Lantai 16

Showing posts with label eps04. Show all posts
Showing posts with label eps04. Show all posts

7/21/10

#041: 1606

Kedatanganku ke rumah sakit ini bukan disengaja. Aku tak kenal dekat dengan calon Ibu itu. Baru sebatas tahu nama, dari perkenalan singkat kami di depan pintu 1602. Bahkan dengan dengan penghuni lainnya pun aku belum sempat menyapa satu-persatu . Penghuni pertama yang berinteraksi denganku adalah Sherry, perempuan bertubuh seksi dengan rambut coklat keemasan itu, saat aku nyaris hipotermia. Dan kemarin, aku berkenalan dan ngobrol panjang lebar dengan Rasuna. Hmm siapa itu nama panggilannya, aku lupa. Oya, Jeko. Sisanya, aku belum sempat bertemu atau bertegur sapa. Namun, kejadian seperti ini – bencana alam, kecelakaan di jalan raya, bahkan kecopetan pun – sering membuat kita mengabaikan hubungan personal dengan orang yang mengalaminya. Hubungan yang terjadi hanya satu: sebagai sesama manusia, yang masih punya rasa iba. Mahluk sosial.

Aku tahu bahwa Ziantine masuk rumah sakit saat seorang perempuan (lagi-lagi) cantik dan modis tak sengaja berpapasan denganku di tangga. Saat itu aku hendak naik ke lantai 16 sehabis membeli beberapa perabotan untuk di ruang baruku itu. Perempuan itu tergopoh-gopoh menuruni tangga, tubuhnya sempat menyenggol bahu kananku. Dan walhasil, membuat barang-barang yang ku bopong jatuh berhamburan di lantai.

“Maaf aku buru-buru,” ujarnya. Aku tersenyum. “Tak masalah,” ujarku singkat.
“Sebentar!” suaranya tiba-tiba menghentikan kegiatanku yang sedang memungut ember, gayung, bantal, dan peralatan rumah tangga lainnya.
“Ya, ada apa?”
“Kau penghuni baru di lantai 16 ya? Tetangga kita, Ziantine, si ibu hamil, masuk rumah sakit, katanya kritis, pendarahan. Oya dia di Rumah Sakit Hermina. Kau datang saja nanti ke UGD atau ke costumer servicenya. Aku tak tahu ia di rawat di bagian mana. Kau mau ikut ke sana?” Perempuan itu bicara dengan cepat dan detil.

“Ya. Ah tapi silakan kau duluan, aku nanti menyusul dengan taksi. Aku perlu taruh barang-barang ini ke kamarku dulu,”
“Okay, see u there,” ia melambaikan tangan.

*

Sayang, aku tak bisa membantu apa-apa. Ingin mengirimi Zi doa, tapi aku tak tahu harus memajatkan doa kepada siapa? Teringat perbincangan dengan temanku, saat diriku mulai masuk fase meragukan Tuhan.

“Lantas, jika aku putus asa dan aku tak bisa berbuat apa-apa, aku harus berdoa kepada siapa?”. Temanku hanya menjawab, doa itu sebagai bentuk pengharapan, kamu meletakkan harapan itu dan membiarkan harapan itu berjalan dengan sendirinya. Atau jika kamu menganggap doa adalah bagian dari spiritual, kau percayakan saja harapanmu itu mengalir melalui energi yang tak kasat mata, energi di luar kendalimu.

Ahh, sudahlah, pikiran flashback ini akan tambah membuat ku terdiam semakin lama. Setidaknya, kali ini aku menaruh doaku, harapanku kepada faktor eksternal dan internal di luar diriku. Yaitu, energi alam raya yang tak kasat mata dan dokter yang sedang melakukan operasi itu. Doaku, biarkan calon ibu itu selamat, biarkan dia tetap hidup, meski harus menelan pil pahit seumur hidupnya: kehilangan anaknya yang belum sempat ia timang.

Aku menghampiri Jeko. Mata dan hidungnya memerah, bekas menangis. Ahh ternyata pria ini punya empati yang luar biasa. Di samping Jeko, berdiri dua orang pria – yang aku tak tahu namanya itu – berusaha menenangkan Jeko. Tak jauh dari mereka, berada perempuan yang memberi tahu ku kabar buruk yang dialami Ziantine.

Di sela menunggu kabar terakhir Ziantine, perempuan itu tampak sibuk berkutat dengan notebooknya. Jemarinya menari lihai di atas tombol-tombol huruf notebook itu. Hmmhh tampaknya ia perempuan yang punya kerjaan padat, pikirku.

Meski kami belum mengenal satu sama lain, tapi aku yakin perasaan kami saat ini sama. Sama-sama mengharap agar Ziantine, selamat. Meski aku belum lihat satu batang hidung keluarga Ziantine atau suaminya, tapi aku merasa energi harapan di antara kami – para penghuni appartemant – cukup besar untuk keselamatan Zi.

Florisia Rainarki
plot/ seri 01/ eps.004: SI CALON JANIN/ post: #005. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/029-1606.html

7/18/10

#037: 1601

in this story: Sherry, Rasuna Adikara, Kolabton Nawalem, Prada Prameshwari, Langa Beng Otanga.

Semuanya terang. Terlalu terang hingga aku tak bisa membuka mata. Tapi lamat-lamat kudengar suara-suara disekitarku.

"Ini untuk yang kedua kalinya dia masuk ruang operasi. Ada apa lagi dengan dia?" seseorang menggerutu.

Ruang operasi? Untuk apa aku disini? Untuk yang kedua kalinya pula?

"Jahitan di leher rahim sepertinya membuka, kita akan mencoba menjahitnya lagi" sebuah suara lain yang simpatik terdengar di telingaku.

Jahitan? Leher rahim?? Apa yang terjadi denganku? Aku lantas mencoba mengingat-ngingat. Aku ingat tadi aku menuruni tangga apartemen karena lift rusak, aku ingat bagaimana Jeko menemaniku turun lalu Sherry, perempuan dugem datang menaiki tangga dan....ah aku jatuh, melihat darah, dan aku tidak tahu apa-apa lagi.

Jadi aku pendarahan? Lantas bagaimana dengan janinku? Bagaimana dengan calon anak-anakku? Apakah mereka selamat?

Sambil panik merasakan ini aku merasakan tangan-tangan menggerayangi tubuhku. Seseorang menempelkan sesuatu di dadaku. Di sebelah atas payudara kananku, orang lainnya menempelkan sesuatu di jariku. Meski bisa merasakan tekanan mereka aku tidak lagi merasa apapun. Aku hanya tahu mereka menekanku.

"Siapa yang mengoperasi? Dokter Willy lagi?" suara yang tadi menggerutu bertanya.
"Entahlah, tapi kudengar Dokter Willy sedang meminta bantuan temannya. Katanya ini kasus khusus. Mungkin karena operasi pertama gagal." ini suara yang lain lagi. suara perempuan

Ah, jadi sebenarnya berapa orang sih yang ada di sini? Aku mencoba berpikir. Membedakan suara-suara mereka.

"Kira-kira seberapa cepat dokternya datang?" ini si gerutu lagi bersuara.
"Entahlah, tapi kuharap sesegera mungkin. Pendarahannya harus segera dihentikan. Aku tak tega melihata suaminya yang menangis di ruang tunggu dari operasi pertama tadi. Sekarang kurasa ia masih menagis disana " ini si simpatik lagi

Hmm. Suami?? Mana mungkin suamiku kesini? Ah aku lupa. Aku sudah tak punya suami!

Pintu terdengar terbuka. Wangi yang familiar menyapa penciumanku. Wangi yang begitu manis dan terlalu familiar.

"Ini Dokter Sherry. Dia akan menjadi dokter operasi malam ini, saya akan menjadi asisten dokter. Meski bukan dokter indent saya harap tidak ada yang mempertanyakan kualitas dokter Sherry. Dia mengambil dua spesialisasi di Amerika dan lulus cum laude pada keduanya." suara bariton terdengar.

Dokter Sherry?? Mungkinkah Sherry yang itu?!

"Baiklah operasi kita mulai!" ini suara perempuan...mirip Sherry tetanggaku itu.

Aku merasakan sepasang tangan meraba-raba perut dan bagian bawahku.

"Usia kehamilan 18 Minggu, ibu memiliki pendarahan hebat karena terjatuh, dijahit tapi berdarah kembali" ini si bariton.
"Jahitannya terlepas. Ada yang tidak sempurna saat penjahitan pertama. Teknik Jahit seperti ini tidak akan cukup untuk menopang tiga janin sekaligus. Kita akan membuka kembali jahitan itu" ini suara Sherry. Tegas. dan entah bagaimana cukup menenangkan.

Aku lantas mendengar Sherry meminta alat-alat operasi. Gunting, jarum, benang.

"saya akan melakukan figure of eight suture atau teknik jahit angka delapan untuk menjahit leher rahim. Lapis dalam lapis karena luka cukup dalam. Air ketuban bagus dan janin dalam keadaan sehat."

Aku sangat tenang mendengar janin kembar tigaku sehat-sehat saja. Terserah pada Sherry mau seperti apa dia menjahit mulut rahimku. Yang penting janinku selamat.

Kres kres kres. Aku merasa tekanan-tekanan gerakan di bawah. Tapi hanya tekanan saa. Tidak ada sakit atau apapun.

"Ini jahitan terakhir. Ya! cervial cercleage selesai! Kondisi jantung ibu normal, Tekanan darah normal. Janin sehat. Pasien bisa dibawa ke ruang perawatan"

Dengan itu operasi selesai. Aku bisa merasakan orang-orang mulai membuka apa yang asalnya mereka letakkan di tubuhku. Membuka baju operasiku dan menggantinya dengan baju rumah sakit dengan pelan dan hati sebelum aku dipindahkan menuju ranjang berjalan. Begitu lampu yang sangat terang itu dimatikan, aku membuka mata. Beberapa perawat menoleh dan tersenyum menyadari aku sudah sadar. Atau setengah sadar karean aku belum merasakan dingin, panas atau rasa sakit yang seharusnya datang.

Saat pintu keluar operasi dibuka. Aku melihat Sherry, Jeko, Beng, Prada, Hippies depan kamar dan satu perempuan yang tadi kulihat di depan kamar Jeko. Sherry masih dengan baju operasinya. Aku hanya bisa tersenyum dan menggumamkan terimakasih sebelum mataku memberat. Aku ingin tidur.

Ziantine Larasati
plot/ seri 01/ eps.004: SI CALON JANIN/ post: #005. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/032-1602.html

#035: 1604

in this story: Rasuna Adikara, Kolabton Nawalem, Ziantine Larasati, Sherry.

Selesai juga tulisan tentang si Kanker Serviks ini. Lumayan, minggu ini deadline tidak seburu-buru biasanya. Inilah enaknya liputan ke luar kota, aku hanya perlu menyelesaikan beberapa tulisan dari satu isu. Peer tulisan untuk deadline minggu berikutnya pun diberikan kepada orang lain. Sayang, untuk satu edisi belum tentu ada liputan ke luar kota, dan kalaupun ada, dan belum tentu diberikan padaku.

Kuputuskan untuk print tulisan-tulisan tersebut dan akan kuberikan pada Sherry. Ya, Sherry, si gadis yang selalu wangi. Kehadirannya mudah sekali kukenali, bila ada wangi parfum--kadang tercampur bau alkohol--di pelataran apartemen ini, bisa dipastikan itu Sherry.

Nah, sudah ter-print semua. Matikan Toshi, ambil si LV, coat hitam--belakangan ini Bandung terlampau dingin, oh tak lupa si blackberry, mari keluar sekalian cari makan. *Ting, tong.. Ting, tong..* Hmm, mungkin Sherry belum pulang. Kuputuskan untuk menyelipkan kumpulan tulisan ini di bawah lantai pintu Sherry. Kuambil secarik kertas dan kutulis:

Untuk Sherry,

Maaf kalau aku lancang, tapi artikel-artikel ini mungkin berguna untuk kamu :)

Prada Prameshwari

Sudah. Mari cari makan!

*

Cihampelas Walk malam ini ramai sekali, bahkan terlalu ramai. Kuputuskan untuk makan malam di Gokana bersama teman baikku, Minna. All single ladies, all single ladies... Kulirik sedikit si blackberry sambil terus mengunyah Yakimeshi. Syamina Walendra Prameshwari alias Ibuku. Agak malas sebenarnya kujawab telepon si ibu. Paling-paling beliau beraksi lagi ala matchmaker sejati. Ya, inilah kerjaan ibuku baru-baru ini, jodoh-menjodoh ala jaman Siti Nurbaya. Keluargaku jawa asli, Yogyakarta lebih tepatnya. Ibuku keturunan asli Adipati Mangku Bumi. Sayangnya, si darah biru kerap membuatku terbelenggu, membeku. Apalagi kalau bukan masalah calon suami.

Usiaku baru menginjak angka 27 tahun ini, namun Ibuku sudah heboh sendiri mencari calon suami untukku. Memang tinggal aku yang belum menikah di antara 2 saudara tertuaku. Bukannya tidak laku, namun seperti yang aku bilang tadi, darah biru ini kerap membuatku membeku. Tidak bisa memilih sesuai dengan keinginanku. Permasalahannya terletak di suku adat si calon suami. Keluargaku, oh lebih tepatnya Ibuku, hanya mau menerima calon suami yang berasal dari keturunan kerajaan asli. Apalagi kalau bukan masalah gengsi. Bilangnya sih, demi menjaga silsilah. Ah, pikiranku terlalu liberal untuk itu. Makanya sampai saat ini aku memutuskan untuk menyibukkan diri daripada memikirkan si calon suami yang harus keturunan asli. Blah.

*Klik* Akhirnya kujawab juga telepon Ibuku.
"Kamu dimana mbak? Kok telepon Ibu lama sekali dijawabnya? Kamu lagi apa toh?"
imbuh Ibuku. "Lagi makan, bu. Ini sama Minna temanku. Ada apa, bu, telepon jam segini?"
"Ini Ibu baru pulang dari arisan Ibu-Ibu Dharma Wanita. Terus tadi Ibu dikenalkan sama keponakan Bu Timya. Ternyata dia juga orang Jogja loh mba! Blablablabla...." Sengaja kujauhkan telingaku kalau urusannya sudah begini. Hitung 10 detik, baru pasang kuping kembali, dan Ibuku pasti masih basa-basi. Ah mumpung ada Minna, jadi dia bisa kujadikan alasan untuk menyudahi percakapan ini.
"Ibu, Ibu, (aku harus memanggil beberapa kali sampai akhirnya Ibuku berhenti berbicara sendiri), Ibu, ini aku lagi makan loh sama Minna. Gak enak terima telepon di depan orang begini. Ibu telepon saja nanti lagi ya?" ujarku memotong kalimat panjang si Ibu. "Oh begitu? Yasudah. Nanti Ibu telpon lagi ya, mbak. Ini anaknya baik sekali loh. Tadi saja Ibu diantar pulang ke rumah." imbuh Ibuku tetap promosi. "Iya, bu. Sudah ya. Selamat malam Ibu, salam sama Bapak yaa."

Akhirnya. "Barang baru lagi ya?" ledek Minna sambil tertawa. "Ah sial kamu, udah ah." ujarku sambil agak cemberut.

Selesai makan kuputuskan untuk membelikan Jeko makanan, beli J.Co aja kali ya? Tatitutatitut. Tuuutt. Tuuttt. Kuputuskan untuk menelepon Jeko terlebih dahulu, barangkali dia tidak pulang malam ini.
"Halo, Jeko? Aku lagi di Ciwalk nih, kamu pulang ga malem ini? Aku mau belikan J.Co kesukaanmu." Terdengar sesenggukan di ujung sana. Aku panik. "Jeko? Jeko? Kamu ga papa??" Tiba-tiba ada yang berbicara, bukan suara Jeko. "Halo, mba Prada ya? Saya Jon, supir taksi. Saya juga pernah nganter mba kok."

"Loh supir taksi? Emang Jeko lagi dimana?? Jeko ga papa??" ujarku makin panik. "Tenang mba, Jeko ga kenapa-napa. Ini kita lagi di rumah sakit, mba Ziantine tadi terjatuh dari tangga. Pendarahan. Ini saya juga lagi nunggu si Kolab, katanya mau kesini juga." tutur Jon.

"Hahh???? Zi jatuh?? Astaga! Yaudah saya langsung ke sana juga! Rumah sakit mana sih?" Selesai Jon menyebutkan nama rumah sakit tempat Zi dan Jeko berada, aku memutuskan langsung bergegas ke J.Co untuk memesan. "Dua lusin, mas! Cepat ya! Campur aja semuanya! Oh, Alcaponenya yg banyak ya!"

Aku pun berpamitan dengan Minna dan bergegas menaiki taksi di depan Mall ini. "Ke Hermina pak! Ngebut ya!"
Untung si supir taksi cukup lihai. Tidak sampai sepuluh menit, aku sudah sampai di rumah sakit bersalin ini. Akupun bergegas ke UGD. Mungkin masih pada disana, pikirku. Dan benarlah, kutemukan Jon si supir taksi, Kolab si hippies, Beng si misterius, dan Jeko yang tertunduk masih menangis.

Kulihat pintu UGD, lampu merahnya masih menyala.
Semoga Zi tidak apa-apa.

Prada Prameshwari
plot/ seri 01/ eps.004: SI CALON JANIN/ post: #004. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/026-1604.html

7/17/10

#033: 1600

in this story: Ziantine Larasati, Rasuna Adikara, Langa Beng Otanga.

“Tururuu..tururururuu..rururuuu...” Suling mengalun lembut.. dan kapal bergoyang-goyang digoyang ombak... “Hah! dimana ini?!” teriakku keheranan tiba-tiba mendapati diri telentang di atas dek kapal. Kapal yang luas yang sedang mengarungi samudera yang besar.

Saya bangkit dan melihat ke ujung kapal “siapa lagi itu muda mudi memadu kasih membentuk salib menantang ombak” saya reflek memicingkan mata dan mencoba menghampiri. “srakk” oh sepatu Saya seperti ditahan sesuatu. Saya menengok ke bawah dan mendapati wanita berambut emas yang hanya terlihat kepala dan tangannya mengenggam erat pergelangan kaki Saya. “HOAAAAAA!!” Saya teriak bukan ngeri tapi kagum, lebih banyak mahluk aneh yang pernah saya temui.

“Kamu siapa? kok familiar y?” tanyaku pada wanita rambut emas kepala tangan itu. “Banyak yang bilang begitu, aku memang mirip Celine Dion, panggil aku CD,” jawabnya. “Oke lalu kenapa kaki saya kau tahan,” sahutku balik. “Aku temannya CJ, sebentar,” pungkasnya, dan tiba-tiba CD menggerakan tangannya seperti pesulap Damian dan mengambil secarik kertas dari udara, dan diberikan pada saya.

“HAI KOLAB MABRO, AKU SEKARANG DI RUMAH SAKIT SEKITAR 45 MENIT KE ARAH KIBLAT. TIDAK USAH KHAWATIR, JON DAN JEKO TADI YANG MENYELAMATKAN IBUKU DAN SAUDARAKU. AKU TADI SIANG TERPAKSA MEMINJAM TUBUHMU DARI PINGGANG KE ATAS UNTUK MENELEFON JON DAN MENERIMA TELFON DARI JEKO. MAAF JIKA MUNGKIN TADI KAMU TERBANGUN TERBALIK KARENA MENYEIMBANGKAN TUBUH YANG HANYA BAGIAN ATASMU SUNGGUH SULIT.


SALAM NARKOTIKA
CJ “

Kelar Saya baca memo itu dan “Buak!!” CD memukul saya dengan tangannya yang tiba-tiba memanjang. Semuanya kembali gelap. “Tururuu..tururururuu..rururuuu...” musik kembali mengalun dan Saya kembali membuka mata perlahan. Oh rupanya saya masih di lantai dasar apartemen, dan kaki saya masih terbelit tanaman hias. Musik masih mengalun dan “drttt..” Saku jeans kanan saya bergetar-getar, ternyata handphone saya yang berbunyi dari tadi. “siapa sih yang iseng mengganti nada telefon dan sms masuk hp saya dengan lagu Titanic?” gumam Saya sebal. Saya rogoh saku dan mengambil perlahan Hpnya, seluruh badan saya masih sakit, terutama kepala.

“Klik” Saya pencet nokia pisang yang merepotkan itu. Banyak misscall dari Jeko dan Jon. ada satu pesan juga dari Jon “Lab mana lo? katanya mau dateng ke RS, cepetan Jeko bingung tuh.” Saya masukkan kembali Hp Saya ke saku dan mencoba bangkit terseok-seok.

Baru saja saya bangkit, seketika saja pintu masuk apartemen terbuka dari luar. Seorang berwajah kaku dengan beberapa gulungan kertas sketsa masuk. “Beng! tau arah kiblat ga kemana?” Sapa sekaligus tanya saya. “Ya saya tau, ke arah sana, kamu si tetangga hippies kan?,” jawabnya sambil menunuuk arah kiblat. “hah? hippies? apaan tuh? iya saya Kolab tetangga depan kamar, sebelahnya Jeko,” jelas Saya.

“Ada apa? kepalamu kenapa bocor begitu?” tanyanya datar, seolah darah dan luka biasa baginya. “Ceritanya panjang, yang jelas sebaiknya kau temani saya ke rumah sakit ke arah kiblat, terjadi sesuatu terhadap C eh Zi!,” jawab saya terengah. “Hah?! Kenapa Zi!?” Beng mulai panik. “Kena kanker serviks kali, ayo ntar aja tanya jawabnya,” Ujarku sambil merangkul leher Beng dan mengajaknya mencari taksi untuk ke rumah sakit arah kiblat.

Kami pun tiba di rumah sakit. Beng yang membayar taksinya. “tengkyu Beng,” ujarku. Kami masih di depan rumah sakit. “Beng sori saya dah mau pingsan nih, malah udah pingsan tadi gara-gara tiga hari belum makan, beliin makan bentar dong Beng apa aja bungkusin, Saya harus cepet-cepet ketemu Jon ama Jeko nih,” sambungku sambil merukuk. “Oke nanti ku susul ke dalam,” Ujar Beng tanpa protes tapi Saya malah takut.

Di dalam ruang tunggu sudah ada Jon. “Thanx Jon,”ujarku sambil menepuk pundaknya dan duduk disebelah kanannya. Jon hanya mengacungkan jempolnya dan tersenyum. Tak lama datang Jeko yang mukanya mencair tersedu, ia terduduk pilu di sebelah kanan Saya. Saya beri tepukan di pundaknya dan berbisik “tenang, ceje tidak ikut mati, dia akan terus hidup bersamaku kok!.” Jeko si Don Juan tetap menangis. “Lagipula CJ kan tidak sendiri di perut ibunya, dia masih punya dua saudara lagi,” sambungku. “loh jadi Zi anaknya kembar 3??,” sambar Jon yang lebih tahu daripada Jeko. Jeko tidak peduli dan masih lanjut menangis, dan tiba-tiba.. aroma bakpau menyeruak, disusul adegan Beng yang sudah berlutut bersimbah keringat dengan muka yang sepertinya terkejut. Bahkan Beng sepertinya tidak sadar sudah menumpahkan tiga bakpau yang mungkin titipan saya itu.

“Beng kau kenapa?” tanyaku sambil menepuk pundaknya, dan menjadikan ia pria ketiga yang saya tepuk pundaknya hari ini. Beng diam, Saya kelaparan, Jeko menangis, Jon memungut Bakpau dan Zi kritis.

Kolatbon Nawalem
plot/ seri 01/ eps.004: SI CALON JANIN/ post: #005. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/032-1602.html

#032: 1602

in this story: Ziantine Larasati, Kolabton Nawalem


mataku terbelalak, sontak berteriak. andai kuat kubopong sendirian Ziantine ke lobi apartemen di lantai dasar, tak lama kemudian Wati datang. kami bopong Ziantine berdua, aku merogoh telepon genggamku dari saku. kutelpon siapa saja yang bisa kutelpon.

aku menyela setelah terdengar sapa, “SIAPAPUN INI, TOLONG CEPAT PANGGIL TAKSI KE L’APPARTEMANT!!!” suara di ujung telepon terdengar santai, mencoba menutupi kekikukannya, “woy, santey dong, butuh taksi doang nih lo, atau sekalian sama barangnya?” tanyanya setengah bercanda. oh, tidak, dari seribu nomor yang ada di telepon genggamku, kenapa harus nomor Kolabton Nawalem yang kupencet.

“PUNYA NOMOR TAKSI GAK, ZIANTINE JATUH, HARUS CEPAT DIANTER KE RUMAH SAKIT!” tanyaku panik. “santai kali sob, gak usah pake all-caps ngomongnya. gw udah tau kalau Ziantine jatoh, dari ceje, sekarang kenalan gw udah nunggu di bawah. nanti malam gw nyusul ke rumah sakit, biar nanti ceje yang kasih tau gw.”

aku tak pernah mengerti bagaimana keajaiban bekerja di tanah bumi, tapi di lobi apartemen, seorang supir taksi bernama Jon yang mengaku ditelepon Kolabton setengah jam yang lalu sudah menunggu untuk mengevakuasi Ziantine ke rumah sakit.

Wati aku bawa serta, pahanya bisa menjadi sandaran empuk bagi Ziantine yang aku yakin sekali, di tengah ketidaksadarannya pasti butuh berbaring. kabar baik menyapaku dengan cara-cara yang tak pernah aku mengerti, bagaimana Kolabton bisa mengetahui semua ini, ah lagi-lagi aku tidak peduli. yang kupedulikan sekarang adalah kabar buruknya, rumah sakit terdekat jaraknya bila ditempuh dengan waktu normal akan memakan waktu kurang lebih satu jam.

“tenang sob, di perjalanan, percayakan sama Jon,” sambil menyalakan mobil, sopir taksi itu meyakinkanku untuk tetap tenang. tapi bagaimana bisa ku tenang, bila tak lama kemudian ia menyalakan lintingan ganja dan sekuat tenaga memacu besi kuda.

tidak sampai tiga puluh menit aku memejamkan mata, Jon yang memacu kuda besi secepat cahaya telah mengantarkanku dengan selamat sentosa ke depan pintu gerbang sebuah rumah sakit kandungan. tapi tidak dengan Wati, kulihat ia telah hilang nyawanya sementara, baju cleaning servicenya dipenuhi muntahan yang sedikit banyak juga mengenai wajah Ziantine. aduh, malang nian nasib calon ibu muda ini.

akhirnya aku dan Jon yang mengangkat Ziantine ke tempat dalam rumah sakit. pihak rumah sakit yang sigap segera membawa Ziantine ke unit gawat darurat, aku dan Jon mengantar sampai ruangan yang tegang berima tersebut. petugas yang mengantar kami bertanya, “kenapa ini?” karena aku panik, Jon yang menjawab dengan detil apa yang terjadi pada kami di tangga lantai sembilan. “tadi Kolabton menceritakan padaku di telepon.” aku sudah tidak peduli lagi makhluk seperti apa Jon dan Kolabton ini, yang kupedulikan adalah bagaimana lekas menyelamatkan calon ibu muda yang malang ini dengan jabang bayinya.

dokter menunggu kami menunggu di ruang tunggu, kami juga diminta untuk melengkapi administrasi. aku harap Ziantine anak seorang jutawan, atau minimal dia punya asuransi kesehatan. sebab rumah sakit ini terkenal karena harganya lebih tinggi dari langit.

Jon katanya akan menunggu Kolabton di sini sampai malam, lagipula ia tidak lagi untuk menarik penumpang hari ini karena jok belakangnya sudah diisi seorang wanita tambun yang pingsan dan muntahannya. sambil membikin kopi, aku mengobrol ngalor-ngidul dengan Jon tentang Kolabton. satu ceritanya tentang Kolabton yang membuat bulu kudukku berdiri adalah, konon Kolabton punya indera keenam. setelah bercinta satu malam dengan wanita pojok yang satu, pojokan lainnya konon bisa melihat ‘sosok’, haduh, orang-orang macam apa yang menghuni lantai apartemenku.

tiba-tiba dokter datang membawa kabar buruk, “yang mana dari anda berdua suami Ziantine Larasati?” Jon dengan gesit menunjuk mukaku sebelum sempat ku menunjuk batang hidungnya. aku ragu untuk mengelak, antara kasihan dan takut disalahkan, dokter yang mengiraku suami Ziantine, membawaku ke sebuah ruangan, di mana satu pertanyaan darinya akan mengubahku menjadi seorang pembunuh, untuk selamanya.

“kondisi Bu Ziantine kritis, kemungkinannya selamat amat kecil bila kita memaksa untuk mempertahankan bayinya. sebagai suaminya, saya ingin menanyakan keputusan anda, karena waktunya tak lama lagi, bila Bu Ziantie tak segera di operasi, dua-duanya akan masuk liang lahat bersama. apakah anda masih ingin menyelamatkan anak anda, dengan mengorbankan istri anda?” tanya dokter begitu kejam.

meski nanti dokter tahu aku bukan suaminya, tapi ia sekarang tahu bahwa air mata yang keluar dari mataku ini adalah pantas dikeluarkan oleh setiap ayah yang akan kehilangan calon bayinya. meski nanti dokter tahu aku bukan suaminya, tugasku sekarang adalah menjadi suami pura-pura Ziantine, yang menentukan hidup dan mati Ziantine.

“selamatkan ibunya saja dok!” aku tahu, keputusanku menyelamatkan hidup Ziantine, belum tentu menyelamatkan sisa ‘hidup’ Ziantine. andai selamat nanti, tak seorang pun berani menjamin Ziantine akan berjalan seperti laiknya seorang zombie, as a dead man walking.

aku pulang dan menangis ke ruang tunggu di mana Jon dan Kolabton—yang baru saja tiba—menungguku di sana. ketika ku duduk, Kolabton mencoba menghibur dengan menepuk pundakku. ia berbisik padaku sambil sedikit tersenyum, “tenang, ceje tidak ikut mati, dia akan terus hidup bersamaku kok!”

aku, yang masih tidak mengerti, terus menerus menangis malam itu.

Rasuna Adikara
plot/ seri 01/ eps.004: SI CALON JANIN/ post: #005. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/030-1602.html

#031: 1600

ႡoɐɐႡႡ˙˙˙ ʎɐʞ ɐɯdnu ʇ!ɐd qɐuƃnu ʇ!pnɹ sәɹɐsɐ sәƃɐɹ sәʞɐႨ!ƃns dns!uƃ ˙ ႨoႡ¿ ɐpɐ ɐdɐ !u!¿ ʞәuɐdɐ sәɯnɐuʎɐ ʇәɹqɐႨ!ʞ¿ oႡ ʇәɹuʎɐʇɐ ɔnɯɐ sɐʎɐ ʎɐuƃ ʇ!pnɹ ʇәɹqɐႨ!ʞ

Hap! krakk! saya turunkan kaki dari sandaran sofa dan membenahi otot leher yang semalaman menyentuh lantai. Entah apa yang terjadi semalam sampai saya tidur di sofa, tidak biasanya. Apalagi dengan posisi terbalik kaki di sandaran sofa dan kepala menyentuh lantai. Jadi ingat lagu peterpan yang judulnya saya rasa 69 *pikiranku..tak bisa kumengerti..kaki di kepala.. kepala di kaki..

“Jam berapa sekarang ya? baru gelap rasanya,” ujar saya sambil menengok jam raksasa yang tertanam di atap kamar saya. Jarum yang panjang di angka 11, dan yang pendek di 7, masih dua jam sebelum jam kerja rupanya. “krrrrrrr..” perut saya berujar lapar. Gawat saya baru ingat sepertinya sudah tiga setengah hari tidak makan.

Saya bangun dari sofa perlahan. Melihat sekeliling kamar mencari Ricardo, siapa tahu nanti saya mood untuk kerja. Saya melangkah menuju pintu yang selalu terbuka itu untuk keluar kamar dan apa itu ada cat bercorak sidik jari menempel di pinggir pintu geser kamar saya. Oh sepertinya Beng tadi melongok kesini, untung saya masih hidup. Saya masih ingat CJ pernah bercerita, Beng mungkin teman yang cocok untuk saya, tapi sedikit berbahaya dan beresiko.

“Ah tidak peduli saya masih ada teman sepermainan ahaha..” ujarku sambil menepuk Ricardo dan menoleh kebelakang melirik Malin.

Baru dua langkah keluar kamar saya langsung mengerenyitkan bibir dan hidung “sniff sniff..” bau muntahan manusia sedikit tercium. sepertinya ada yang muntah tadi pagi, pastilah Zi ibu si CJ itu. Kapan ya CJ benar-benar hadir ke dunia ini, pikir saya.

Baru berjalan satu langkah, saya terhenti lagi melihat lantai lorong yang sepertinya bekas basah dan kotor tapi sudah agak mengering. Pasti tadi ada hujan. Banyak jejak alas kaki lalu lalang tetangga sepertinya. Semua jejak alas kaki ini saya kenal, kecuali satu.

Penasaran saya pun merunduk sampai salah satu dengkul saya menyentuh lantai. “Jejak sepatu atau sandal siapa ini? bentuknya kecil seperti punya perempuan dan coraknya kotak-kotak,” bisik saya pada diri sendiri sembari memperhatikan jejaknya yang berakhir di pintu terujung lorong di kamar kosong! “Hah?? setan dong??,” ujar saya pelan. Oh pasti penghuni baru. “Tanya-tanya CJ ah nanti malam..” ujar saya pelan lagi.

“Hah liftnya pasti sedang rusak,” celetuk saya ketika sekejap melihat banyak sekali jejak kotor yang mengarah dan meninggalkan tangga. Waw hari ini saya merasa seperti detektif. Beberapa langkah kemudian, “Gawat!!” saya teriak secara tiba-tiba dengan kedua tangan memegang kepala. Saya langsung panik. Bukan karena lift yang rusak atau Beng yang melongok ke kamar saya. Tapi saya baru sadar ini adalah hari dimana saya mendapatkan nama saya! dimana insting dan firasat saya akan menajam lebih tajam dari detektif manapun! dan anehnya disusul dengan rasa benci dan alergi luar biasa terhadap musik!

Tapi sebentar, kataku dalam hati, mungkin saja hari seperti itu tidak akan pernah datang lagi, karena tahun lalu saya tak mengalaminya. Baiklah akan kubuktikan dengan memencet tombol liftnya, belum tentu analisa saya benar. Saya berjalan menuju pintu lift dan “ Klek.. Klek! Klek! Klek! Klek! Klek! Klek!!!” berulang kali tombol lift saya pencet dan tidak menyala. “Sial lifnya benar-benar rusak! insting dan analisa saya benar!! Hari aneh ini benar-benar datang!” teriak saya.

“Drap drap drap drap...” terengah-engah saya berlari kembali menuju kamar untuk menyimpan Ricardo dan semua alat musik saya yang belum saya ceritakan kepada orang-orang. Ya saya harus menyelamatkan Ricardo dan yang lainnya.

Dulu 3 tahun yang lalu, Diablo (gitar sebelum Ricardo) hancur berantakan saya adu dengan kepala pelacur yang lewat sambil bersiul ketika hari ini datang. Di hari aneh dimana saya mendapatkan nama saya ini, ketajaman insting detektif saya memang agak menguntungkan, tapi kebencian dan alergi musik yang muncul tidak sama sekali. Tikus mencicit pun bisa saya gigit kepalanya, tapi tidak sampai dikunyah.

“Ceklik,” Oke semua alat musik sudah beres terkunci di lemari. Ternyata ada untungnya juga, kamar jadi sedikit rapi. Bagaimanapun juga saya kelaparan dan harus cari makan di hari yang aneh ini.

Kembali ke lorong apartemen, melalui lobi lantai ini dan melihat Tv menyala. Oh pasti tadi si Jeko lagi yang nonton di sini. Saya hafal betul cetakan pantatnya di sofa hitam ini. Saya biarkan Tv menyala dan menuruni tangga. Kembali hidung dan bibir saya mengerenyit. “Kenapa ada bau darah di tangga ini, dan baunya semakin menyengat,” gerutu saya kelaparan. Tidak lama terlihat bercak darah tangga menuju lantai 9.

Karena jiwa detektif saya di hari itu bangkit, saya berhenti, merunduk, menyentuh bercak darah dengan jari tengah saya dan menciumnya kemudian menjilatnya. “Hmm.. siapa ya? rasa dan aroma darah ini sepertinya akrab, tapi yang jelas bukan darah kakek” ujarku dalam hati tapi tetap terdengar seperti di sinetron. “Ini CJ!! ya ini CJ!!” teriak saya di tangga. “Wah gawat Zi tadi pasti terjatuh di sini dan pendarahan!!” Saya teriak mengambil simpulan dan panik.

Waduh?! bagaimana nasib CJ y? bisa-bisa tadi malam adalah obrolan terakhir saya dengan dia, pikir saya kebingungan sambil berlari kencang menuruni tangga untuk mencari tahu keadaan Zi dengan maksud mencari tahu keadaan CJ.

“Hosh hosshh..hoshh...” napas saya terengah-engah, dan ternyata di lantai bawah tidak ada seorang pun yang bisa ditanyai.”Pada kemana lo woi!!” teriak saya. Saya benar-benar ingin tahu keadaan CJ sekarang, Saya kembali berlari dan brukk!! pipi saya sudah menyentuh lantai. Cairan hangat mengalir di pipi saya, sepertinya bukan iler, karena kental dan hitam. Pasti kepala Saya membentur sesuatu dan bocor.

Saya mencoba bangkit dan Bruagg!! malah kembali terjatuh di tumpukan tanaman hiasan. Oh tidak sepertinya saya terlalu lapar dan haus, terlalu lemas..Fisik saya memang tidak pernah bisa diandalkan selain untuk menggendong Ricardo dan Malin. Perlahan semuanya gelap.. dan banyak wajah bermunculan.. entah saya pingsan atau tertidur lagi. Padahal saya baru bangun tidur.

Kolabton Nawalem
plot/ seri 01/ eps.004: SI CALON JANIN/ post: #004. prev post:

#030: 1602

in this story: Florisia Rainarki, Ziantine Larasati


"hahaha, tidak Rain, jelas aku hanya bercanda. tentu kau tidak menganggap serius ajakanku tadi kan? lanjutkan saja mandi, kau perlu menyegarkan dan memulihkan badan. lagipula aku tak mau seminggu ke depan harus mengerok punggungmu yang masuk angin,” aku tak menyangka Rain akan serius menanggapi ajakanku. ternyata dia benar-benar rindu hujan, rindu kakeknya. aku berhutang satu basah kuyup padanya.

membayar rasa bersalahku, kupinjamkan satu buah kaos dan flanel kotak-kotak tebal untuk menghangatkan badannya. “santai saja, nanti aku ambil sekalian main-main ke kamarmu,” ujarku sedikit genit, Rain pamit.

kesukaan Rain terhadap hujan mengingatkanku pada Diamant, sahabatku yang sungguh necis, kalian pasti tak akan menyangka bahwa dia sesungguhnya adalah tukang kayu. ia hanya butuh waktu sepuluh menit untuk mengganti kaki-kaki ranjang kayuku yang lapuk. “duk-duk-duk-duk” suara palu beradu dengan kayu justru membuatku malu. bagaimana kalau si ibu hamil yang tadi melihatku masuk dengan Diamant mengira itu suara ranjang yang digoyang cumbu. ah tenanglah, kuyakin ibu hamil itu bukan Cut Tari atau Ersa Mayori.

tapi kan kita tak boleh menilai seseorang dari sampulnya bukan? siapa yang duga sahabat tampanku yang necis ini adalah seorang tukang kayu, sama seperti seorang ibu-ibu yang kutemui dua hari lalu di angkutan umum, yang dari ujung kaki hingga kepala mengenakan barang-barang bermerk dan tampil begitu modis, siapa yang menyangka bila aksen medok Jawanya masih kental saat menerima telepon dari temannya. begitu pula dengan ibu hamil depan kamarku ini, tapi tentu aku tak mau terlalu peduli.

namanya Ziantine, dan aku tak pernah berani bertaruh apa benar ia hamil tanpa suami, atau bunting gara-gara jin. hari ini aku menyapanya untuk mengingatkan bahwa lift apartemen rusak. “lewat tangga saja, gak apa-apa kan?” ujarku sedikit khawatir dengan janin yang digembolnya. calon ibu muda itu tersenyum manis dan berkata tak apa.

aku akan menjadi orang yang paling merasa bersalah bila tiba-tiba terjadi sesuatu yang buruk terhadap Ziantine. maka lekas kuberingsut dari singgasanaku di ruang tunggu dan menyusulnya, sekalian cari tukang bubur, pikirku.

Ziantine tampak limbung dan lebih gendut ketika kudekati ia dari belakang, langsung ku sapa sambil berjaga-jaga, “kutemani saja ya, takut ada apa-apa.” perempuan itu menoleh dan menyengir kuda, “gak ada apa-apa juga aku mau kok tiap hari ditemani Mas Jeko!” ternyata ia adalah Wati, cleaning service apartemen ini yang sedang bertugas mengepel tangga.

aku menjembel gemas pipinya yang ranum sambil bergegas menyusul Ziantine, terdengar sayup suara Wati dari atas, “hati-hati Mas Jeko, licin lantainya!” untuk ukuran seseorang yang sedang mengandung, Ziantine bisa memecahkan rekor MURI untuk kategori ibu hamil yang menuruni tangga.

akhirnya aku bisa ‘menangkap’ Ziantine di lantai 13, menjaganya dengan kuda-kuda memapah sambil sesekali menemaninya mengobrol. kukatakan padanya bahwa jangan terlalu banyak bicara, lebih baik perhatikan anak tangga.

namun perhatian kami seketika terpecah dari aroma alkohol yang menguar saat menjejak di lantai 10, Sherry naik tangga dengan tergesa, kacau dan berkeringat, seksi. sempat-sempatnya ia membalas sapa Ziantine dengan ramah, dan kembali menatapku dengan pandangan marah. ia setengah berlari menaiki anak tangganya untuk mencapai bulan di kamarnya lantai 16.

ketika aku berbalik, kulihat Zi begitu limbung, hilang keseimbangan karena luput memijak sebuah anak tangga. begitu jelas, dalam adegan lambat yang tragis kulihat tubuhnya berguling-guling setelah tersungkur, dan melandas dengan keras di lantai sembilan. ku lihat darah mengalir di dua hilir pahanya, darah dari hulu selangkangan yang menjadi mulut janinnya.

Rasuna Adikara
plot/ seri 01/ eps.004: SI CALON JANIN/ post: #005. prev post: http://appartemant16.blogspot.com/2010/07/029-1606.html