Lantai 16

Showing posts with label #005. Show all posts
Showing posts with label #005. Show all posts

8/11/10

#043: 1602

minggu pagi yang cerah ini, harusnya jadi awal dari rangkaian hari yang indah. dengan menampan sepiring waffle dan menjinjing sekotak susu cair, hendak ke lobi, untuk pelototi acara masak ala-ala chef FQ.

ritual pagi masih menjadi gerbang hari yang indah, sebelum kudengar seorang memekik. jerit wanita, milik Prada. jelas kukenali karena lolong itu identik dengan lenguhnya saat kami saling mencicip, beberapa bulan lalu. yang beda, ini jerit ketakutan. suara yang berasal dari depan kamarnya kukira, dengan cepat mengudara ke antero lantai.

pas sekali, aku hendak keluar dan nonton FQ, kupercepat langkah dan dengan sigap membuka kenop pintu yang tak pernah tergantung kunci di lubangnya. kulihat, Prada terduduk lemas di depan dinding kamarnya, menghadap ke lobi lantai tempat ku biasa menonton acara masak favoritku saban minggu.

di lobi lantai itu, kini, dindingnya memerah seperti kena cipratan darah, dan sepenggal kepala kambing digantung terbalik tepat di atas lantai yang digurat gambar bintang dengan lima lilin tertancap di lima titiknya.

terbaca dengan jelas, di sela dinding yang telah berlumuran cat merah serupa darah, sebuah kalimat yang ditulis dengan piloks hitam: ‘SEKALI MASUK, TAK PERNAH BISA KELUAR’. jelas ini bukan peringatan untuk orang yang hendak bercinta.

kepala kambing yang digantung terbalik, bintang segi lima, lilin yang dibiarkan menyala. jelas ini teror, kepada siapa? entahlah. yang pasti terakhir kali membaca berita tentang teror seperti ini, korban ditemukan beberapa minggu kemudian tewas dalam keadaan mengenaskan.

*

dengan dalih mengecek fungsi alat-alat yang ada di sekitar TKP, aku mengambil remota dan menyetel TV, bukan kebetulan bila ketika nyala, FQ ada di layar kaca, aku memindahkannya ketika peralihan dari gelap ke terang saat TV dihidupkan. yang kebetulan itu, FQ minggu ini memasak iga kambing.

tak ada yang rusak, lampu kipas yang digunakan untuk menggantung kepala kambing pun masih berfungsi. lucu ketika melihat kepala kambing tersebut berputar mengelilingi lilin-lilin yang tinggal beberapa senti di atas karpet yang telah dilubangi. ya, hanya karpet itu yang rusak.

logikanya jelas, mereka butuh ubin kayu untuk menggurat bintang lima, dan menyalakan lilin di atasnya. tak aneh kalau tak ada yang rusak, lagipula ini bukan kasus pencurian, ini teror.
satu persatu penghuni lantai keluar kamar, tapi tak ada yang berani mendekati lobi. Kolab muncul dengan mata segaris, jelas ini masih jam tidurnya, Ziantine juga setelah melahirkan anak kembarnya jadi malas bangun pagi. sementara Sherry keluar dengan mengenakan lingerie tipis dan sisir tersangkut di rambutnya yang semrawut.

Flo, penghuni baru di apartemen ini menghardik, “Jeko, jangan sentuh apapun sebelum polisi datang.” aku yang seperempat kaget, menoleh ke arahnya, di tangan kanan menampan sepiring waffle, di tangan kiri menjinjing kotak susu yang sudah tak begitu dingin, “di sini, lebih baik tidak percaya Tuhan daripada percaya polisi!”

woo, aku mengagumi diri sendiri atas ucapanku barusan. ah, andai FQ bisa melihatku dari balik layar kaca. sementara si kepala kambing yang digantung terbalik kini posisinya menghadap televisi, juga menonton FQ. aku membayangkan ia berkata, “oh mungkin yang dipasaknya kini, dulu adalah tulang rusukku. tapi tunggu sebentar, apa itu di balik ketat kaosnya, seratus pasang buah zakar kambing remaja. koki gila.”

pagi yang gila juga bagi seluruh penghuni lantai 16 l’appartemant. eh, tapi mana Beng? astaga, jangan-jangan ini bukan sekadar ancaman, melainkan penculikan.

Rasuna Adikara
plot/ seri 02/ eps.005: TEROR/ post: #006. prev post: -

7/21/10

#041: 1606

Kedatanganku ke rumah sakit ini bukan disengaja. Aku tak kenal dekat dengan calon Ibu itu. Baru sebatas tahu nama, dari perkenalan singkat kami di depan pintu 1602. Bahkan dengan dengan penghuni lainnya pun aku belum sempat menyapa satu-persatu . Penghuni pertama yang berinteraksi denganku adalah Sherry, perempuan bertubuh seksi dengan rambut coklat keemasan itu, saat aku nyaris hipotermia. Dan kemarin, aku berkenalan dan ngobrol panjang lebar dengan Rasuna. Hmm siapa itu nama panggilannya, aku lupa. Oya, Jeko. Sisanya, aku belum sempat bertemu atau bertegur sapa. Namun, kejadian seperti ini – bencana alam, kecelakaan di jalan raya, bahkan kecopetan pun – sering membuat kita mengabaikan hubungan personal dengan orang yang mengalaminya. Hubungan yang terjadi hanya satu: sebagai sesama manusia, yang masih punya rasa iba. Mahluk sosial.

Aku tahu bahwa Ziantine masuk rumah sakit saat seorang perempuan (lagi-lagi) cantik dan modis tak sengaja berpapasan denganku di tangga. Saat itu aku hendak naik ke lantai 16 sehabis membeli beberapa perabotan untuk di ruang baruku itu. Perempuan itu tergopoh-gopoh menuruni tangga, tubuhnya sempat menyenggol bahu kananku. Dan walhasil, membuat barang-barang yang ku bopong jatuh berhamburan di lantai.

“Maaf aku buru-buru,” ujarnya. Aku tersenyum. “Tak masalah,” ujarku singkat.
“Sebentar!” suaranya tiba-tiba menghentikan kegiatanku yang sedang memungut ember, gayung, bantal, dan peralatan rumah tangga lainnya.
“Ya, ada apa?”
“Kau penghuni baru di lantai 16 ya? Tetangga kita, Ziantine, si ibu hamil, masuk rumah sakit, katanya kritis, pendarahan. Oya dia di Rumah Sakit Hermina. Kau datang saja nanti ke UGD atau ke costumer servicenya. Aku tak tahu ia di rawat di bagian mana. Kau mau ikut ke sana?” Perempuan itu bicara dengan cepat dan detil.

“Ya. Ah tapi silakan kau duluan, aku nanti menyusul dengan taksi. Aku perlu taruh barang-barang ini ke kamarku dulu,”
“Okay, see u there,” ia melambaikan tangan.

*

Sayang, aku tak bisa membantu apa-apa. Ingin mengirimi Zi doa, tapi aku tak tahu harus memajatkan doa kepada siapa? Teringat perbincangan dengan temanku, saat diriku mulai masuk fase meragukan Tuhan.

“Lantas, jika aku putus asa dan aku tak bisa berbuat apa-apa, aku harus berdoa kepada siapa?”. Temanku hanya menjawab, doa itu sebagai bentuk pengharapan, kamu meletakkan harapan itu dan membiarkan harapan itu berjalan dengan sendirinya. Atau jika kamu menganggap doa adalah bagian dari spiritual, kau percayakan saja harapanmu itu mengalir melalui energi yang tak kasat mata, energi di luar kendalimu.

Ahh, sudahlah, pikiran flashback ini akan tambah membuat ku terdiam semakin lama. Setidaknya, kali ini aku menaruh doaku, harapanku kepada faktor eksternal dan internal di luar diriku. Yaitu, energi alam raya yang tak kasat mata dan dokter yang sedang melakukan operasi itu. Doaku, biarkan calon ibu itu selamat, biarkan dia tetap hidup, meski harus menelan pil pahit seumur hidupnya: kehilangan anaknya yang belum sempat ia timang.

Aku menghampiri Jeko. Mata dan hidungnya memerah, bekas menangis. Ahh ternyata pria ini punya empati yang luar biasa. Di samping Jeko, berdiri dua orang pria – yang aku tak tahu namanya itu – berusaha menenangkan Jeko. Tak jauh dari mereka, berada perempuan yang memberi tahu ku kabar buruk yang dialami Ziantine.

Di sela menunggu kabar terakhir Ziantine, perempuan itu tampak sibuk berkutat dengan notebooknya. Jemarinya menari lihai di atas tombol-tombol huruf notebook itu. Hmmhh tampaknya ia perempuan yang punya kerjaan padat, pikirku.

Meski kami belum mengenal satu sama lain, tapi aku yakin perasaan kami saat ini sama. Sama-sama mengharap agar Ziantine, selamat. Meski aku belum lihat satu batang hidung keluarga Ziantine atau suaminya, tapi aku merasa energi harapan di antara kami – para penghuni appartemant – cukup besar untuk keselamatan Zi.

Florisia Rainarki
plot/ seri 01/ eps.004: SI CALON JANIN/ post: #005. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/029-1606.html

7/19/10

#040: 1605

in this story: Kolabton Nawalem, Ziantine Larasati


Aku terduduk lemah. Akhirnya aku berhasil menyelamatkan Zi dan ketiga anak kembar yang di kandungnya meskipun mereka, baik ibu maupun anak-anak, sangat lemah dan sangat butuh perhatian intensif. Aku hanya bisa memandangi kedua jemari tanganku yang bersih dan steril. Sarung tangan karet sudah tidak berada di sana lagi. Aku yang masih berpakaian atribut operasi lengkap hanya bisa terdiam.


Ah, aku kembali ke dunia ini. Dunia semuku. Kalau bukan karena desakan dari Kolabton _itu nama seniman nyentrik yang aku ajak bicara tempo hari dan, dan, dan telpon darinya. Ayahku.


*


.Sehari sebelumnya.


"Jadi begitu, menurutmu, aku datang gak ya ke kawinan Eibi?" aku menodong pertanyaan kunci, setelah menceritakan masalahku, mengapa bisa jadi rumit, menurutku, dari awal hingga sekarang kepada Kolabton yang masih asik memetik-metik senar gitarnya. Sesekali ia berhenti sebentar, seperti memikirkan sesuatu, lalu mulai memetik gitar lagi. Aku tidak tahu apakah dia mendengarkan semua ceritaku, aku tidak peduli, Aku hanya ingin menumpahkan segala yang ada dipikiranku, yang sudah terlalu penuh, hingga mampat, bumpat.


Kolab menyeruput kaleng birnya hingga bir itu habis, meremas kaleng itu, kemudian melemparnya entah kemana. Sraak! Oh, rupanya masuk ke tempat sampah yang berupa plastik hitam besar sekitar 2 meter didepannya.


"Permisi," sapa sebuah suara dari pintu "Oh kamu di sini juga, Sher?" katanya lagi. Aku menoleh.


"Eh, Prada. Iya nih, lagi cerita-cerita aja sama Kolab. Tadinya mau cerita ke kamu, tapi kamunya belum pulang tampaknya," jawabku. Aku kembali meneruput kaleng birku yang isinya sudah mau habis.


"Oh, tadi ke rumah sakit,"


"Iya si Kolab ini juga baru cerita. Semoga Zi baik-baik saja ya." kataku sambil menoleh ke tempat Kolab bersemayam. Kolab masih saja memetik-metik senar gitarnya.


"Kolab, ini kameramu. Terima kasih banyak ya," kata Prada seraya menaruh tas yang berukuran sedang di atas meja pantry.


"Sip. Sama-sama. Kalau perlu apa-apa lagi. Tinggal kesini aja. Ga usah ragu-ragu lah," ujar Kolab kemudian.


"Oke. Aku ke kamar ya. Sher, aku ke kamar ya. Kamu kalau ada apa-apa, ke kamar aja. Oke?" kata Prada kepadaku, "Oh! hampir lupa! Kamu sudah baca artikel-artikelku?"


"Belum semuanya. Tadi baru sekilas-sekilas saja. Terima kasih ya! Pasti aku baca," jawabku lagi. Pradapun berlalu. Suasana pun hening kembali. Tadi suasana cukup ramai dengan kedatangan Prada, soalnya dari tadi hanya aku saja yang bicara. Tapi aku lebih suka seperti itu.


"Gak usah datang saja," kata Kolab tiba-tiba. Aku sampai kaget. "Kamu bilang tadi kamu apa?" tanyanya kemudian.


"Apa?" aku tidak mengerti.


"Profesimu, kamu bilang tadi profesimu apa?" tanyanya lagi.


"Oh.. emm.. Dokter. Aku dokter bedah. Tapi aku tidak suka pekerjaan itu," kataku.


"Tolong CJ, gimana?" ujar dia, masih santai.


"Apa itu CJ?" aku benar-benar tidak mengerti. Orang ini memang susah dimengerti. BIcara dengan bahasanya sendiri. Seru sekali.


"CJ, anak yang ada di dalam kandungan Zi, aku punya firasat, operasi nanti akan gagal, dan aku punya firasat, kamu yang bisa menolongnya," katanya lagi. Kali ini dia pindah duduk ke tempat tidur gantungnya.


"Ah, aku sudah hampir 6 bulan tidak pegang pasien, bisa bahaya, lagi pula, kadar alkohol dalam darahku sangat tinggi, bisa sangat beresiko kala sewaktu2 aku terkena serangan jantung," pungkasku asal. Soal alkohol aku serius.


trrrrrrrrrrrt… trrrrrrrrrrrrt..


Ponsel dikantong celana pendekku bergetar. Pada layarnya tertera nomor tidak di kenal. Aku paling malas menjawab telpon tidak di kenal. Maka aku reject saja. Baru aku mau bicara membela diri dan menanyakan mengapa dia menyuruh aku untuk tidak datang ke perkawinan Eibi ponselku kembali bergetar. Masih nomer yang sama. Ku reject lagi. Bergetar lagi. Ku reject lagi. Yang kesekian kalinya rupanya ada nama di layar ponselku. Namanya: Ayah.


"Ayah?" tanyaku pelan-pelan ketika menangkat telpon itu. Aku takut disembur api yang keluar dari mulut Ayah, meskipun aku tahu, api itu tidak akan keluar lewat speaker ponseku, api tidak merambat dari sinyal telepon. Tapi aku tetap saja takut.


"Bi, ini ayah.." kata suara diseberang sana. Masih seperti terahir aku bicara padanya, suara berat, akibat pengaruh nikotin yang ia hisap dari ia kecil, dan sedikit pengaruh alkohol yang sering dia minum dulu, sekarang sudah tidak. Dia memanggilku dengan Bi, nama kesayangannya, diambil dari namaku yang lain, selain Sherry, tapi aku lebih suka namaku Sherry saja.


"Ya, ayah. Ada apa ayah tiba-tiba menelepon? Ayah sehat-sehat?" tanyaku sesopan mungkin.


"Ayah ingin minta sesuatu sama kamu, Bi. Kamu bisa ke kantor ayah kan? Sekarang. Ayah dengar dari mamamu, kamu di Bandung," kata ayah. Tanpa menanyai kabarku, sehat atau tidak, apa yang sedang aku risaukan, ah, ayah.


"I..iya Ayah aku di Bandung, tapi, kenapa mendadak?" aku tidak tahu mengapa aku tidak pernah bisa berbohong kepada ayah. Kolabton meperhatikanku, mungkin dia heran melihat perubahan mimik mukaku, seperti orang habis menginjak kotoran.


"Ayah tunggu," kemudian ayah menutup telpon. Begitu saja. Ayah, masih seperti dulu. Keras. Dan aku juga masih saja seperti yang dulu. Tidak bisa membantah ayah. Satu-satunya yang pernah aku lakukan adalah berhenti bekerja dan kabur ke Bandung. Bodohnya aku, ayahku kan juga bekerja di salah satu rumah sakit di Bandung. Fuk.


Aku bengong, kemudian balik memandang Kolab, dan Kolab sudah terseyum, memandangku. Ah?



*


Anak buah ayah gagal operasi pasiennya. Ayah, dokter ahli bedah terkenal dan sangat disegani Ikatan Doker Bedah di Indonesia sudah pensiun beberapa tahun yang lalu, ia sudah terlalu tua untuk mengoperasi orang, paling ayah ikut rapat dan diskusi penanganan kasus suatu pasien. Kali ini, anak kesayangan Ayah, Willy, yang juga sepupuku ternyata gagal mengoperasi seorang wanita yang terkena trauma pada rahimnya, dan ia sedang hamil 18 minggu.


Dari dulu ayah selalu membanggakan Willy. Willy lebih tua 3 tahun dariku, dia seorang dokter bedah yang cukup baik, prestasi di sekolah maupun ditempatkuliah sangat membanggakan, sama seperti ayah waktu muda. Aku, yang juga seorang dokter bedah, prestasiku biasa-biasa saja, susah payah aku mengejar gelar itu. Aku tidak tahu apakah ayah bangga padaku atau tidak. Beliau hanya diam mengetahui prestasiku yang biasa-biasa saja. Waktu aku mengikuti upacara sumpah dokter, ayah tidak hadir.


Sekarang ayah mengutus aku untuk menggantikan Willy. Susah payah aku membujuk ayah, bilang kalau aku sudah lama tidak pegang pasien, dan lain-lain. Ayah tetap pada pendiriannya.



*


Aku masih memandangi jemari dan tanganku. Aku juga masih duduk di kursi panjang di ruang tunggu depan kamar operasi. Kugerak-kegerakan jemari-jemariku. Pintu ruang operasi terbuka, kulihat ayah keluar dengan mengenakan baju operasi sama sepertiku. Ayah mendekatiku. Kemudian ayah menepuk pelan punggungku. Sepersekian detik aku merasa lewat senduhan itu ada cairan gaib yang menjalar dari punggung hungga ujung jari tangan dan kakiku. Dalam diam ia berlalu dan pergi meninggalkanku.


Aku memandangi punggung ayah, punggung yang dulu aku lihat sangat tegap, kuat, kini sudah tidak lagi. Punggung itu lelah, dan jengah. Dan pipiku pun menghangat.


Sherry
plot/ seri 01/ eps.002: SHERRY/ post: #005. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/in-this-story-kolabton-nawalem-aku.html

7/18/10

#037: 1601

in this story: Sherry, Rasuna Adikara, Kolabton Nawalem, Prada Prameshwari, Langa Beng Otanga.

Semuanya terang. Terlalu terang hingga aku tak bisa membuka mata. Tapi lamat-lamat kudengar suara-suara disekitarku.

"Ini untuk yang kedua kalinya dia masuk ruang operasi. Ada apa lagi dengan dia?" seseorang menggerutu.

Ruang operasi? Untuk apa aku disini? Untuk yang kedua kalinya pula?

"Jahitan di leher rahim sepertinya membuka, kita akan mencoba menjahitnya lagi" sebuah suara lain yang simpatik terdengar di telingaku.

Jahitan? Leher rahim?? Apa yang terjadi denganku? Aku lantas mencoba mengingat-ngingat. Aku ingat tadi aku menuruni tangga apartemen karena lift rusak, aku ingat bagaimana Jeko menemaniku turun lalu Sherry, perempuan dugem datang menaiki tangga dan....ah aku jatuh, melihat darah, dan aku tidak tahu apa-apa lagi.

Jadi aku pendarahan? Lantas bagaimana dengan janinku? Bagaimana dengan calon anak-anakku? Apakah mereka selamat?

Sambil panik merasakan ini aku merasakan tangan-tangan menggerayangi tubuhku. Seseorang menempelkan sesuatu di dadaku. Di sebelah atas payudara kananku, orang lainnya menempelkan sesuatu di jariku. Meski bisa merasakan tekanan mereka aku tidak lagi merasa apapun. Aku hanya tahu mereka menekanku.

"Siapa yang mengoperasi? Dokter Willy lagi?" suara yang tadi menggerutu bertanya.
"Entahlah, tapi kudengar Dokter Willy sedang meminta bantuan temannya. Katanya ini kasus khusus. Mungkin karena operasi pertama gagal." ini suara yang lain lagi. suara perempuan

Ah, jadi sebenarnya berapa orang sih yang ada di sini? Aku mencoba berpikir. Membedakan suara-suara mereka.

"Kira-kira seberapa cepat dokternya datang?" ini si gerutu lagi bersuara.
"Entahlah, tapi kuharap sesegera mungkin. Pendarahannya harus segera dihentikan. Aku tak tega melihata suaminya yang menangis di ruang tunggu dari operasi pertama tadi. Sekarang kurasa ia masih menagis disana " ini si simpatik lagi

Hmm. Suami?? Mana mungkin suamiku kesini? Ah aku lupa. Aku sudah tak punya suami!

Pintu terdengar terbuka. Wangi yang familiar menyapa penciumanku. Wangi yang begitu manis dan terlalu familiar.

"Ini Dokter Sherry. Dia akan menjadi dokter operasi malam ini, saya akan menjadi asisten dokter. Meski bukan dokter indent saya harap tidak ada yang mempertanyakan kualitas dokter Sherry. Dia mengambil dua spesialisasi di Amerika dan lulus cum laude pada keduanya." suara bariton terdengar.

Dokter Sherry?? Mungkinkah Sherry yang itu?!

"Baiklah operasi kita mulai!" ini suara perempuan...mirip Sherry tetanggaku itu.

Aku merasakan sepasang tangan meraba-raba perut dan bagian bawahku.

"Usia kehamilan 18 Minggu, ibu memiliki pendarahan hebat karena terjatuh, dijahit tapi berdarah kembali" ini si bariton.
"Jahitannya terlepas. Ada yang tidak sempurna saat penjahitan pertama. Teknik Jahit seperti ini tidak akan cukup untuk menopang tiga janin sekaligus. Kita akan membuka kembali jahitan itu" ini suara Sherry. Tegas. dan entah bagaimana cukup menenangkan.

Aku lantas mendengar Sherry meminta alat-alat operasi. Gunting, jarum, benang.

"saya akan melakukan figure of eight suture atau teknik jahit angka delapan untuk menjahit leher rahim. Lapis dalam lapis karena luka cukup dalam. Air ketuban bagus dan janin dalam keadaan sehat."

Aku sangat tenang mendengar janin kembar tigaku sehat-sehat saja. Terserah pada Sherry mau seperti apa dia menjahit mulut rahimku. Yang penting janinku selamat.

Kres kres kres. Aku merasa tekanan-tekanan gerakan di bawah. Tapi hanya tekanan saa. Tidak ada sakit atau apapun.

"Ini jahitan terakhir. Ya! cervial cercleage selesai! Kondisi jantung ibu normal, Tekanan darah normal. Janin sehat. Pasien bisa dibawa ke ruang perawatan"

Dengan itu operasi selesai. Aku bisa merasakan orang-orang mulai membuka apa yang asalnya mereka letakkan di tubuhku. Membuka baju operasiku dan menggantinya dengan baju rumah sakit dengan pelan dan hati sebelum aku dipindahkan menuju ranjang berjalan. Begitu lampu yang sangat terang itu dimatikan, aku membuka mata. Beberapa perawat menoleh dan tersenyum menyadari aku sudah sadar. Atau setengah sadar karean aku belum merasakan dingin, panas atau rasa sakit yang seharusnya datang.

Saat pintu keluar operasi dibuka. Aku melihat Sherry, Jeko, Beng, Prada, Hippies depan kamar dan satu perempuan yang tadi kulihat di depan kamar Jeko. Sherry masih dengan baju operasinya. Aku hanya bisa tersenyum dan menggumamkan terimakasih sebelum mataku memberat. Aku ingin tidur.

Ziantine Larasati
plot/ seri 01/ eps.004: SI CALON JANIN/ post: #005. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/032-1602.html

7/17/10

#033: 1600

in this story: Ziantine Larasati, Rasuna Adikara, Langa Beng Otanga.

“Tururuu..tururururuu..rururuuu...” Suling mengalun lembut.. dan kapal bergoyang-goyang digoyang ombak... “Hah! dimana ini?!” teriakku keheranan tiba-tiba mendapati diri telentang di atas dek kapal. Kapal yang luas yang sedang mengarungi samudera yang besar.

Saya bangkit dan melihat ke ujung kapal “siapa lagi itu muda mudi memadu kasih membentuk salib menantang ombak” saya reflek memicingkan mata dan mencoba menghampiri. “srakk” oh sepatu Saya seperti ditahan sesuatu. Saya menengok ke bawah dan mendapati wanita berambut emas yang hanya terlihat kepala dan tangannya mengenggam erat pergelangan kaki Saya. “HOAAAAAA!!” Saya teriak bukan ngeri tapi kagum, lebih banyak mahluk aneh yang pernah saya temui.

“Kamu siapa? kok familiar y?” tanyaku pada wanita rambut emas kepala tangan itu. “Banyak yang bilang begitu, aku memang mirip Celine Dion, panggil aku CD,” jawabnya. “Oke lalu kenapa kaki saya kau tahan,” sahutku balik. “Aku temannya CJ, sebentar,” pungkasnya, dan tiba-tiba CD menggerakan tangannya seperti pesulap Damian dan mengambil secarik kertas dari udara, dan diberikan pada saya.

“HAI KOLAB MABRO, AKU SEKARANG DI RUMAH SAKIT SEKITAR 45 MENIT KE ARAH KIBLAT. TIDAK USAH KHAWATIR, JON DAN JEKO TADI YANG MENYELAMATKAN IBUKU DAN SAUDARAKU. AKU TADI SIANG TERPAKSA MEMINJAM TUBUHMU DARI PINGGANG KE ATAS UNTUK MENELEFON JON DAN MENERIMA TELFON DARI JEKO. MAAF JIKA MUNGKIN TADI KAMU TERBANGUN TERBALIK KARENA MENYEIMBANGKAN TUBUH YANG HANYA BAGIAN ATASMU SUNGGUH SULIT.


SALAM NARKOTIKA
CJ “

Kelar Saya baca memo itu dan “Buak!!” CD memukul saya dengan tangannya yang tiba-tiba memanjang. Semuanya kembali gelap. “Tururuu..tururururuu..rururuuu...” musik kembali mengalun dan Saya kembali membuka mata perlahan. Oh rupanya saya masih di lantai dasar apartemen, dan kaki saya masih terbelit tanaman hias. Musik masih mengalun dan “drttt..” Saku jeans kanan saya bergetar-getar, ternyata handphone saya yang berbunyi dari tadi. “siapa sih yang iseng mengganti nada telefon dan sms masuk hp saya dengan lagu Titanic?” gumam Saya sebal. Saya rogoh saku dan mengambil perlahan Hpnya, seluruh badan saya masih sakit, terutama kepala.

“Klik” Saya pencet nokia pisang yang merepotkan itu. Banyak misscall dari Jeko dan Jon. ada satu pesan juga dari Jon “Lab mana lo? katanya mau dateng ke RS, cepetan Jeko bingung tuh.” Saya masukkan kembali Hp Saya ke saku dan mencoba bangkit terseok-seok.

Baru saja saya bangkit, seketika saja pintu masuk apartemen terbuka dari luar. Seorang berwajah kaku dengan beberapa gulungan kertas sketsa masuk. “Beng! tau arah kiblat ga kemana?” Sapa sekaligus tanya saya. “Ya saya tau, ke arah sana, kamu si tetangga hippies kan?,” jawabnya sambil menunuuk arah kiblat. “hah? hippies? apaan tuh? iya saya Kolab tetangga depan kamar, sebelahnya Jeko,” jelas Saya.

“Ada apa? kepalamu kenapa bocor begitu?” tanyanya datar, seolah darah dan luka biasa baginya. “Ceritanya panjang, yang jelas sebaiknya kau temani saya ke rumah sakit ke arah kiblat, terjadi sesuatu terhadap C eh Zi!,” jawab saya terengah. “Hah?! Kenapa Zi!?” Beng mulai panik. “Kena kanker serviks kali, ayo ntar aja tanya jawabnya,” Ujarku sambil merangkul leher Beng dan mengajaknya mencari taksi untuk ke rumah sakit arah kiblat.

Kami pun tiba di rumah sakit. Beng yang membayar taksinya. “tengkyu Beng,” ujarku. Kami masih di depan rumah sakit. “Beng sori saya dah mau pingsan nih, malah udah pingsan tadi gara-gara tiga hari belum makan, beliin makan bentar dong Beng apa aja bungkusin, Saya harus cepet-cepet ketemu Jon ama Jeko nih,” sambungku sambil merukuk. “Oke nanti ku susul ke dalam,” Ujar Beng tanpa protes tapi Saya malah takut.

Di dalam ruang tunggu sudah ada Jon. “Thanx Jon,”ujarku sambil menepuk pundaknya dan duduk disebelah kanannya. Jon hanya mengacungkan jempolnya dan tersenyum. Tak lama datang Jeko yang mukanya mencair tersedu, ia terduduk pilu di sebelah kanan Saya. Saya beri tepukan di pundaknya dan berbisik “tenang, ceje tidak ikut mati, dia akan terus hidup bersamaku kok!.” Jeko si Don Juan tetap menangis. “Lagipula CJ kan tidak sendiri di perut ibunya, dia masih punya dua saudara lagi,” sambungku. “loh jadi Zi anaknya kembar 3??,” sambar Jon yang lebih tahu daripada Jeko. Jeko tidak peduli dan masih lanjut menangis, dan tiba-tiba.. aroma bakpau menyeruak, disusul adegan Beng yang sudah berlutut bersimbah keringat dengan muka yang sepertinya terkejut. Bahkan Beng sepertinya tidak sadar sudah menumpahkan tiga bakpau yang mungkin titipan saya itu.

“Beng kau kenapa?” tanyaku sambil menepuk pundaknya, dan menjadikan ia pria ketiga yang saya tepuk pundaknya hari ini. Beng diam, Saya kelaparan, Jeko menangis, Jon memungut Bakpau dan Zi kritis.

Kolatbon Nawalem
plot/ seri 01/ eps.004: SI CALON JANIN/ post: #005. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/032-1602.html

#032: 1602

in this story: Ziantine Larasati, Kolabton Nawalem


mataku terbelalak, sontak berteriak. andai kuat kubopong sendirian Ziantine ke lobi apartemen di lantai dasar, tak lama kemudian Wati datang. kami bopong Ziantine berdua, aku merogoh telepon genggamku dari saku. kutelpon siapa saja yang bisa kutelpon.

aku menyela setelah terdengar sapa, “SIAPAPUN INI, TOLONG CEPAT PANGGIL TAKSI KE L’APPARTEMANT!!!” suara di ujung telepon terdengar santai, mencoba menutupi kekikukannya, “woy, santey dong, butuh taksi doang nih lo, atau sekalian sama barangnya?” tanyanya setengah bercanda. oh, tidak, dari seribu nomor yang ada di telepon genggamku, kenapa harus nomor Kolabton Nawalem yang kupencet.

“PUNYA NOMOR TAKSI GAK, ZIANTINE JATUH, HARUS CEPAT DIANTER KE RUMAH SAKIT!” tanyaku panik. “santai kali sob, gak usah pake all-caps ngomongnya. gw udah tau kalau Ziantine jatoh, dari ceje, sekarang kenalan gw udah nunggu di bawah. nanti malam gw nyusul ke rumah sakit, biar nanti ceje yang kasih tau gw.”

aku tak pernah mengerti bagaimana keajaiban bekerja di tanah bumi, tapi di lobi apartemen, seorang supir taksi bernama Jon yang mengaku ditelepon Kolabton setengah jam yang lalu sudah menunggu untuk mengevakuasi Ziantine ke rumah sakit.

Wati aku bawa serta, pahanya bisa menjadi sandaran empuk bagi Ziantine yang aku yakin sekali, di tengah ketidaksadarannya pasti butuh berbaring. kabar baik menyapaku dengan cara-cara yang tak pernah aku mengerti, bagaimana Kolabton bisa mengetahui semua ini, ah lagi-lagi aku tidak peduli. yang kupedulikan sekarang adalah kabar buruknya, rumah sakit terdekat jaraknya bila ditempuh dengan waktu normal akan memakan waktu kurang lebih satu jam.

“tenang sob, di perjalanan, percayakan sama Jon,” sambil menyalakan mobil, sopir taksi itu meyakinkanku untuk tetap tenang. tapi bagaimana bisa ku tenang, bila tak lama kemudian ia menyalakan lintingan ganja dan sekuat tenaga memacu besi kuda.

tidak sampai tiga puluh menit aku memejamkan mata, Jon yang memacu kuda besi secepat cahaya telah mengantarkanku dengan selamat sentosa ke depan pintu gerbang sebuah rumah sakit kandungan. tapi tidak dengan Wati, kulihat ia telah hilang nyawanya sementara, baju cleaning servicenya dipenuhi muntahan yang sedikit banyak juga mengenai wajah Ziantine. aduh, malang nian nasib calon ibu muda ini.

akhirnya aku dan Jon yang mengangkat Ziantine ke tempat dalam rumah sakit. pihak rumah sakit yang sigap segera membawa Ziantine ke unit gawat darurat, aku dan Jon mengantar sampai ruangan yang tegang berima tersebut. petugas yang mengantar kami bertanya, “kenapa ini?” karena aku panik, Jon yang menjawab dengan detil apa yang terjadi pada kami di tangga lantai sembilan. “tadi Kolabton menceritakan padaku di telepon.” aku sudah tidak peduli lagi makhluk seperti apa Jon dan Kolabton ini, yang kupedulikan adalah bagaimana lekas menyelamatkan calon ibu muda yang malang ini dengan jabang bayinya.

dokter menunggu kami menunggu di ruang tunggu, kami juga diminta untuk melengkapi administrasi. aku harap Ziantine anak seorang jutawan, atau minimal dia punya asuransi kesehatan. sebab rumah sakit ini terkenal karena harganya lebih tinggi dari langit.

Jon katanya akan menunggu Kolabton di sini sampai malam, lagipula ia tidak lagi untuk menarik penumpang hari ini karena jok belakangnya sudah diisi seorang wanita tambun yang pingsan dan muntahannya. sambil membikin kopi, aku mengobrol ngalor-ngidul dengan Jon tentang Kolabton. satu ceritanya tentang Kolabton yang membuat bulu kudukku berdiri adalah, konon Kolabton punya indera keenam. setelah bercinta satu malam dengan wanita pojok yang satu, pojokan lainnya konon bisa melihat ‘sosok’, haduh, orang-orang macam apa yang menghuni lantai apartemenku.

tiba-tiba dokter datang membawa kabar buruk, “yang mana dari anda berdua suami Ziantine Larasati?” Jon dengan gesit menunjuk mukaku sebelum sempat ku menunjuk batang hidungnya. aku ragu untuk mengelak, antara kasihan dan takut disalahkan, dokter yang mengiraku suami Ziantine, membawaku ke sebuah ruangan, di mana satu pertanyaan darinya akan mengubahku menjadi seorang pembunuh, untuk selamanya.

“kondisi Bu Ziantine kritis, kemungkinannya selamat amat kecil bila kita memaksa untuk mempertahankan bayinya. sebagai suaminya, saya ingin menanyakan keputusan anda, karena waktunya tak lama lagi, bila Bu Ziantie tak segera di operasi, dua-duanya akan masuk liang lahat bersama. apakah anda masih ingin menyelamatkan anak anda, dengan mengorbankan istri anda?” tanya dokter begitu kejam.

meski nanti dokter tahu aku bukan suaminya, tapi ia sekarang tahu bahwa air mata yang keluar dari mataku ini adalah pantas dikeluarkan oleh setiap ayah yang akan kehilangan calon bayinya. meski nanti dokter tahu aku bukan suaminya, tugasku sekarang adalah menjadi suami pura-pura Ziantine, yang menentukan hidup dan mati Ziantine.

“selamatkan ibunya saja dok!” aku tahu, keputusanku menyelamatkan hidup Ziantine, belum tentu menyelamatkan sisa ‘hidup’ Ziantine. andai selamat nanti, tak seorang pun berani menjamin Ziantine akan berjalan seperti laiknya seorang zombie, as a dead man walking.

aku pulang dan menangis ke ruang tunggu di mana Jon dan Kolabton—yang baru saja tiba—menungguku di sana. ketika ku duduk, Kolabton mencoba menghibur dengan menepuk pundakku. ia berbisik padaku sambil sedikit tersenyum, “tenang, ceje tidak ikut mati, dia akan terus hidup bersamaku kok!”

aku, yang masih tidak mengerti, terus menerus menangis malam itu.

Rasuna Adikara
plot/ seri 01/ eps.004: SI CALON JANIN/ post: #005. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/030-1602.html

#030: 1602

in this story: Florisia Rainarki, Ziantine Larasati


"hahaha, tidak Rain, jelas aku hanya bercanda. tentu kau tidak menganggap serius ajakanku tadi kan? lanjutkan saja mandi, kau perlu menyegarkan dan memulihkan badan. lagipula aku tak mau seminggu ke depan harus mengerok punggungmu yang masuk angin,” aku tak menyangka Rain akan serius menanggapi ajakanku. ternyata dia benar-benar rindu hujan, rindu kakeknya. aku berhutang satu basah kuyup padanya.

membayar rasa bersalahku, kupinjamkan satu buah kaos dan flanel kotak-kotak tebal untuk menghangatkan badannya. “santai saja, nanti aku ambil sekalian main-main ke kamarmu,” ujarku sedikit genit, Rain pamit.

kesukaan Rain terhadap hujan mengingatkanku pada Diamant, sahabatku yang sungguh necis, kalian pasti tak akan menyangka bahwa dia sesungguhnya adalah tukang kayu. ia hanya butuh waktu sepuluh menit untuk mengganti kaki-kaki ranjang kayuku yang lapuk. “duk-duk-duk-duk” suara palu beradu dengan kayu justru membuatku malu. bagaimana kalau si ibu hamil yang tadi melihatku masuk dengan Diamant mengira itu suara ranjang yang digoyang cumbu. ah tenanglah, kuyakin ibu hamil itu bukan Cut Tari atau Ersa Mayori.

tapi kan kita tak boleh menilai seseorang dari sampulnya bukan? siapa yang duga sahabat tampanku yang necis ini adalah seorang tukang kayu, sama seperti seorang ibu-ibu yang kutemui dua hari lalu di angkutan umum, yang dari ujung kaki hingga kepala mengenakan barang-barang bermerk dan tampil begitu modis, siapa yang menyangka bila aksen medok Jawanya masih kental saat menerima telepon dari temannya. begitu pula dengan ibu hamil depan kamarku ini, tapi tentu aku tak mau terlalu peduli.

namanya Ziantine, dan aku tak pernah berani bertaruh apa benar ia hamil tanpa suami, atau bunting gara-gara jin. hari ini aku menyapanya untuk mengingatkan bahwa lift apartemen rusak. “lewat tangga saja, gak apa-apa kan?” ujarku sedikit khawatir dengan janin yang digembolnya. calon ibu muda itu tersenyum manis dan berkata tak apa.

aku akan menjadi orang yang paling merasa bersalah bila tiba-tiba terjadi sesuatu yang buruk terhadap Ziantine. maka lekas kuberingsut dari singgasanaku di ruang tunggu dan menyusulnya, sekalian cari tukang bubur, pikirku.

Ziantine tampak limbung dan lebih gendut ketika kudekati ia dari belakang, langsung ku sapa sambil berjaga-jaga, “kutemani saja ya, takut ada apa-apa.” perempuan itu menoleh dan menyengir kuda, “gak ada apa-apa juga aku mau kok tiap hari ditemani Mas Jeko!” ternyata ia adalah Wati, cleaning service apartemen ini yang sedang bertugas mengepel tangga.

aku menjembel gemas pipinya yang ranum sambil bergegas menyusul Ziantine, terdengar sayup suara Wati dari atas, “hati-hati Mas Jeko, licin lantainya!” untuk ukuran seseorang yang sedang mengandung, Ziantine bisa memecahkan rekor MURI untuk kategori ibu hamil yang menuruni tangga.

akhirnya aku bisa ‘menangkap’ Ziantine di lantai 13, menjaganya dengan kuda-kuda memapah sambil sesekali menemaninya mengobrol. kukatakan padanya bahwa jangan terlalu banyak bicara, lebih baik perhatikan anak tangga.

namun perhatian kami seketika terpecah dari aroma alkohol yang menguar saat menjejak di lantai 10, Sherry naik tangga dengan tergesa, kacau dan berkeringat, seksi. sempat-sempatnya ia membalas sapa Ziantine dengan ramah, dan kembali menatapku dengan pandangan marah. ia setengah berlari menaiki anak tangganya untuk mencapai bulan di kamarnya lantai 16.

ketika aku berbalik, kulihat Zi begitu limbung, hilang keseimbangan karena luput memijak sebuah anak tangga. begitu jelas, dalam adegan lambat yang tragis kulihat tubuhnya berguling-guling setelah tersungkur, dan melandas dengan keras di lantai sembilan. ku lihat darah mengalir di dua hilir pahanya, darah dari hulu selangkangan yang menjadi mulut janinnya.

Rasuna Adikara
plot/ seri 01/ eps.004: SI CALON JANIN/ post: #005. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/029-1606.html

7/9/10

#018: 1603

in this story: Ziantine Larasati

Air kran di wastafel aku biarkan mengucur perlahan. Bunyinya nyaring menendang alumunium di bawahnya. Aku menadahkan kedua tanganku mengambil air yang tidak terlalu dingin tersebut. Kepalaku turun sedikit dan air itu kutempiaskan ke wajahku. Segar. Aku berkaca. Agak acak-acakan memang tampilanku, terlebih lagi ditambah mata sembap.


Aku belum berganti pakaian. Hanya dompet dan kunci kamar yang aku bawa. Sarapan nasi kuning adalah tujuanku keluar sekalian menikmati Bandung pagi menjelang siang ini. Niatku ke Gasibu karena ada pasar rakyat di sana. Kenop pintu aku putar. Udara luar menyapaku. Kuhirup perlahan. Tiba-tiba ada suara "hoooeeekk" dari kamar depan. Berulang-ulang.

Aku takut terjadi apa-apa, maka aku ketuk pintu, tapi si penghuni kamar lebih fokus ke muntahnya. Aku buka pintunya yang ternyata tak dikunci, tapi aku tidak asal selonong boy. Aku kembali ke kamar dan mengambil tisu yang biasa untuk mengelap anak-anakku yang tak jadi. Di balik dinding, kulihat perempuan itu membungkuk di wastafel.


"Kamu nggak apa-apa?" tanyaku ke perempuan itu. Dia menoleh dengan tampang blo'on. Mungkin karena syok berpikir siapa aku yang main masuk-masuk saja tanpa bilang-bilang.

"Aku nggak apa-apa," jawabnya. Aneh betul. Jelas sekali dia muntah-muntah hebat. Aku juga terkadang seperti perempuan ini, namun berbeda. Aku batuk-batuk hebat. Bronkitis sialan!

"Sejak kapan muntah-muntah jadi hal yang wajar?" tanyaku rada bawel. Siapa sih aku? Asal bawel ke orang yang baru dikenal. Dia menjelaskan dirinya sedang hamil muda. Masih muda sudah hamil muda. Tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan lelaki di kamar ini. Jari manisnya pun tidak terlihat ada cincin tersemat. Ah, tapi apa peduliku.

Menyadari aku belum memberitahu namaku, aku memperkenalkan diri. "Aku Beng. Penghuni kamar 1603. Persis di depan kamar kamu," kataku. Kemudian dia memperkenalkan dirinya sebagai Ziantine Larasati. "Panggil aku Zi," ucapnya ramah, namun dengan sisa wajah sempoyongan.

Aku sudah terbiasa berkenalan tanpa bersalaman. Sekarang pun seperti itu. Namun itu bukan masalah bagiku karena aku sudah terbiasa berkenalan tanpa bersalaman. Terlalu formal menurutku.

Dan dengan ramahnya, Zi, yang tertangkap sedang memerhatikanku dari ujung rambut ke ujung kaki, menawarkan sarapan nasi goreng. Wah, baik juga ini orang. Sebenarnya aku mau makan nasi kuning tapi jangan menolak rejeki. Hehehe...

Sembari menunggunya masak sarapan, aku lihat-lihat ke jendela luar. Kok kayak ada suara jepretan kamera ya? Ada blitz-nya pula. Apa itu stalker? Ah ga tau lah. Lalu aku perhatikan lukisan abstrak yang tadi sudah aku lihat sebelumnya. Menarik sekali gambar itu: sebuah jam peyang yang jatuh seperti meteor di atas kota. Mirip karya Dali.

Bunyi piring berdenting. Aku menoleh. Rupanya sarapan telah siap. Nasi goreng dalam mangkuk, bukan piring. Unik sekali. Asap mengepul dari nasi goreng yang ada daging sapinya itu. Plus keju pula. Wow! Aku duduk dan mencoba menelan suapan pertama dari mangkok itu, tapi bunyi ceklik-ceklik di luar sana menggangguku. Aku memberi tahu Zi tentang apa yang kudengar. Dia tidak mendengarnya.

Ah sudahlah. Lebih baik kudahup saja makanan nikmat ini. Lebih baik diam saat makan. Sebab kalau tidak diam, makanan akan terasa hambar dan aku akan babak belur dipukuli. Seperti waktu kecil dulu.

Langa Beng Otanga
plot/ seri 01/ eps.003: BIBIT PSIKOPAT DI KEBUN SINGKONG/ post: #005. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/in-this-story-langa-beng-otanga-sudah.html