Lantai 16

8/10/10

#042: 1603

via -guiltypleasure


Aku tak tahu apa yang terjadi pada Zi selanjutnya. Sejak kejadian kemarin. Aku memutuskan pergi ke Jakarta untuk jalan-jalan saja. Benar-benar ingin hilang dari peredaran. Memangnya aku pernah beredar? Ada dan tidak toh sama saja, bukan?

*

Setelah sejenak membenahi pakaian dan tetek bengek untuk seminggu di Jakarta, aku menatap kamarku. Di sudut kamarku, antara dapur dan ruang tengah, hinggap seekor kupu-kupu gajah. Darimana mahluk itu datang?

Mata di sayapnya menghipnotisku. Dan lagi-lagi, mahluk itu mengingatkan aku pada sesuatu dari masa lalu. Tapi aku tidak bisa mengingatnya, meski sudah berapa kali kepala ini aku geleng-gelengkan. Tampaknya mesti kujedoti ke tembok baru bisa, tapi yang kulakukan malah membenturkan kepala ke sofa. Mata di sayap itu tetap menatap tajam. Mirip mata Hera di serial Hercules.

Selayang pandang memindai kamar. Bersih. Yang jelas, harus bebas kecoak dan baunya yang santer menendang indera pernapasan. Aku suka meninggalkan tempat tinggalku dalam keadaan rapih. Aku paling bingung dengan orang-orang yang jorok. Abu rokok, puntung, piring- sendok-gelas yang berceceran. Seperti bermain frisbee tapi dengan diri sendiri, terus kelelahan dan membiarkan semuanya sampai waktu yang tidak ditentukan. Hebatnya orang-orang ini bisa bertahan tidur bersama semua sampah itu. Ckckck...

Semua sudah terkunci. Jam dinding menunjukkan pukul 9 pagi. Aku keluar. Di ujung kamar itu, si anak baru keluar dari kamarnya dan masih mengenakan pakaian tidur, menguap, merenggangkan badan, lantas tersenyum. Aku mengangguk seadanya kemudian melayap keluar.

*

Travel. Moda transportasi ekslusif yang sedang menjamur di Bandung. Aku tidak menolak kenikmatan dari menaiki mobil semi pribadi ini. Hening. Setiap orang dalam mobil ini saling cuek. Saat mesin mobil menderu, earphone sudah melakukan pemanasan untuk dicolok ke kuping. Semua orang mendengarkan lagu dari alat elektronik mini yang mereka pegang masing-masing. Aku lebih memilih untuk membaca salah satu novel kesukaanku, "Orang-orang Bloomington" karya Budi Darma.

Senter kecilku menerangi buku yang kupegang erat dan terus bergoyang-goyang seirama dengan langkah mobil. Aku di tengah dan orang di samping kiri dan kanan melihatku dengan tatapan aneh. Aku melhatnya dari sudut mata. Saat aku menoleh, mereka langsung memalingkan muka.

Orang-orang selalu mau tahu urusan orang lain. Tapi Yuri beda.

Dia selalu ingin tahu dengan caranya yang otentik. Pertama kali bertemu dengannya di masa kuliah. Dia jurusan Geologi. Macho, kan? Dia lebih muda tiga tahun dariku. Persis seperti saran bapak dulu, "Carilah perempuan lebih muda tiga-lima tahun darimu. Itu jarak usia yang pantas pasanganmu nanti." Bapak yang kumaksud bukan yang di rumah, tapi pengadopsiku, pak walikota.

Aku dulu sering duduk di sebuah pohon, dekat aula barat ITB. Melihat orang-orang bermain basket dari kejauhan atau baca buku atau menggambar. Aku selalu senang melihat orang bermain basket atau olahraga apapun. Menurutku mereka hebat bisa melatih badannya dan jungkir balik dalam olahraga. Jiwa mereka pun kompetitif. Tidak sepertiku yang lebih memilih menyendiri dan sesekali merokok untuk mengisi sunyi. Terkadang asap rokok terlihat membentuk tubuhnya sendiri dan menari-nari. Hanya hal sepele seperti itu yang menghiburku.

Suatu hari, di tahun keempatku di kampus, saat duduk di spot favorit, aku melihat seorang perempuan bermain basket dengan teman-temannya. Gaya mainnya tidak grasak-grusuk seperti perempuan lainnya. Dia elegan. Tubuhnya dalam kostum basket, keringat itu, wajah yang terlihat bersemangat itu. Semuanya paduan yang sempurna. Entah bagaimana, mata kami bertemu. Dia tidak segera memalingkan wajahnya, dan entah bagaimana juga aku sempat bertahan lama melihatnya. Biasanya tiga detik saja bertatapan dengan perempuan aku sudah kalah. Mukaku serasa lepas dalam momen seperti itu, tapi tidak terhadapnya.

Lama-lama aku tahu jadwal bermainnya, tapi aku cuma berani melihatnya dari jauh. Sembari sembunyi di balik buku atau sketsa. Tiba-tiba pada suatu sore, buku yang kubaca ditarikseseorang. Yuri. Aku gugup tapi tidak bertahan lama.

"Ini buku bagus ya? Tentang apa sih? Kayaknya kamu sering baca di sini apalagi sambil pasang tampang serius," ujar Yuri berturutan. Aku beritahu padanya tentang jeroan buku itu dan pengarangnya. Dia manggut-manggut pura-pura terlihat tahu tapi tetap pasang tampang tertarik. Susah dijelaskan. Itulah awal perkenalanku dengan Yuri. Selanjutnya kami lebih sering bertemu.

Semakin jauh mengenal Yuri, aku tahu bahwa dia itu tidak pernah membaca apapun selain materi perkuliahan. Orang-orang pragmatis dan terlalu lurus. Kuliah, belajar, nilai bagus, lulus ingin kerja di perusahaan besar, hidup makmur, punya anak, tua, mati. Seperti itu. Kesamaan kami hanya satu: jorok alias jomblo sejak orok. Aku syok pertama kali mendengar itu. Dari gayanya tidak mungkin anak itu tak pernah pacaran. Dia mengaku sering menolak laki-laki yang mendekatinya. "Sejak SD sampai sekarang," katanya waktu itu. Yuri tak mau hubungan coba-coba, apalagi tidak kenal lalu bisa jadi pasangan. "Abege betul!" repetnya. Aku cuma tertawa kecil.

***

Perutku berontak. Lapar. Pun tidak bisa seenaknya bilang "Kiri, Pak" lalu turun dan beli cemilan di area istirahat AC di mobil ini pun dingin. Semua semakin menekan lambung plus membuatku flu. Ditambah aku sering begadang dan tidur pun tidak pernah tuntas karena mimpi-mimpi aneh belakangan ini.


"HATCHIIMM!!"

Benda hijau cair sebesar kelereng melompat mulus dari rongga antara hidung dan mulutku dan dia mendarat tepat entah dimana. Orang-orang yang sebelumnya kaget karena bersinku, malah jadi jijik setelah, aku rasa, melihat ingusku yang sebesar kelereng gigantisme terbang bak superman menolong Louis Lane.

Berhubung aku masih baca buku dan pegang senter, pura-pura saja baca buku. Di sudut mata, aku melihat ingusku di lantai mobil dekat kaki kananku. Ya pura-pura saja gesek-gesek. Malu. Sial...

Langa Beng Otanga
plot/ seri 02/ eps.003: BIBIT PSIKOPAT DI KEBUN SINGKONG/ post: #010. prev post: -

No comments:

Post a Comment