Lantai 16

7/17/10

#031: 1600

ႡoɐɐႡႡ˙˙˙ ʎɐʞ ɐɯdnu ʇ!ɐd qɐuƃnu ʇ!pnɹ sәɹɐsɐ sәƃɐɹ sәʞɐႨ!ƃns dns!uƃ ˙ ႨoႡ¿ ɐpɐ ɐdɐ !u!¿ ʞәuɐdɐ sәɯnɐuʎɐ ʇәɹqɐႨ!ʞ¿ oႡ ʇәɹuʎɐʇɐ ɔnɯɐ sɐʎɐ ʎɐuƃ ʇ!pnɹ ʇәɹqɐႨ!ʞ

Hap! krakk! saya turunkan kaki dari sandaran sofa dan membenahi otot leher yang semalaman menyentuh lantai. Entah apa yang terjadi semalam sampai saya tidur di sofa, tidak biasanya. Apalagi dengan posisi terbalik kaki di sandaran sofa dan kepala menyentuh lantai. Jadi ingat lagu peterpan yang judulnya saya rasa 69 *pikiranku..tak bisa kumengerti..kaki di kepala.. kepala di kaki..

“Jam berapa sekarang ya? baru gelap rasanya,” ujar saya sambil menengok jam raksasa yang tertanam di atap kamar saya. Jarum yang panjang di angka 11, dan yang pendek di 7, masih dua jam sebelum jam kerja rupanya. “krrrrrrr..” perut saya berujar lapar. Gawat saya baru ingat sepertinya sudah tiga setengah hari tidak makan.

Saya bangun dari sofa perlahan. Melihat sekeliling kamar mencari Ricardo, siapa tahu nanti saya mood untuk kerja. Saya melangkah menuju pintu yang selalu terbuka itu untuk keluar kamar dan apa itu ada cat bercorak sidik jari menempel di pinggir pintu geser kamar saya. Oh sepertinya Beng tadi melongok kesini, untung saya masih hidup. Saya masih ingat CJ pernah bercerita, Beng mungkin teman yang cocok untuk saya, tapi sedikit berbahaya dan beresiko.

“Ah tidak peduli saya masih ada teman sepermainan ahaha..” ujarku sambil menepuk Ricardo dan menoleh kebelakang melirik Malin.

Baru dua langkah keluar kamar saya langsung mengerenyitkan bibir dan hidung “sniff sniff..” bau muntahan manusia sedikit tercium. sepertinya ada yang muntah tadi pagi, pastilah Zi ibu si CJ itu. Kapan ya CJ benar-benar hadir ke dunia ini, pikir saya.

Baru berjalan satu langkah, saya terhenti lagi melihat lantai lorong yang sepertinya bekas basah dan kotor tapi sudah agak mengering. Pasti tadi ada hujan. Banyak jejak alas kaki lalu lalang tetangga sepertinya. Semua jejak alas kaki ini saya kenal, kecuali satu.

Penasaran saya pun merunduk sampai salah satu dengkul saya menyentuh lantai. “Jejak sepatu atau sandal siapa ini? bentuknya kecil seperti punya perempuan dan coraknya kotak-kotak,” bisik saya pada diri sendiri sembari memperhatikan jejaknya yang berakhir di pintu terujung lorong di kamar kosong! “Hah?? setan dong??,” ujar saya pelan. Oh pasti penghuni baru. “Tanya-tanya CJ ah nanti malam..” ujar saya pelan lagi.

“Hah liftnya pasti sedang rusak,” celetuk saya ketika sekejap melihat banyak sekali jejak kotor yang mengarah dan meninggalkan tangga. Waw hari ini saya merasa seperti detektif. Beberapa langkah kemudian, “Gawat!!” saya teriak secara tiba-tiba dengan kedua tangan memegang kepala. Saya langsung panik. Bukan karena lift yang rusak atau Beng yang melongok ke kamar saya. Tapi saya baru sadar ini adalah hari dimana saya mendapatkan nama saya! dimana insting dan firasat saya akan menajam lebih tajam dari detektif manapun! dan anehnya disusul dengan rasa benci dan alergi luar biasa terhadap musik!

Tapi sebentar, kataku dalam hati, mungkin saja hari seperti itu tidak akan pernah datang lagi, karena tahun lalu saya tak mengalaminya. Baiklah akan kubuktikan dengan memencet tombol liftnya, belum tentu analisa saya benar. Saya berjalan menuju pintu lift dan “ Klek.. Klek! Klek! Klek! Klek! Klek! Klek!!!” berulang kali tombol lift saya pencet dan tidak menyala. “Sial lifnya benar-benar rusak! insting dan analisa saya benar!! Hari aneh ini benar-benar datang!” teriak saya.

“Drap drap drap drap...” terengah-engah saya berlari kembali menuju kamar untuk menyimpan Ricardo dan semua alat musik saya yang belum saya ceritakan kepada orang-orang. Ya saya harus menyelamatkan Ricardo dan yang lainnya.

Dulu 3 tahun yang lalu, Diablo (gitar sebelum Ricardo) hancur berantakan saya adu dengan kepala pelacur yang lewat sambil bersiul ketika hari ini datang. Di hari aneh dimana saya mendapatkan nama saya ini, ketajaman insting detektif saya memang agak menguntungkan, tapi kebencian dan alergi musik yang muncul tidak sama sekali. Tikus mencicit pun bisa saya gigit kepalanya, tapi tidak sampai dikunyah.

“Ceklik,” Oke semua alat musik sudah beres terkunci di lemari. Ternyata ada untungnya juga, kamar jadi sedikit rapi. Bagaimanapun juga saya kelaparan dan harus cari makan di hari yang aneh ini.

Kembali ke lorong apartemen, melalui lobi lantai ini dan melihat Tv menyala. Oh pasti tadi si Jeko lagi yang nonton di sini. Saya hafal betul cetakan pantatnya di sofa hitam ini. Saya biarkan Tv menyala dan menuruni tangga. Kembali hidung dan bibir saya mengerenyit. “Kenapa ada bau darah di tangga ini, dan baunya semakin menyengat,” gerutu saya kelaparan. Tidak lama terlihat bercak darah tangga menuju lantai 9.

Karena jiwa detektif saya di hari itu bangkit, saya berhenti, merunduk, menyentuh bercak darah dengan jari tengah saya dan menciumnya kemudian menjilatnya. “Hmm.. siapa ya? rasa dan aroma darah ini sepertinya akrab, tapi yang jelas bukan darah kakek” ujarku dalam hati tapi tetap terdengar seperti di sinetron. “Ini CJ!! ya ini CJ!!” teriak saya di tangga. “Wah gawat Zi tadi pasti terjatuh di sini dan pendarahan!!” Saya teriak mengambil simpulan dan panik.

Waduh?! bagaimana nasib CJ y? bisa-bisa tadi malam adalah obrolan terakhir saya dengan dia, pikir saya kebingungan sambil berlari kencang menuruni tangga untuk mencari tahu keadaan Zi dengan maksud mencari tahu keadaan CJ.

“Hosh hosshh..hoshh...” napas saya terengah-engah, dan ternyata di lantai bawah tidak ada seorang pun yang bisa ditanyai.”Pada kemana lo woi!!” teriak saya. Saya benar-benar ingin tahu keadaan CJ sekarang, Saya kembali berlari dan brukk!! pipi saya sudah menyentuh lantai. Cairan hangat mengalir di pipi saya, sepertinya bukan iler, karena kental dan hitam. Pasti kepala Saya membentur sesuatu dan bocor.

Saya mencoba bangkit dan Bruagg!! malah kembali terjatuh di tumpukan tanaman hiasan. Oh tidak sepertinya saya terlalu lapar dan haus, terlalu lemas..Fisik saya memang tidak pernah bisa diandalkan selain untuk menggendong Ricardo dan Malin. Perlahan semuanya gelap.. dan banyak wajah bermunculan.. entah saya pingsan atau tertidur lagi. Padahal saya baru bangun tidur.

Kolabton Nawalem
plot/ seri 01/ eps.004: SI CALON JANIN/ post: #004. prev post:

No comments:

Post a Comment