kata Ibu anak zaman dulu sangat antusias dengan hujan. Mereka sering mandi hujan sambil bermain uber-uberan atau patung-patungan atau umpetan. Tapi, sayang. Hingga menginjak usia 10 tahun, ibu tak pernah mandi hujan bersama teman-temannya. Nenekku setengah gila, ia tak pernah memperbolehkan ibu bermain saat hujan.

“Dari mana kamu menyimpulkan nenekmu setengah gila. Sori, maksudku apa dia terkena penyakit kejiwaan atau bagaimana?” Rasuna memotong ceritaku.

“Entahlah, tapi dari cerita Ibu aku anggap dia setengah gila,”

Setiap hujan turun, ibu pasti terkurung. Ia hanya bisa memegang rintik hujan dari balik jendela kayu kamarnya. Pernah sekali , ibu bandel. Ia nekat keluar rumah secara diam-diam. Apesnya, baru menginjakkan kaki di teras, nenekku bangun dari tidur siangnya. Nenek murka, ia langsung menarik tubuh Ibu masuk ke rumah. Pelajaran dari nenek kalau ibu bandel adalah: dipukul dengan rotan atau disundut dengan rokok yang tak pernah lepas dari tangannya.

“Hemmhh, wajar jika kamu anggap ia setengah gila. Tapi, tampaknya kau keturunan dari nenekmu ya.”

“Maksudmu? Aku setengah gila?” tanyaku heran.

“Tidak, keturunan pecandu rokok,” ujarnya tertawa.

Aku membalas tawanya. Ini adalah tawa pertamaku di apartemen ini, Rasuna.

“Lanjutkan ceritamu,” Rasuna membuyarkan diamku yang barang berapa detik itu.

“Ibu tak jera, ia malah menantang nenek. Namun, sial selalu ketahuan. Sampai-sampai Ibu bilang, dia sudah kebal dengan api rokok.”

Entah, apa yang dicari Ibu dengan bermain hujan. Aku baru tahu jawaban ini beberapa bulan lalu, saat minum teh bersama di teras rumahnya. “Kakekmu, yang meninggalkan aku dan nenekmu pernah membisikan satu kata kepadaku sebelum ia kabur dari rumah. Ia berkata: Cari dan temui aku di kala hujan tiba, nak. Tenang, kau tak akan kedinginan. Karena, saat kau bertemu hujan kau juga akan merasakan peluk Bapak.

“Kakekmu kabur karena apa?” Rasuna semakin penasaran.

“Kakek kabur karena nenek. Ia tak tahan ulah nenek yang saban hari minum. Sempat pula, main serong dengan Pak RT. Kakek, kata Ibu, sungguh pria yang penyabar dan tak pernah marah. Karena itu, ia memilih meninggalkan nenek. Sengaja Ibu tidak ia bawa, karena kakek tahu, hanya Ibu yang ia punya di dunia ini jika kakek pergi,” Jawabku.

"Oke Pemirsa, Sampai Bertemu di Tayangan mendatang dengan menu yang berbeda. Hanya di…" Suara chef favorit Rasuna di layar TV seakan menyadarkan kami, bahwa kami sama-sama tertegun.

“Namamu sungguh bermakna Rain,” Rasuna hanya berkomentar singkat.

“Ya. Sampai sekarang, jika hujan datang dan ibu betul-betul rindu kakek, ia tak segan keluar rumah, mendatangi halaman belakang rumahnya: main hujan,” ujarku

“Yah, itulah ceritanya. Well, aku tampaknya tak jadi mandi nih,” aku beranjak dari sofa.

Dalam hitungan menit, saat aku menunggu bathubnya penuh dengan air panas lagi, Rasuna menggedor pintu kamar mandi. Ku matikan keran air.

“Rain, di luar hujan. Maukah kita bermain hujan? Aku ingin mengenal kakekmu,” ucap Rasuna.

Aku diam.

Kembali kukenakan t-shirt yang sudah tiga hari tak dicuci itu, “oke, tunggu sebentar.”

Untuk Hujan yang selalu memberiku inspirasi.

Florisia Rainarki
plot/ seri 01/ eps.002: SHERRY/ post: #004. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/024-1602.html

7/11/10

#026: 1604

in this story: Sherry, Florisia Rainarki

Ah, sudah sabtu saja! Keluhku saat membuka mata pagi ini. Sekarang Sabtu, artinya besok Minggu, yang artinya jadwal pulangku. Rasanya belum ingin aku meninggalkan kota ini. Apalagi setelah kemarin Radita menemaniku sepanjang hari di kota keraton ini. Mengulang tradisi kuliner kami. Serabi Notosuman, Tengkleng Klewer, Cambuk Rambak, Bakso Kalilarangan, Timlo Sastro. Ah! Makanan itu masih bersisa di mulutku. Rasanya ingin menelepon Radita untuk kembali mengajakku hunting kuliner lagi. Tapi, data tulisan dan rekaman ini sudah menari-nari minta dikuliti.

Kanker Serviks. Mengingat isi seminar kemarin langsung mengingatkanku pada Sherry, tetangga sebelah kamarku. Hmm, bagaimana aku menjelaskannya ya, yang jelas aku agak khawatir padanya.

"Risiko menderita kanker serviks adalah wanita yang aktif berhubungan seks sejak usia sangat dini, yang sering berganti pasangan seks, atau yang berhubungan seks dengan pria yang suka berganti pasangan."

Kutipan wawancara dengan sang dokter ahli ini membuatku merinding. Bahaya Kanker Serviks ini terlalu mengusik, pasti akan kuberikan tulisan ini pada Sherry!

Gaya berpasangan manusia jaman sekarang sudah sudah tidak terbatasi, tapi bukan jelas hakku untuk menghakimi. Sikapku sejauh ini hanya memperingati tentu dengan memberikan bukti sampai ia mengerti sendiri, mungkin saja berhenti.

Ah cukup sudah dengan gaya hidup, saatnya menyelesaikan feature ini, si data rekaman dan handout ini sudah minta ditelanjangi. Oke, dimulai dari rekaman ini.

*

Saatnya pulang!
Sudah tiga hari kuhabiskan waktu di Solo. Seminar sudah didatangi, feature sudah diberesi, oleh-oleh sudah ditentengi, keluarga Jeko sudah dikunjungi, dan akte kelahiran si Jeko pun sudah mau dikoperi (agak aneh bahasanya, dikoperi, tapi ya sudahlah ya). Kucermati sekali lagi akte kelahiran si Jeko. Rasuna Adikara, ujarku sambil tertawa. Bisa-bisanya nama sebagus ini diubah menjadi Jeko. Kalau sedang di rumah orang tua Jeko, kadang agak canggung kalau aku harus memanggil Jeko dengan nama aslinya, kadang aku memanggilnya Adi. Lebih aman.


Ah besok sudah Senin lagi, template keluhanku setiap hari Minggu. Jadwal penerbanganku pukul 14.15 WIB. Kulirik jam tanganku, sudah setengah sebelas, lebih baik langsung check out saja. Pak, Timo, orang suruhan kantorku sudah sigap menunggu di lobi semenjak pagi. Aku sudah siap meninggalkan kota ini.


"Pak, saya mau makan dulu, di Nasi Liwet Gajahan ya!" "Siap, mbak." Gludug, gludug. Wah? Mendung ternyata. Semoga jangan hujan sampai pulang nanti! Untung cara makanku tak lama, jadi cukup setengah jam saja aku menghabiskan satu porsi nasi liwet ini. Saatnya ke Adi Soemarmo. Kulirik lagi jam tanganku, jam setengah 12. Sampai di bandara, sang langit mulai bersuara lagi. Ah, sial. Semoga penerbanganku tidak delayed! Pak Timo pun mengucapkan pergi, ucapan terima kasihku mengakhiri perjumpaan kami.


Segera aku menghampiri customer service bandara ini, menanyakan akankah ada kemungkinan penerbangan ke bandung tertunda atau tidak. Berita buruk. Si mbak-mbak customer service mengatakan bahwa memang ada kemungkinan semua penerbangan tertunda hari ini, diperkirakan akan ada angin besar. Sial. Saat kutanya kira-kira berapa lama tertundanya, mbak Iva Nurnami--begitu nama yang kubaca di pin dada kirinya--mengatakan "Mungkin satu sampai dua jam, nanti kami pasti informasikan."


Aku pasrah, akhirnya setelah mengurusi segala urusan pertiketan, aku memutuskan menunggu di Starbucks saja. Segelas Frappuccino Blended Caramel sudah menari-nari di otakku. Frappuccino sudah di tangan, lebih baik aku online saja. Si Toshi--nama laptopku--kukeluarkan dari koper kecilku. Cek e-mail, Facebook, Twitter, dan tak lupa cek rilisan game RPG terbaru. Yang terakhir adalah kegiatan favoritku. Satu jam, dua jam, tiga jam. Akhirnya ada datang juga pengumuman tentang penerbanganku. Satu jam lagi. Oke, kuhadapkan lagi wajah ini ke si Toshi.


Akhirnya aku sudah duduk manis di pesawat ini. Kulirik lagi jam tangan ini, sudah jam setengah lima. Rasanya ingin segera sampai di rumah. Tidur saja.


Sudah pukul 17.45 WIB, dan aku sudah duduk manis di taksi dalam perjalanan ke rumahku. Untung jalanan tidak macet dan menambah ruwet otak ini. Apartemen Seguni. Sudah sampai. Kulewati lobi, dan kupencet lift apartemen ini, lantai 16. Sampai lantai 16, lift terbuka. Wah, tumben, masih jam segini, tapi lantai ini sepi sekali. Terlalu sepi. Tanpa pikir panjang, aku langsung masuk ke kamarku. Ingin segera menyentuh air panas dan tidur. Kulirik kamar 1606, wah sudah ada penghuninya ya? Kira-kira orangnya seperti apa ya? Ah besok saja berkenalannya. Atau nanti malam di saat jeko sudah mulai mengetok kamar.

Prada Prameshwari
plot/ seri 01/ eps.002: SHERRY/ post: #003. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/025-1604.html

#025: 1604

in this story: Rasuna Adikara

Ini hari keduaku berada di kota batik ini, Surakarta, atau mungkin sekarang lebih dikenal sebagai Solo yang kadang dipelesetkan menjadi Oslo. Ingat Solo jadi ingat Almarhum Gesang yang baru meninggal baru-baru ini. Almarhum Gesang dengan lagu Bengawan Solo-nya yang cukup mendunia. Sudah beberapa kali aku ke kota tua ini, belum juga kusempatkan melihat si sungai legenda itu. Entah berapa kali sudah aku memaksa Jeko mengajakku ke sana, tapi alasannya selalu sama, besok ya. Dan kalau sudah begitu, besoknya pasti lupa, dua-duanya lupa. Baru ingat lagi nanti kalau sudah mau pulang, ujung-ujungnya, tidak sempat lagi. Bosan sudah dengan Jeko si tukang janji.


All single ladies, all single ladies....
Ah, ada apa lagi si Beyonce menyanyi? Rasuna Adikara. Jeko? "Halo? Kenapa Jek?" "Hey, kemaren ngetuk kamarku, ada apa ya?" "Ohh,
“aku mau pinjam kamera tadinya, kamu gak ada. jadinya aku pinjem ke hippies sebelah kamarmu" "syukurlah, lagipula kameraku juga sedang rawat inap di reparasi, tertular kameramu yang mendadak tak bisa nyala. memang kau pergi berapa lama, sedang tugas ke luar kota ya? habis tumben tv-mu ditinggal nyala" "aku ke Solo, ke kampung halamanmu, ada liputan seminar kanker serviks" "lho kamu ke Solo kok gak kabari aku, nanti biar aku hubungi Radita untuk menemanimu, nginap saja di rumah orangtuaku, sekalian nanti aku minta tolong titip bawa akta lahirku" "nggak usah, aku nginep di hotel, sudah disediakan kantorku, terimakasih. biar nanti Radita aku hubungi, suruh ke hotelku saja, sudah lama juga aku gak ketemu dia, biar sekalian nanti dia bawa akta lahirmu."

Kuingat-ingat, sudah lama juga aku tidak ke kota ini, kampung halaman Jeko. Biasanya kalau ada waktu senggang, aku iseng menemani Jeko yang juga iseng pulang kampung. Mungkin tidak ada yang percaya, di balik dandanannya yang serba berantakan itu, Jeko tipe penyanyang Ibu. Makanya dia selalu menyempatkan setidaknya dua sampai tiga kali pulang ke kota ini demi menemui sang Ibu yang dikasihi. Kalau sudah begitu, aku biasanya merengek minta ikut, sampai rela bolos kerja. Tapi itu dulu, mungkin kira-kira terakhir akhir tahun lalu. Dengan kesibukanku yang tidak menentu ini, sudah tidak mampu lagi aku iseng menemani. Maklum wartawati.


Ah, Radita. Apa kabar ya dia? Data wawancara dan seminarku sudah kurapihkan, tinggal dibenahi esok hari. Kujadikan saja hari ini hari leha-leha sedunia. Telpon Radita! "Halo, Radita? Ini mbak Prada, masih inget kan? .................................."

Prada Prameshwari
plot/ seri 01/ eps.002: SHERRY/ post: #003. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/021-1602.html

#024: 1602

in this story: Florisia Rainarki


aku menikmati Minggu pagi yang tak terlalu cerah ini dengan merebahkan diri di sofa empuk lobi lantaiku. tak banyak penghuni satu lantaiku yang menikmati untuk beristirahat di sini, mungkin sesekali Prada yang menemaniku menonton sinetron RCTI di malam hari.

biasanya akhir pekan, aku menunggu acara masak koki wanita seksi yang lebih cocok untuk pemotretan kalender di toko emas, ketimbang memikirkan cara menyajikan ikan mas. koki wanita yang menyembunyikan melon di dada kirinya, dan semangka di dada kanannya. kata seorang teman, acara masak akhir pekan di televisi, telah kehilangan esensinya.

saya tak peduli dan terus menunggu acara ini sambil mengecek beberapa acara di stasiun lain untuk membunuh waktu. tiba-tiba suara seorang wanita menyapaku tegas, “acara televisi akhir pekan harusnya tak lebih dari permintaan maaf stasiun televisi karena selama lima hari sebelumnya telah banyak menyiarkan petaka.”

aku menoleh, orang baru tampaknya. gadis itu melanjutkan bicaranya, “kau tahu, banyak orang menuduh pornografi sebagai salah satu penyebab hancurnya moral bangsa. tapi tak banyak yang menyadari, bahwa televisi, dibanding pornografi, jauh lebih keji.”

aku memandangnya kagum, meski dengan tampangnya yang semrawut seperti kurang tidur, dan rambutnya yang menggulung seperti bola kusut. aku mencoba ramah padanya, “kamu, baru ya di sini, maaf aku belum pernah melihatmu sebelumnya?”

gadis itu mengulurkan tangan sambil memperkenalkan namanya, Florisa Rainarki. aku menjabat tangannya yang halus, “Rasuna Adikara, panggil saja aku Jeko, begitu orang-orang di apartemen ini memanggilku.”

kami berdua berebah di sofa yang sama, gadis itu sepertinya ingin mengganti waktu istirahatnya yang tak terlalu dimanfaatkannya tadi malam, dan aku menunggu ratu masakku keluar dari persembunyiannya.

“kau tahu, di mana aku bisa membeli perlengkapan seperti kasur, lemari, kursi, dan lainnya untuk mengisi ruangan di kamarku yang masih kosong,” tanyanya. aku jawab saja di ujung perempatan ada toko yang kalau ia mau membeli dengan harga yang lebih mahal, mereka bisa menyediakannya.

“kalau tidak kau mungkin bisa mencari ke kota, nanti biar kusewakan mobil bak terbuka untuk mengangkut barang-barang belanjaanmu, aku punya kenalan, nanti hubungi saja orangnya atas namaku, beri saja ‘untuk rokok’ meskipun dia tak merokok,” tawarku.

“tapi mungkin lebih baik, kau menyegarkan diri dulu kalau mau keluar, daerah sini bikin orang gampang berkeringat,” tawarku kembali. “ya itu, aku buru-buru pindah kemari, jadi tak sempat membawa peralatan mandi,” jawabnya.

“ya sudahlah, silakan mandi di kamarku, pakai saja peralatannya, mungkin cukup lengkap untuk bisa kau pakai, terlalu lengkap malah, emmhh, Flo, eh, apa aku harus memanggilmu?” tawarku sambil mengantarnya masuk ke kamarku. “Rain, panggil saja aku Rain,” jawabnya.

“ya Rain, silahkan, kebetulan shampoo-ku juga Clear Men, pakai saja,” ujarku mantap seperti kata bintang Korea yang nama panggilannya sama dengan gadis itu. dia masuk ke kamar mandi, dan aku kembali ke depan televisi dan bersiap onani.

Rasuna Adikara
plot/ seri 01/ eps.002: SHERRY/ post: #004. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/023-1606.html

#023: 1606

Aku yakin betul, siapapun tak ingin alami keadaan seperti ini: kehilangan.

Pintu kamar itu cacat, terdapat guratan kayu yang menyerupai bentuk zigzag hasil bogemnya. Tak jauh dari pintu itu, tergeletak ponsel yang bentuknya pun tak sempurna lagi. Lemparan kuatnya ke arah dinding membuat tubuh ponsel itu belah dua, alat komunikasi itu menjadi benda yang tak berguna.

Mungkin hanya hitungan menit aku terlelap. Kepala ku sakit akibat tangis yang mengalir deras. Tidur ini hanya terapi untuk menghilangkan rasa sakit yang menyerang kepalaku. Lagi pula, sehabis menangis hidungku mampetnya minta ampun sampai-sampai aku sulit bersuara.

Sebelum lelap datang, dia masih menggenggam jemariku. Aku pun meraba bagian punggung tangannya yang sungguh tak mulus itu: terdapat beberapa luka lecet dengan darah mengering. Aku lantas terngiang ucapannya tiga tahun lalu, saat pertama kami bertengkar: biarlah tubuhku yang remuk karena aku tak ingin melampiaskan emosi ini ke tubuhmu. Jangan sampai.

Kami sama-sama menenangkan diri dalam keheningan pasca badai besar yang habiskan tenaga. Aku menyukai saat-saat ini, di mana amarahnya reda dan mulai lunak. Tak ada dialog, bahasa menyusup dalam setiap belaian dan tatapan.

Tak ada lagi ego binatang buasnya. Ia bertransformasi jadi seorang ayah, melindungi dan bijak. Ya, kekasihku itu punya segala peran: ayah, pacar, kakak, bayi, bahkan musuh untuk ku.
Aku ingin waktu berhenti. Aku ingin detik jam tak lagi berbunyi. Ingin menit-menit dalam tidurku ini menjadi selamanya. Ingin tetap lelap dengan jemariku yang berada dalam genggamannya. Ingin….

Ngeeeeeeeekkkkk…

Tiba-tiba suara pintu ditutup pelan. Reflek, telingaku memberikan warning kepada kedua mataku untuk melek sejenak. Aku terhenyak, jemariku terasa keram, jantungku berdegup kencang akibat suhu dingin yang mulai terasa. Belum lagi sembuh, sakit itu datang lagi ke kepalaku. Kali ini datang bertubi-tubi. Aku tak bergerak, masih meringkuk menatap pintu yang habis ditutup dengan pelan-pelan tadi. Dia lagi-lagi menghilang. Dia hanya meninabobokanku agar aku tak bisa melihatnya berjalan kea rah pintu, bahkan untuk melihat punggungnya pun aku tidak diperbolehkannya.

Aku masih menatap pintu apartemenku, tak ada upaya untuk mengejarnya keluar, tak ada upaya untuk menyaksikan langkahnya menyeberangi jalan raya dari balkon tempat kami bercinta semalam.

Dan inilah momen dimana aku merasa hidup itu kosong: aku melampaui kesedihan hingga rasa itu menjadi hambar. Seluruh organ tubuhku pun terasa tak bekerja seakan ada program turn off
di tubuh ini.Bahkan kepergianmu yang hanya meninggalkan bunyi pintu itu membuatku kehilangan segalanya, termasuk semangat hidup dan kemampuan mengecap rasa di jiwa.

Florisia Rainarki

plot/ seri 01/ eps.002: SHERRY/ post: #003. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/019-1606.html

#021: 1602

in this story: Prada Prameshwari

“hey, kemaren ngetuk kamarku, ada perlu apa?” kutelpon Prada setelah mengetahui ia tidak ada di kamarnya. biasa, aku langsung masuk kamarnya karena tahu kebiasaannya yang tak pernah mengunci kamar. tiga pasang pakaian dalam bermotf polkadot kutemukan tertinggal di atas televisi yang menyala kedap suara, kebiasaannya lama yang masih tetap sama.

hampir sebulan aku tak bertemu Prada, tiga minggu karena aku ada urusan ke Poso, begitu pulang Prada sudah menjadi wanita supersibuk yang seolah bekerja 25 jam sehari, 8 hari seminggu. sebelumnya, minimal ada waktu satu jam dalam sehari, satu dalam hari seminggu untuk kita duduk satu meja bercerita tentang apa saja.

“aku mau pinjam kamera tadinya, kamu gak ada. jadinya aku pinjem ke hippies sebelah kamarmu,” ujarnya lewat suara cemprengnya yang kekanak-kanakan. “aku tak menyangka, hippies itu punya banyak kamera.”

“syukurlah, lagipula kameraku juga sedang rawat inap di reparasi, tertular kameramu yang mendadak tak bisa nyala. memang kau pergi berapa lama, sedang tugas ke luar kota ya? habis tumben tv-mu ditinggal nyala, ” tanyaku.

“aku ke Solo, ke kampung halamanmu, meliput seminar kanker serviks,” jawabnya. “lho kamu ke Solo kok gak kabari aku, nanti biar aku hubungi Radita untuk menemanimu, nginap saja di rumah orangtuaku, sekalian nanti aku minta tolong titip bawa akta lahirku."

“nggak usah, aku nginep di hotel, sudah disediakan kantorku, terimakasih. biar nanti Radita aku hubungi, suruh ke hotelku saja, sudah lama juga aku gak ketemu dia, biar sekalian nanti dia bawa akta lahirmu,” jawabnya.

aku berterimakasih sebelum menutup sambungan teleponku, dia menyela, “eh sori-sori-sori Jek, emh, itu, nanti kancut dan kutangku yang kujermur di atas tivi, kalau sudah kering tolong masukan kulkas ya, kamu tahu kan caranya, hehe, makasih ya,” dan aku pun menutup telepon sambil berhutang satu janji padanya. ya ampun Prada yang cantik, tak kusangka kau masih percaya klenik.

Rasuna Adikara
plot/ seri 01/ eps.002: SHERRY/ post: #003. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/011-1604.html